
Di pagi hari tepat di saat Matahari memperlihatkan Mentari paginya yang begitu indah menyinari Kota Danmia, dimana semua orang sibuk dengan kegiatannya kesehariannya masing-masing.
Yang kini para berdagang menyiapkan dagangannya, yang berburu menyiapkan anggota dan senjatanya, serta bertani berangkat ke kebun mereka dan lain sebagainya.
Kini Damar tengah duduk menyilangkan kakinya dengan melipat kedua tangannya di depan dada, menatap datar peria paruh baya yang selama ini meminpin Kota Danmia selama hampir 30 tahun lamanya.
Ruangan yang mereka tempati saat ini cukup luas tapi hanya ada dua orang di dalamnya.
Satu peria paruh baya yang selalu memasang senyum ramahnya dengan posisi berdiri ia menundukan kepalanya tengah hormati peria yang jauh lebih muda di hadapanya kini.
Dan di sisi satunya lagi peria yang berumur sepuluh tahun tengah duduk dengan pakaian khusus keluarga kerajaannya.
Yaitu tidak lain Sang Putra Mahkota Kerajaan Karlarss kini ia tengah kalut dengan fikirannya sendiri tetapi berbanding terbalik dengan mimik wajah yang ia tunjukan yaitu ekspresi yang amat datar dan sorot tajam matanya.
Terlihat indah menarik tapi mengerikan itulah aura yang tersebar di sekeliling sang Putra Mahkota Kerajaan Karlarss ini walau pun ia masih berumur sepuluh tahun. Kini mereka dalam suasana perbincangan yang serius.
".... seperti yang kukatakan tadi. Kau tetap memimpin kota ini dan mulai sekarang kota ini ada di bawah namaku. Apa kau Paham .
Ucap Damar menekankan. Dan di jawab dengan sopan serta tegas dengan senyum ramah yang selalu peria paruh baya itu tampilkan walau sedang menundukan kepalanyatak menghentikannya untuk mempertahankan senyum ramahnya.
" Tentu hamba paham yang Muliah Putra Mahkota, hamba tak kan menghianati kepercayaan yang telah di berikan kepada hamba. Hamba Ardal Piloka bersumpah dengan mempertaruhkan nama keluarga hamba "
" ..... "
Tapi tak adanya respon dari sang Putra Mahkota yang tidak lain Damar sendiri.
Hal ini membuat perasaan Ardal gelisah tak tenang ia pun menunggu lebih lama namaun suasana tetap menjadi hening ia masih cukup sabar dan menunggu lagi tapi kegelisahan di hatinya juga tambah menjadi.
Hingga memberanikan diri mengangkat sedikit wajahnya dan melirik sang Putra Mahkota untuk mencari jawabannya dan hal mengejutkan terjadi.
Di saat mata Ardal dan Damar bertemu, di banding ekspresi datar Damar tatapan yang Damar berikan berhasil membuat Ardal tertekan, seketika udara di sekitar Ardal seakan menipis membuatnya sesak nafas, seakan kaki tak lagi kuat mengangkat beban tubuh Ardal terjatuh dari berdirinya dengan keadaan bersujud.
Mata Ardal menatap lantai tak percaya bukannya semakin membaik udara di sekitarnya malah seakan menghimpitnya takkan memberikannya ruang. Kini bahkan suaranya pun tak mau keluar dari rongga tenggorokannya. Apa yang harus ia lakukan?
Ardal mulai tak terkendali ia memukuli dadanya tapi tak mengubah apapun hingga air matanya tumpah meruah, perasaannya kacau balau ia sungguh menyesali perbuatan cerobohnya 'Andai dia lebih bersabar ini tak kan terjadi' itulah pikirnya.
Ardal pun merangkak kearah Damar dan berulang kali mengatakan ' Yang mulia tolong maafkan hamba yang bodoh ini ' walau tak ada suara yang keluar dari mulutnya ia selalu mengulang-ulangi ucapannya berharap peria muda di hadapannya itu mengampuninya hingga penglihatan matanya mulai memburam dan kesadarannyapun hilang, tubuhnya terkulai lemas di atas lantai.
Sedangkan di sisi lain Damar melihat dengan datar pristiwa yang berlangsung di depannya, hingga Damar melihat peria paruh baya itu pingsan tak berdaya dan itu membuat Damar terkejut seakan mengingat sesuatu .
Eh,, Apa aku terlalu kejam padanya. Dia sebenarnya terlihat seperti orang baik..!!
Dan entah mengapa ini seperti dejavu!!?
Haihh,, Padahal cuma sedikit tekanan saja?!!
.
.
__ADS_1
.
Sedangkan di tempat yang berbeda kini seorang peria berumur 16 tahun dengan rambut pendek, serta bola mata hitamnya sedang berusaha menahan kantuknya. Ia mendengarkan cerita pajang lebarnya dari wanita di sebelah kananya yang berumur sekitar 15 tahun.
Mereka berdua kini duduk di bagian belakang gerobak pembawa sayuran segar yang menuju ke kota seberang. Tanpanya atap membuat pemandangan hamparan sawah berwarna hijau muda di kanan dan kiri jalan terlihat jelas nan indah.
Rambut kuning sebahu wanita itu berkibar di terpa angin dengan bolamata kuning dan tatapannya yang tenang. Kini ia melihat peria di sebelahnya dengan tatapan datar. Ia menghelanafas pendek.
" Hey,, Apa kau benar-benar mendengarkan ceritaku. Arsal "
Ucap wanita berambut kuning itu datar kepada peria di sampingnya yang tengah berulang kali menguap, tidak lain bernama Arsal.
" Hem,, iya putri yang kabur.. dengar-dengar..."
Balas Arsal asal dengan tak acuhnya. Sedangkan wanita berambut kuning itu memiringkan kepalanya menatap Arsal, terlihat senyum jahil di bibir kecilnya.
" Coba ulang apa yang aku jelaskan tadi "
" Eh,?? "
Arsalpun menghela nafas berat lantas melirik wanita di sebelah kanannya itu tengah tersenyum puas dan tersirat sedikit licik di bibirmya.
Itu mengingatkannya pada pertemuan pertama mereka saat tiga hari yang lalu di saat ia bertemu dengan wanita berumur 15 tahun tersesat di tengah hutan, tanpa pikir panjang Arsal yang mempunyai hati yang lemahpun menolongnya. Kini pada akhirnya Arsal pun menyesalinya.
Wanita yang ia tolong adalah wanita yang kini berada di sebelahnya. Teryata wanita ini adalah putri bangsawan yang kabur dari rumahnya. Tidak, lebih tepatnya seorang tuan putri dari kerajaan tingkat tiga.
Setelah Arsal tau akan hal itu dan berniat mengembalikan sang wanita akan tetapi si wanita berambut kuning ini malah mengancam Arsal, dia akan membuat dalih bila peria bernama Arsal inilah yang telah menculiknya dan menyekapnya selama ini.
Dengan sangat terpaksa Arsal membiarkan sang wanita licik itu mengikutinya. Mungkin ia akan berguna suatu saat..? Mungki..? Inilah umpat Arsal yang pertahankan sampai saat ini.
Tapi ia tak membenci wanita ini walau telah memanfaatkannya. Arsal tak mudah untuk membenci seseorang.
" Yang kau jelaskan tadi adalah, Dunia ini bernama AKTURS.
Di dunia Akturs ini terdapat 5 Benua Besar. Lalu terdapaat 4 Kekaisaran di setiap benuanya, sedang kan ada satu benua tak berpenghuni.
Dan terakhir terdapat Hutan yang amat luas dan berada di tengah kelima benua itu. Singkatnya tak pernah ada yang keluar dari hutan itu setelah masuk. Sudahkan? "
Singkat cerita Arsal menyudahinya.
" Apa saja nama ke 4 Kekaisaran itu? Coba jelaskan !"
Tanya wanita berambut kuning cerah itu yang terlihat di sengaja dengan senyum liciknya.
" Hahh "
Sudah ku duga! Dasar wanita licik!! Dia tau saat dia menjelaskan tentang nama-nama Kekaisaran itu aku tengah tertidur hu,, hu,, huu...
" Kenap diam saja, Apa otakmu tertinggal di suatu tempat " Ejek sang gadis.
__ADS_1
"Hey!! "
Bercandamu keterlaluan kau tau.. !
" Hais, Jadi keingat mereka..! Bagaimana kabar mereka ya..?? "
Aku rindu kalian semua...
Gumam Arsal memalingkan wajahnya menatap hamparan sawah yang luas nan indah dengan warna hijau mudanya. Dan teryata gimamanya masih dapat didengar oleh wanita di sampingnya ini.
" Siapa..?? "
" Kau tak perlu tau..!! "
Ucapa datar Arsal, hal ini membuat wanita berwajah datar di sampingnya kala tersentak, selama ia bersama peria bodoh ini ia tak pernah mendengar peria ini berbicara serius atau sedatar ini. Aneh.
" Kenapa "
" Karna mereka sangat berharga "
" Jadi begitu, baiklah "
Seakan wanita itu mengerti maksud Arsal, ia takkan menayakan hal ini lagi, ia akan menunggu sampai peria ini sendiri yang bercerita kepadanya.
Sedangkan di sisi Arsal sendiri, ia sedang mengingat sesuatu yang menurutnya sangat berharga. Dengan senyum tipis di bibirnya dengan semilir angin yang berhembus menerpa rambut hitamnya, sungguh pemandangan yang langka.
Wanita berusia 15 tahun di sampingnya yang sendari tadi menatap Arsal juga entah mengapa ikut tersenyum tipis.
Itu pasti hal yang berharga bagi kak Arsal, hingga dia dapat berekspresi begini. Aku iri pada siapapun yang saat ini kak Arsal pikirkan.
.
.
.
Siang hari Kota Danmia. Setelah kejadian tadi pagi sampai saat ini sang penguasa Kota ini masih belum juga sadarkan diri dari pingsannya.
Saat ini di tengah pasar Damar tengah menyamar, lebih tepatnya hanya menambah jubah hitam dengan penutup kepala untuk menutupi identitasnya, walau sederhana tapi ini cukup efektif.
Karna seseorang di belakang Damar yang tengah mengawalnya akan berwajah seram kepada setiap orang melihat Damar dengan tatapan curiga atau hendak bertanya, yah, pastinya mereka semua langsung mengurungkan niatnya.
Sama seperti pertama kali Damar memasuki Kota Danmia ini, Sang Putra Mahkota Kerajaan Karlarss ini dengan senangnya berlari ke sana kemari hanya untuk menghampiri lapak-lapak jajanan yang seharusnya tersedia hanya untuk anak-anak ia membeli banyak cemilan khas Kota itu dan beserta jajanannya.
Sedangkan sang Jendral Alfado selalu setia mengekor Damar untuk membawa semua jajanan serta cemilan yang selalu Damar beli jang dengan jelas jumlahnya tidaklah srdikit. Damar sungguh menikmati saat-saat begini.
Kejadian ini berlanjut hingga sore hari. Tiba di saat Damar melihat mata hari mulai merendah terukirlah senyum puas di bibir Damar. Ia pun bergumam.
" Waktunya menjarah sesuatu "
__ADS_1
####