
Kini Damar berbalik menghampiri sang Jendral memintanya untuk kembali terlebih dahulu karna ada yang harus ia lakukan dan tentu dengan tegas, sang Jendral menolak keras permintaan Damar dan ingin selalu medampinginya.
" .... yang mulia Putra Mahkota, apa pun yang hendak yang mulia lakukan hamba mohon izinkan hamba untuk selalu mengawal engkau yang mulia, ham... "
Ucap sang Jendral lirih dikarnakan saat ini mereka tengah menyamar, dengan posisi berlutut untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Peria berumur 10 tahun di depannya.
Belum selesai sang Jendral berucap Damar telah melangkahkan kakinya, namun ia berhenti tepat di sisi kiri sang Jendral. Tangan Damar menepuk pelan pundak sang Jendral dan membisikan suatu perintah.
" Lakukan saja seperti perintah ku, Jendral Alfado "
Bisikan Damar lirih dan pastinya terdengar oleh sang Jendral bersamaan sekelebat tipis kabut berwarna hitam menutupi pendengaran sang Jendral.
Sesuatu memasuki tubuh sang Jendral, tanpa Jendral itu sadari seketika sang Jendral yang kokoh hendak mengikuti Damar merubah pikiran. Hal ini sudah di pastikan Damarlah penyebabnya.
" Baiklah bila itu perintah yang mulia, Tapi hamba mohon berhati-hatilah yang mulia "
Jawab Jendral tanpa banyak perlawanan, tak seperti beberapa menit yang lalu. Sekilas terdapat cahaya ungu tipis di bola matanya lantas menghilang seperti tak ada sebelumnya.
Terukir senyum tipis di bibir Damar. Iapun menganggukan kepalanya kearah sang Jendral. Tak peduli dengan banyaknya pasang mata yang memandang perdebatan antara Damar dengan sang Jendral, seakan tak terganggu Damar melanjutkan langkahnya.
.
.
.
Ruangan luas khusus pelelangan.
" Hey, hari ini sangat ramai, bahkan enam ruangan elite pun terisi penuh. Memangnya ada benda berharga apa yang akan di lelangkan.
Bukannya hanya dua gadis cantuk dari Benua lain dan satu gadis yang bermata serta rambut hijau muda itu saja ya?? "
Tanya salah satu peria di kursi tengah dalam ruangan pelelangan yang terus bertambah ramai berdatangan.
" Heeh,, kau tidak tau. Hari ini ada dua benda yang bakal jadi rebutan banyak orang dan seluruh orang misterius yang memesan ruangan elite di lantai atas "
Jawab peria di samping kanannya dengan antusiasnya.
" hah,, memangnya benda apa itu? bukannya tiga wanita yang kita lihat kemarin ya?? "
" Bukan, katanya dua benda itu bernama 'Seruling Bambu Putih' dan 'Batu Racun' dan katanya itu benda langka bahkan sangat langka "
Jawab peria di sebelah kirinya, yang tiba'tiba ikut dalam penjelasan, sedangkan peria di sebelah kanan membenarkan setiap ucapannya.
" Hah, yang benar? kalau sangat langka kenapa di lelang di sini kenapa tidak di lelang di ibukota saja "
" Bodoh, benda itu terlalu banyak yang mengincar, bahkan anak kedua pemilik rumah pelelangan ini beserta belasan perajurit penjaganya mati karna berusaha menjaganya. Coba kau bayang kan jika benda ini di bawa keluar pasti akan di curi orang lain..!! "
" Astaga segitu berharganya kah?? "
Ucap peria remaja itu dan di angguki kedua peria di samping kanan kirinya. Setelah itu pelelanganpun di buka.
__ADS_1
.
.
.
Di tempat yang berbeda sebuah ruangan gelap namun cukup luas terdapat lima kerangka besi yang setip besinya terisi satu manusia. Terdapat tiga wanita cantik, satu gadis kecil, serta satu peria berumur 20 tahun di ruang gelap itu.
Suasana ruangan itu sangatlah sunyi dan tak ada sedikit pun penerangan di dalamnya, walau terdapat lima orang di dalamnya namun tak ada yang berniat membuka suara hanya untuk memulai sebuah obrolan.
Tiba-tiba terdengar suara bising di balik pintu dan hanya terlihat senyum kecut di bibir wanita cantik berambut putih itu.
Apa ini sudah saatnya... Sungguh miris.. Ck.
Gadis berumur 18 tahun berambut coklat kemerahan di kotak jeruji samping wanita berambut putih itupun dalam keadaan yang sama yaitu mengeluh, ia tengah menggertakan giginya dan bergumam berkali-kali.
" Sial... Sial... Andai saat itu.. Aku dan putri Naila tidak di serang monster sialan itu.. Pasti manusia-manusia rendahan itu tak dapat memasang rantai budak ini saat kami pingsan... Sial... Sial... "
Satu menit berikutnya satu-satunya pintu di ruangan itu terpental hingga memukul tembok di seberangnya. Lima penghuni di dalam ruangan itu amat terkejut dengan adegan yang terjadi di depannya.
Kenapa harus menghancurkan pintu kalau hanya ingin membawa mereka keluar. Hanya ini lah yang bisa terpikirkan saat mereka melihat pintu itu terpelanting menghantam tembok di sebrang. Tapi mereka lebih di kejutkan lagi.
Eh,,
Dengan sosok anak kecil berumur sepuluh tahun tengah mengangkat satu kakinya, dengan jubah hitam dan tudung kepala yang turun terlihatlah wajah tampan peria kecil itu.
Bola mata bagai keristal berwarna ungu kentalnya dengan rambut hitam legam panjang yang sengaja di gerai, belum juga tangan kanannya yang tak henti-hentinya memutar seruling yang berwarna putih giok itu dan tangan kirinya yang memegang kotak berwarna kuning emas dengan ukiran indah di setiap sudutnya.
Kini Damar berdiri di ambang pintu setelah menendang pintu itu hingga terpental dengan kaki kirinya, di mulut Damar kini masih mengigit Satotu makanan khas Kota itu dan kedua tangannya tengah memegang dua benda yang dia curi beberapa menit yang lalu.
Baru beberapa langkah Damar memasuki ruangan itu terdengar suara serak yang berasal dari gadis kecil berambut hijau cerah panjang itu.
Hadis itu memegangi jeruji di depannya dengan erat dan menatap Damar memohon. Dan hal ini cukup menarik perhatian Damar.
Damar melempar kedua benda yang di kedua tangannya asal seketika kedua benda itu menghilang. Sontak perbuatan Damar yang asal itu membuat empat manusia itu menggelengkan kepalanya.
Mereka berpikir Damar memiliki ruang penyimpanan itu bukan hal yang langka, tapi tetap saja hanya orang-orang tertentu yang memilikinya.
Yang menjadi pertanyaannya adalah apakah begitu cara menyimpannya? maksudnya melemparnya secara asal?
Setelah Damar berada di depan jeruji besi yang kini tengah mengurung gadis keci itu. ia menatap gadis kecil itu yang tengah menetapnya dengan penuh harap walau tertutup rambutnya hijau yang terlihat kotor panjang yang acak-acakan.
Damar menarik sunduk satotu yang masih berada di mulutnya lalu melemparnya ke belakang.
Ah.. Bukankah dia...
Pikir wanita berambut putih itu menatap Damar intens dari atas ke bawah walau dari jarak yang cukup jauh, lalu matanya terpaku terhadap bola mata Damar yang terbilang sangat langka bewarna kristal ungu kental.
Seakan ingin mengucapkan sesuatu tetapi di dahului oleh wanita berambut pirang cantik di kotak jeruji sebelahnya.
Damar memajukan wajahnya untuk menatap gadis kekci itu di seberang jeruji lantas terukir senyum tipis di bibirnya.
__ADS_1
" Tolong... Aku mohon... "
" Baik "
Balas Damar lantas meluruskan badannya dan hendak membengkokkan jeruji itu akan tetapi tanpa di sangka terdengar jeritan histeris dari wanita cantik berambut pirang panjang.
" Tidak mungkin!! Ka.. kau "
Tindakan wanita berambut pirang itu menuai tatapan dingin dari sorot mata Damar.
" Kau mengenalku "
Ucap Damar diangguki pelan oleh wanita berambut pirang itu sambil tertunduk dia menjelaskan.
" Setiap bangsawan pasti akan mengenalnya. Rambut hitam kelam yang panjang, bola mata berwarna keristal ungu kental dan tatapan dingin itu. Anda.. Anda adalah Putra Mah... Uhuk.. uhuk.. "
Belum selesai wanita itu menjelaskan tiba-tiba saja wanita itu muntah darah dan jatuh pingsan begitu saja, hal ini membuat tanda tanya besar di antara tiga manusia dewasa ini tentang identita peria kecil di hadapan mereka itu.
Hal ini terlihat aneh. Pasalnya wanita berambut pirang itu tadi baik-baik saja, tiba saat menjelaskan identitas peria kecil itu dia pun pingsan terlebih dengan muntah darah.
Merekapun menatap Damar secara bersamaan, seperti tak terganggu Damarpun kembali membengkokkan jeruji besi seakan bukan apa-apa dan berhasil membuat mereka terperangah karan.
Di karnakan terdapatnya mantra pengekang di jeruji-jeruji besi ini, hingga mustahil untuk membengkokkannya seperti apa yang peria kecil mistetius ini lakukan.
Setelah gadis kecil itu keluar dari dalam jeruji besi itu Damar menarik rantai yang mengekang lehernya gadis kecil itu hingga hancur.
Sudah, kali ini perbuatan Damar tak lagi mengejutkan dua wanita dan satu peria yang setia menonton setiap tidakannya setelah melihat anak itu bisa membengkokan jeruji besi itu walau telah di beri mantra.
Apa benar dia seorang anak kecil.. Atau seorang pendekar tua yang menyamar dengan tubuh anak kecil..?? Entahlah...?? tapi wanita yang pingsan itu pasti tau jawabannya.
Pikir peria berumur 20 tahun itu. Setelah itu Damar menggeser poni acak-acakan Elf itu hingga terlihatlah kening Elf itu terdapat ukiran unik berwarna hijau.
" Sudah kuduga "
Dengan ini aku dapat mempersempurna peranku sebagai tirani, terlebih dapat mengerjai orang gila kehormatan itu hihi..
Terukir senyum misterius di bibir kecil Damar setelah memikirkan sesuatu yang menurutnya menarik, setelah itu Damar melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
peria kecil berusia 10 tahin ini bahkan tak peduli dengan sisa manisia yang masih setia terkurung dalam kotak jeruji besi itu. Ia bahkan tak mau repot-repot untuk hanya sejedar menengok.
" Ayo ikuti aku "
Perintah Damar dan di angguki oleh gadis kecil itu. Dan mengikuti langkah Sang penolong dari belakang.
Sedangkan di sisi lain seorang peria dan dua wanita yang masih menunggu di dalam jeruji itupun terkejut.
Bagaimana tidak, walau peria yang mereka lihat itu terlihat kecil imut dan menggemaskan tapi dia begitu kuat, dan bisa menghancurkan rantai budak serta membengkokkan jeruji besi yang telah di mantrai.
Dan mereka merasa sungguh beruntung ada seseorang yang hendak menolong mereka akan tapi tak seperti yang mereka harapakan, peria bertubuh kecil berambut hitam panjang itu sama sekali tak melirik mereka.
Eh,, jangan bilang...
__ADS_1
" Hey,, tunggu. Kau tak akan menolong kami..?? "
####