Keinginan Sang Pengacau

Keinginan Sang Pengacau
ch.6 " Baryu Rei Anjas "


__ADS_3

Di dalam sebuah Ruang Makan di mana semua Keluarga Inti Kerajaan Karlarss berkumpul untuk melaksanakan perjamuan makan malam bersama yang di hadiri oleh Sang Raja Firdal Rei Anjas di temani oleh Sang Ratu Ratna Alsella Anjas adapun para Selir bersama para Pangeran dan Putri Kerajaan Karlarss.


Tapi kini suasana Ruang Makan itu menjadi suram dan hening dimana satu Anggota Inti terlambat cukup lama menghadiri perjamuan Makan Malam itu, membuat seluruh keluarga Kerajaan harus menunggu.


Hingga akhirnya pintu masuk ruang itu terbuka dan menampilkan sosok peria muda yang berumur sepuluh tahun dengan pakaian khas Keluarga Kerajaan yang rumit namun terpancar keindahan dan keagungan, peria muda itu tidak lain adalah Damar sang Putra Mahkota Kerajaan Karlarss.


Ah,, Aku rasa hukumanku akan bertambah...


Pikir Damar, dia menampilkan senyum datar dengan wajah tanpa dosanya dia menghampiri sang Raja dan memberikan salam Etika Bangsawan lantas duduk di kursinya dengan tenangnya.


Sang Raja pun hanya menapilkan wajah datarnya dengan kerutan di dahinya saat Damar masuk dan memberi salam, ia hanya mengangukan kepalanya tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Sedangkan Anggota Keluarga Kerajaan yang telah lama hadir menatap Damar dengan berbagai ekspresi karna keterlambatan adalah salah satu pelanggaran etika dan memciptakan etika buruk. Sedangkan Damar adalah seorang Putra Mahkota Kerajaan itu sendiri.


Baik, baik... Aku memang sengaja kok, kalian boleh marah dalam hati sempit kalian itu kok... Pftt.. wuahahaha...


Itulah isi pikiran Damar, namun berbanding terbalik dengan ekspresi Damar yang datar bahkan terkesan dingin dan acuh secara bersamaan.


Setelah perjamuan makan malam selesai Damarpun menepati permintaan sang ayahandanya yaitu, pergi ke ruang kerja ayahnya untuk menemuinya dengan beberapa Kesatria yang selalu setia untuk mengawal kemanapun Putra Mahkota ini melangkah.


Di dalam ruang kerja Sang Raja yang bisa di bilang terkesan luas bila hanya di bilang ruang kerja, kini Damar tengah duduk berhadapan dengan sang Ayahnya dengan beberapa hidangan di depan mereka.


" Zhen izin kan Putra Mahkota membela diri terlebih dahulu "


Kata sang Ayahnya seketika, sedangkan Damar menanggapi dengan tatapan datarnya.


Eh,, Apa maksudnya? Apa aku melakukan kesalahan yang fatal..??


.


.


.


Di sisi lain sebuah desa kecil di perbatasan antara kerajaan Karlarss dan Evterlly tengah menggelar festival di malam itu.


" Tuan pendekar saya mewakili seluruh warga desa mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya terhadap tuan pendekar, kalau tidak ada tuan pendekar saya yakin bukan hanya festival yang akan gagal tapi kami semua juga mungkin sudah menjadi makanan bagi Monster itu "


Ucap seorang peria tua yang berumur sekitar 63 tahunan dengan bahagianya mewakili semua warganya, dikarnakan dia adalah kepala desa di desa perbatasan itu.


Sedangkan sosok yang menerima ucapan terimakasih itu ialah peria muda berumur 16 tahun. Berwajah rupawan dengan rambut dan pupil mata berwarna hitam, saat ini dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan senyum canggung di bibirnya.


" A-haha aku tahu aku hebat tapi itu bukan masalah, sebanarnya aku hanya lewat dan tidak sengaja melihat monster mirip kadal itu menyerang manusia jadi secara reflek aku langsung membunuhnya "


Sebenarnya aku juga jijik melihat monster seperti itu


Balas peria itu dengan canggung karna seluruh warga desa itu terus menerus mengucapkan terimakasihnya.


" Tapi kakak pendekar telah menolong kami " teriak salah satu anak kecil yang maju kedepan.

__ADS_1


" Benar, bahkan monster itu setinggi rumah dan sangat panjang tapi kakak pendekar dapat membunuhnya hanya dalam dua kali serangan " tambah anak kecil satunya dengan semangatnya.


" A-aku tau itu benar sih, tap.... " ucap peria itu terpotong.


" Kakak pendelar sangat hebat "


" Iya kakak pendekar telah menolong kita "


" Aku juga ingin jadi pendekar juga nanati kalo sudah besar "


Suasana menjadi semakin riuh nan ricuh dengan berteriaknya semua anak di festival itu, sedangkan sang penolong mereka bahkan menjadi terabaikan, kata-katanya pun tak terdengar lagi. Sungguh miris.


" Kalian semuah terlihat senang bahkan sampai menyebutku pendekar hebat tapi bahkan kalian belum bertanya aku seorang pendekar atau bukan,, huuh aku punya nama loh,, Nama!! "


Ucap peria itu lirih entah mengapa mungkin ia merasa kecewa dengan dirinya sendiri.


Sekarang aku bener-benar terabaikan walaupun mereka berteriak sana sini memujiku tapi entah mengapa aku berdiri di sini sendiri seperti sebongkah debu. Posisi orang hebat sepertiku saat ini entah mengapa terdengar menyedihkan.


Pikir peria berumur 16 tahun itu merasa aneh dengan posisinya yang bahkan belum sempat memberi tahu namanya. Tapi pada akhirnya hanya terukir senyum tipis nan tulus di bibir peria itu.


Tangan kanan peria itu menggenggam erat pedang di pinggangnya yang tidak lain katana hitam dimana mau sarung atau bilahnya seluruhnya berwarna hitam. Sungguh benda yang sangat tidak lazim berada di Dunia ini.


.


.


.


Bahra yang tak sengaja berpapasan dengan peria yang dia kenal sebagai kakak kandungnya ini lantas memberi salam dengan senyum ramahnya.


" Selamat malam kakanda " Salam Bahra dengan membungkuk sedikit tepat di depan sang kakak.


Damar yang mendapati saudaranya ini memberi salam tepat di depannya hingga membuatnya harus menghentikan langkahnya.


" Shukurlah kini keadaan kakanda telah membaik, maafkan Adinda yang tak langsung menemuimu Kakanda, setelah mendapati kabar Kakanda telah jauh lebih mem... "


Melihat pangeran Bahra ini telah mulai membuka suaranya Damar mulai mengerutkan keningnya tak suka. Belum selesai Bahra berbicara Damar telah lebih dulu melewatinya dan pergi begitu saja tanpa memedulukan Bahra yang terkejut.


Setelah cukup jauh Damar melangkah meninggalkan Bahra yang masih tetap berdiri di tempatnya menatap punggung sang kakak dan beberapa kesatria meninggalkannya, ia marah, kesal, dan iri secara bersamaan melihat sang kakak mendapatkan segalanya dengan sangat mudahnya dari sejak ia lahir. Di bandingkan dia, Bahra mengepalkan erat kedua tangannya.


" Kau sangat sombong kakanda, suatu saat kau bahkan tak kan mampu mengangkat kepalamu didepanku kakanda, karna setelah saat itu tiba. Adindamu ini telah merebut semua yang kau miliki saat ini kakanda"


Itulah tekatku dan sumpahku kakanda. Akanku rebut semua yang kau miliki saat ini dan seterusnya. Semuanya!!


Bahra berbalik lalu melangkah meninggalkan lorong luas nan sepi itu bersama pengawal pribadinya.


Kembali di sisi Damar, saat pagi hari.


Saat ini Damar tengah berdiri di depan cermin memperhatikan sosoknya yang Imut nan mengemskan ini andai tak memasang wajah datar berbarengan dengan tatapan dinginnya saat itu. Peria berumur sepuluh tahun dengan rambut panjangnya yang berwarna hitam legam kulitnya yang seputih susu bola matanya yang berwarna keristal ungu kental dan rupa yang begitu tanpan dan imut.

__ADS_1


Kalau di pikir-pikir rupaku di kehidupan pertama ini, Begitu Tampan...!!


Kenapa aku baru menyadarinya..!! Sungguh sayang kau dulu sangat bodoh..!!


Pikir Damar dengan menatap rupanya di cermin dengan intens dan serius, tiba-tiba terdengar suara salah satu ksatria yang selalu mengawalnya tengah mengtuk pintu kamarnya.


" Yang Mulia Putra Mahkota kereta kuda telah siap "


" Hn, kita berangkat sekarang "


Damar melangkah pergi bersama ke lima kesatria yang selalu mengawalnya menuju halaman istanah, sesampainya Damar di depan kereta kudanya Damar menoleh kebelakang sebelum memasukinya. Kepala pelayan tersenyum tulus kepada Damar dan di dapati pula para ksatria, prajurit dan puluhan pelayan yang mengantarnya.


Tapi dia tak melihat satu Keluarga Inti Kerajaanpun yang hadir, itu membuat Damar menggelengkan kepalanya pelan dengan senyum dingin di bibirnya.


Sudahku duga.. Dan aku takkan terkejut kalian tau.. Aku malah akan terkejut bila ada yang datang untuk mengantarku..!!


Di dalam kereta Damar memangku wajahnya dengan tangan kirinya, tatapan matanya tertuju keluar jendela, Damar terus menerus menghela nafas.


Huff... Namaku di kehidupan ini Baryu Rei Anjas, seorang Putra Mahkota Kerajaan Karlarss yang terlalu patuh dengan aturan-aturan Kerajaan dan banyak menghabiskan waktu untuk belajar tentang pembendaharaan,, itu sangat membosankan. Sungguh aku serius.


Tapi bagi diriku yang dulu itu hal biasa, hingga tiba saat aku harus menjadi seorang Raja menggantikan Ayahhanda yang meninggal dunia, dan saat itu aku barulah berumur 15 tahun.


Bagi seorang anak yang menghabiskan waktunya untuk belajar dan belajar selama lima belas tahun tentu orang yang paling aku percayai adalah keuarga tapi naas.


Kepercayaanku di manfaatkan oleh mereka untuk menghancurkanku hingga berkeping-keping, mereka bahkan memanfaatkanku untuk membunuh semua apdi setiaku.. Ckckck..


Bener-bener tidak bisa di percaya betapa bodohnya diriku dahulu. Tetapi, kebodohanku dan penghianatan kalian di masa lalu akanku bayar berlipat ganda pada kesempatan ini.


Walau membalas dendam itu kegiatan yang membosankan, karna itulah aku akan membuatnya sesadis mungkin. Mungkin agar lebih menarik..??


Damar mengganggukan kepalanya untuk meyakinkan dirinya sendiri.


Ah,


" Aku tau, cara untuk mencapai tujuanku. Hal pertama yang harus aku lakukan adalah, Membuat dunia berfikir 'Baryu Rei Anjas' seorang Raja Tirani yang Kejam Jahat dan Sadis. Mulai sekarang aku akan membuat namaku terdengar seperti itu "


Walau bibirnya tersenyum sadis nan yakin dengan tujuannya, tapi di matanya tersirat penyesalan yang mendalam.


Dengan ini aku mungkin takkan bisa hidup tenang dan damai seperti mimpiku.. Yah itulah resikonya... Aiiss malang sekali nasipku..


" Huff,, Apa impianku terlalu sulit ya.. Aku hanya ingin hidup dngan tenang dan damai sebagai seorang kolektor tanpan yang dapat berpergian kemanapun kakiku melangkah. Aiiss...


Belum lagi ini, apa tua bangka gila hormat itu buta, anaknya baru terbangun dari komanya kemarin sore, belum lagi anaknya masih berumur sepuluh tahun tapi mahluk itu sama sekali tak peduli, dengan seenaknya memberikan sebuah kota, belum lagi itu salah satu dari tujuh kota terbesar di kerajaan karlarss. Sial ini cukup menghambat rencanaku. Huff... "


Gumam Damar dengan kesalnya, tapi seketika dia mengingat sesuatu hingga menciptakan senyum licik di bibirnya.


bukan kah menarik bila seperti itu?!


####

__ADS_1


__ADS_2