
Setelah kejadian tadi pagi kala bertemu dengan seorang kakek tua yang terluka itu, kini Damar telah berada di kamarnya membuka pakaiannya bersiap untuk mandi tapi saat ia ingin menurunkan celana treningnya ia merasakan sebuah benda berbentuk dadu di dalam kantung kanannya.
Damar merasa heran dan penasaran karna setahunya ia tak pernah memasukan apapun di dalam celananya. Tidak apapun, bahkan uang sekalipun. Ia mengeluarkan benda berbentuk dadu itu dari kantung celananya, sesaat setelah melihatnya seketika keningnya berkerut. Tanda tanya mulai terlihat di dalam matanya.
" Eh,,Ini rubik kan?, Kenapa ada di kantuntung celanaku??, Apa apaan warnanya ini, kenapa hitam semua !!, Apa ini bisa dimainkan??, loh,, Bukan itu masalahnya sejak kapan aku punya rubik??? Datang darimana benda ini?? "
Perotes Damar dengan dirinya sendiri, ia bingung tentang keberadaan rubik yang secara tiba-tiba saja ada dalam kantung celananya belum lagi rubik itu seluruhnya berwarna hitam legam. Aneh.
" Apa ini berbahaya? "
Ucap Damar dengan tangannya yang tak henti hentinya memutar rubik itu tapi tak ada reaksi dari rubik itu hanya seperti rubik biasa yang mempunyai warna hitam legam di semua sisi.
Apa ini perbuatan kakek yang terluka itu,
tapi apa tujuannya?? Bukan, kalau ini perbuatannya kapan ia memasukannya..
Pikir Damar, kini dia benar-benar kesal, ini masih pagi hari tapi otaknya telah di paksa untuk berkerja lebih keras, hanya untuk memecahkan banyaknya tanda tanya di taknya yang entah mengapa datang secara bersamaan.
tok tok tok
Bunyi ketukan pintu menghentikan lamunan Damar. Di balik pintu terdengar suara lembut seorang wanita berumur 40 tahunan.
" Sayang ayo turun kita sarapan bersama "
" Ah, iya mah Damar mandi dulu nanti Damar turun ke bawah "
" Baiklah mama tunggu cepatlah turun " Balas wanita yang tidak lain ibu Damar itu denga lembut, Ia berbalik lantas menuruni tangga.
Damar pun bergegas meraih handuknya dan memasuki kamar mandi saat Damar hendak membuka pintu kamar madi, dia baru menyadari bila rubik hitam itu masih berada di tangan kirinya tanpa pikir panjang Damar melempar kebelakangnya secara asal.
Lalu Damar melanjutkan kegiatan mandinya hingga selasai. Setelah selasai Damar keluar dari kamar mandinya membuka lemari bajunya dan memilih kaos putih polos dan celana panjang berwarna hitam.
Damar menuruni tangga dan menemui Ibunya yang berada di ruang makan seketika Damar tersenyum sandu ketika matanya bertemu dengn mata sang Ibu yang tengah tersenyum hangat dengan tatapan sayangnya mendapati Damar.
Sekali lagi Damar tersentuh nan penuh syukur dengan kehidupan yang dia dapatkan ini.
" Sayang sini duduk di sebelah mama " Ucap sang Ibu, dengan tangan kanannya yang menepuk pelan kursi di sisi.
Damar masih dengan senyumnya mengangguki setiap kalimat sang Ibunya katakan, duduk di sebelah kanan Ibunya dengan mendapati hamparan makanan lezat yang tergeletak dengan leluasa di depannya. Benar-benar menggugah selerah.
" Wah, mama kau memang luar biasa " ucap Damar antusias dengan tangan yang menciduki setiap sayur dan di letakan di piringnya.
Sedangkan Ibunya tersenyum geli melihat anaknya dengan mata rakusnya menatap setiap makanan dan tangannya yang belum juga ada niat berhenti untuk menciduki setiap sayur yang berada di meja bulat hadapannya.
Kegiatan sarapan itupun berlangsung dengan gelak tawa cerita antara Ibu dan anak hingga makan mereka selesai.
" Mama apa mama tidak curiga pada pelayan dan tukang kebun kita yang mita cuti secara bersamaan sepuluh hari yang lalu dan sampai sekarang mereka belum ada kabar "
Tanya Damar secara tiba-tiba, seketika Ibu Damar mencubit hidung Damar gemas hingga memerah.
" A,aaww,, Sakit mah, " Eerang Damar menggosok hidungnya yang memerah setelah di lepas oleh sang Ibunya yang tersenyum misterius dan hal itu sebenarnya di sadari oleh Damar, tapi ia hanya diam.
" Jangan mencurigai mereka seperti itu mereka sudah berkerja pada kita selama bertahun tahun loh " Omel sang ibu. " Baiklah sudah waktunya mama ke kantor mama akan berangkat sekarang ya sayang~ " Ucap sang ibu lantas mengecup kening Damar.
__ADS_1
Damar yang melihat senyum ibunya dan cara ibunya menghindari pertatanyaannya pun semakin merasa curiga tapi seketika ibunya mengecup kening Damar membuat Damar terkejut.
" Hati hati di jalan mah " Ingin rasanya Damar bertanya tapi entah mengapa hany itu ucapan Damar yang keluar dari bibirnya, dengan senyum mengembang di bibirnya yang di angguki oleh sang ibundanya.
Yah,, kalaupun mama dan ayah berbohong pun aku akan percaya kok asal itu mereka, karna aku yakin apapun yang mereka lakukan pasti demi kebaikanku.
Setelah ibunya pergi Damarpun beranjak pergi ke kamarnya kembali ia merebahkan tubuhnya diatas kasur. Menatap langit-langit tempat tudurnya. lalu,
Menghubungi Wisnu menggunakan ponselnya tapi masih sama ponsel Wisnu tak aktif begitupun dengan Anggi, Hal itu kembali membuat Damar pun mendesah kesal.
" Apa apan ini, seakan akan kalian meninggalkan ku sendirian,
ini kan hari sabtu harusnya kita sepeti biasa kekafe, membuly Arsal, atau main game bareng atau main basket kalau tidak kerumah Wisnu latihan silat.
Benar benar ya...
Aku rindu padamu Arsal mahluk paling jahil tingkat dewa, kau tau Arsal. Aku paling malu kalau kau sudah mulai membuka suaramu itu. tapi,
Sekarang Wisnu aku tak tau dia berada dimana lantas Anggi yang dulu kita kenal paling dewasa dan hangat di antara kita semua sekarang dia,
Menjadi seperti batu es yang teramat dingin dan, aku, yah.. Aku rasa sekarang aku menjadi seperti orang gila yang bicara sendiri "
Sadar Damar dengan tindakannya, dengan tangan kanannya yang menutupi matanya namun seketika Damar bangkit ia tak mau berlarut larut dalam kesedihannya.
Damar tipekal orang yang tak akan membiarkan hatinya melemah, dan berlarut-larut dalam kesedihannya, walau ia sedang sedih sekalipun. ia mempelajari hal ini dari pengalaman menyakitkan dan kematian miris di kehidupan sebelumnya.
Karna itu Damar mengambil benda seperti helem dan memakainya dengan berbaring di atas kasurnya lagi, seketika kesadarannya di ambil alih dan masuk kedalam dunia yang berbeda yaitu Dunia Game.
Akhirnya Damar bermain game sampai siang hari tapi karna tidak ada kegiatan lain yang dia harus ia lakukan Damar pun melanjutkan permainannya hingga sore hari.
Damar menuruni kasurnya berniat pergi keminimarket membeli cemilan dan menunggu ibunya pulang, lalu makan malam bersama sang ibu tersayang.
Saat Damar melangkahkan kakinya untuk mengambil jaket seketika kakinya menginjak sesuatu yang keras tanpa aba-aba tubuhnya terbanting kebawah.
Entah mengapa dia benar-benar merasa sial saat ia melihat teryata di dekat kakainya terdapat rubik hitam, kemudian ia ingat karna ialah yang membuang secara asal saat memasuki kamar mandi tadi pagi. Kini dia benar-benar menyesalinya.
Dengan kesalnya ia mengabil rubik hitam itu lalu berdiri mengambil jaketnya dan tanpa sadar ia mengantungi rubik hitam itu.
Damar melangkah keluar rumah menuju minimarket dengan berlari kecil hingga sampai keminimarket memilih dan pulang tapi pulang kali ini Damar berjalan.
Ahh, bulan purnama ya...
Pikir Damar kala melihat langit tanpa di sadari ia telah memasuki gerbang dan kini berdiri tepat berada di depan pintu rumahnya iapun membuka pintu rumahnya secara perlahan.
" HAPPY BIRHDAYYY "
" SELAMAT ULANG TAHUN ANAKKU "
" SELAMAT ULANG TAHUN PUTRAKU "
" SELAMAT ULANG TAHUN DAMAR "
" SELAMAT ULANG TAHUN TUAN MUDA "
__ADS_1
Dan masih banyak lagi serangan teriakan dari dalam rumah yang membuat jantung Damar benar-benar melonjak hapir keluar dari rongganya karna terkejut bukan main.
" A,, Apa yang ter... " Bulum selesai Damar berkomentar sang Ibu Damar membawa kue dengan lilin angka 20 th, Damar baru sadar ini adalah malam ulang tahunnya dan lebih mengejutkan lagi adalah.
Dari Anggi, Wisnu, ayah ibunya dan semua pelayannya hadir. Ini pasti sudah di rencankan, Damar yakin. Yah walaupun masih ada yang kurang tapi Damar tetap menjaga senyumnya dengan ceria.
Walau disisi lain Damar merasakan amat pilu, ia yakin semuanya juga merasa kannya tapi mereka tetap menjaga senyum dan ceria mereka, agar tak dilihat oleh Damar di hari membahagiakan ini.
" Ayo tiup lilinnya sayang~~ " Teriak girang sang ibu Damar. Walau ada sedikit sembab di ujung matanya, sepertinya mamah habis mengis itulah sekilas pikiran Damar memandangi sang ibu.
Begitupun yang hadir bersorak sorai ' tiup, tiup, tiup ' dengan pasrah Damar meniup lilin itu.
Tanpa di duga Anggi dan Wisnu meraup kue yang di pegangi oleh ibunya Damar dan melemparnya kewajah Damar, dengan reflek Damar menghindar.
Belum puas akan hal itu Anggi dan Wisnu melemparinya lagi. Terlihat di mata antusias mereka kalau mereka merasa kesal atas menghindarnya Damar, Dan mereka seperti predator yang hendak membalas dendam dengan cara apapun.
" Hey, hey, apa apaan ka-kalian ini, hey.. hentikan tatapan mengerikan kalian itu.. Tu, tunggu jelaskan dulu kalian sengaja mengerjaiku ya.."
Ucap Damar tergesa gesa bercampur emosi tapi tak di hiraukan oleh mereka, malah menjadi bahan tertawaan mereka semua.di tertawai oleh semua orang yang hadir di sana membuat suasana menjadi riuh dan ramai.
Damar hanya bisa tersenyum getir dan berlari ke halaman rumahnya, untuk menghindari lemparan tak henti yang mereka lakukan. Sungguh tak ada cela dan keterlaluan menurut Damar, kenapa kedua sahabatnya ini ingin sekali membuatnya kotor dengan kue-kue itu, itulah pikiran Damar saat ini.
Tanpa di sangka saat Damar menengok kebelakang semua orang bergabung dengan Anggi dan Wisnu termasuk sang ayahnya sendiri yang Damar banggakan malah berlari mengejarnya dan melempari kue ke arahnya. Shok, Damar sungguh tak menyangka akan hal ini.
" hey, ini tidak adil!!, kenapa kalian mengeroyok ku "
Teriak Damar seakan kesal dan emosi tapi sebenernya dia sangat bahagia dengan suasana ini walau tersirat kesedihan mendalam karna orang yang paling kurangajar saat bercan takkan ada lagi, yaitu Arsal di antara mereka tapi ini sudah lebih dari cukup. Ya,dia tak boleh serakah. Mengharapkan orang yang telah mati dengan tenang untuk hidup lagi, itu jelas tidak mungkin.
Tanpa diduga Damar terjatuh wajahnya menghantam tanah dengan cukup keras, dan itu sakit tapi, bukannya mereka menolong Damar mereka semua malah menertawai Damar sampai mengeluarkan air mata dan memegangi perut mereka.
Rubik hitam yang berada di kantung Damar terpental keluar dan saat Damar mulai berdiri rubik itu mengeluarkan cahaya hitam dan unggu secara bersamaan dikarnakan terkenanya pantulan sinar bulan purnama saat ini.
Damar ingin mengomel kepad ayah, ibu, Anggi, wisnu dan semua yang tengah mentertawainya tapi, Damar lebih terkejut melihat rubik itu bercahaya aneh menurutnya karna perpaduan hitam dan unggu secara bersamaan, namun hal mengejutkan lainnya adalah ayahnya dan Anggi berteriak histeris dan berbarengan dengan keras.
" DAMAR CEPAT MEYINGKIR DARI RUBIK ITU.. "
Seketika semua orangpun terkejut dengan ketidak mengertian mereka
tapi terlambat sudah sebelum Damar bereaksi dari tempat ia terjatuh rubik itu telah meledak dengan sinar warna hitamnya tepat di sebelah Damar.
Saketika seluruh pandangan Damar menggelap rasa sakit di seluruh anggota tubuhnya tidak tertahan.
'Sakit sakit sekali ,,
Apa yang terjadi padaku??
Di mana ini kenapa gelap sekali ??
Rasa ini seperti... Jangan jangan aku mati lagi...
Ah, begitu rupanya..
Rubik sialan itu yang membawaku dalam kematian ini. Hey, hey, apa aku kena karma.
__ADS_1
Ah,, sakit, sakit, sekalii. Padahal ini hidup bahagiaku apa aku, memang harus mengakhirinya.'
Perlahan lahan kesadaran Damarpun menghilang tanpa dia sadari jiwanya tidak lah pergi ketempat jauh, tapi rubik hitam itu mengantar ke suatu tempat di mana dia akan mengenalnya untuk mengubah takdir yang akan kacau di masa yang akan datang namun di tempat yang berbeda.