Kekasih Putraku Istri Kedua Suamiku

Kekasih Putraku Istri Kedua Suamiku
Bab 10


__ADS_3

Mario mengantarkan Yumna pulang, dan saat dijalan, dia di ikuti oleh sebuah mobil. Dari kaca spion dia melihat jika itu adalah Anjar, mantan pegawai di kantornya juga mantan suami Yumna. Tiba-tiba mobil itu melaju sangat kencang, lalu menyalip mobilnya dan berhenti tepat di depan mobil Mario. Anjar langsung turun dan mendekati mobil Mario. Mario juga turun, karena dia punya masalah yang belum dia selesaikan dengan Anjar soal penembakan itu.


"Apa mau mu! Kenapa menghadang jalanku?!" tanya Mario saat dia sudah berhadapan dengan Anjar. Anjar terlihat congkak dan sombong.


"Heh! Pria impoten!"


"Apa kau bilang?" Mario terbelalak dan menatap Anjar dengan mengepalkan kedua tangannya.


"Haha, kau pasti heran dengan panggilan itu. Lalu apa yang akan aku pikirkan tentang dirimu? Kau kaya, cukup tampan, dan sukses! Tapi kau.... sepertinya tidak tertarik pada wanita. Apakah kau......punya masalah dengan hal itu?"


"Jaga bicaramu!" Anjar meradang mendengar hinaan Anjar padanya.


"Kalau begitu, cepatlah menikah dan jauhi mantan istriku atau anak-anak ku! Carilah gadis lain yang masih lajang! Kau lihat berapa usia Yumna? Dia seorang ibu, sudah punya dua anak. Apakah seleramu begitu rendah! Hingga kau terus saja menempel padanya! Kau bisa mendapatkan gadis lain yang lebih cantik darinya! Masih perawan atau lajang! Dan bukan bekas orang!"


"Tutup mulutmu! Jangan pernah menghina Yumna di hadapanku! Atau akan aku patahkan lehermu itu!"


"Haha.....kau berani!? Lakukan saja jika bisa!"


Saat Mario akan melangkah, dan sudah siap meninjunya. Dia tiba-tiba teringat akan Yumna dan anak-anak nya.


Aku tidak boleh terpancing emosi oleh perkataan nya. Jika aku melakukannya. Seluruh tulangnya akan patah. Dan apa yang aku dapatkan dari semua ini! Sudahlah! Lebih baik aku pergi!


"Hei! Kau mau kemana? Dasar penakut!"


Mario segera masuk kedalam mobilnya. Dia marah, tapi dia tidak akan terpancing dengan semua perkataan mantan suami Yumna.


.


Pulang dengan rasa kesal, membuatnya tidak berselera untuk makan atau bicara panjang lebar dengan pamannya seperti biasanya. Paman Billy mengamati gerak-gerik Mario.


"Ada apa? Apa ada masalah? Ini hari kasih sayang? Tapi kau pulang dengan wajah di tekuk seperti itu," tegur sang paman lalu duduk disamping Mario.

__ADS_1


Mario menyandarkan punggungnya dan menengadah ke langit. Dia menatap lama sambil memikirkan sesuatu.


"Paman, apakah aku pria normal?"


"Tentu saja! Kenapa bertanya seperti ini?"


"Tidak papa paman. Aku akan ke kamar sekarang!"


Mario berjalan ke kamarnya. Dia membuat pamannya terheran-heran dan mengangkat kedua bahunya. Pamannya hanya menggelengkan kepalanya pelan. Dia tahu apa yang di pikirkan Mario.


Mario duduk di meja kerjanya dan menatap foto kecil. Dia mengamati foto itu sangat lama. Lalu mulutnya bergumam pelan.


"Pria seperti Anjar tidak pantas mendapatkan wanita sebaik Yumna. Dan tidak akan aku biarkan lagi dia menghalangi kebahagiaan Yumna,"


"Aku berjanji!"


.


Inara berada didalam mobil ketika Anjar turun. Dan saat melihat ekspresi wajah Anjar dia bertanya. Dia sejak tadi memperhatikan dari spion mobil apa yang dilakukan dua pria itu ketika mereka berdua bertemu.


"Dia mencoba mengambil posisiku sebagai ayah untuk kedua anakku. Tidak akan aku biarkan hal itu terjadi!"


"Kau masih saja terobsesi dengan mbak Yumna. Kalian sudah bercerai. Kenapa masih mengurusi urusan pribadinya. Biarkan saja dia berteman dengan siapapun, itu bukan urusanmu!" Inara cemburu dan kesal akan sikap Anjar yang kekanak-kanakan.


"Tidak bisa! Yumna tidak boleh dekat apalagi menikah dengan Mario! Aku benar-benar sakit hati padanya! Dia sudah memecatku dan membuat Ronan semakin membenciku!"


"Mas Anjar. Kita sudah menikah. Tidak bisakah kita hidup damai dan tenang? Kita tidak perlu ikut campur lagi urusan mereka,"


Anjar segera menginjak gas dan mengemudikan mobilnya dengan amarah yang membara. Dia marah karena Mario tidak melayaninya. Mario justru pergi bahkan setelah dia menghinanya.


Melihat ucapanya tidak didengarkan oleh suaminya, Inara hanya bisa diam dan tidak berbicara lagi.

__ADS_1


.


Yumna sedang duduk berdua dengan ayahnya. Yumna menaruh kepalanya di pangkuan ayahnya di hari kasih sayang ini. Ayahnya adalah kekuatan untuknya. Dan dia bersyukur meskipun ibunya sudah tiada, tapi ayahnya masih bersamanya.


"Ayah...apakah aku bukan istri yang baik?"


"Kau adalah istri yang baik nak. Suamimu yang tidak bisa memahami dan melihat kebaikan mu," Ayahnya bicara sambil mengelus rambut Yumna.


"Ayah, hari ini aku bersama dengan temanku sekaligus bosku. Dan aku merasa dia berbeda dengan Mas Anjar. Dia sangat memahamiku dan menghormati diriku. Lalu, kenapa meskipun aku dan mas Anjar sudah menikah selama dua puluh tahun, dia tetap saja tidak bisa bersikap hormat padaku, dia bahkan masih saja menghinaku meskipun kami sudah bercerai,"


"Kau memang tidak bisa menutup mulutnya untuk berbicara seperti yang kau inginkan. Mereka punya mulut dan sikap yang mereka kendalikan sendiri. Yang harus kau lakukan adalah, menghindari nya. Jika bertemu dengannya hanya akan membuatmu sedih. Maka jauhi dia!"


"Hmm...."


Yumna lalu bangun dan menatap ayahnya dengan tersenyum.


"Ayah, maafkan aku. Aku gagal didalam membina rumah tanggaku dan kembali padamu. Aku membuat kau terbebani dengan masalahku dan anak-anak ku,"


"Tidak nak. Ayah juga bersalah padamu. Ayah pikir dulu Anjar adalah pria yang baik dan bertanggungjawab. Tapi ternyata ayah salah. Maafkan ayah nak....."


"Tidak ayah.....jangan berkata seperti itu. Sekarang aku sudah bekerja. Dan pajak Pabrik juga sudah di lunasi. Ayah...doakan aku, agar aku bisa bekerja dengan baik dan segera membayar lunas hutangku pada Mario..."


"Jika ayah masih sehat, ayah pasti akan membantumu bekerja. Dan tidak akan membiarkan mu menjadi tulang punggung keluarga," sesal ayahnya dan terlihat matanya berkaca-kaca ketika menatap putri kesayangannya.


"Ayah....restu dan doamu sudah lebih dari cukup untukku. Ini adalah impianku yang aku pendam begitu lama. Akhirnya aku bisa bekerja di sebuah perusahaan dan menjadi wanita karir,"


Yumna menikah dan setelah menjadi sarjana dia tidak bekerja sama sekali. Begitu menikah dia langsung melahirkan Ronan. Kesibukan nya mengurus anak dan keluarga suaminya, membuatnya total menjadi ibu rumah tangga.


Dan saat itulah tanpa dia sadari, dia lupa pada kebiasaan berdandan, memakai baju kesukaannya, dan jalan-jalan dengan teman-teman nya.


Ibu mertuanya akan memarahinya ketika dia pergi jalan-jalan dengan temannya. Ibu mertuanya akan mengatakan jika dia hanya akan menghamburkan uang suaminya dengan bepergian. Akhirnya sejak saat itu, Yumna benar-benar mengabdikan diri pada keluarga suaminya.

__ADS_1


Hingga suaminya merasa bosan dan merasa Yumna tidak menjadi layak untuknya ketika dia benar-benar setiap hari badannya bau bumbu dapur.


Sementara suaminya memakai jas dan dasi serta berbau wangi. Rambutnya rapi dan bersih serta terlihat parlente.


__ADS_2