Kekasih Putraku Istri Kedua Suamiku

Kekasih Putraku Istri Kedua Suamiku
Bab 11


__ADS_3

Hari demi hari Mario semakin menikmati kebersamaan bersama Yumna sebagai sahabat dekat. Namun dimata orang lain hubungan tanpa nama itu di anggap salah. Seorang pria dan wanita dewasa, terlihat bersama setiap hari tanpa nama pada hubungan mereka, lama-lama menggelitik para tetangga untuk menegur Yumna.


Seperti hari ini, Yumna akan membeli sayur karena ada yang habis dan dia lupa membelinya.


"Mbak Yumna, maaf ya sebelumnya. Kami lihat hampir setiap hari mbak Yumna bersama pria tampan itu. Apakah dia calon suamimu?"


Yumna terperangah mendengar pertanyaan salah seorang tetangganya. Namun karena dia bertanya dengan nada rendah tanpa bermaksud menghinanya, Yumna lalu menjawabnya.


"Dia adalah bos ku di perusahaan. Dan karena itu kami sering terlihat bersama,"


"Itu loh mbak, tetangga disini pada ngomongin mbak Yumna. Mereka berfikir hal yang ngga-ngga karena kan mbak Yumna sekarang lajang lagi. Dan setiap hari bersama pria itu," terangnya lagi.


"Memangnya tidak boleh punya sahabat setelah kita dewasa? Apakah hanya remaja yang boleh punya sahabat?"


"Bukan begitu mbak, di masyarakat kita, jika janda atau wanita lajang setiap hari bersama pria yang bukan saudaranya atau bukan calon suaminya, maka akan menjadi fitnah,"


"Ohh begitu, aku lajang dan Mario juga lajang. Jika kami bersahabat, apa yang salah dalam persahabatan ini?"


"Ehm, ngga salah sih mbak... bang berapa bang?"


Si penanya itu langsung pergi dan malu pada Yumna. Dia langsung kembali kerumahnya dan tidak menoleh sama sekali. Dalam hati dia menyesal, kenapa menuruti permintaan teman-temannya untuk menanyakan hal pribadi itu pada Yumna.


.


Sementara, mantan mertua Yumna datang untuk bertemu dengan Ronan dan Rachel. Mereka membawa beberapa oleh-oleh karena baru saja bepergian ke luar kota. Dan kebetulan, saat itu dirumah hanya ada Rachel dan Ronan saja.


"Nenek sudah menelpon kalian berdua untuk datang ke rumah? Kenapa kalian tidak datang juga?"


"Maaf nek. Kami sangat sibuk. Sedang banyak tugas sekolah. Kami jadi tidak bisa pergi ke rumah nenek," ucap Rachel. Ronan menyalami neneknya dan kembali dengan buku bacaannya, seakan dia cuek pada keluarga ayahnya karena masih marah pada sang ayah.


"Dimana ibumu?" tanya sang nenek sambil meletakkan oleh-oleh di atas meja.

__ADS_1


"Ibu belum pulang nek. Hari ini ibu lembur, dan sepertinya akan pulang agak malam," jawab Rachel.


"Nasehati ibumu itu. Jangan bertingkah seperti gadis remaja. Bekerja jangan pulang terlalu malam. Apalagi di antar bosnya yang kaya raya itu. Apa tidak malu sama tetangga, apa kata tetangga jika ibumu terus bersikap seperti itu,"


"Memangnya apa yang salah dengan sikap ibu nek. Ibu bekerja mencari nafkah. Jika kadang-kadang harus pulang larut, itu karena tuntutan pekerjaan. Apakah jika kami kekurangan para tetangga akan mengulurkan bantuan? Jika ibu tidak bekerja, bagaimana kami akan makan?"


"Kau ini masih kecil tapi bicara seperti orang dewasa. Aku adalah nenekmu. Aku bicara begitu, karena dia adalah ibumu. Putraku memang bersalah. Tapi apakah yang di lakukan ibumu sekarang ini benar? Orang akan berfikir ibumu seperti wanita yang tidak baik,"


Rachel menatap neneknya dan menaruh buku yang sedang dia baca di atas meja. Rachel tidak mengerti apa maksud ucapan neneknya.


"Kau tahu, wanita yang orang sebut dengan kupu-kupu malam? Masyarakat berfikir jika wanita yang telah di tinggalkan suaminya, mereka kekurangan uang dan menjadi kupu-kupu malam, apalagi setiap hari di antar jemput oleh pria kaya. Masyarakat mungkin akan berfikir hal yang sama tentang ibumu itu,"


"Nenek! Kenapa nenek berfikiran buruk tentang ibu. Ibu tidak seperti itu!" Rachel marah dan menatap tajam mata neneknya. Ucapannya soal ibunya, sangat menyakiti hatinya. Ronan juga menoleh saat neneknya bicara dan menyebut ibunya kupu-kupu malam. Ronan menarik nafas dalam dan mendekati neneknya.


"Itu tidak benar! Ibu hanya bekerja dan tidak melakukan tindakan amoral. Kami sangat mengenal ibu. Dia bukan wanita seperti itu! Jika nenek berani menghina ibu lagi! Kami tidak akan mau bertemu denganmu! Ayahlah yang pantas di salahkan untuk semua ini!"


"Nenek hanya mengingatkan kalian. Jangan sampai dia keluar dari jalan yang benar. Itu saja,"


Saat kecil, aku yang mengurus kedua cucuku. Tapi karena Yumna, kini kedua cucuku juga marah padaku.


"Bu....." Tiba-tiba Yumna masuk dan kaget saat melihat ada ibunya Anjar.


"Hei! Lihat jam berapa sekarang!" tegur mantan ibu mertuanya dengan mata melotot.


Terdengar sebuah mobil meninggalkan halaman rumah Yumna, dan sang mantan ibu mertua menoleh ke halaman. Dia menarik salah satu bibirnya dan mencibirnya.


"Maaf Bu, jika saya tahu ibu di rumah, saya akan pulang cepat. Saya tadi lembur,"


"Alasan klasik!" cetus ibunya Anjar.


"Yumna. Apakah kamu tidak malu pulang jam segini dan di antar oleh bosmu itu? Orang akan berfikir buruk tentang dirimu. Dan aku tidak mau kedua cucuku, manjadi bahan ejekan orang akibat perbuatan amoral mu itu,"

__ADS_1


Yumna tertegun saat ibu mertuanya mengatakan jika dia berbuat amoral.


"Anak-anak, masuklah kedalam," Yumna tidak ingin kedua anaknya mendengar kata-kata kasar atau tidak pantas, sehingga menyuruh mereka untuk masuk kedalam kamarnya.


"Ya Bu...." Ronan dan Rachel lalu meninggalkan ruang tamu dan masuk kedalam kamarnya.


"Jangan berfikiran sama seperti mereka yang terbelakang Bu. Aku bekerja untuk menafkahi keluarga. Ibu juga tahu jika aku tidak akan melakukan perbuatan amoral seperti itu,"


Yumna tidak habis pikir jika ibu mertuanya tega menilai buruk dirinya.


"Lalu apa yang harus aku pikirkan? Kau itu bukan gadis lagi. Kau wanita paruh baya dan punya dua anak remaja. Tapi kau berduaan terus dengan pria tanpa status yang jelas. Apa bedanya kau dengan putraku sekarang?"


"Ibu....tega sekali ibu menuduhku seperti itu. Aku masih waras. Aku masih bisa membedakan yang benar dan yang salah,"


Yumna sangat sedih mendengar tuduhan dari mantan ibu mertuanya.


"Aku tahu, kau bukan menantuku lagi. Tapi jika orang berkata buruk tentang dirimu, terkadang mereka menyebut namaku juga. Dan aku merasa tidak tahan mendengar pembicaraan mereka tentang perilaku mu itu!"


"Ibu....."


Yumna tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Kepalanya hanya menggeleng mendengar apa yang di ucapkan ibunya Anjar. Sangat menusuk hati dan jantung.


Ronan keluar dan membela ibunya. Dia tidak rela ibunya di hina seperti itu. Padahal jelas-jelas ibunya bekerja mencari nafkah dan untuk membayar hutang pajak dan Om Mario, dia adalah pria yang baik. Dia sangat menghormati ibunya.


"Nenek, pulanglah. Sudah malam, jangan membuat keributan. Ibu sudah lelah, batu saja pulang, tapi nenek memarahinya,"


"Kau mengusir nenekmu?"


"Nenek...bukan begitu...."


Ibunya Anjar menatap kesal wajah Yumna. Lalu dia pergi meninggalkan rumah Yumna dengan amarah yang masih membara.

__ADS_1


__ADS_2