
Satu bulan kemudian...
Mario mengajak Yumna pergi menonton di bioskop. Dan kebetulan, Yumna tidak menolaknya. Yumna duduk di samping Mario dengan popcorn ditangannya. Dan sejak tadi Mario terus memperhatikan dirinya. Dia sedang memikirkan waktu yang tepat untuk mengungkapkan isi hatinya sebelum datang melamar Yumna.
Ahh, kenapa sulit sekali mengungkapkan perasaan dan isi di hatiku padanya. Apakah semua pria bermasalah dengan cara membuat wanita mengerti jika dia mencintainya. Cinta itu sangat besar, tapi nyali untuk menyatakannya sangatlah kecil.
Apa yang mereka pertimbangkan hingga tidak mengatakan jika mereka mencintai dengan sangat dalam. Dan apa yang mereka tunggu hingga tidak pernah menemukan waktu yang tepat untuk mengatakannya. Misteri cinta para pria ini benar-benar tidak mudah untuk di pahami.
Didalam bioskop, Yumna sesekali menoleh pada Mario. Dia juga merasa perasaan lain muncul di hatinya karena perhatian yang Mario berikan padanya dengan tulus. Jujur, dia merasa senang dan nyaman. Namun berharap lebih dari sekedar hubungan pertemanan, membuatnya minder dan malu.
Mario masih lajang dan belum pernah menikah, dia tampan dan kaya raya. Sedangkan Yumna, dia adalah janda dengan dua anak remaja. Pantaskah dia menikah lagi dan itupun dengan pria lajang setampan Mario?
Ahh, apa yang aku pikirkan?
Yumna tersenyum ketika Mario memergokinya sedang menatap dirinya dalam diam dan gelapnya lampu di bioskop.
.
Pulang dari menonton, Mario mengajak Yumna makan malam. Dan disana Yumna baru tahu jika ternyata Mario berulang tahun hari ini. Itulah sebabnya dia tidak ke kantor dan mengajak Yumna menonton. Setidaknya ulang tahun kali ini dia bersama orang yang paling berarti dalam hidupnya.
"Jika aku tahu kau berulang tahun, maka aku akan membeli sesuatu untukmu,"
"Tidak perlu. Menghabiskan waktu bersamaku itu sudah lebih cukup bagiku..."
"Apa?" Yumna kaget dengan ucapan Mario.
"Yumna.... sebenarnya....."
Yumna menunggu dengan sabar apa yang akan di ucapkan Mario hingga mereka makan romantis di sebuah restoran yang hanya ada mereka berdua, seakan mereka sedang berkencan saja.
"Sebenarnya....aku...."
Yumna lagi-lagi menunggu dengan sabar kelanjutan kalimat yang terputus itu.
"Aku apa?" tanya Yumna menatap tajam Mario yang duduk di hadapannya.
__ADS_1
Tiba-tiba, Mario bersimpuh di kaki Yumna dan satu tanganya mengeluarkan sebuah cincin untuknya.
"Maukah kau menikah denganku? Sebenarnya, aku mencintaimu sejak dua puluh tahun yang lalu. Dan cinta itu bertambah besar saat ini saat aku tahu kau berpisah dari suamimu...."
"Apa?" Yumna terkejut karena semua terjadi tiba-tiba. Dan untuk memutuskan apakah dia akan menikah lagi atau tidak, bukan dia yang akan menjawabnya. Tapi keluarganya. Termasuk kedua anaknya.
Dia sekarang bukan lajang seperti saat muda dulu. Tapi dia janda dan punya tanggung jawab terhadap kedua anaknya. Jadi anaknya yang akan menjawab lamaran Mario dan bukan dirinya.
"Semua ini terlalu tiba-tiba,"
"Aku tahu. Kau pasti sangat terkejut. Tapi aku benar-benar tulus mencintaimu Yumna. Aku hidup dan berjuang itu karena selalu ada namamu didalam hatiku sejak dua puluh tahun yang lalu,"
"Mario....maafkan aku. Tapi kau tahu, aku punya Ronan dan Rachel. Aku harus bertanya pada mereka sebelum menjawabmu,"
"Baiklah. Aku akan menunggumu...."
Mario lalu duduk dan tersenyum, karena akhirnya dia bisa mengungkapkan isi di hatinya. Sedangkan Yumna, dia merasa canggung saat ini. Makanan selezat itu, menjadi tidak nikmat karena pikirannya kemana-mana.
.
Yumna duduk bersama Rachel dan Ronan. Yumna lalu menceritakan apa yang terjadi beberapa hari dirumah ini. Lamaran bos komplek itu, dan juga lamaran Mario. Keduanya memang belum di bicarakan dengan kedua anaknya.
"Ya. Tapi semua itu tergantung pada kalian berdua. Jika kalian tidak ingin ibu menikah lagi, maka ibu akan menolak mereka berdua,"
"Aku malu, entah kenapa, aku merasa egois karena meminta agar kau tidak menikah lagi. Kami sudah merasa tenang dan bahagia. Kita bertiga sudah bahagia tanpa siapapun lagi," ucap Ronan dan juga Rachel.
"Baiklah. Jika kalian bahagia kita hidup bertiga seperti ini, maka ibu akan menolak lamaran mereka berdua," ucap Yumna. Karena dia sendiri ragu untuk memulai hidup baru di usia yang sudah tidak muda lagi.
"Ibu....maaf....apakah ibu kecewa dengan kami?" tanya Ronan menatap ibunya.
"Tidak nak. Ini keputusan yang besar. Karena itu, pemikiran kalian sangat penting bagi ibu,"
Tiba-tiba dilamar dua pria, itu membuatnya bingung. Dan tidak pernah dia duga sebelumnya. Sedangkan kalau ayahnya, lebih senang jika Yumna menikah lagi. Karena ayahnya merasa sudah tua, dan Yumna pasti membutuhkan sosok pelindung jika dia tiada. Anak-anak akan menikah dan hidup dengan keluarganya masing-masing suatu hari nanti. Sebagai ayah, dia ingin Yumna bahagia dan punya teman hidup kembali.
Yumna menatap hangat kedua anaknya. Ronan dan Rachel lalu memeluknya.
__ADS_1
"Kami sayang ibu...."
Setelah ibunya selesai dengan urusanya, dia lalu keluar dari kamar anaknya. Didalam Ronan dan Rachel saling tatap lalu saling bicara.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Ronan kakaknya.
"Aku tidak ingin ibu terluka lagi. Itu saja," jawab Rachel.
"Hem....kau benar. Cinta hanya membuat kecewa dan terluka," Ronan berfikir jika hidup tanpa cinta akan lebih mudah, dan tidak akan merasakan sakitnya terkhianati.
.
Satu hari kemudian, Yumna akan memberikan jawaban untuk Mario, jika dia tidak bisa menerima cintanya. Namun saat melewati jalanan yang sepi, dia di hadang empat orang pria dengan memakai masker dan penutup wajah. Yumna tidak mengenal siapa mereka, dan berfikir jika mereka adalah perampok.
Yumna mengendarai mobilnya dan berhenti mendadak saat dua sepeda motor menghadangnya.
Satu orang memaksa membuka pintu dan kaca jendelanya.
"Jika kau tidak membukanya, aku akan memecahkan kaca. Dan kau akan terluka!" ancam salah satu dari mereka.
Karena terdesak dan melihat kenekatan mereka, Yumna akhirnya membuka kaca jendelanya dengan perasaan takut.
"Jangan sakiti aku. Ambillah ini. Kau mau harta bukan. Ambil tas dan perhiasan yang aku pakai. Dan cepat pergi dan jangan dekati aku!" Yumna mengendarai mobilnya dan berhenti mendadak saat dua sepeda motor menghadangnya.
"Sayangnya, kami tidak membutuhkan hartamu! Buka pintunya dan pindah kesamping!" Salah seorang mereka menyuruh Yumna pindah ke jok disampingnya.
Dia sendiri langsung masuk dan mengambil kemudi mobil Yumna.
"Kau! Apa yang kau lakukan?"
"Diamlah nona. Jika kau menurut pada kami, maka kami tidak akan menyakitimu!"
Mobil Yumna melaju dengan kencang. Dan Yumna duduk disampingnya dengan dada berdegup kencang dan tangan serta kaki gemetar.
Ingin rasanya dia meminta pertolongan, tapi handphonenya ada diatas itu. Dan ayahnya terlalu tua untuk menolongnya. Mantan suaminya sibuk dengan Inara. Dan Ronan, mana mungkin dia membatalkan jiwa putranya. Hanya seseorang yang bisa menolongnya, dia adalah sahabat nya, Mario.
__ADS_1
Lagi-lagi aku harus bergantung pada Mario.
.