
Yumna masuk kedalam ruangan dan mendonorkan darahnya untuk Ronan. Saat ini kondisi Ronan tidak kritis, tapi dia kehilangan banyak darah. Mario dan Rachel menunggu diluar dan terlihat gelisah.
Rachel mendekati Mario dan menanyakan bagaimana kecelakaan itu terjadi.
"Om, apakah penabrak itu melarikan diri saat om datang kesana?" Mario menatap Rachel dengan terkejut.
"Tidak....." jawab Mario pelan dan sesekali membuang pandangannya.
"Lalu, dia ada dimana? Apakah polisi menangkapnya?" Mario menarik nafas dalam seakan tertekan dengan semua yang baru saja terjadi. Perasaan bahagia nya yang baru saja membeli cincin untuk melamar Yumna, berganti dengan perasaan cemas dan takut kehilangan.
"Dia ada di hadapanmu," ucap Mario dan sontak saja membuat Rachel kebingungan. Matanya memutar ke kanan dan ke kiri. Hanya ada dirinya dan Mario di luar ruangan itu.
"Tidak ada siapapun om," Rachel masih tidak memahami maksud perkataan Mario.
"Aku tidak sengaja menabraknya. Aku melihat dia di jembatan. Tiba-tiba dia seakan ingin bunuh diri, melintas tanpa menoleh kanan dan kiri. Untunglah aku sempat menginjak rem. Jika tidak, maka entah apa yang akan terjadi," Mario menjelaskan apa yang terjadi dan membuat mulut Rachel terpana.
Dan disaat yang sama, Yumna baru saja keluar dari dalam ruangan dan mendengar apa yang di katakan Mario. Yumna berdiri mematung dan mulutnya juga ternganga mendengar apa yang dikatakan Mario.
Yumna bahkan harus menutup mulutnya dengan satu tangannya saking shocknya.
Jadi Mario yang menabraknya? Astaga. Bagaimana ini bisa terjadi?
Yumna berjalan mendekati Mario yang sedang berdiri berhadapan dengan Rachel. Mario terkejut ketika Yumna tiba-tiba datang. Dan Mario berfikir mungkin Yumna mendengar pembicaraan antara dirinya dan Rachel.
Apa yang harus dia tutupi lagi? Kini dia hanya menunggu reaksi Yumna. Apakah dia akan marah, atau bahkan menyalahkan dirinya dan membencinya.
"Jadi kau yang menabraknya?" Yumna berdiri tepat di hadapan Mario yang menatapnya dengan perasaan bersalah.
Mario mengangguk.
Yumna terlihat menarik nafas dalam-dalam lalu berusaha tetap tenang. Mario lalu menceritakan kembali bagaimana kecelakaan itu terjadi. Dan saat Mario bercerita, Anjar yang keluar dari ruang perawatan Inara, tanpa sengaja menoleh dan mendengar apa yang baru saja di ucapkan Mario jika dia menabrak Ronan.
Anjar langsung berjalan cepat ke arah Mario sembari mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Jadi kau menabrak putraku?" Anjar dengan kemarahan bereaksi sangat kasar. Dia mencengkeram kerah di leher Mario.
Mario diam saja karena merasa bersalah atas kejadian ini.
"Kau! Kau menabrak putraku?" Anjar merasa ini saatnya untuk membalas perbuatan Mario karena telah memecatnya.
"Aku akan melaporkan mu pada polisi! Kau harus di hukum!"
Melihat apa yang dilakukan Anjar pada Mario membuat Yumna mendekati mereka berdua. Yumna menatap tajam pada wajah Anjar, mantan suaminya.
"Lepaskan tanganmu!" hardik Yumna menatap Anjar.
"Dia akan aku laporkan pada polisi!"
"Tunggu dulu! Setelah mendengar penjelasan Mario, Ronan yang bersalah, dia menyeberang tanpa melihat jika ada kendaraan yang melaju, dia harus tahu jika itu bisa membahayakan jiwanya juga pengendara lain," terang Yumna setelah mendengar penjelasan Mario.
"Jangan membelanya. Oh, kalian mulai saling melindungi sekarang. Apa hubungan kalian sudah sejauh itu?"
"Tutup mulutmu mas Anjar!" Yumna geram karenanmantan suaminya masih saja terobsesi dengan dirinya.
Anjar menatap mereka berdua dengan senyum sinis.
"Lihat saja! Jika sampai putraku kenapa-kenapa, maka kau pasti akan membusuk didalam penjara!" ancam Anjar pada Mario.
Dan ketika itu, dokter keluar dan mengatakan jika Ronan telah sadar.
"Keluarganya silahkan melihatnya?" ucap dokter ketika kondisi Ronan sudah membaik.
"Kau tetap disini! Kau bukan keluarganya!" Hardik Anjar lagi. Yumna dan Rachel segera masuk. Mario tetap berdiri di depan dan menunggu kabar dari Yumna.
.
Ronan menatap Ibunya dan adiknya, dalam hati merasa bersalah pada mereka berdua. Karena dia putus asa hingga hampir mengakhiri hidupnya. Kedua sudut matanya mengeluarkan airmata mengenang perbuatannya. Hanya karena seorang wanita, dia hampir saja mengorbankan dirinya dan membuat hancur keluarganya.
__ADS_1
"Bu, maafkan aku......" Ronan meminta maaf dengan lirih pada Yumna ibunya.
"Sadar nak. Jangan kau ulangi perbuatan mu ini. Apakah kau tidak sayang pada kami. Kami sangat menyayangimu...." Yumna memeluk Ronan dengan pelan.
"Iya kak. Kami sangat menyayangimu. Jangan pernah seperti ini lagi...."
Rachel juga mendekati kakaknya dan memeluknya. Saat melihat ke pintu, Ronan melihat Anjar masuk, dan saat itu juga dia memalingkan wajahnya.
"Kenapa dia ada disini Bu?"
"Dia adalah ayahmu. Dia ingin tahu keadaan mu..."
"Suruh dia pergi Bu. Aku tidak ingin melihatnya..." ucap Ronan memohon pada Yumna.
Yumna mengangguk dan berbisik pada Anjar.
"Mas, tolong pergilah. Ronan sedang shock dan tertekan. Dia belum siap bertemu denganmu kembali. Aku mohon mengertilah...." Yumna memohon pada Anjar untuk keluar dari ruangan itu.
Anjar mengangguk tanpa bicara. Dalam hati dia sedih dan kecewa karena putranya tidak mau melihat dirinya. Padahal dia ingin memperbaiki hubungan mereka.
"Terimakasih...."
Yumna lalu kembali duduk di sisi Ronan. Dan saat itu, Ronan menceritakan bagaimana dia menolong Inara, membawanya kerumah sakit dan bertemu dengan Tuan Anjar. Dan karena semua itu, dia hilang kendali atas dirinya. Perasaan sedih dan kecewa juga amarah bercampur aduk membuatnya melakukan hal senekat itu.
"Mario mencarimu....dan dia menabrak mu tanpa sengaja. Kau tiba-tiba menyeberang jalan...." terang Yumna mengatakan apa yang terjadi pada Ronan.
"Apa? Sekarang dimana om Mario?"
"Dia ada didepan..."
"Aku ingin bertemu dengannya..." ucap Ronan.
Yumna lalu berdiri dan akan memanggil Mario. Namun saat keluar dia tidak menemukan Mario ada disana. Yang ada hanya Anjar dan tersenyum sinis padanya.
__ADS_1
"Polisi datang dan membawanya. Dia pantas di hukum atas perbuatannya!" Anjar mengatakan dengan bersemangat dan dia merasa puas karena bisa balas dendam pada Mario.
Yumna terkejut mendengarnya hingga manik matanya melebar menatap mantan suaminya.