Kekasih Putraku Istri Kedua Suamiku

Kekasih Putraku Istri Kedua Suamiku
Bab 12


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian,


Mario mondar-mandir didalam kamarnya. Pamannya mendesaknya untuk mengungkapkan isi hatinya pada Yumna. Tapi Mario takut jika Yumna akan tersinggung. Karena sejak awal, Yumna sangat percaya padanya, jika kedekatan mereka hanya sebatas sahabat saja.


"Belilah sebuah cincin. Dan lamar dia jika kau sudah siap!" ucap sang Paman di ruang tamu di rumah Mario.


"Cincin?" Mario mengerutkan keningnya.


"Ya. Yumna sekarang tidak bersuami. Artinya dia wanita lajang. Tidak salah jika kau mendekatinya dan melamarnya,"


"Bagaimana jika dia marah dan persahabatan kami hancur?"


"Mario. Dulu kau tidak berani melakukannya, lalu dia dilamar orang lain. Sekarang kau harus melakukannya. Sudah ku bilang, jangan melajang seumur hidupmu dan mengikuti jejakku,"


Mario nampak mengangkat kedua bahunya dan sedikit menarik kedua duduk bibirnya. Menatap sang paman tanpa bicara sepatah katapun.


"Aku pergi paman,"


"Ya, pikirkan apa yang aku katakan. Sebelum ada orang lain yang mendahului nya,"


Mario mengangguk tanpa menjawab lalu pergi. Sepanjang perjalanan ke kantor, apa yang di pikirkan pamannya terus saja terngiang di kepalanya.


Mario lalu berhenti disebuah toko perhiasan yang baru saja buka. Seorang pegawai tersenyum ramah menyambut pembeli pertamanya. Mario tersenyum lalu langkahnya terhenti.


"Baiklah. Aku beli cincinnya dulu. Dan akan aku lamar di saat yang tepat,"


Mario lalu memilih satu cincin yang menurutnya pas dengan karakter Yumna. Dia mengira-ngira ukuran jari manis Yumna, manik matanya naik ke atas seakan memikirkan mana yang paling pas saat di pakai.


"Ini saja!" Mario lalu membeli cincin itu dan kembali ke mobilnya. Didalam mobil dia membuka kembali cincin yang dia beli untuk Yumna, sambil melihat dan mengamati, bibirnya tersenyum andai saja dia punya keberanian untuk menyatakan perasaannya.


.


Yumna sudah sampai di kantor Mario lebih pagi dari biasanya. Sedangkan Mario baru saja datang karena tadi dia membeli cincin seperti saran pamannya.


"Selamat pagi pak!" Entah kenapa Mario malah menjadi canggung dan berdebar saat Yumna menyapanya.


"Pagi...." Mario terus saja memikirkan soal cincin dan melamarnya. Hal itu membuat jantungnya semakin berdebar saat bertatapan dengan Yumna.


"Bapak baik-baik saja?" tanya Yumna saat melihat gerak-gerik Mario lain dari biasanya. Dia melamun dan menatapnya, lalu dia nampak putus asa dan tertunduk.

__ADS_1


"Ehm, ya...aku baik-baik saja!"


Mario lalu duduk di kursi. Dan Yumna kembali ke meja kerjanya. Yumna melihat beberapa berkas yang sudah ada di meja dan memeriksanya. Hutangnya pada Mario sudah berkurang dan sudah dia bayar setiap bulan dengan memotong gajinya.


Mario melihat Yumna dari kursi tempatnya duduk. Mengamati setiap detail wajah Yumna dan jantungnya semakin berdebar hebat. Yumna merasa ada yang memperhatikan, dan dia menoleh ke arah Mario. Tapi Mario dengan gerakan cepat, langsung memutar kepalanya dan melihat ke arah lain.


.


Inara hari ini ijin tidak ke kantor, dia akan memeriksa kandungannya. Setelah kedua orang tuanya tahu jika dia tidak jadi menikah dengan Ronan dan justru malah jatuh cinta dengan ayahnya, keluarganya marah dan mengusirnya dari rumah.


Inara mengemudikan mobilnya dengan perasaan yang kalut. Ayahnya sedang sakit tapi dia tidak boleh datang menjenguknya, karena ayahnya melarangnya. Mereka memutus hubungan keluarga karena menganggap perbuatan Inara itu telah mencoreng nama baik kedua ayah dan ibunya.


Hal itu, membuat Inara sedih dan menangis sambil menyetir.


"Apa salahku? Aku jatuh cinta pada mas Anjar. Apakah mencintai pria yang lebih tua itu salah?"


"Kesalahanku adalah aku membuat Ronan kecewa dan terluka. Tapi mencintai pria seperti mas Anjar, itu tidak salah. Dan dia juga membalas cintaku. Dia mendapatkan kebahagiaan bersamaku, yang tidak dia dapatkan dari mbak Yumna,"


Karena tidak hati-hati saat menyetir, Inara menabrak mobil yang sudah terparkir sejak tadi. Dan yang ada didalam mobil itu adalah Ronan. Untunglah dia sudah turun dan saat dia kembali dia melihat mobil belakangnya penyok dan melihat pengemudi yang menyetirnya.


"Inara!" Ronan sangat terkejut. Terlebih saat melihat Inara tidak sadarkan diri didalam mobilnya, mungkin karena syok.


"Ke rumah sakit pak!"


Ronan menggendong Inara kerumah sakit. Dan sepanjang perjalanan, dia terus saja menatap wajah wanita yang dia cintai sepenuh hati tapi mengkhianati cintanya. Kendati sudah di khianati, tapi masih ada sisa cinta yang sulit sekali benar-benar hilang dari hatinya.


Ketika menatap wajahnya, Ronan tersenyum pahit.


"Apa kurangnya aku? Hingga kau mengecewakan harapanku? Dan apa kelebihan Tuan Anjar, hingga kau tergila-gila padanya?"


Sejak mengetahui perbuatan ayahnya, Ronan memanggil ayahnya dengan sebutan Tuan Anjar. Hingga saat ini dia tidak mau mengakuinya sebagai ayahnya.


.


Ronan menunggu dengan sabar ketika dokter memeriksa Inara. Dan dokter mengatakan jika Inara keguguran. Ronan sangat sedih mendengar semua itu.


Inara menangis sesenggukan saat tahu jika kecelakaan itu membuatnya keguguran. Dan Ronan masuk untuk melihat keadaannya. Dalam benci, rasa cinta itu masih tersisa mengalahkan kebenciannya saat ini.


Inara menoleh dan tertunduk saat tahu jika Ronanlah yang menyelamatkan dirinya dan membawanya ke rumah sakit.

__ADS_1


"Terimakasih...." ucap Inara dalam keheningan. Ronan tak bersuara, dia hanya menatap wajah Inara dengan perasaan buang sulit di jelaskan. Sementara Inara memilih untuk menatap ke arah lainnya. Dia tidak sanggup bertatapan dengan mata Ronan setelah mengkhianati cintanya.


Dan disaat yang sama, Tuan Anjar masuk dan saat itu dia melihat Ronan ada didalam bersama Inara. Tuan Anjar menghentikan langkahnya. Namun dalam hati dia ingin memperbaiki hubunganya dengan putranya.


Akhirnya dia melangkah maju mendekati Ronan dan akan menyentuh pundaknya dan memeluknya.


"Ronan...."


Ronan menoleh saat mendengar suara pria yang dia benci. Ronan tidak menjawabnya.


"Terimakasih...kau sudah menyelamatkan dirinya,"


"Jika orang lain ada di posisinya, aku juga pasti akan melakukan hal yang sama"


"Ya....."


Tuan Anjar jadi salah tingkah. Inara awalnya bahagia karena Ronan masih memperhatikan dirinya, namun setelah mendengar jawaban barusan, dia menjadi kecewa.


"Jika kau sudah datang, maka aku akan pergi!" ucap Ronan.


"Tunggu nak," ayahnya semakin dekat padanya.


"Aku minta maaf karena semua yang aku lakukan padamu. Apakah kau mau memaafkan aku? Lalu kita bisa seperti dulu lagi?"


Ronan terkejut dan menatap ayahnya dengan sejuta rasa muak.


"Kepercayaan yang rusak dan hati yang patah, meskipun membaik, tetap saja ada bekasnya. Tidak bisa kembali seperti sediakala,"


"Aku tahu. Perbuatan kami terhadapmu tidak pantas kau maafkan. Tapi,...."


"Sudahlah Tuan Anjar. Aku harus pergi. Dan yang kau minta soal hubungan kita seperti dulu lagi. Itu sangat mustahil. Kau bukan hanya mengecewakan aku tapi juga ibu. Apa kurangnya ibu bagimu. Dia mengurus semua keluarga mu dengan baik selalu menghormati mu, tapi apa balasanmu? Kau membuat ibuku menderita,"


"Ronan...."


Ayahnya memanggilnya ketika Ronan akan melangkah pergi. Namun Ronan tidak menoleh sekali pun.


Didepan rumah sakit, Ronan memukul tembok berulang kali hingga tanganya terluka.


"Kenapa aku bertemu dengan mereka? Kenapa aku punya hubungan dengan mereka? hiks hiks. Orang-orang menjijikkan!"

__ADS_1


Akhirnya benteng pertahanan nya pecah untuk tidak menangis tapi airmata tidak bisa di hentikan keluar dari sudut matanya. Jika pria sampai menangis, lukanya pasti sangat dalam.


__ADS_2