Kekasih Putraku Istri Kedua Suamiku

Kekasih Putraku Istri Kedua Suamiku
Bab 21


__ADS_3

Seorang gadis datang bersama Lusi berkunjung ke rumah Yumna.


Tante Lusi mengenalkan keponakan nya yang bernama Tiara pada Ronan. Dan saat pertama kali mendengar nama itu, hati Ronan terguncang, karena namanya sangat mirip dengan nama wanita yang sudah menyakiti hatinya.


"Dia Tiara...bukan Inara...." kata Tante Lusi ketika melihat roman wajah Ronan yang seperti bertekan.


Hal itu tidak luput dari pandangan Tiara. Tiara tersenyum manis pada Ronan. Namun Ronan hanya tersenyum dengan terpaksa karena menghormati Lusi adalah teman ibunya.


"Aku akan masuk kedalam. Ibu akan segera datang...." ucap Ronan. Lusi mengangguk. Dan Tiara menatap punggung Ronan dengan tak berkedip hingga beberapa detik.


"Aneh sekali! Baru kali ini aku bertemu pria yang bahkan dia tidak menatapku saat berbicara!" keluh Tiara dengan kesal.


"Ada alasannya, kenapa sikapnya seperti itu," ucap Lusi.


Lusi lalu menjelaskan apa yang di alami Ronan. Juga bagaimana dia patah hati dan mungkin trauma jika bertemu dengan wanita cantik.


"Ohh....pantas saja. Sikapnya berbeda dari pria pada umumnya,"


"Bagaimana denganmu? Kau masih ingin mendekati nya setelah kau tahu sikapnya akan dingin padamu?"


"Tante....aku datang karena panggilan hati. Aku jatuh cinta padanya saat bertemu pertama kali di sebuah pesta. Namun saat itu aku sedang menyelesaikan skripsi ku,"


"Kalau begitu, selamat berjuang! Semoga kau berhasil meluluhkan hatinya. Tidak mudah mendapatkan kepercayaan dari pria yang telah di khianati kekasihnya. Karena dia akan berfikir, semua wanita sama seperti mantannya,"


"Akan aku buktikan. Jika tidak semua wanita sama. Aku pasti akan meluluhkan hatinya...!" ucap Tiara.


Hari berganti bulan.


Ronan kesal dengan Tiara yang caper dan terus mendekati nya. Namun Tiara, tetap sabar dan tidak mau meninggalkan Ronan, meskipun berulang kali Ronan menolaknya dan mengeluarkan kata-kata kasar padanya.


Seperti hari ini.


Tiara datang ke apartemen Ronan. Karena satu bulan ini, Ronan tinggal di apartemen milik Mario karena suatu urusan.


Tiara menelponnya, dengan malas Ronan mengangkat telepon itu.


"Aku ada didepan pintu apartemen mu. Tolong buka pintunya ya...." ucap Tiara.


"Tapi...."

__ADS_1


"Ku mohon ....."


Ronan menutup teleponnya dengan menarik nafas berat. Jelas sekali dia muak dan kesal dengan Tiara yang sudah dia usir berulang kali agar menjauhinya namun tetap saja tidak mau berhenti.


Ronan membuka sedikit pintunya dan hanya kepalanya yang melongok keluar.


"Ada apa?" tanyanya dengan dingin.


"Aku datang karena aku tahu jika kau pasti belum makan. Jadi aku memasak dan aku membawakannya untukmu," ucapnya bersemangat.


"Taruh disitu lalu pergilah!" Jawab Ronan tetap dingin. Dalam hatinya, tidak sedikitpun dia tertarik lagi pada wanita meskipun kecantikan nya menyilaukan mata.


Semakin wanita itu cantik, kemungkinan untuk berkhianat semakin besar. Karena para wanita berfikir, jika kecantikannya layak untuk di bayar mahal oleh kekasihnya dengan dompet yang tebal.


Jika dia menemukan pria, tidak peduli teman, saudara atau bahkan orang terdekat dari kekasihnya itu, maka dia langsung berpindah haluan. Para wanita cantik sangat menyadari daya tariknya. Dan mengukur semua itu dengan tebalnya dompet para pria. Itu yang di pikirkan boleh Ronan dan membuatnya muak setiap kali melihat kecantikan Tiara.


"Apa yang kau tunggu?!" Kenapa masih berdiri disini?"


"Bagaimana jika aku menemani mu makan?"


"Itu tidak perlu. Jika ada kau maka aku akan tersedak saat makan!" Ketusnya.


"Apa?"


"Eh, apa-apaan kau ini?"


Tiara langsung mengunci apartemen itu dan mengambil kuncinya.


"Maaf! Aku terpaksa!"


"Kau ini wanita atau pria? Kau bertingkah seperti seorang pria!" Ronan benar-benar terpana dengan kelakuan Tiara yang memaksa masuk dan mereka kini berduaan didalam.


Tiara lalu berjalan-jalan di sekeliling ruangan itu, dan memuji Ronan karena dia termasuk pria yang rapi. Hal itu bisa dia lihat dari meja yang bersih. Barang-barang tertata di tempat yang seharusnya.


Bagaimana pun, para pria akan berantakan saat tinggal sendirian. Tapi ternyata tidak dengan Ronan. Dia berbeda, karena itulah Tiara semakin gencar mengejarnya dan berusaha meluluhkan hatinya.


Jika tidak bisa dengan tingkahnya yang manis dan lemah lembut, maka dia akan bersikap berbeda agar bisa berdekatan dengan Ronan.


"Aku belum mandi! Apakah aku bisa numpang mandi disini?!"

__ADS_1


"Apa? Apakah kau tidak waras?" Ronan membelalakkan matanya. Wanita ini benar-benar gila! Pikirnya.


"Heh, dengar! Kau seenaknya saja tinggal dirumahku. Lalu kau masuk apartemen ku. Sekarang kau akan mandi juga disini? Kau tidak takut?"


"Takut? Apa yang aku takutkan dari pria seperti mu? Kau tidak tertarik dengan kecantikan ku. Kau berbicara tanpa menatap diriku. Jadi...kenapa aku harus takut?"


"Heh, dengar. Gadis yang masih waras akan berpikir seribu kali untuk numpang mandi di apartemen pria!" Ronan benar-benar kesal dengan kenekatan Tiara.


Namanya saja yang mirip. Tapi kelakuan mereka sangat jauh berbeda. Inara adalah gadis yang lemah lembut dan tidak akan melakukan hal gila seperti mandi di apartemen kekasihnya. Dan gadis ini, dia cantik tapi otaknya tumpul.


"Minggir! Aku akan mandi. Jangan ngintip ya...."


"Heh! Tunggu!"


"Daaa...."


Tiara langsung masuk kekamar mandi dan menguncinya dari dalam.


Ronan mondar-mandir di depan pintu kamar mandi dengan memegang kepalanya yang pusing mendadak karena kenekatan Tiara.


"Dimana kuncinya! Aku harus mengusirnya dari sini!"


Ronan mencari kunci yang tadi di bawa Tiara. Tapi dia tidak menikah dimanapun.


"Ah! Sial! Dia membawanya bersamanya!"


Ronan lalu duduk di pinggir ranjang menunggu Tiara keluar dan akan menyeretnya keluar dari apartemen nya.


Namun tiba-tiba Tiara berteriak dari dalam kamar mandi.


"Tolooooong!"


Ronan langsung berlari dan berdiri didepan pintu kamar mandi.


"Masuk saja! Pintunya tidak di kunci!" Teriak Tiara dari dalam kamar mandi.


Gadis ini benar-benar gila! Dia mandi dan pintunya tidak di kunci? Astaga!


"Ronan! Tolong! Aku terpeleset dan tidak bisa berjalan!" Teriaknya dari dalam sana.

__ADS_1


"Apakah kau memakai baju? Maksudku...aku akan masuk menolongmu!" Ronan pun menjadi panik. Jika gadis ini kenapa-kenapa, atau dia mati didalam, maka dia bisa menjadi tersangka, itu yang Ronan pikirkan saat ini.


"Masuk saja! Tidak masalah!" Teriaknya lagi.


__ADS_2