Kekasih Putraku Istri Kedua Suamiku

Kekasih Putraku Istri Kedua Suamiku
Bab 6


__ADS_3

Anjar sakit hati pada Mario. Maka dia akan membalas rasa sakit hatinya. Dia menyewa dua orang untuk menghajar Mario di sebuah jalan yang sepi.


Mario berhasil mengalahkannya, namun saat dia berbalik akan masuk kedalam mobilnya, salah satu penjahat itu menembaknya. Dan disaat yang sama, Yumna sedang lewat dengan mobilnya.


"Mario!'


Melihat Mario berdarah dan tertembak, Yumna segera menolongnya dan membawanya masuk kedalam mobilnya. Yumna membawanya ke rumah sakit.


"Bertahanlah! Aku akan membawamu ke rumah sakit!"


"Kau ini! Apa yang kau lakukan?! Kenapa bertengkar di usia yang sudah bukan remaja lagi! Lihat! Kau jadi terluka!"


"Ck, apakah kau khawatir padaku?"


"Tentu saja! Jika orang lain terluka di hadapanmu, apakah kau tidak akan menolongnya?"


"Ah, aku pikir...."


Lagi-lagi aku berharap Yumna sudah tahu perasaanku padanya. Dia masih saja polos seperti dulu. Tidak mengerti apapun. Bahasa perasaan bahasa isyarat, bahkan bahasa tubuh yang terluka.


"Kita sudah sampai. Biar aku membantumu turun,"


Yumna memapah Mario.


Bukannya merasakan luka tembaknya Mario malah merasakan dadanya berdebar dan hampir saja copot ketika menempel pada tubuh Yumna. Wangi tubuhnya, begitu semerbak hingga menembus hatinya. Sesaat dia lupa pada rasa sakit karena terluka. Dia hanya merasakan debaran hatinya dan wangi tubuhnya.


"Dokter, tolong teman saya ini!"


Dokter segera mengobati Mario. Lukanya sudah di perban dan Yumna sudah di ijinkan masuk untuk melihatnya.


"Jangan banyak bergerak," Yumna duduk di sampingnya.


Mario tersenyum kecil dan manis, lagi-lagi dia menikmati wajah Yumna dengan detail dan dekat.


"Terimakasih, kau sudah menyelamatkan aku...."


"Kau tidak pantas bertengkar hingga terluka seperti ini,"


"Baiklah, aku akan menurut padamu, dan aku tidak akan melawan jika mereka berdua akan membunuhku. Aku akan menuruti perkataan mu...."


"Bukan begitu Mario. Eh, ..."


"Lalu apa?" Mario menatap lekat wajah Yumna.


"Aku khawatir melihatmu terluka seperti ini,"


"Lalu?"


"Kau menjadi orang yang paling berarti saat ini. Dan aku tidak mau kehilangan dirimu?"


"Kau mencemaskan aku?"


"Tentu saja. Aku punya hutang padamu dan aku harus membayarnya,"

__ADS_1


"Jadi kau mencemaskan aku hanya karena hutang itu? Aku pikir kau cemas karena ada hal lainnya...."


"Hal lain apa maksudmu?"


"Tidak...."


Yumna lalu menyuapi Mario makan sepanjang hari ini dan juga membantu memberinya obat.


Sore hari pamannya datang dan Yumna pamit untuk pulang. Pamannya akan datang sejak tadi pagi, tapi Mario mengirimkan pesan agar dia tidak datang karena masih ingin dirawat oleh Yumna dan berduaan bersamanya. Rasanya dia tidak ingin siapapun mengganggu kebersamaan nya dengan Yumna saat ini, bahkan dia kesal ketika berulang kali suster masuk.


"Aku tahu, kau senang karena Yumna mengurus mu bukan?"


"Ah, paman....tebakanku benar sekali,"


Sang paman hanya menggelengkan kepalanya melihat Mario seperti ini.


"Maaf paman, tapi seharian bersama Yumna seperti ini jarang aku rasakan. Kau tahu, saat dia menyuapiku, mengkhawatirkan diriku, aku merasa dia seperti istriku. Aku ingin terus seperti ini. Merasakan dan melihat kehadiran nya setiap hari di dekatku,"


"Kalau begitu, tunggu apalagi. Jika sudah sembuh, lamar dia dan katakan kau mencintainya sejak dua puluh tahun yang lalu!"


"Tidak paman. Aku belum siap mengatakannya...."


"Dasar kau ini!"


"Paman.....!"


Sang paman hanya tersenyum melihat pria yang dia kasihi sejak kecil. Yang sejak kecil sudah dia anggap seperti putranya sendiri.


.


"Mario......" Yumna menggelengkan kepalanya lalu membuka tirai di jendela.


"Suster, aku bilang nanti saja! Kau tidak dengar apa kataku tadi? Aku masih mengantuk!"


Yumna diam saja. Dia tetap merapikan tirai itu dan cahaya matahari pagi masuk hingga membuat wajah Mario nampak silau dan bercahaya.


"Paman! Kau dimana?"


Pamannya sudah pulang sejak tadi. Yumna tersenyum melihat tingkah bos barunya itu ketika tidurnya terusik.


"Katakan pada suster untuk menutup tirainya!"


Yumna tersenyum kecil mengamati wajah Mario yang berbicara sambil tertidur.


"Hem......"


"Paman!"


"Cepatlah bangun dan makan lalu minum obat," suara Yumna seperti masuk kedalam mimpinya.


Ini nyata atau mimpi? Mario akhirnya terpaksa membuka matanya perlahan.


"Kau bertanya ini nyata atau mimpi?" Yumna tersenyum lucu menatap Mario yang mengusap-usap matanya.

__ADS_1


"Yumna....itu benar-benar kau? Tapi....." Mario menggumam dalam hati, dia heran bagaimana Yumna bisa mendengar apa yang tidak dia ucapkan.


"Ayolah, sudah siang. Bangun...lalu minum obat. Polisi sudah menyelidiki dua orang yang menyerangmu?" terang Yumna menjelaskan.


"Apa?" Mario menyipit kan salah satu matanya.


"Aku yang melaporkan nya," ucap Yumna dengan nada rendah.


"Kau melaporkan nya pada polisi?" Kini Mario justru menaikkan nada bicaranya.


"Ya. Tentu saja. Ini tindakan kriminal, maka harus aku laporkan pada polisi!" Ternyata Yumna bergerak cepat.


.


Siang ini polisi berhasil menangkap dua pelakunya berkat kamera yang ada di mobil Mario. Dan kedua orang yang memukuli itu sudah mengaku jika mereka disuruh oleh seseorang.


Yumna mendapat telepon dari kepolisian jika mereka sudah menangkap dua orang yang memukul dan satu orang yang menyuruh melakukan tindakan itu.


"Mas Anjar, kenapa kamu nekat seperti ini?!" tanya Inara saat menemuinya di kantor polisi. Suaminya ada di balik jeruji besi karena keangkuhannya.


"Karena aku kesal dengan pria itu. Dia memecatku dan sok pahlawan dengan menyelamatkan Yumna serta menjadi pahlawan kesiangan untuk mereka,"


"Tapi kamu bersalah jika menyuruh orang untuk memukuli Pak Mario," Inara bahkan tidak mendukung apa yang dilakukan suaminya. Dia malah kesal karena suaminya seakan masih terobsesi pada mantan istrinya.


"Sudahlah! Kau juga sama dengan bosmu itu. Kalian tidak memahami alasan kenapa aku melakukan semua ini. Kalian hanya melihat aku adalah orang yang bersalah saja," Karena Tidak ada yang bisa memahami alasannya, maka Anjar bertambah kesal. Dan Inara adalah orang yang paling sering menjadi pelampiasan kekesalan nya. Dia adalah tipe pria yang sulit mengendalikan emosinya. Dan tipe pria yang selalu menyalahkan orang lain untuk semua masalah yang menimpa nya.


"Kau selalu mudah marah dan tidak bisa mengendalikan emosi. Jadi seperti ini akibatnya!"


.


Orang tua Anjar pergi kerumah Yumna dengan amarah yang besar. Dan saat itu dirumah hanya ada ayahnya saja. Mereka datang langsung memaki dan bicara tidak pantas tentang Yumna.


Untunglah Rachel ada dirumah dan segera menelpon Yumna agar pulang kerumah.


Yumna berdiri dipintu dan mengangguk hormat serta menyapa orang tua Anjar dengan ramah.


"Ayah...ibu...."


"Tidak usah berpura-pura baik di depanku! Kau membela bos barumu itu dan membuat mantan putraku masuk penjara!"


"Apa maksud perkataan ibu. Saya tidak mengerti,"


Barulah ayahnya Anjar menjelaskannya dengan pelan dan hati-hati, tidak seperti istrinya yang sudah datang dengan amarah meledak-ledak. Ibunya Anjar sangat marah pada Yumna karena dia menuntut cerai dari putranya. Dan sejak saat itu kemarahanya masih belum reda.


Yumna tertegun saat tahu jika mantan suaminya yang telah menyuruh orang untuk memukuli Mario.


"Jadi, mas Anjar di balik semua ini. Tapi kenapa? Kenapa dia melakukan semua ini?"


"Pasti karena orang itu telah bersalah padanya lebih dahulu. Jika tidak, putraku mana mungkin akan berbuat seperti itu. Putraku tidak bersalah, orang itu pasti yang bersalah!"


"Ibu....Mario adalah korban!"


"Terus saja kau bela dia. Atau jangan-jangan sekarang kau mulai dekat dengan pria itu?"

__ADS_1


"Ibu...."


Yumna tertegun dan kepalanya menggeleng, hatinya sakit saat mendengar ucapan itu dari mantan ibu mertuanya.


__ADS_2