
Pagi ini kaki ika sudah benar2 sembuh, mama menyiapkan bubur sumsum untuk sarapan ika. Dilahapnya dengan cepat karena ingin segera berangkat sekolah.
"ika, mama mau ambil barang pagi, ayo skalian mama anter ke sekolah!" mama sudah siap dengan tas disisi kanan tangannya.
"ayo ma, ika sudah selesai kok sarapannya" jawab ika antusias.
Mereka berjalan keluar rumah dan mama yang mengunci pintu, pintu rumah ada 2 mama bawa yang asli dan ika bawa duplikat kapanpun mereka pulang lebih dulu agar tak saling tunggu.
Ika dengan cepat naik ke mobil mama, rasnya ingin segera menatap Altarik lagi.
Sepanjang perjalanan ke sekolah ika dan mama menyenandungkan lagu yang terputar dimobilnya suaranya bersaut sautan hingga sampai ke depan sekolah.
"mama ika masuk dulu ya" ika mencium tangan mamanya.
Dan mama tersenyum mengangguk menatap ika.
Ika segera turun dari mobil, yang pertama dilihat ada sadga melintas didepannya. Ika tak menyapa karena laju motor sadga dengan cepat menuju area parkir. mata ika mengelilingi sekitar tak nampak ada altarik disana. Ika berharap altarik masih berusaha membujuk ika untuk menemani neneknya.
Ika berjalan dengan cepat menuju kelas. Ada janet menatapnya sinis.
"sayang banget ini hari ulang tahun gue, malas banget ngerjain orang ini!" ucapnya kasar sambil menatap ika.
Ika terus berjalan tak mau ambil pusing perkataan janet.
Sesampai dikelas vera belum juga nampak.
Ika duduk dibangku dan bermain ponsel sambil menunggu kedatangan vera.
Sadga mendekati ika dan duduk disampingnya.
"hoe...!" ucap sadga menyapa.
"nanti siang anter gue pulang, mau?" tanya ika
"kenapa harus mau,? Siapa loe!" jawab sadga
"oh iya gue lupa, loe kan berubah-ubah, oke gue coba ajak altarik aja deh!" ucap ika penuh senyum.
Toh sadga sudah mengetahui perasaannya untuk altarik.
"kemarin ada yang nyerah, sekarang mau berjuang lag" tanya sadga meledek.
"iya gue berubah pikiran, sekarang gue mau nyari Altarik" ucap ika siap2 berdiri.
"sejak kapan Altarik mau respek sama loe! Entar sakit hati lagi" sadga membiarkan ika beranjak.
__ADS_1
"terserah loe ngomong apa, gue gak peduli, males temenan sama loe labil, bentar2 baik bentar2 nyebelin" ika berlalu meninggalkan kelas.
Berjalan mencari keberadaan Altarik. Akhirnya ika menemukan Altarik didekat lapangan basket Hatinya tiba2 terasa sejuk. Harapannya kembali terbuka lebar. Tapi ika tak yakin Altarik masih mau menyapanya. Ika mencoba berjalan didepan Altarik. Sayangnya Atarik tak menatapnya sama sekali, padahal ika pikir altarik akan membujuknya lagi. Dugaan ika salah besar. Altarik Acuh padanya, Ika kecewa.
Bukan sekarang mengajak bicara Altarik, banyak gerombolannya,batin ika.
Ika memutar langkahnya ingin kembali ke kelas. Bertabrakan kesekian kali dengan sadga.
"kenapa? Katanya nyari altarik, tu" tunjuk sadga.
"gak jadi, bukan urusan loe" ucap ika.
"ya kenapa? Udah sampe sini juga!" tanya sadga lagi.
"lo bisikin dia, suruh kesini temuin gue, kalau loe ga mau sadga pertemanan kita selesai" ucap ika kesal.
"oke loe lihat gue ya" jawab sadga lalu berlari ke arah Altarik, sadga membisikan sesuatu dan Altarik menatap ika.
Setelahnya Altarik kembali mengobrol dengan teman lain, tak ada pergerakan ingin menemuinya. Sadga kembali berlari ke arah ika.
"ayo gue anterin loe balik ke kelas!" ucap sadga sambil tertawa.
"ngomong apa loe?" tanya ika.
Marah karena Altarik tak mau menemuinyaz hatinya kesal dan marah karena sadga masih saja mengejeknya.
"ika tunggu! Kan yang gamau nemuin loe altarik bukan gue, kok loe marah" sadga mengikuti ika yang berjalan cepat didepannya.
"sadga, jangan ganggu gue, ngomong sama loe itu percuma, loe orang yang ga punya hati, ga pernah menghargai perasaan orang lain, gue salah!!! Mau temenan sama loe!" jawab ika dengan nada tinggi membuat sadga terdiam dan menghentikan langkahnya.
Membiarkan ika berlalu, gadis yang sudah tak terlihat didepannya marah besar, karena ucapannya.
***
Bel istirahat berdering, ika dan vera saling pandang.
"mau makan apa loe?" tanya vera melihat ika kembali lesu seperti hari kemarin.
"ga nafsu gue" jawab ika menopang kepalanya dengan satu tangan.
"udah ke kantin aja yuk, loe minum aja temeni gue" vera menggandeng tangan ika.
Sedikit lunglai ika tetap berdiri. Dan berjalan beriringan menuju kantin, sampai kantin ramai tak seperti biasa. Sesak dipenuhi seluruh siswa.
"semua ditraktir tu sama janet yang lagi ultah" sapa eko membuat ika dan vera saling berpandangan.
__ADS_1
"ver, gue balik ah, loe tau kan?" ika melipat muka, vera mengangguk dan berbalik.
"eh dibelakang gerbang, ada penjual jajan yanh bandel jualan disela2 gerbang kita kesana ya?" ajak vera, ika mengangguk.
Mereka menuju belakang gerbang sekolah.
Dan benar meskipun tak begitu banyak hanya ada satu dua pedangang tapi setidaknya itu bisa mengganjal perut vera yang lapar.
"ver, loe gakpapa lagi kalau terima traktiran janet, ga usah ga enak hati ama gue!" ucap ika melirik sahabatnya.
"ya gue temeni loe dulu beli cilok. baru nanti gue balik kantin" jawab vera sambil memesan cilok 2 bungkus.
"beneran tega?" tanya ika sambil berkedip.
"kenapa ga tega, loe emangnya tega ada traktiran suruh nolak" jawab ika menggoda ika.
"eh ika, gue ke toilet ya sebentar! Gue janji ga makan dikantin, becanda tadi gue" vera ngeloyor pergi seperti ada yang tertahan.
Ika tersenyum melihat tingkah vera. Ika duduk dibangku usang masih didalam pagar sekolah, sementara bapak penjual ada diluar pagar dan transaksi mereka dilakukan disela2 pagar.
Baru mau mengunyah ciloknya ika menatap Altarik yang melintas. Altarik sempat melihat ika tapi memilih untuk meneruskan langkahnya.
"wah wah, dia ga berusaha ngajak gue lagi, gimama ini" gerutu ika panik.
Ika tidak mungkin mengejar altarik, apalagi sepertinya Altarik menuju kantin, Ika males kalau ada janet yang melihatnya, setidaknya hari ini ika tak ingin menampakan diri didepan janet itung2 hadiah ulang tahunnya.
Vera datang dengan wajah lega.
"udah loe buang?" tanya ika terkikik
"hmmm, awas loe ngetawain orang kebelet" jawabnya sambil mengambil satu bungkus cilok ditangan ika.
"enak lo ciloknya, murah lagi tapi kasian kalau sampe tau penjaga sekolah pasti bapak penjualnya diusir" cerocos ika sambil mengunyah cilok.
Vera mendengarkan ika sambil ikut mengunyah cilok.
***
Pulang sekolah kali ini Ika kembali ke kebiasaan semula, naik ojek online. Tapi ika menunggu sekolah sepi masih berharap Altarik menawarkan tumpangan. Ika masih berdiri didekat pagar. Sementara vera sudah dijemput 5 menit yang lalu. Ika tak melihat sadga sama sekali. Kepala ika celingak celinguk menatap parkiran dari kejauhan. Motor sadga juga tak ada baguslah anak itu sufag tak terliha, batin ika. Senyum ika mengembang tatkala melihat altarik menaiki motornya dari parkiran. Ika membalikan badan dan menatap ke jalanan depan sekolah, agar tak terlihat menuggu Altarik. Tapi sayang Dengan cepat Altarik melewati ika, tanpa memberikan tumpangan seperti harapannya. Ini semua karena dirinya sendiri, ika merasa kesal. Harusnya ika percaya pada hatinya dan tak menolak kesempatan yang diberikan Altarik. Ika memutar otak apa yang harus dilakukannya.
Senyum ika kembali mengembang,
"yaa, besok minggu aku akan langsung kerumah nenek Altarik, datang sangat pagi agar bisa mengantar berbelanja" ucapnya dalam hati.
Kini semangatnya kembali membara, harapannya melambung kembali semoga saja nenek altarik menerima kedatangan ika, dan tawaran itu masih berlaku.
__ADS_1