
"ika, naik" ucap sadga saat motornya melintas didepan ika.
Ika kembali bingung dengan sikap sadga, bukannya tadi tegas menolak.
"oke" ika mengiyakan karena ingin mengorek kebenaran, dan jadi garda terdepan melindungi vera agar tak terluka. Sekaligus membuktikan ucapan laura, ika segera mengenakan helm dan naik motor sadga.
Untung saja Altarik maupun vera tak melihat ika boncengan dengan sadga, tapi sayang laura menangkap pemandangan itu, dari kejauhan laura melambaikan tangan seolah ikut berbahagia, laura masih saja menganggap ika dan sadga saling menyukai.
"gue bukan mau menghianati loe ver, gue gamau lihat loe sakit hati, karena dipermainkan sadga," ucap ika dalam hati
Sadga mengendarai dengan pelan, sampai dirumah ika lebih lambat dari jam biasanya.
"loe tunggu diteras, gue ambilin minum" ucap ika setelah sampai di teras.
Sadga duduk dikursi dekat taman kecil rumah ika, dan ika masuk kedalam rumah.
Mama ika rupanya tak ada dirumah, tapi selalu menyiapkan sirup dingin di teko. Ika menuang segelas sirup untuk sadga.
Sebelum keluar, ika menaruh tas dikamar dan mengganti bajunya. Ika tak ingin berlama2 ngobrol dengan sadga karena nanti sore Altarik akan kerumah.
Selesai ganti baju, ika kembali membawa gelas berisi sirup dan menemui sadga.
"ini, loe pasti haus kan?" tanya ika sok manis.
"tumben loe ga marah2" sadga meneguk sirup yang disodorkan ika.
"loe bener, mungkin gue masih butuh bantuan loe, thanks banget loe mau anterin gue, tapi tenang aja! Gue gak lama kok, loe masih tetep bisa kerumah vera setelah ini" ika duduk disamping sadga.
"kenapa loe secinta itu ika? Loe pake logika! Loe kenal laura kan sekarang, loe lihat dia cantik kan, siapa yang ga suka sama dia, gue yakin Altarik menerima perjodohan itu" ucapan sadga membuat ika mendidih.
Tau apa sadga tentang Altarik toh nyatanya, sekarang ika jadian, tapi ika harus jaga rahasia dan tetap bersikap manis agar sadga tak curiga.
"loe bener sadga, mungkin gue bakal buka hati buat yang lain" jawab ika lirih, berusaha membuat sadga percaya keresahannya.
"beneran?" tanya sadga kaget.
"gimana sih loe, bukannya loe bilang gue harus pake logika" ika menaikan alisnya.
__ADS_1
"gue dukung loe" jawab sadga dengan senyum mengembang.
"loe selalu bahas masalah gue, loe sendiri gimana? Mungkin ga loe jatuh cinta sama laura?" pertanyaan ika membuat sadga menarik nafas.
"kenapa?" sadga balik bertanya.
"ya gue takut aja semua cowok suka sama laura, kan gue jadi ga ada kesempatan, apalagi loe bilang siapa yang ga bisa nolak laura" ika bergaya melas.
"gak semua cowok ika, gue gak tertarik kok sama laura" jawaban sadga mengisyaratkan pernyataan laura ada benarnya.
"yah, brati belum tentu juga Altarik suka sama laura" ika tersenyum,sambil menyenggol siku sadga.
"terserah loe!" sadga menekuk muka.
"loe kenapa kerumah vera?" tanya ika hati2
"kenapa? Loe mau larang gue!" sadga seolah tak ingin memberitau tujuannya.
"bukan, loe punya hak berteman sama siapapun termasuk vera, gue dukung kok, cuman pasti loe bakal jarang bantuin gue lagi, kalo loe punya temen deket" ika berusaha memainkan peran, sepeduli apa sadga padanya.
Jika memang sadga menyukainya, pasti sadga memilih menghiburnya daripada menemui vera. Ika juga harus mencari cara agar vera tak lagi berharap pada sadga.
"kan gue udah bilang, bakal buka hati buat lainnya, move on, tapi mana ada cowok yang suka ama gue"
"belum dicoba udah nyerah, kendor tu semangat" sadga kembali minum sirup.
"kalo loe temenin gue ke mall loe mau?" tanya ika.
"sekarang"
"iya"
"kan loe tau gue ada janji kerumah vera, ini juga udah lewat sejam dari janji gue" sadga terlihat bingung.
"orang seperti apa yang loe suka? Anak sma lain itu secantik apa?" tanya ika sok ingin tau.
"sejak kapan loe kepo sama gue?" sadga melihat ika
__ADS_1
"sejak gue buka hati gue" jawab ika sekenanya.
"heh, loe buka hati loe buat gue maksudnya" sadga terkekek.
"salah ya, tuh kan! Cewek kaya gue emang gak pantes buat siapapun, loe bener gue harus pake logika so gue tutup aja hati gue buat siapapun supaya ga lagi sakit hati" ika memasang muka masam.
"bukan gitu, masa gitu aja ngambek, baper! Gue minta maaf" jawab sadga.
"oke gue maafin" ika menatap arloji di jamnya, 3 jam lagi Altarik akan kerumah, dan ika butuh persiapan.
"loe kudu semangat" sadga mengangkat tangan ika agar bersemangat.
"loe kerumah vera aja sekarang, pasti dia nungguin loe" jawaban ika berbanding terbalik dengan pemikiran sadga.
Sadga masih berfikir ika mengajaknya agar tak menemui vera, Tapi ternyata ika kini menyuruhnya menemui vera, padahal sadga lebih senang berada lama dirumah ika daripada rumah vera.
"loe bilang mau ajak gue ke mall?" tanya sadga.
"gue gak enak sama vera, tadi siang gue baru aja baikan masa gue mau bikin dia kecewa lagi kalo gue Jalan sama loe!"
"oh udah baikan"
"gak usah sok gatau, tadi juga loe udah samperin kita, kalau loe suka ama vera kejar dia gue dukung, tapi kalau gak ya loe selesain dulu, gue gak mau dianggap ngrusak hubungan orang" jawab ika.
"merusak hubungan gimana? Kan gue udah bilang dia bukan cewek gue" sadga tak sependapat dengan ika.
"ya, gue tau, tapi kalo gue yang jelasin ke vera, mana dia ngerti! Yang ada dia marah sama gue"
"oke, kalo itu mau loe! Gue bakal jelasin ke vera" jawab sadga.
"jelasin apa?" ika yang kasih pendapat, ika pula yang takut sadga menyakiti perasaan vera.
"ya jelasin supaya gak salah paham, kalo gue ga ada rasa sama dia" sadga beranjak dan berjalan ke motornya.
"sadga tunggu! gue lupa nanti sore gue anterin nyokap, makanya harusnya siang ini gue kerumah vera, loe ga usah kesini nanti, takut ga ada orang" ika takut jika sadga tiba2 datang padahal Altarik akan kesini.
"ga usah kepedean" sadga memakai helm, menghidupkan motor dan berlalu.
__ADS_1
Entah kenapa ika serba salah, kalau sampai sadga mengutarakan tidak menyukai vera secara frontal terus bagaimana dengan perasaan vera.
"apa gue tadi salah ya, ikut campur urusan vera sama sadga, tapi gue gak mau sadga mainin perasaan vera, terus kalau sampai yang dikatakan laura benar, gue harus gimana? Sadga suka sama gue! Apa gak salah, bukannya dia paling suka menghina gue, ngatain gue, mana ada orang suka ngatain, ah bodo amat, mending gue siap2 buat menyambut altarik" ika komat kamit sendirian sambil masuk ke dalam rumah.