
Sepanjang pernjalanan senyumnya tersungging tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Sesekali membenarkan baju, menatap kaca merapikan rambu, lalu duduk bersilang, sambil menatap jendela.
Mobil terhenti di salah satu resto, dengan sigap bapak2 yang menjemputnya membukakan pintu.
"silakan non" ucapnya ramah.
"terimakasih Pak" jawab ika sembari Turun.
Ika diantar masuk ke dalam resto, kepala ika celingak celinguk, melihat sekitaran. Baru kali ini ika diajak ke resto mewah, biasanya makan masakan padang aja ika udah seneng banget. Ika jadi berfikir bagaimana menempatkan diri dilingkungan Altarik nantinya.
"untung gue pake baju pemberian Altarik, seengaknya ga kebanting sama orang2 sekitar" gumam ika dalam hati. Karena baju pembelian Altarik salah satu baju dengan brand terkenal.
"non lurus aja kedepan, tuan Altarik sudah menunggu di meja paling ujung" ucap bapak supir yang ika juga lupa menanyakan namanya siapa, akhirnya ika dibiarkannya berjalan sendiri.
Ika membayangkan pakaian apa yang dikenakan Altarik untuk first date nya bersama ika. Mata ika sudah menemukan keberadaan Alatarik, pesonanya semakin membuat ika nervous.
"Tampan sekali pacar aku" batin ika.
Altarik mulai menatap ika, kala langkah kaki ika sudah mulai mendekat.
"hai" sapa ika kikuk.
"duduk" jawab Altarik.
"pesen aja dulu" Altarik menyodorkan buku menu.
"oh iya" jawab ika terbata.
Dibukanya buku menu, jujur ika tak terlalu paham makanan apa saja yang tersaji, apalagi tak ada penjelasan detail makannya.
"ga usah kawatir, kamu bisa pilih yang kamu suka" Altarik kembali menambahkan.
"aku kurang paham, kamu aja yang pilihkan" ika menyerah dan menutup buku menu.
"bacon waffles kamu pasti suka" Altarik mengisyaratkan tangannya agar pelayan mencatat pesanannya.
"pesen bacon waffles sama Tagliatelle Al ragu minumannya Mocktail Green Red" ucap Altarik. waitters sibuk mencatat pesanan.
"hikaru, ada yang lain?" tanya Altarik.
Ika langsung menggeleng.
"itu aja" ucap Altarik ke waitters
Selesai mencatat pesanan waitters meninggalkan mereka.
"yang kamu pesan apa isinya?" tanya ika polos.
"enak, aku pasti pilihkan yang enak untuk kamu" Ika merasa sikap Altarik sweet.
Semoga saja bukan karena ada mau atau membutuhkan bantuan, tapi karena ika memang pantas diperlakukan manis.
__ADS_1
"aku percaya, bagaimana kabar nenek?" tanya ika.
"baik, kalau mau besok kamu bisa menemuinya"
Altarik menjawab besok, itu artinya mereka bisa bertemu lagi. Ika terlihat gugup.
"tentu" jawab ika cepat.
"pakaian itu" Altarik melihat pakaian ika
"kamu kan yang membelikannya, tapi tak mengaku" Altarik tertawa kecil mendengar jawaban ika.
"ya, bagaimana menurutmu pilihanku? maaf jika bukan seleramu atau kau tetap menyukainya?".
"aku menyukainya, kamu pasti lebih tau mana baju yang bagus, mana yang tidak" ika bersemangat karena Altarik terlihat santai diajak mengobrol.
"oke, lain kali kupilihkan lagi baju2 untukmu, pakaian sehari2 pakaian jalan2 dan beberapa gaun"
"tak perlu sebanyak itu" ika mulai tak enak hati.
"kenapa kamu menerimaku jadi pacar?" mendengar pertanyaan Altarik ika kaget.
"apa perlu kamu tanyakan?" jawab ika malu2.
"aku ingin tau jawabannya" Altarik seolah memaksa.
"harusnya kamu beritau aku kenapa menembaku?" ika balik bertanya.
"itu mungkin aneh buat banyak orang, kamu populer, banyak yang menyukaimu, sementara aku, siapa yang mengenalku, wajahku juga pas2 an, mana ada yang percaya jika aku pacarmu" jawab ika seolah tak percaya diri.
"lalu kenapa kau menerimaku" altarik masih menunggu jawaban.
"siapa yang akan menolakmu, jika kau tanya kenapa, karena hatiku entah perasaan ini muncul sejak kapan" ika menundukan kepalanya malu.
"jadi membantuku membersihkan rumah nenek, karena kau menyukaiku?"
"tidak, jika aku bisa membantu siapapun aku pasti bantu tapi jika itu kamu sudah pasti aku lebih senang lagi"
"aku akan membelikan baju2 yang tadi aku sebutkan, kamu tak usah menolak, jika masalah penampilan apa adanya saja aku tak keberatan"
"pakaianku masih banyak" jawab ika.
"Setidaknya kau jadi pacaraku dengan tidak! akan ada bedanya, masalah sepele seperti ini apa akan kau ributkan hikaru?" tanya Altarik.
"tidak, tentu tidak, baik akan aku terima" ika tak mungkin menjawab tidak.
Baru saja kencan pertama, ika tak ingin memiliki kesan tak baik.
"kenapa kamu menjadikan aku pacarmu?" tanya ika hati2.
"simple, aku menyukaimu" jawab Altarik.
__ADS_1
"benarkah!" ika tersipu malu, pipinya memerah berharap jawaban yang keluar dari mulut Altarik sebuah kejujuran.
Ika merasa tak secantik abigael maupun laura, lalu apa yang membuat Altarik tertarik padanya.
"kamu bilang bulan depan akan mengumumkan status, memangnya tidak malu, punya pacar sepertiku?" ika memancing memastikan rencana Altarik apa memang akan dijalankan.
"iya, nanti saja kita bahas lagi masalah itu"
pesanan mereka sudah datang, ika tersenyum. Altarik mulai mengambil garpu dan pisau, ika mengikuti apa yang dilakukan Altarik.
"kau mau makan yang manis dulu atau yang gurih?" tanya Altarik.
"yang ini saja" ucap ika menunjuk bacon waffless.
"makanlah" jawab Altarik.
Ika mulai mengiris waffle, sambil sesekali menatap Altarik.
"boleh aku minta sesuatu?" tanya ika memberanikan diri.
"apa?" Altarik menghentikan makannya.
"aku ingin berfoto denganmu, kita kan sudah" ika belum meneruskan kata2nya Altarik mengeluarkan ponselnya.
"Ayo" ucap Altarik agar ika mengarahkan pandangan ke kamera.
Usai mengambil photo, Altarik meminta pelayan kembali mengambil gambar mereka. Agar suasana resto dan seluruh makanan terlihat lebih jelas.
"Altarik, pake ponselku juga ya?" tanya ika.
Jika semua momen yang diambil menggunakan ponsel Altarik bagaimana ika menyimpannya. Ika sedikit kecewa.
"ga usah, nanti aku kirim gambarnya, ponsel kamu pasti ga jernih gambarnya, besok sekalian aku belikan yang baru" jawab Altarik memasukan ponselnya ke saku.
"ini masih bisa dipake" ika menunjukan ponselnya.
"udah ga usah protes, ayo lanjutkan makannya"
Ika melanjutkan makannya, untuk saat ini komunkasinya dengan Altarik masih sangat kaku. Banyak hal yang ingin ika tanyakan, tapi masih ika tahan. Masalah laura, masalah sadga. Jika dibahas sekarang dan Altarik tidak suka lalu bagaimana jika memutuskan ika. Mendingan pertanyaan2 itu ika singgirkan dulu, lebih baik menikmati kebersamaannya.
"besok mau ketemu nenek jam berapa? sekarang tinggal dirumah kamu ya?" tanya ika disela2 makan.
"ya, syukurlah nenek udah mau tinggal dirumah" jawab Altarik.
"terus, aku kerumah kamu?" tanya ika.
Dadanya kembali bergetar, belum juga 3 hari jadian, ika kerumah Altarik. Bukankah sadga bilang laura dijodohkan, lalu bagaimana jika kedua orangtua Altarik mengetahui hubungannya dengan Altarik, atau malah tak mungkin orangtua Altarik menganggap ika punya hubungan dengan anaknya karena terlalu mustahil.
"aku ajak nenek kerumah kamu" jawab altarik melegakan ika.
"akan aku tunggu" jawab ika semangat.
__ADS_1
Lagipula ika belum siap ketemu keluarga Altarik, ika masih ingin menjalani hubungan tanpa campur tangan orang tua lagian mereka masih muda, siapa tau lulus kuliah kelak ika mendapatkan pekerjaan yang bagus, masih terlalu jauh jika harus melibatkan orang Tua.