Kekasihku Pria Terpoluler

Kekasihku Pria Terpoluler
Bab 15


__ADS_3

Kali ini ika memesan taxi online, bukan ojol senyumnya tak berhenti sampai masuk kedalam taxi.


"Ya Tuhan, tiada disangka tiada diduga secepat ini" ika mencubit pipinya sendiri.


"auuu.." ternyata sakit batinnya.


"kenapa kak?" tanya supir taxi online


"gakpapa" jawab ika masih menahan senyum.


Sepanjang perjalanan ika melamunkan hari esok, senyumnya tak henti mengembang. Hikaru yang selalu dibuli janet cs sekarang jadi pacar Altarik. Vera yang selalu menganggapnya halu, Hati ika berbunga2 usahanya membawa hasil. Tapi Ika juga penasaran apa yang membuat Altarik menembaknya.


"sudah sampai kak" ujar supir membuyarkan lamunan ika.


"ini" jawab ika menyodorkan uangnya.


"kembaliannya ambil saja" ika meninggalkan taxi.


Segera berjalan masuk kedalam rumah.


"mama ika lagi happy" ika mencium pipi mamanya.


"cieh, kamu suka sama temen kamu tadi ya?" tanya mama.


Ika menekuk muka.


"bukan, tadi namanya sadga mama udah kenal kan, dia gebetan vera"


"kok keluarnya sama kamu nak?" mama heran.


"awalnya sadga juga menyukai vera, makanya sering tanya tentang vera tapi tadi sadga mengaku sudah menyukai gadis lain"


"pasti kamu". Tebak mama.


"bukan ma, dia bilang anak sma lain"


"terus, apa yang bikin kamu happy"


"ada pokoknya mamaku sayang, udah ah ika capek, mau istirahat"


Ika masuk kedalam kamar, menjatuhkan tubunya dikasur, memeluk guling dan kembali tersenyum.


"ya Tuhan, gue pacaran sama Altarik, ini mimpi atau nyata, serasa ga percaya, gak nyangka" bagi ika kemustahilan ini bisa menjadi kenyataan seolah kado indah untuknya.


Usahanya selama ini dan keyakinannya tak sia2, meski begitu ika masih bertanya2 apa alasan Altarik menembaknya, apalagi sebelumnya Altarik mengatakan butuh bantuan, ika kembali duduk dan berfikir, bagaimana jika Altarik memang hanya membutuhkan bantuan bukan karena tertarik pada ika.


"biar saja, kalaupun dia tak benar2 menyukaiku setidaknya ada waktu satu bulan sebelum dia berjanji mengumumkan bahwa mereka jadian, untuk berjuang mendapatkan hatinya, waaa...ika bahagianya dirimu" Ika mengacak rambutnya sendiri.


Sempat lupa membuat vera kecewa padanya. Besok ika ingin menjelaskan pada vera tentang apa yang terjadi bersamanya dan sadga. Lagipula ika tak menyangka sesuka itu vera pada sadga.


***

__ADS_1


Hari mulai malam, ika selesai mandi hanya ingin bermalas2an diatas kasur, menarik selimut, sebelum mengantuk ika mengecek ponselnya, bahkan tak ada chat masuk dari Altarik.


Ika ragu jika harus chat terlebih dahulu, bukankah harusnya Altarik bisa menghubungi dari tadi, saat tiba dirumah atau apalah. Tapi ika tak ada pilihan lain selain menunggu kabar, ika tak ingin membuat Altarik tak nyaman, apalagi sampai memutuskannya padahal belum sehari, amit2 batin ika.


Ika membuka story yang dibagikan Altarik sore tadi lewat medsosnya. Ada canda tawa keluarga disana, ada laura juga.


Banyak tanya dibenak ika, jika dia tak menyukai laura, kenapa Altarik tak menolak laura mengajaknya makan siang. Tapi apalah arti pertanyaan ika, hatinya lebih memilih menerima dulu keadaan ini. Bisa jadi pacar Altarik saja sudah luar biasa.


***


Hari berganti, Altarik tak juga memberikan kabar apapun. Ika tiba disekolah dengan ojol. Kakinya melangkah menuju kelas.


Sesampainya dikelas, vera duduk bersama ine, tak lagi dibangku yang sama. Ika menatap vera, sayang vera memalingkan muka. Ika berniat mendekati vera, namun bel berbunyi tanda pelajaran akan dimulai. Ika mengurungkan niatnya, nanti saja selepas istrahat batin ika.


"selamat pagi semua, kenalkan ini ada siswi baru, namanya laura silakan memperkenalkan diri" ucap bu maya wali kelas.


Ika terbelalak melihat laura ada dikelasnya, memang kemarin sadga mengatakan jika laura akan pindah ke sekolahnya, tapi tak sekelas juga.


Usai laura memperkenalkan diri, bu maya menyuruhnya duduk disamping ika, karena terlihat sampingnya kosong.


"hallo, perkenalkan nama gue laura" laura mengulurkan tangan.


"ika" ucap ika singkat, berusaha menjaga jarak.


Anak seperti laura pasti manja, dan sombong, batinnya. Meskipun tak dipungkiri laura terlihat sangat cantik. Ika jelas terbanting jauh saat berada disampingnya.


Entah kenapa ruang kelas seketika menjadi gerah, ika sangat tak nyaman berdekatan dengan laura, seandainya dia bukan gadis yang dijodohkan dengan altarik pasti ika dengan senang hati memiliki kawan baru.


"ika, kalau istirahat loe temeni gue ya?" tanya laura.


"sebenernya, istirahat gue ada perlu" jawab ika menghindar.


"loe tau sendiri kan, gue baru aja pindah, tapi gakpapa, eh bukannya loe cewek yang kemaren sama sadga ya?" tanya laura, nada bicaranya kalem.


Bagaimana bisa Altarik tak tertarik padanya, dada ika bergetar, sepertinya saingannya ini tak sebanding dengannya. Nyalinya menciut.


"iya, gue makan sama sadga terus, sahabat gue salah sangka, makanya nanti istitahat gue bakal jelasin sama dia"


"gue mau kok bantuin, meyakinkan sahabat loe, beneran gue pengen banget temenan sama loe ika, loe pasti disukai banyak cowok ya disini" laura terlihat nyaman ngobrol dengan ika.


"gak banyak, tapi kemarin gue baru aja jadian sama cowok, dia sekolah disini juga" jawab ika dengan bangganya.


"wah, ntar istirahat gue traktir ya? Sebagai perayaan hari jadi loe, dan salam persabahatan dari gue"


"laura maaf, beneran gue ga bisa" ika masih menolak.


"ya udah gakpapa, lain kali aja" jawab laura sambil tersenyum.


Ika tak ingin meneruskan obrolannya, tak tau bagaimana harus bersikap nantinya kalau laura mengetahui siapa pacarnya.


Banyak tanya sebenarnya dalam benak ika, tentang laura, dan apa alasan Altarik menembaknya secara tiba2 tapi ika tak punya keberanian menanyakan banyak hal pada Altarik. Jika Altarik kecewa dan memutuskannya sepihak bagaimana dengan hatinya yang terlanjur berbunga, pasti akan gersang seketika.

__ADS_1


"ika, pulang sekolah naik apa?" laura lagi2 bertanya.


"ojol" jawab ika


"bareng gue aja, apa gue gak pantes jadi temen loe ya?" tanya laura membuat ika tak enak hati.


"bukan begitu, pasti dikelas ini banyak kok yang mau temenan sama loe" jawab ika.


"terus, loe gak mau kenapa? kalau gue ada salah, gue minta maaf"


"gak, loe ga ada salah, laura cari temen lain aja" ika masih berusaha menolak.


"gue yakin loe temen yang baik, gue akan berusaha sampe loe terima gue jadi temen loe" ucap laura tak menyerah.


Ika juga akan sekuat tenaga menghindar dari laura.


Selesai mengobrol mereka melanjutkan pelajaran hingga bel istirahat berbunyi.


"loe ga ke kantin?" tanya ika pada laura yang tak beranjak dari bangku.


"gak, gue ga punya teman disini, ga enak aja kalau ke kantin sendirian"


"oke, gue tinggal ya" jawab ika beranjak menemui vera. Laura hanya mengangguk dan tersenyum.


Ika berjalan mengikuti vera dari belakang.


"vera plis dengerin gue" ika menarik tangan vera.


"apa sih!" vera mengibaskan tangan ika.


"loe gak percaya sama gue ver?"


"loe pegangan tangan sama sadga" vera berdiri mematung.


"mulai sekarang gue janji ga akan ketemuan sama sadga, dia udah gue coret dari daftar temen gue" jawab ika meyakinkan vera.


"loe pikir gue percaya!" vera masih emosi.


"gue harus apa supaya loe maafin gue"


"gak usah berteman lagi, gue kecewa sama loe" jawab vera meninggalkan ika.


Entah kenapa ika tak berniat mengejar vera.


"ika, jangan menyerah" jawab laura tiba2 disamping ika membuat ika kaget.


"loe, ngikuti gue" jawab ika.


"kita ke kantin yuk, gue laper, plis temeni gue ya?" pinta laura dengan wajah mengiba.


Entah kenapa ika jadi tak tega dan mengiyakan permintaan laura.

__ADS_1


__ADS_2