
Berjalan bersama laura menuju kantin, janet hanya menatap ika tak mengejeknya lagi. Ika merasa aneh dengan perlakuan janet.
"kenapa?" tanya laura melihat wajah ika.
"biasanya janet membuli gue saat berpapasan" jawab ika.
"tenang, sekarang dia tak akan membuli loe lagi, gue jamin" jawab laura enteng.
"loe kenal sama janet?" tanya laura heran.
"kenal, yang pasti dia ga akan berani sama temen gue, gimana ika? Loe udah mau kan jadi temen gue?" laura masih berusaha.
Ika masih tetap tak ingin terlalu dekat dengan laura.
Sampai dikantin ika dan laura memesan makanan, lanjut mecari meja dan duduk berhadapan.
Tak terlihat Altarik di kantin, mungkin masih menghindari laura pikir ika. Sedangkan sadga menghampiri mereka berdua.
"hai laura, gimana perjodohan kalian, lancar kan?"tanya sadga sambil melirik ika. Seolah sengaja agar ika merasa tak enak hati.
"doakan aja, lagipula semua keluarga setuju" jawab laura dengan senyum mengembang.
"wah baguslah kalau begitu, kalian pasangan serasi, cantik dan juga tampan" sadga berkelakar, ingin membuat hati ika panas.
Namun Ocehan sadga sama sekali tak dipedulikan ika, lagipula sudah tak penting mempedulikan ocehan sadga, toh keiginan ika berpacaran dengan Altarik lebih nyata.
"laura, gue pindah meja ya" ucap ika beranjak, sadga tertawa dikiranya ika mulai panas.
"ya jangan dong!" tolak laura.
Tapi ika tak menggubris perkataan laura. karena tak bisa menghentikan ika, akhirnya laura dan sadga melanjutkan obrolannya.
Sebelum makanannya datang ika ingin ke kamar mandi sebentar, ika berjalan seorang diri, terlihat Altarik didepan kelas menghampirinya. Ika bersemangat melihat Altarik berjalan ke arahnya.
"aku tunggu dibelakang sekolah" ucapnya saat dipersimpangan.
Altarik melanjutkan langkahnya dan ika berjalan lebih lambat, Ika tetap ke kamar mandi terlebih dahulu sebelum menemui pacar barunya.
Selesai dari kamar mandi ika buru2 ke belakang sekolah, ika berlari tak ingin Altarik menunggunya terlalu lama.
Matanya berbinar, saat melihat Altarik dari kejauhan. tubuhnya sedikit bergetar keringat dingin mulai bercucuran, karena hatinya melompat2.
"dia sangat tampan" batinnya kegirangan, dan lagi2 mencubit tangannya sendiri, meyakinkan mimpi atau nyata.
"auu" teriaknya seorang diri.
__ADS_1
Langkah ika semakin dekat dengan Altarik.
"hai" sapa ika saat sampai dihadapan Altarik, jantungnya berpacu dengan cepat.
"sorry, aku tak menghubungimu" ucap Altarik berdiri dan memasukan satu tangannya ke saku celana.
"Iya, aku mengerti" jawab ika lembut.
"nanti sore aku kerumah, tapi maaf pulang sekolah aku tak bisa mengantar" nada bicara Altarik masih dingin , dan sedikit canggung.
Berbeda dengan muda mudi lainnya yang sedang merajut kasih, pemandangan kini berbeda dengan cerita cinta ika.
"akan aku tunggu" jawab ika terbata.
"kulihat kau dekat dengan laura?" tanya Altarik datar.
"aku bisa menjaga jarak jika kau mau" jawab ika cepat, ika tak ingin melakukan kesalahan apapun, ika takut Altarik meninggalkannya.
"bagus jika kamu mengerti" jawab Altarik, seakan mengiyakan jawaban ika.
"kita pacaran kan?" tanya ika lagi, ingin meyakinkan dirinya, meskipun sulit kata itu meluncur dari bibirnya.
"jika tidak untuk apa nanti sore aku kerumahmu" Altarik memandangnya tajam, ika segera menunduk, tak kuasa membalas tatapan Altarik padanya.
Hatinya kembali lega untuk meyakinkan diri hari kemarin adalah hari bersejarah dalam hidupnya, dan akan ika catat sebagai hari jadiannya dengan Altarik.
"hikaru, kembalilah ke kantin" Kini Altarik membuang muka, tak lagi menatap ika.
Dengan begitu ganti ika bisa leluasa menatap pacarnya itu, lelaki poluler dan sangat tampan disekolahnya, jika semua siswa tau pasti akan sangat iri terlebih ika hanya berparas pas2an.
"oke, sampai ketemu nanti sore" jawab ika tersenyum.
Seandainya bisa membagi cerita ini dengan vera, pasti harinya lebih menyenangkan, sayang vera masih marah pada ika.
Ika kembali berjalan ke kantin seorang diri.
"loe ngobrol sama Altarik ika?" tanya suara yang sangat dikenal ika, tiba2 muncul mengagetkan ika.
"loe ngikuti gue?" tanya ika berbalik melihat asal suara.
"bukan, rencananya tadi mau menyendiri dibelakang sekolah, tapi gue lihat loe ngobrol sama Altarik"
"iya, loe percaya sama gue sekarang?" tanya ika menampik kata halu yang selalu diyakini sahabatnya atas sikapnya selama ini.
"gue gak tau apa yang kalian obrolkan, tapi jika Altarik tak menganggap loe ga mungkin ngobrol sedeket itu"
__ADS_1
"ver, plis percaya sama gue! Orang yang gue cintai cuma Altarik, seluruh dunia bilang gue halu gue ga peduli, gue tetep berjuang dapetin hatinya selama ini, gue gak ada hubungan sama sadga, oke gue minta maaf bikin loe kecewa, jika saja loe punya waktu buat gue" ika mendekati vera dan berusaha meyakinkan sahabatnya.
"gue kasih loe satu kesempatan, nanti sore gue kerumah loe, gue dengerin cerita loe, kenapa sadga bisa makan sama loe" jawab vera.
Ika tersenyum, vera memberikan kesempatan untuk menjelaskan, dengan cepat ika memeluk vera. Terasa berat jika harus melewati hari tanpa sahabatnya itu.
"nanti sore gue harus anterin dagangan mama" jawab ika berbohong, sembari melepaskan pelukannya.
"gue anter, sekarang gue udah diijini bawa mobil sendiri"
"oh ya, menyenangkan sekali" ika tertawa melihat kemajuan vera.
"skalian kita ngemall ika" jawab vera sudah mulai mencair tak semarah awal tadi.
"tawaran yang menyenangkan, tapi lain kali ya untuk ke mall nya? Soalnya nanti mama ikut sama gue, gini aja sehabis pulang sekolah, kita cuzz kerumah loe, gue bakalan ceritakan semuanya sama loe, gue janji"
"yaudah" jawaban vera pasrah.
Setidaknya vera tak memaksa datang disore hari.
Altarik nanti sore akan kerumah, dan perihal jadian ika juga tak ingin mengatakan pada vera, karena belum mendapatkan persetujuan Altarik untuk mengumumkannya.
"kita kekantin ya, gue traktir loe" ika bersemangat menarik tangan vera.
Perasaannya lega akhirnya vera memaafkannya, selain itu ika juga senang Altarik menjawab pertanyaan ika saat ika bertanya "Apa kita jadian". Senyum ika mengembang.
"loe lagi seneng pasti ya? Gimana ceritanya loe kenal sama Altarik?" tanya vera penasaram saat keduanya berjalan ke arah kantin.
"kan gue udah bilang, dia pernah anterin gado2 kerumah gue, loe si ga pernah percaya"
"kalau untuk itu gue masih ga percaya" ucap vera, sebelum akhirnya mereka saling memandang dan tertawa bebarengan.
Sesampainya dikantin, ika masih melihat laura ngobrol dengan sadga. Ika dan vera memilih meja yang jauh dari mereka.
"loe kenal anak baru itu kan? Tadi dia disampingmu ya?" tanya vera tak begitu menyukai laura.
"ya, loe pesen apa? Sana pesen, gue yang bayarin"
"laura kenapa ngobrol sama sadga, jangan2 dia suka sama sadga, atau sadga yang mendekatinya?" vera menatap ika dengan serius.
"gaklah, mana mungkin laura suka sama sadga" jawab ika reflek.
"terus?" vera masih penasaran.
"loe pesen dulu sana, baru kita ngobrol" jawab ika.
__ADS_1
"oke, gue pesen dulu" vera beranjak.