Kekasihku Pria Terpoluler

Kekasihku Pria Terpoluler
bab 7


__ADS_3

Pagi ini Ika bangun lebih pagi, senyumnya mengembang membayangkan Altarik. Seharian bersama Altarik bahkan tak terbayangkan sebelumnya membuat Ika bernyanyi riang.


"lagi seneng kamu?" tanya mama menyiapkan sarapan dimeja.


"iya dong ma hari Senin itu semangat kita harus membara" jawab Ika duduk dan mengambil sebuah roti sisi selai kacang.


"cepetan makannya, mama anter kamu sekalian mama ada janji sama supplier" mama bersiap mengambil tas dikamar sambil berteriak.


"oke mama!" jawab Ika menghabiskan roti isi dan meneguk susu cokelat kesukaannya.


"udah selesai makannya, ayo!" ajak mama berjalan kearah luar.


"bentar ma, Ika ambil tas dulu ya" Ika kembali ke kamar mengambil tas ranselnya.


Mama menghidupkan mesin mobil, ditatapnya Ika mengunci pintu rumah sesekali mama tersenyum melihat anak gadisnya yang udah mulai beranjak dewasa.


"ayo ma Ika sudah siap menuntut ilmu" ucap Ika masuk ke dalam mobil dan mengenakan seatbelt.


"Ika, kamu ga mau apa sedikit rapi gitu? baju aja gak rapi, selebor gimana ada yang tertarik sama kamu, udah ada belum cowok yang kamu taksir? " tanya mama mulai menginjak gas mobil.


"ah mama, Altarik itu cowok terpopuler dan tertampan Lo ma disekolah Ika, tapi mau ajarin Ika?" Ika tertawa menutup mulut.


"Halah, cowok ganteng ngedeketin kamu pasti ada maunya, apalagi kaya Altarik, makanya kalau kamu suka sama cowok kayak dia dandan dong!" mama tersenyum mengejek putrinya.


"mama kok gitu sih?"


"jadi kamu suka sama Altarik, pokoknya jaga pergaulan ya Ika, mama gamau kamu tu macem2 suka cowok boleh asal tau batasan!" kali ini mama serius.


"siap ma, masa ga percaya sama Ika"


Sepanjang perjalanan Ika bersenda gurau dengan mama, jarang ada waktu luang mama anter Ika kesekolah nampak kebahagiaan diwajahnya. Sesampainya disekolah Ika mencium tangan mama dan kedua pipi mamanya barulah turun dari mobil. Segerombolan cewek sok kaya seperti biasa memandang Ika dengan rasa benci siapa lagi kalau bukan beuaty geng.


"Ika lagi Ika lagi, pagi pagi lihat tampang loe udah bikin gue mual parah?" Janet kembali mengeluarkan hujatannya.


Ika tak mau menanggapi apapun yang dikatakan Janet, tujuannya hanya ingin bersama Altarik, jika sekarang saja sudah ada akses menemui Altarik setiap Minggu kenapa harus peduli dengan ocehan Janet yang membuat hatinya perih.


"ohh gak denger!! budek!! udah banyak gaya loe? oke sekarang gue biarin loe pergi lihat aja kalau bikin ulah lagi, habis loe sama gue!!" teriakan Janet tak menyurutkan langkah Ika untuk menjauh.


Pandangan Ika tertuju pada cowok tampan yang selalu menghiasi pikirannya Altarik berada diseberang didepan kelasnya karena kelas mereka memang bersebrangan. Ika tersenyum berharap Altarik membalas sapaannya tapi sepertinya Altarik tak menghiraukan justru melenggang masuk kedalam kelas. Kecewa sudah pasti dirasakan Ika, tapi Ika sudah terbiasa dengan kekecewaan bahkan makian. Ika masuk kedalam kelas dan segera duduk disamping Vera, ingin bertukar cerita tapi diurungkannya karena kini Ika tak ingin lagi membagi kisahnya dengan Altarik, daripada dianggap halu dan selalu ditertawakan lebih banyak dipendam sendiri kebahagiaannya.


"tumben loe ga hubungin gue seharian kemarin, biasanya ver loe ngapain, ver ayo jalan, ver ga kerumah gue ,ver?" Vera meledek Ika dan tertawa terbahak.


"kemarin sibuk banget gue ada kerjaan baru, kalau weekend sekarang loe ga usah kawatir gue ribetin ver?" Ika menjawab dengan tawa renyahnya.


"oh gitu!! udah ga butuh gue lagi, bagus deh! kerjaan apa Ika sayang??" tanya Vera masih tersenyum.


"biasalah bantuan nyokap loe tau sendiri kan ga punya asisten nyokap, kali ini gue ditambah uang saku jadi semangat gue!! loe kalo weekend mau ajak gue jauh2 hari deh janjiannya biar bisa bagi waktu gue?" Ika meyakinkan Vera agar tak curiga.


"gaya banget sih loe, Brati hari ini bawa uang saku berlebih nie!! loe traktir gue bakso dikantin ya?" Vera masih menggoda Ika.


"iya deh asal ga boleh nambah ya hahaha" tawa mereka bersautan.

__ADS_1


****


bel istrahat berbunyi...


"hayo loe udah janji traktir gue ya Ika?" Vera menagih janjinya.


"iya inget gue, ayo!!" Ika berdiri dengan semangat mengajak Vera kekantin.


mereka berjalan dan sesekali tertawa karena obrolan tentang pelajaran yang membingungkan keduanya, sadga melirik Ika seperti orang yang sedang marah, tak seperti biasanya sadga seperti itu, tapi Ika memilih tak ambil pusing dengan yang dilihatnya.


"eh ver, loe kekantin dulu ya sekalian loe pesenin gue semangkok sama es jeruk, gue kebelet pipis sebentar aja ntar gue susul?" ika menghentikan sejenak langkahnya.


"dasar kebiasaan loe? oke!" dengan sedikit menggerutu Vera berjalan sendiri kekantin.


Ika berbalik arah tapi tak menuju kantin melainkan ke kelas Jasmin, terlihat Jasmin asik mengobrol dengan beberapa teman didepan kelasnya.


"Jasmin!!" teriak Ika sambil melambaikan tangannya.


Jasmin yang mendengar teriakan Ika, bergerak mendekat.


"kenapa Ika?" tanyanya lembut.


"tawaran loe masih berlaku kan?" tanya Ika hati-hati.


"masih dong?" jawab jamin yakin.


"nanti siang pulang sekolah loe ada acara gak? boleh ga gue kerumah loe?" Ika tak ingin membuang banyak waktu lagi untuk merubah dirinya agar tak terlihat terlalu kuno.


"aduh kelau kesorean pasti mama susah ngijininnya, kalau nanti sampe malem, besok aja gimana Jasmin?"


"oke, besok gue longgar kok, pulang sekolah loe langsung kerumah gue deh? tapi kita gak bisa barengan, loe gak papa kan kerumah gue sendiri?"


"gak masalah kok Jasmin, loe kasih tau aja alamatnya ntar gue kerumah loe sendiri, yaudah thanks ya gue mau kekantin udah ditgguin sama Vera!"


"oke!" Jasmin kembali kedepan kelas melanjutkan obrolannya dengan teman kelasnya, beberapa dari mereka melihat Ika.


Ika memutuskan berlari menuju kantin agar Vera tak menunggunya terlalu lama.


BRUKKK!!!...


"aduh..lutut gue!" teriak ika kesakitan, lututnya membentur lantai dan sedikit mengeluarkan darah segar.


"gimana sih loe?? kalo lari lihat dong ada orang atau ga? pake mata!" teriak sadga sangat kesal karena Ika menabraknya.


"yaudah gue minta maaf, loe ga berniat apa bantuin gue berdarah ini kaki gue?" Ika masih meringis menahan sakit.


"sini gue gendong ke uks" sadga menggendong Ika, tidak ada pilihan lain kecuali menerima apa yang dilakukan sadga, kakinya terasa perih.


Selama mengendong Ika banyak pasang mata melihat keduanya, tapi sadga masih terlihat begitu marah, entah apa yang membuatnya marah, mungkin karena Ika menabraknya atau ada hal lain, walaupun begitu dia masih peduli untuk mengantarkan Ika ke UKS.


"bentar gue ambilin Obat merah sama plester!" ucapnya sambil meletakan tubuh Ika diatas kasur UKS.

__ADS_1


Sadga mengambilkan Obat merah dan plester seperti apa yang dikatakan lalu mengobati lutut Ika dan membalutnya dengan plester yang tersedia. Tak lagi mengomel sadga terdiam tanpa suara.


"loe marah sama gue! daritadi pagi loe natap gue, gue tau loe marah sama gue, boleh gue tau salah gue apa sadga?" tanya Ika sambil mengingit bibir menahan perih.


"perasaan loe aja!!" sadga masih tak seperti biasanya yang selalu mengoloknya dengan riang dengan candaanya meskipun menyakiti hati Ika.


"loe marah!! biasanya loe ngatain gue masih dengan clengekan dengan tawa khas loe, mana tawa loe sekarang, harusnya loe seneng dong gue jatuh sakit kenapa loe gak ngetawain gue lagi?" Ika semakin penasaran dengan sikap tak biasa sadga.


"oh loe kecewa karena gue gak kasih info tentang Vera?" Ika masih saja berusaha mencari tau ada apa dengan sadga.


"udah ya Ika, udah gue obatin kaki loe, gue mau cabut!!" sadga mengembalikan obat merah ditempatnya.


"sadga!! gue masih gak bisa ke kelas, kaki gue keseleo loe tega sadga!!!" teriak Ika yang tak dipedulikan sadga.


Ika menarik nafas panjang, dan menerima nasibnya harus ditinggal di UKS seorang diri, dicobanya mengerakkan kaki tapi masih terasa kaku. Ika hanya mengelus kakinya.


Sekitar sepuluh menit berlalu pintu UKS terbuka, Ika bersyukur sadga berubah pikiran, Ika pikir sadga akan kembali menggendongnya kekelas.


"ya ampun Ika, loe gakpapa?" tanya Vera kawatir.


"gue tadi lari, gue gak mau loe nungguin gue tapi gue gak sengaja nabrak sadga jadi kaya gini deh?" ungkap Ika memelas.


"yaudah, loe gue papah ke kelas ya, atau loe mau pulang gue anter gue ijinin gimana?"


"loe ambilin tas gue aja ver, sekalian loe ijinin gue ya, gue langsung pulang aja ga usah balik kekelas, kaya kaku gitu kaki gue rasanya?" Vera yang tak tega melihat Ika menahan sakit menganggukan kepalanya dan segera keluar untuk mengambil tas dan minta ijin ke wali kelas.


Entah apa yang dipikirkan Ika sekarang, hari yang harusnya membuatnya ceria justru tak seperti harapannya, kakinya harus terluka karena ulanya sendiri.


"gue gak suka loe jalan sama Altarik?" sadga mengagetkan Ika.


"loe!!! kenapa?? karena gue gak pantes sama Altarik?" tanya Ika penasaran.


"bukan!! gue gak suka aja lihat loe bahagia?" tak seperti biasa kebiasaan sadga setelah mengatai Ika tawa sadga begitu keras, tapi kali ini wajahnya serius.


"sebenci itu loe sama gue? apa alasan loe benci sama gue! gue cuman cewek cupu kerempeng terus kata loe gue cewek mabok sebelum minum kan? gue bukan ancaman buat loe? gue cewek yang gak pernah berarti buat semua orang! separah itu gue bagi semua orang dan loe masih membenci gue!! seluruh hinaan temen2 gue semuanya udah gue terima, gue mencoba untuk gak ambil pusing, gue udah mencoba kuat gue juga gak pernah gangguin orang, gue juga gak pernah gangguin loe!! salah kalo gue suka sama Altarik cuman itu yang buat gue semangat sadga!!!" kali ini Ika tak kuasa membendung air matanya.


Rasa marah yang ditunjukan sadga beberapa menit yang lalu menghilang, tatapannya berubah terlihat iba menatap Ika.


"terserah loe Ika, semoga kondisi loe segera membaik, gue gak akan ganggu loe lagi, hina loe lagi, lupain loe pernah kenal sama gue!!" jawaban sadga membuat Ika semakin bingung, pikirnya mungkin sadga mulai mengerti apa yang dirasakannya.


"ayo Ika, gue udah ijinin Lo?" Vera masuk keruangan dan segera mendekati Ika, berusaha memapah Ika.


"makasih ya ver" ucap Ika menurunkan kakinya kelantai.


Vera mengantarkan Ika sampai kerumah, sayangnya mamanya Ika sedang tidak ada, tapi Vera harus segera kembali kesekolah karena ijin hanya untuk mengantar Ika pulang.


"sory ya gue gak bisa temenin loe? loe gakpapa nunggu mama loe pulang?" Vera terlihat kawatir meninggalkan sahabatnya seorang diri dirumah dalam kondisi sedang tak baik-baik saja.


"udah gakpapa, bentar lagi juga sembuh loe ga usah kawatir ver, makasih banyak ya" jawab Ika kakinya sudah mulai membaik dan tak sekaku tadi.


"ya udah gue balik kesekolah, bye Ika" kali ini Vera benar-benar meninggalkan Ika.

__ADS_1


Ika masih mengingat apa yang dilakukan sadga kata-kata sadga memenuhi pikirannya, apa maunya sadga?? Ika bahkan mengingat apakah Ika pernah tanpa sengaja menyakiti sadga hingga sadga terlihat begitu marah dan membencinya.


__ADS_2