
Tiba hari minggu senyum ika masih mengembang, bersiap mencangklongkan tas ransel, dan membubuhkan sedikit bedak di wajahnya.
"mama, ika keluar ya?" pamit ika.
Melihat anaknya sudah bersiap mama ika tersenyum.
"mau kemana? Ambilkan dompet mama!"
"oke" jawab ika ceria.
Setelah mengambilkan dompet mamanya ika menyerahkannya.
"ini 100rb aja ya, cukup kan!" mama memberikan selembar uang.
"cukup, ika punya tabungan"
"ya udah hati2 ya pulangnya jangan kesorean"
"siap ma" ika mencium punggung telapak tangan mamanya.
Beberapa menit lalu ika sudah memesan ojek online, harusnya ojek onlinenya sudah datang.
Ika memutar gagang pintu rumah dan keluar, seperti dugaannya si abang ojek sudah menunggu ika didepan. Ika segera menghampiri dan memasang helm agar aman, memberitahukan alamat tujuan dan duduk diboncengan.
Tak lama perjalanan ika menuju rumah neneknya Altarik, kali ini ika tak mau kesiangan berniat segera menemani nenek altarik. Sampai dirumah nenek altarik ika tersenyum karena pintu pagar masih tertutup rapat.
"pasti nenek belum bangun" batin ika sambil mencopot helm.
"ini bang" ucap ika memberikan selembar dua puluh ribuan dan sepuluh ribuan.
Menerima uang dari ika, abang gojek segera berlalu.
Ika berjalan ke arah pagar, sayang pintu pagar terkunci tak seperti biasanya. Dengan cekatan ika menekan tombol bel di dinding pagar.
Sekian lama ika memencet tak ada juga yang keluar.
"pasti nenek tak dengar, apa gue tunggu ya" ika masih berdiri berharap nenek membukakan pagar untuknya.
"seandainya tak jual mahal dan menolak permintaan altarik tempo hari, pasti ini tak akan terjadi" gerutu ika.
Hampir sepuluh menit berlalu, tak juga terlihat pintu rumah terbuka.
"dek, cari siapa?" tanya salah seorang tetangga yang melintas.
"nenek" jawab ika bersemangat.
"rumah ini kosong sejak dua hari yang lalu, pemiliknya pindah kerumah anaknya" jawabnya santai.
"jadi, tidak ada orang ya?" tanya ika kecewa
"tidak, itu pagarnya saja dikunci" ucapnya menunjuk kearah pagar.
__ADS_1
"oh, iya" jawab ika.
"yasudah, permisi ya" ucapnya berlalu.
Kini pupus sudah harapan ika untuk dekat dengan nenek altarik, ika tak mungkin mendatangi rumah Altarik, sekarang altarik sudah tak memerlukan bantuannya lagi. Ika berjalan lesu sambil memencet ponsel kembali memesan ojek online.
"sekarang tidak ada lagi hal yang bisa menghubungkan gue sama altarik, ya sudahlah kalau memang bukan jodoh kenapa harus memaksa" ika seakan menyadari Altarik terlalu jauh untuk digapainya.
Lagi2 abang gojek datang dan mengangkut ika, semangatnya sudah memudar. Ika memutuskan untuk kembali kerumah. Sampai rumah ika melihat ada motor terparkir.
Ika segera masuk tanpa mengetuk pintu.
"ika, sudah pulang! Ini ada yang cari, ya sudah mama tinggal dulu ya" mama kebelakang.
Ika kaget melihat sadga mendatanginya, memangnya mau apalgi batin ika.
"darimana loe?" tanya sadga.
"bukan urusan loe, ngapain kesini?" ika bertanya balik sambil menjatuhkan badannya dikursi.
"gue mau minta maaf sama loe"
"buat apa? Kalaubga ada untungnya ga mungkin kan loe kerumah gue, minta maaf sama gue"
"please, ga usah jual mahal!" sadga sedikit sinis kini.
"ga ada untungnya juga gue baikan ama loe, kan gue udah bilang nyesel temenan sama loe, mau gue hapus nama loe dari daftar petemanan gue"
"apa? Bantuin gue, gimana caranya?" tanya ika mulai tertarik.
"ya loe maafin gue dulu" sadga tersenyum
"oke, gue maafin loe" terpaksa ika menerima pertemanan lagi.
"loe tadi darimana? Udah sarapan?" tanya sadga dan dijawab gelengan ika.
"loe pamit sana sama mama loe, gue ajak loe sarapan, sambil kita cari cara biar altarik tertarik sama loe?"
"loe ga lagi bohongi gue kan?"
"gaklah! Ayo buruan, pamit sana!" sadga mendorong bahu ika.
Akhirnya ika menurut kata2nya berpamitan kedua kalinya ke mama2nya. Dengan baik hati mama ika mengijinkan putrinya pergi bersama sadga.
"udah, gue udah pamit, ayo berangkat!" ika menarik tangan sadga.
Sebenarnya ika tak tertarik pergi bersama sadga apalagi hari minggu, tapi mau gimana lagi ga ada pilihan lain. Lagipula vera sahabatnya saja tak pernah mendukungnya mendekati altarik. Ika membutuhkan pihak ketiga untuk membantunya. Bagaimanapun sadga kan saudara Altarik, semoga saja kata2nya bukan dusta.
Ika dan sadga segera melajukan motornya, satu tangan ika dikaitkan ke pinggang sadga. Sadga memarkirkan motornya disebuah resto. Ika dan sadga segera masuk kedalam dan mencari tempat duduk.
"ayo ika" sadga menarik tangan ika.
__ADS_1
Ika hanya mengamati tingkah sadga tanpa menampik tarikan. Daripada menghabiskan hari minggu tanpa aktivitas ya lebih baik makan enak, ditraktir lagi, batin ika.
"ayo duduk" sadga menarikan kursi agar ika duduk.
Ika juga menurut, lagi2 perlakuan sadga lebih manis dari biasanya.
"loe mau makan apa? Pesan apapun yang loe mau?" sadga mulai membolak balik buku menu.
Ika memesan beberapa makanan,camilan bahkan es. Sadga hanya tersenyum dan mengangguk saat pelayan membacakan kembali pesanan ika.
"sadga, gakpapa kan gue juga bungkusin mama?"
"gakpapa santai aja"
"ada yang mau gue tanyain? Kalau minggu Altarik kemana?" mendengar pertanyaan ika, wajah sadga terlihat tak seceria sebelumnya.
"kurang tau, tapi tenang aja buat loe, gue akan mencari tau" sadga menggenggam tangan ika, seakan membuat ika percaya kalau dia akan membantu ika.
"oke" jawab ika singkat.
Asik berbincang sadga dan ika tak melihat ada sepasang mata yang mengamati keduanya. Bahkan saat mendekatpun ika belum menyadari.
"oh, gini ya?" ucapnya dengan nada tinggi.
"hai ver, loe sama siapa?" sapa ika langsung berdiri.
"gue ga nyangka ika, loe udah jadian ya? Bukan masalah tapi loe bisa kasih tau gue kan" vera sangat kecewa melihat sadga menggengam tangan ika.
Padahal yang sebenarnya terjadi tak seperti apa yang dilihatnya.
"vera, sini" ika menarik tangan vera berjalan menjauh dari sadga.
"lepas!" vera mengibaskan tangan ika saat jarak mereka lumayan jauh dari sadga.
"ver, loe kenapa sih?" tanya ika heran.
"loe yang kenapa? Loe mulai tertarik sama sadga, loe bilang sadga tertarik sama gue, loe bilang sadga cari tau tentang gue lewat loe!! Tapi nyatanya apa? Loe deketin sadga." vera terlihat marah.
Ika mulai bingung melihat reaksi vera, apa sesuka itu vera pada sadga batinnya.
"ver, oke. Kalau gue keluar sama sadga bikin loe marah, ga akan gue ulangi lagi, tapi loe percaya kan sama gue" ika memegang kedua pundak vera.
"mata gue lihat loe diam saat dia genggam tangan loe, bahkan gue gak tau apa yang kalian bahas"
"vera, gue minta maaf! Loe tau betul, siapa orang yang gue sukai, loe bahkan tak pernah mendukung gue, sadga mendukung gue sama Altarik" jawab ika meyakinkan vera.
"loe suka sama siapapun gue ga peduli! Bahkan kalo loe sekarang tertarik sama sadga gue ga masalah, tapi please jujur ika, ga kaya gini, loe makan berdua tanpa gue tau"
"kita makan sama2 ya? Loe ngapain disini? Ada acara atau apa?" ika masih berusaha membuat vera memaafkannya.
"kasih waktu buat gue! Memahami apa yang loe lakuin ke gue, jujur gue jatuh cinta sama sadga, loe harusnya tau apa yang harus loe lakuin!" vera berbalik pergi meninggalkan ika.
__ADS_1
Ika termanggu beberapa saat, merenungi apakah sikapnya memang salah, tapi ika yakin tak ada hubungan apapun dengan sadga.