
Namira...
Mataku tak bisa berhenti menangis melihatmu berdiri diantara tamu yang datang dipernikahan ku, aku tau senyummu itu hanya seutas kesedihan hati yang tengah engaku paksa untuk tersenyum tegar.
Pesta pernikahan ini tanpa kehendakku.
Setahun hubungan yang aku jalani denganmu. Selalu bahagia, tertawa suka cita, begitu indah.
Memiliki suami yang pengertian, penyayang, lembut adalah impian semua perempuan tak terkecuali aku, Namira.
Dan semua sifat-sifat itu ada padanya, Argian.
Tetapi sayang takdir tidak berpihak padaku. Sorang lelaki yang duduk disampingku, mengucap sumpah pernikahan bukanlah Argian.
Sebuah perjodohan merenggut kebahagiaan itu, tangis yang pecah hari ini bukanlah tangis bahagia. Dihati ini hanya diriku saja yang tau betapa sulit merelakan ini, melepas cintaku.
Aku tak bisa berbuat apa-apa, aku tak bisa menentang kehendak orang tuaku, biarlah tangis ini yang berbicara berapa sulitnya menerima ini.
*Sejak dududuk didepan penghulu. Namira, tidak sedikitpun berusaha mengangkat kepalanya, Namira terus saja menyembunyikan raut wajahnya, butiran-butiran bening membasahi kebaya berwarna putih berlapis puring bermotip bunga, dibalik wajah itu Namira menyembunyikan kesedihan dan kehancuran hatinya*
----------
Argian...
Namira, gadis cantik nan ayu. Jangan menangis sayang, !! ini hari bahagiamu, kau harus tersenyum meskipun bukan aku yang kini duduk disampingmu.
Setahun memang belum cukup untuk kita, tetapi kita tak boleh egois sayang. Pilihan orang tuamu, aku yakin dia yang terbaik..
Jangan menangis sayang, !! hari ini hari bahagiamu.
Sekuat tenaga aku mencoba tersenyum melepasmu menikah dengan pilihan orang tuamu.
Bahagialah sayang, bahagia !! kunanti kabar baik tentang hidupmu tanpa aku.
.....
Setahun sudah kita jalani hubungan itu, selalu bahagia selalu tertawa tanpa sedikitpun berfikir berpisah karena kami saling mencintai.
Tiga hari yang lalu, kami merayakan hari jadi kami yang pertama (satu tahun) dengan sangat sederhana, namun kebahagiaan yang kami rasakan begitu luar biasa, aku tak bisa berhenti tersenyum bahagia, ketika melihat tawa bahagia terus menghiasi wajahnya.
Namira, dia adalah seorang perempuan yang memiliki binar mata bening meneduhkan, tertawa ceria menghiasi harinya, saat bertemu denganku seketika bibirnya akan tersenyum lebar menarik sebagian pipi berwara putih langsat.
__ADS_1
Saat dia melihatku dari kejauhan dia akan segera berlari dan memelukku manja, betapa besar cintanya kepadaku sebesar cintaku padanya.
Namun dua hari sebelumnya, sepulangannya dia dari perayaan kecil untuk hubungan kami. Tiba-tiba dia menelpon, tangisnya saat itu lebih banyak dari kata-kata yang diucapkannya, disela tangisan yang tak bisa aku redakan dia berkata "Argian. Aku dijodohkan, dan akan dinikahkan."
Deggg..
Hatiku seperti diremas dan dipatahkan, ucapan itu mengiris batinku, tangisnya melukai hatiku.
Aku pun ingin menangis sepertinya dan ingin berteriak sekuat mungkin.
Namun tidak. Aku harus menahannya sekuat mungkin, aku tidak ingin menambah luka dihati Namira. "Sayang.. Tidak apa-apa. Jodoh adalah sebuah takdir dan milik siapapun, Alloh SWT telah menyiapkan jodoh untuk kamu, tapi jodoh itu mungkin bukan aku , jangan menangis sayang, !! aku tidak apa-apa aku yakin dia lebih mampu membahagiakan kamu"
Telpon pada malam itu menjadi pungkas kisah cintaku dengan Namira.
"Aku berusaha menahan tangis dibibirku, aku harus kuat, aku yakin bisa." kataku menguatkan hati yang jelas-jelas tak bisa menerima kenyataan ini.
Setelah mengakhiri pembicaraanku dengan Namira. Aku menangis sejadinya, aku berteriak frustasi "Aku tak bisa !! aku tak bisa, !!"
Mata merah dengan kelopak berwarna gelap, rambut acak-acakan, langkah lunglai fikiran kacau, menjadi teman ku malam ini.
Walau telah berusaha merelakan Namira, namun itu semua tidak semudah yang aku bayangkan.
Pesan itu tidak aku balas.
...
Hari ini aku berdiri paling belakng diantara para tamu yang duduk. Bola mataku melihat kekasihku dipapah seorang perempuan paruh baya duduk disamping seorang lelaki yang beberapa menit lagi akan resmi menjadi suaminya.
Sekilas Namira menatapku penuh kehancuran. Aku sendiri merasakan hal yang sama namun tetap berusaha tersenyum demi Namira, aku tak boleh menjadi garam pada lukanya.
Sampai akad itu selesai aku masih berdiri ditempatku, lalu setelah Namira beranjak meninggalkan tempat semula beberapa menit kemudian aku melenggang pergi membawa dukaku menyertakan doa untuk pernikahan Namira "Semoga suamimu lebih baik daripadaku."
Aku berjalan lemah, langkah ku seakan lebih berat dari biasanya.
Hari ini, langkah ini, menjadi saksi aku melepaskan cintaku.
"Argian..!!" teriak seorang perempuan dari belakang menghentikan langkahku.
Seorang perempuan dengan kebaya putih membalut tubuhnya berlari memelukku, dia menangis sekuatnya dipelukanku.
"Kamu gak boleh menangis sayang" kuhapus linangan air mata yang membasahi wajahnya.
__ADS_1
Namira kembali menangis dipelukanku, aku memeluknya erat.
Ya, anggap saja ini pelukan kami yang terakhir.
"Aku minta maaf.!!" ucapnya lemah disela tangisnya.
Ku belai rambutnya, "Jangan minta maaf sayang kamu tidak bersalah." Kuciumi rambut hitamnya untuk terakhir kali.
"Aku mohon jangan menangis," kulepaskan pelukakan nya dan kusapu air mata yang membasahi pipinya.
"Aku mohon jangan menangis, !! jangan membuatku berat melepaskanmu." bibirku bergetar mengucapkan kalimat itu menahan hati yang terus menolak mengatakan ini kepada Namira.
Kupeluk ia kembali yang telah resmi menjadi istri orang lain. "berjanjilah untuk tidak terus menangis.!!"
Namira, dia tidak berkata sepatah katapun dia terus saja menangis sesenggukan.
"Namira," kutatap matanya sayu. "Berjanjilah untuk bahagia, lupakan kita agar kamu bisa melangkah maju menuju masa depanmu"
Ku kecup pucuk kepalanya sebagai tanda perpisahan. "Pergilah kepada suamimu dan bahagialah,"
Tangis Namira semakin menjadi, dengan berat kulepas pengangan tanganya.
Namira, dia masih berdiri ditempatnya seolah tengah menghitung langkahku meninggalkan dia untuk selamanya.
Sempat menghentikan langkahku dan sekilas menolehnya, aku berharap Namira segera pergi kepada suaminya dan melupakan ku, aku tidak pernah berharap dia terlarut dalam kesedihan ini, selamat tinggal Namira selamat tinggal cinta pertama ku.
Pov Namira
*Argian,.... bagai mana aku bisa bahagia sedangkan kebahagiaan itu telah pergi bersamamu, kau cinta pertamaku dan kau membawa pergi cinta ku, mana bisa aku membaginya dengan orang lain, meskipun orang lain itu, kini telah sah menjadi suamiku.
Argian.. Walau disisiku ada lelaki lain. Namun dihatiku hanya ada kamu*.
.....
Namiraaaaaa... kuteriakkan nama itu, aku harap dunia mendengar betapa aku sangat mencintainya.
Sejak perpisahan itu, tak ada lagi suara Namira menghiasi pagi, siang, sore dan malam ku. Hari-hariku begitu sepi hanya pesan oprator yang selalu setia menghidaupkan notivikasi dilayar handphoneku.
Di sini. Negri singa (Singaphore), menjadi saksi betapa dua tahun ini aku tak bisa melupakannya, bahkan aku masih membiarkan hatiku kosong tanpa penghuni, bukan tak ada yang mencoba masuk namun hatiku menolak untuk siapapun disini.
Dua tahun kemudian....
__ADS_1