Kembalilah Padaku

Kembalilah Padaku
Argian mendengar benda jatuh.


__ADS_3

⚠️Mohon bijak, terdapat sedikit adegan kekerasan.⚠️


Sore menjelang malam.


Terdengar deruman suara mobil, pertanda Syakir telah pulang.


Namira segera melepas mukenanya dan Buru-buru membukakan pintu untuk Syakir, Namira bergerak cepat sebelum Syakir berteriak memarahinya.


Dibukanya pintu rumah itu, dari ambang pintu Namira melihat Syakir turun dari mobilnya, tapi sepertinya kali ini Syakir tidak sendiri.


Ya, benar saja Syakir membawa seorang perempuan dengan paras cantik dan sexy, jika dibandingkan dengan dirinya jelas perempuan itu lebih memiliki segalanya, terutama Syakir.


Dari cara Syakir memperlakukan perempuan itu, Namira boleh menyimpulkan bahwa mereka memiliki hubungan spesial.


Perempuan itu masuk kedalam rumah sambil menggandeng tangan Syakir dan bergelayut manja layaknya pasangan suami istri.


Namira yang melihat kemesraan mereka berdua hatinya lantas sakit dan terluka, namun apa boleh buat selama ini Syakir tidak pernah menganggap Namira sebagai istrinya.


Akad yang ia ucapkan hari itu hanya berupa kedok untuk mengawali balas dendamnya.


Namira menarik nafasnya Dalam-Dalam menahan gumpalan air matanya supaya tidak menetes, wanita mana yang tidak terluka melihat suaminya membawa perempuan lain kedalam rumahnya.


Namira masih berdiri didaun pintu menyaksikan kemesraan mereka.


"Heii kau.!!" Syakir menujuk Namira.


Namira segera menghampiri Syakir.


"Tundukan matamu, jangan biarkan mata ku melihat mata buruk mu, aku tak benci !!." ucap Syakir.


"Siapkan air hangat untuk dia mandi, cepat." Bentak Syakir.


Ucapan itu memang nampak sederhana namun jika yang mengucapkannya seorang suami kepada istrinya, Kata-Kata itu lebih menyakitkan dari sayatan pisau belati.


"Se jijik itu kah aku dimata mu Syakir.??"


batin Namira menangis .


"Woy.." Syakir menghentakan kakinya. "Loe denger gak sih.." Bentak Syakir, kesal.


"I i ia." Balas Namira gugup, ketakutan.


"Sayang, jangan Marah-Marah," Perempuan mengusap-usap dada Syakir. "Nanti gantengnya ilang loh, senyum." Perempuan itu menarik bibir Syakir memaksanya untuk tersenyum.


Dengan rela Syakir mengikuti pinta kekasih hatinya.


"Sekarang kamu tau kan alasan kenapa aku gak betah dirumah.??"


Dilihatnya Syakir merapihkan rambut lurus perempuan itu. "Coba saja kamu mau tinggal dirumah aku, aku tak akan benini terus tiap hari."


"Sayang. Aku, kan juga punya rumah sendiri, lagian kasian mamah kalo aku tinggal terlalu lama." Perempuan itu membalas perlakuannya dengan merapihkan dasi dan kerah kemeja yang dipakai Syakir.


Namira sejenak menghentikan langkahnya, memperhatikan sikap lembut yang ditunjukan Syakir kepada perempuan itu.


"Mbok, Bok." Pangil Syakir.


"Ia, Den."Mbok Nami berlari menemui Syakir.


"Bok, nanti tolong antarkan makanan yang enak ya ke kamar aku." Pinta Syakir dengan turur bahasa yang lembut.


"Siap, Den." Ucap Mbok Nami.

__ADS_1


"Syakir. Kau bahkan berkata lembut kepada pembantumu, tapi mengapa kau selalu kasar terhadapku.??" Batin Namira.


Namira menyeka airmatanya, terluka.


Kemudian Namira kembali melangkahkan kakinya menuju kamar Syakir untuk menyiapkan air hangat untuknya.


Namira tengah berkutat dikamar mandi menyiapkan air hangat yang dipinta Syakir. Selama itu hatinya tak henti bertanya.


"Mengapa Syakir menikahiku,? jika untuk menjadikan ku pembantu dirumah ini. Rumah yang seharusnya memberi perlindungan, kenyamanan dan ketenangan padaku, bukan sebuah penjara yang di jaga ketat oleh sipir yang kejam." Batin Namira terluka.


Sesekali Namira menyeka air matanya yang tak pernah bisa ia tahan.


Setelah selesai dengan urusannya, Namira keluar. Namira mendapati Syakir bersama Kekasihnya tengah duduk berdua diatas ranjang.


Namira sejenak mematung menyaksikan kemesraan mereka berdua, Namira hanya mampu memalingkan mata dan menghela nafasnya, pedih. Ketika melihat suaminya mencumbu perempuan lain dihadapannya.


Kedua bola matanya menjadi saksi adegan terlarang yang tengah mereka berdua lakukan.


Syakir tengah me lum******i bibir kekasihnya, tanpa memperdulikan perasaan Namira yang berdiri dibelakangnya.


"Heii. Siapa suruh menangis disitu..??" Teriak Syakir dengan nada tidak suka.


Namira bergegas pergi setelah menyeka air matanya.


Sebelum menggapai daun pintu Namira berhenti sejenak. "Airnya sudah aku siapkan." Ucapnya. Kemudian Namira kembali melanjutakan langkahnya keluar meninggalkan mereka berdua.


Namira berlari sambil menangis, yang dutujunya saat ini adalah Mbok Nami.


"Mbok." Namira merangkul dan menumpahkan semua isi hatinya. Hati yang begitu sakit dan terluka.


"Non, non yang sabar ya." Nami memeluk dan membelai Namira yang tengah memeluknya erat.


"Mbok. Kenapa Syakir setega ini kepadaku.?"


"Mbok, Mbok, Mbok Nami, ??" Panggil Syakir.


Karena panggilannya tidak dijawab Mbok Nami, Syakir memutuskan untuk mendatangi Nami di dapur.


Pemandangan yang membosankan bagi Syakir, dimana setiap hari setiap jam menit dan detik harus melihat Namira menangis.


"Kenapa lagi dia.?" Tanya Syakir, tidak suka.


"Den, apa tidak sebaiknya perempuan itu tidak dibawa kerumah ini.??"


Ucap Nami, sambil memeluk Namira.


Syakir menatap tajam dan tidak suka dengan ucapan Nami. "Kenapa, ?? kenapa Mbok bilang begitu .?? Apa karena dia.??" Syakir menunjuk Namira.


"Den, wajar Mbok bilang begitu karena disini sudah Non Namira, istri Den Syakir."


Syakir berdecak kesal. "Istri Mbok bilang,?? Cuih." Syakir membuang ludah setengah menghina. "Mbok dengar ya, kalo sekali lagi Mbok bilang perempuan ini istri Syakir, Syakir tidak segan-segan memecat Mbok Nami." Bentak Syakir.


Namira melepaskan pelukannya dari Nami lalu berbalik mengadap Syakir.


Namira menatap Syakir penuh kecewa. "Lalu kenapa kau tidak membiarkan ku pergi dari sini, kenapa kau tidak melepaskanku.??" Teriak Namira.


Syakir tersenyum puas. "Karena aku ingin lebih lama melihat mu sengsara,!!" Syakir menggeratkan gusinya menahan emosi. "Kau harus merasakan begaimana penderitaan adikku setelah kecelakaan itu.!"


Flash back.


Tiga tahun yang lalu.

__ADS_1


*Sebuah mobil sedan berwara hitam mengalami rem blong hingga mengakibatkan kecelakaan tunggal.


Mobil mewah berwarna hitam tersebut masuk kedalam jurang dengan kedalaman kurang lebih seratus meter.


Dua orang dinyatakan meninggal di tempat dan satu orang dinyatakan selamat.


Dua orang tersebut ialah, Zaki, Si Pengemudi (Ayah Syakir) dan seorang perempuan bernama Hilda yang saat itu duduk di kursi depan (Ibu Syakir).


Sedangakan korban selamat ialah seorang perempuan yang bernama Arra (Adik Syakir).


Arra dinyatatakan selamat. Namun harus kehilangan kedua kakinya.


Tak henti sampai disitu Arra di kabarkan depresi dan akhirnya memilih mengakhiri hidupnya, bunuh diri*.


"Hahaha," Syakir tertawa jahat. "Dan kau tau siapa penyebab kecelakaan itu.?? dia, Ayahmu, !!" Teriak Syakir penuh dendam.


"Apa kau sudah memastikan Ayahku yang melakukannya.??" Teriak Namira tak terima.


Plaakk.


Syakir menampar Namira. "Mulai berani kau, ya??" Syakir meremas pipi Namira penuh emosi, kemudian Syakir menarik dan membanting Namira hingga membuatnya mengalami beberapa luka lebam.


Syakir meraih Vas bunga diatas meja dan hendak melemparkannya kepada Namira.


"Den hentikan.!!" Teriak Mbok Nami.


Syakir akhirnya melemparkan vas tersebut kesembarang arah.


Pranggg.. !!


Vas bunga itu hancur berserakan.


"Kau." Syakir menunjuk Namira. "Jaga ucapanmu."


Setelah itu Syakir pergi menuju kamarnya.


Mbok Nami kembali merangkul Namira. "Sabar Non sabar." Hanya kalimat itu yang bisa Nami ucapkan untuk menguatkan Namira.


"Aku sudah tak sanggup Mbok, Mira gak kuat hiks hiks." Namira menangis sesenggukan dipelukan Mbok Nami.


...


Argian..


Dia tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan bergegas menemui Familla yang tengah menata hidangan makan malam diatas meja.


"Mah." Teriak Argian dengan langkah terburu-buru.


Familla sekilas menoleh wajah putranya yang terlihat khawatir. "Ada apa, Nak.??" Tanya Familla sambil menyusun piring diatas meja makan.


"Tadi Argian mendengar suara seperti benda terlempar dengan sangat keras," Argian berdiri sambil memegang sandaran kursi. "Apa mamah menjatuhkan sesuatu.??"


"Tidak ada apa-apa disini sayang, mamah tidak menjatuhkan apa-apa, lagian mamah tidak mendengar suara keras yang kamu maksud.!" Familla menatap heran kepada Argian.


"Ada apa, mah.??" Tanya Hartanto. Melangkah meninggalkan tangga terakhir.


"Apa Ayah mendengar suara benda yang terlempar.??"


Hartanto menyernyit. "Benda terlempar, ?? Ayah tidak mendengar apapun.!!" Jawab Hartanto.


Argian mengusap kasar wajahnya. "Ya Alloh ini apa lagi.??"

__ADS_1


"Sudah, jangan terlalu difikirkan lebih baik kita segera menikmati makanan ini, selagi hangat."


Argian duduk dan mulai menikmati makanannya, namun hatinya tetap tak bisa tenang, Argian ingin segera menemui dan memastikan bahwa Namira dalam keadaan baik-baik saja.


__ADS_2