Kembalilah Padaku

Kembalilah Padaku
Kpk eps 17


__ADS_3

Sementara Syakir sedang hura-hura bersama perempuan perempuan bayarannya di bar aku terus saja tak bisa tenang fikiran ku terus saja kepada Namira, aku mengkhawatirkannya sampai-sampai aku tidak bisa tidur semalaman karena dia, "apa dia baik-baik saja? bagai mana keadaannya sekarang? apa yang yang membuatnya masuk rumah sakit?" semua pertanyaan itu berlalu lalang dibenak ku.


Hatiku terus tidak tenang, sementara yang membuat aku semakin tak tenang aku tidak bisa menghubungi siapapun untuk menanyakan kabar Namira, di rumah juga kelihatannya tidak ada siapa-siapa untukku tanyai kabar Namira.


Semalaman ku tatapi langit-langit kamar mencari cara untuk mengetahui kabar Namira juga berusaha bangun untuk mencari telpon rumah itu pun tak bisa, jangan kan untuk berjalan bergerak pun aku kesusahan masih memerlukan bantuan orang lain.


Keinginan besar yang tidak didukung keadaan sungguh tak ada gunanya.


Sungguh sial aku terus saja merutuki keadaanku yang tak berdaya ini.


"Namira kuharap kau baik-baik saja...." gumam ku.


Pagi harinya terdengar seseorang membuka pintu kamarku saat menoleh ternyata Mbok Nami sudah kembali dari rumah sakit dia membawa mangkok kecil berisi air hangat yang akan dia gunakan untuk membasuh tubuhku.


Dari wajahnya Mbok Nami terlihat sangat murung seperti tertekan beban yang sangat berat, melihat itu hatiku menjadi tak tenang fikiran ku langsung kepada Namira.


Dengan susah payah bibirku ku paksa berucap melontarkan pertanyaan kepada Mbok Nami, "Mbok, kenapa? kenapa Mbok Nami terlihat sedih" tanyaku terpatah-patah.


Mbok Nami yang sedang mengusap tubuhku menghela nafasnya dengan berat dan penuh kebingungan, "Non Mira"


Namira.... ? batinku berpaut tak tenang.


Mbok Nami menghentikan gerakannya dia memalingkan wajah dan kudengar dia terisak..


"Ada apa?" batinku bertanya-tanya, "apa ada yang tidak baik dengan Namira kenapa Mbok Nami langsung menangis" fikiranku terus berkecambuk resah.


"Ada apa? Namira kenapa?" tanyaku memastikan.


"Non Mira mengalami..."


Namun belum juga Mbok Nami menceritakan semuanya dari luar terdengar Syakir berteriak-teriak.

__ADS_1


"Mbok, Mbok? apa bajuku sudah disiapkan?"


Dengan tergopoh-gopoh Nami mendatangi sumber suara tak lupa membawa kembali mangkuk yang sebelumnya dia bawa.


Syakir membuka pintu kamar memastikan Mbok Nami sudah bergerak untuk memenuhi panggilannya, "Mbok jangan lupa sarapanku ya!" ucapnya berubah manja dan Nami mengangguk meng iakan keinginan majikannya.


Syakir kenapa? kenapa dia terlihat biasa-biasa saja kenapa tidak kulihat sedikitpun kecemasan diwajahnya? apa Namira benar-benar tidak berarti untuknya? apa dia tidak pernah memperdulikan keadaan Namira?.


Pertanyaan itu terus memenuhi benakku saat melihat Syakir setenang itu, bahkan Sykir masih menyempatkan diri untuk pulang dan tidur di rumah disaat istrinya terkulai di rumah sakit.


Tadi malam sekitar pukul 1 pagi aku mendengar mobil Syakir memasuki halaman tapi tidak kudengar mobil keluar kembali, sudah bisa dipastikan kalau Syakir tadi malam berada di rumah, dan sepagi ini Syakir sudah ada di rumah itu sangat tidak mungkin.


Aku sungguh tak bisa menahan diri, hatiku terus gelisah, "Namira aku sungguh ingin tau keadaanmu saat ini, apa kau baik-baik saja?"


Tiga bulan kemudian...


"Hei, kelihatannya kau sudah membaik" Syakir menendang kakiku sedikit kasar.


Beberapa kejadian yang terjadi didalam rumah ini telah menjadi agenda yang tersusun rapi di otakku, tentang Namira. Aku ingin tau semua yang terjadi padanya, jika dia merasa sakit aku ingin menolongnya, aku ingin mengembalikan senyum dia yang kini kulihat mulai tak nampak di wajahnya.


"Hei" Sayakir kembali menendang, "Apa kau ingat siapa dirimu?" Syakir kembali bertanya.


Melihat aku hanya terdiam dengan bingung, Syakir kulihat tersenyum jahat. Dia tau, keadaan ku sekarang adalah karena ulahnya.


Dia mungkin merasa panik ketika melihat aku terkapar tak berdaya, atau dia mungkin ingin menghilangkan aku tanpa jejak agar tidak ada orang yang mengetahui semua perbuatan busuknya.


Melihat dari cara dia mengemudi, aku yakin dengan 100%Keyakikan kalau kecelakaan itu adalah disengaja, tapi apa motifnya?


"Aku, aku" aku berkata dengan terpatah-patah, karena memang rahangku belum bisa ku gerakkan dengan normal.


"Apa kau ingat siapa dirimu?" selidiknya lagi. Aku semakin merasa terintimidasi oleh pertanyaan pertanyaannya. Aku juga mencium kekhawatiran dalam pertanyaan tersebut.

__ADS_1


Haruskah aku berpura pura? agar tau apa motifnya melakukan ini kepadaku?.


"Hei" Syakir kembali menendang.


"Apa kau kenal seseorang yang bernama Argian? Pengusaha muda yang sukses meniti karirnya dalam bidang akrilik dan perabotan rumah moderen yang kualitasnya di akui Asia, apa kau kenal dia?" usut Syakir.


Aku hanya diam, tak ingin menjelaskan, lebih mengikuti alur apa yang Syakir inginkan. Jika dia mencoba menyembunyikan kebenaran dengan menahan ku di tempat ini, maka aku juga akan membuat keboongan yang akan membuatnya mengakui semua alsan perlakuannya.


.


Sejak aku sadar dari koma ku, sebenarnya sedikit demi sedikit aku mulai mengingat semuanya meski tidak begitu hapal.


Kali pertama yang aku cari adalah identitas ku, karena saat itu aku tidak begitu tau siapa aku dan dimana aku sekarang.


Saat itulah aku mulai merasa janggal, tiga hari didalam rumah sakit aku langsung di pindahkan tanpa alasan yang jelas, selain itu tidak ku dengar orang orang di rumah ini mencari tau asal dan identitas ku. Apa mungkin Syakir mencoba menyembunyikan ku?.


"Aku tidak kenal dia" akhirnya aku mulai merancang sandiwara ku.


Alasannya karena Namira berada di tempat ini, aku ingin dekat dengan dia meski menjadi seseorang yang ber pura pura tidak mengenalinya.


"Benarkah?" tanya Syakir tampak ragu.


"Sebenarnya, siapa yang engkau tanyakan?" tanya ku lemah. Semakin aku jadi jadikan sandiwara ku agar bisa meyakinkan Syakir, "Apa kau mengenalnya? atau apa kau ingin bertemu dengannya, apa dia artis?" tanyaku pura pura tidak tau.


"Apa kau ingat siapa dirimu? dan siapa orang Tua mu?. Kau tau siapa keluarga mu?" Syakir kembali bertanya untuk memastikan ingatanku.


"Siapa aku, dan siapa orang tua ku?" tanyaku pura pura bodoh, aku mengernyit seperti berfikir, "Mm apa kau bukan keluarga ku?"


Syakir diam, kemudian menyunggingkan senyum jahat.


...Dia telah mendapatkan jawaban yang ia inginkan, yaitu, Aku lupa ingatan....

__ADS_1


__ADS_2