Kembalilah Padaku

Kembalilah Padaku
KPK part16


__ADS_3

Sayup-Sayup Namira mendengar suara diiringi isaktangis, perlahan dengan sangat lemah Namira membuka matanya dan melihat sekeliling, suara isak dan panggilan yang sempat dia dengar ternyata berasal dari Mbok Nami yang setia meneminya dirumah sakit.


Saat mendapati Namira telah pingsan didalam gudang tanpa fikirpanjang lagi Nami dibantu Jhon yang kebetulan sedang ada di rumah untuk menjemput Syakir langsung mengantar Namira ke rumah sakit terdekat.


"Non.. Non Mira" Panggil Mbok Nami.


Namira yang baru pulih kesadarannya hanya menatap Nami dengan tatapan sayu seperti ingin menangis memeluk dan mencurahkan semua rasa sakit yang dimilikinya.


Menangkap tatapan Namira Mbok Nami seakan mengerti akan perasaan berat yang dialami Namira.


Mbok Nami mengusap lembut helaian rambut yang menutupi dahi Namira, "Non.. Non Mira, bagai mana? apa yang sakit Non?" Tanya Mbok Nami dengan mata berembun sedih melihat keadaan Namira yang sangat rapuh dan memerlukan perlindungan.


Dari sudut mata Namira menitis dengan pelan sebening embun air mata yang mewakili perasaan yang tidak bisa dengan bebas ia ungkapkan pada siapapun dan pada akhirnya Namira hanya bisa menggeleng seolah tidak ada yang tidak baik padanya.


Mbok Nami menangis terhiris melihat keadaan Namira.


Selepas menemani Namira Mbok Nami beserta Jhon pun keluar untuk memenuhi panggilan Dokter.


"Bagai mana Dok? apa yang terjadi pada majikan saya?" tanya Jhon pada seorang Dokter yang menangani Namira.


"Sebelumnya bolehkah saya bertanya?" Dokter tersebut bertanya dengan sedikit ragu pasalnya yang akan dia tanyakan adalah mengenai privasi pasiennya.


Mbok Nami dan Jhon saling menatap.


"Tentu, apa yang akan Dokter tanyakan?" tanya Nami.


"Kami bersedia menjawabnya" sambung Jhon.


"Apa dia masih memiliki keluarga?" tanya Dokter.


Dokter memberikan pertanyaan seperti itu bukan tanpa sebab pasalnya sejak diantar ke rumah sakit hanya Mbok Nami dan Jhon yang menemani Namira juga sebagai wakil wali untuk Namira dan tidak mendapati keluarga Namira.


Nami dan Jhon kembali bersitatap cemas dengan apa yang akan dikatakan oleh Dokter.


"Ya, keluarganya masih lengkap" jawab Nami terbata-bata.


"Apa kami perlu menghubungi mereka? tapi mungkin akan memerlukan sedikit waktu untuk sampai disini" tambah Jhon.


Dokter itu sejenak terdiam berfikir.


"Apa saat ini dia tinggal sendirian?" tanya Dokter itu kembali.


"Tidak! dia tinggal bersama kami juga suaminya" jawab Mbok Nami dengan hati-hati.


Dokter itu berkerut kening, dia terheran dengan kondisi yang menimpa Namira.

__ADS_1


"Apa suaminya selalu memperhatikan dia?" Dokter kembali menggali berbagai sumber penyebab pingsannya Namira.


Jhon menatap Nami dengan berbagai pertanyaan, Jhon kebingungan dengan pertanyaan Dokter tentang majikannya.


"Apa kami perlu menelpon suaminya? tapi kecil kemungkinan untuk beliau datang" ungkap Jhon.


Dokter menggeleng kecewa terhadap mereka, dimasa genting seperti ini tak sepantasnya keluarga pasien masih memerlukan waktu untuk dihubungi, "Sudah tidak perlu, hanya kondisi pasien ini sangat perlu diperhatikan orang sekelilingnya." jelas Dokter.


Dokter menatap bingung Mbok Nami dan Jhon secara bergantian apa yang ingin ia sampaikan saat ini tak seharusnya dengan orang lain membicarakannya, pantasnya apapun yang terjadi orang tua lah atau suami yang berdiskusi dengan Dokter.


....


"Jhon.." ucap Nami yang berjalan dengan lunglai. Setelah menerima kabar tentang penyakit yang di alami Namira dari Dokter Mbok Nami yang hendak kembali ke ruangan Namira tak bisa menahan kesedihannya dan meluah kan kesedihan itu kepada Jhon.


Jhon yang sedang berjalan berampingan dengan Mbok Nami hanya sekilas menatap Nami dan sudah bisa menangkap kesedihan dari wajah wanita hampir paruh baya itu.


Masih mengiang penjelasan Dokter tentang Kondisi Namira ditelinga keduanya, "Pasien Namira mengalami kekurangan gizi dan nutrisi, selain itu dia juga mengalami depresi ringan itu sebabnya dia pingsan. Saya minta, pasien ini jangan terlalu tertekan atau kondisinya akan semakin buruk, tolong terus diawasi jangan sampai lengah, saya takut akan hal buruk yang biasanya terjadi pasa pasien denga gejala seperti ini," kata Dokter.


"Jhon..." panggil Nami kembali dengan lirih setelah sebelumnya Jhon hanya diam dan menunduk lesu.


"Aku tidak menyangka Nyonya akan mengalami ini," keluh Jhon dengan mata berembun.


"Den Syakir keterlaluan, Jhon" sambung Nami.


"Ya, tapi kita tidak bisa apa-apa, kita juga tidak bisa ikut campur dengan rumah tangganya"


Nami pun menatap Jhon dengan tatapan sayu, "Apa kita akan terus berdiam diri seperti ini dan membiarkan Non Namira diperlakukan semena-mena, Jhon?"


Jhon tak bisa menjawab.


Namun setelah mengingat semua perlakuan Syakir diluar rumah membuatnya sedikit berfikir dan merasa sedih untuk Namira. Meskipun Jhon belum berumah tangga namun dia tau kalau yang dilakukan Syakir pada Namira adalah hal yang melanggar etika perkawinan.


"Apa kamu sudah menghubungi Pak Arman Jhon?" tanya Nami mengalihkan topik.


"Aku sudah menelponinya beberapa kali tapi tidak dijawab," keluh Jhon.


"Lalu Den Syakir?" Nami kembali bertanya dengan tatapan penuh selidik.


Jhon kembali diam dia teringat akan ucapan Syakir tadi saat Namira ditemukan telah pingsan di gudang.


Saat Nami berteriak histeris minta tolong kebetulan Jhon sedang datang untuk menjemput Syakir, karena keriuhan itu Jhon pun mendatangi Nami dan melihat Namira terkulai lemas di atas lantai gudang yang penuh debu, setelah memindahkannya Jhon segera mendatangi Syakir untuk memberi tahukan hal tersebut dengan harapan Syakir segera membawa Namira ke rumah sakit.


Namun bukannya peduli Syakir malah meneriaki Jhon "Aku membayarmu agar kau berkerja untukku bukan untuk memperhatikan perempuan itu!" katanya kesal.


"Tapi Non Mira," sahut Jhon panik dengan tetap menjaga sikap sebagai bawahan.

__ADS_1


"Kau perduli padanya?" potong Syakir, ia terdengar emosi ketika Jhon terus memperdulikan Namira.


"Antar aku sekarang Jhon!" perintah Syakir tak ingin dibantah.


"Dia pingsan, dan kita perlu membawanya kerumah sakit" timpal Jhon.


Dengan kesal Syakir merebut kunci yang masih dipegang Jhon selepas memarkirkan mobil di halaman, "Kau urusi saja dia!" tanpa ada sedikitpun keperdulian terhadap Namira Syakir pun pergi yang tujuannya yang tak lain dan tak bukan Club Malam.


Jhon hanya mendesah hampa, dan Nami mengerti akan hal itu.


Mereka berdua memutuskan untuk kembali ke ruangan Namira, sebelum benar-benar masuk Nami menyempatkan diri untuk melihat Namira lewat kaca kecil yang transparan pada pintu ruang rawat, dilihatnya Namira sedang duduk menghadap kearah pintu tapi tatapan Namira entah berarah kemana pasalnya dia tidak menyadari kalau Nami dan Jhon sudah kembali dan sedang memperhatikannya.


"Kau lihatkan Jhon?" sedih Nami.


Dilihat oleh Jhon Namira yang sedang terduduk lesu, pucat dengan tatapan kosong penuh kehampaan.


"Ya, aku melihatnya" jawab Jhon lesu.


Mengetahui Namira sedang menatap kearahnya Nami mencoba melambaikan tangan untuk memastikan Namira tidak sedang melayangkan tatapan kosong, tapi begitulah Namira dia tidak sedang memperhatikan siapapun bahkan mungkin tidak menyadari kehadiran Mbok Nami dan Jhon dia asyik dengan segala kehancuran dan semua lara yang berkecambuk dihatinya.


Tak ingin membiarkan Namira sendirian Mbok Nami memutar handle pintu untuk segera masuk kedalam ruangan, tapi sempat ditahan oleh Jhon.


Kata Jhon, "Apa kamu akan masuk dengan wajah seperti itu(Penuh air mata)?"


Sadar Akan hal itu Nami pun segera menyusuti air matanya dan memaksakan diri untuk tersenyum didepan Namira.


"Halo Non.." sapa Nami yang baru masuk kedalam ruang rawat Namira diikuti Jhon membuka senyuman dengan bibir melebar berharap bisa menghibur Namira, Namun Namira tidak bergeming dia tetap dengan tatapannya yang kosong.


Melihat reaksi Namira Mbok Nami dan Jhon hanya bisa saling menatap dengan tatapan sedih kemudian mereka kembali mencoba memanggil Namira.


"Non.. Non Mira" Mbok Nami terus memanggil sambil berjalan mendekati Namira.


Lalu setelah beberapa kali memanggil Namira akhirnya tersadar, air matanya tiba-tiba berlinang dan dalam setengah sadar Namira bergumam, "Aku lelah" kalimat itu menjadi bukti betapa besarnya masalah yang sedang ditanggung Namira.


Mendengar itu Nami tersentak lalu terdiam sejenak, dia mengerti betul posisi Namira saat ini seperti apa karena memang selama ini tidak ada yang lebih dekat dan mengerti Namira selain dirinya dan kali ini pun Nami mengerti akan maksud Lelah yang Namira ucapkan itu semua pasti berasal dari masalah dan perlakuan Syakir yang terus ia hadapi.


Mata sayu itu berputar lemah kearah Mbok Nami, bibir pucat bergetar berusaha bertanya "Mbok apa mati itu sakit?." Pertanyaan Namira sontak membuat Mbok Nami tersentak hebat bagaimana bisa Namira melontarkan pertanyaan semacam itu, pertanyaan yang membuatnya ketakutan setengah mati.


Nami tidak menjawab, didekapnya Namira yang tanpa ekspresi diusap dan dibelai rambutnya dengan penuh kasih sayang, Nami tidak bisa menahan dirinya dia pun menangis di pucuk kepala Namira.


Jhon yang ikut berbaur dalam suasana itu tak bisa menahan diri dia tampak memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan kesedihan.


Masih dalam dekapan Mbok Nami Namira kembali berkata, "Padahal aku harap tidak bangun lagi Mbok" ucapan itu semakin membuat air mata Nami berurai deras.


"Non Mira tidak boleh bilang begitu" kata Mbok Nami disela tangisnya sambil terus membelai Namira.

__ADS_1


"Tidak boleh ya?" sahut Namira dengan senyum kecil melawan dukanya.


__ADS_2