
Jakarta, 24 Agustus 2019.
Pov Argian.
"Ini adalah kali pertama aku menginjakan kakiku disini." Gumam Argian yang baru turun dari mobil.
Argian mematung menatapi rumah sederhana dihadapannya.
Rumah kesayangan Kel, Hartanto dan Familla, Orang Tua Argian.
Argian menatapi pintu masuk yang tampak tidak berubah semenjak ditinggalkannya.
Disebelah kiri rumah terdapat taman kecil, yang dirawat dengan baik.
Argian menoleh, lalu melangkah mendatangi taman kecil tersebut.
Argian memetik bunga kecil berwarna putih. Argian tersenyum pahit, "Namira, bunga ini masih tumbuh subur ditaman ku, seperti cintaku padamu yang tak pernah mati."
Dari dalam rumah, seorang wanita paruh baya nampak beberapa kali keluar masuk dari rumahnya.
Dia adalah Familla, seorang ibu yang tengah resah dan gelisah menunggu kedatangan putra tercintanya.
Familla risau berjalan kesana kemari tak tentu.
Ada rasa bahagia dihati Familla, tapi juga ada resah.
Familla khawatir Dion telah membohonginya.
Dion (Asisten) menyampaikan bahwa hari ini Argian akan pulang ke Indonesia.
Walau yakin Dion tidak akan berbohong namun Familla tidak bisa sepenuhnya percaya.
Pasalnya, dua tahun yang lalu...
Flashback.
"*Mah. Argian pamit, Argian tidak tau sampai kapan Argian disana, kalau mamah rindu Argian, mamah datangi saja Argian,"
" Argian. Nak, kamu tidak boleh bilang begitu, kamu harus pualang, ini rumah kamu."
"Aku akan pulang saat telah berhasil melupakan Namira."
"Nak. Kamu harus berlapang dada, tidak baik terus berlarut dalam kesedihan, jodoh itu Allah yang atur. Jika bukan Namira, Mamah yakin seseorang yang terbaik telah tersiapkan untuk kamu."
Argian tersenyum pahit, "Argian akan berusaha berlapang dada menerima takdir ini, asal Namira bahagia*."
Flashback Off.
"Argian.!?" Familla terkejut mendapati putranya tengah berdiri menghadap taman kecil di samping rumahnya.
Taman kecil tersebut adalah taman yang dua tahun yang lalu dibuat oleh Namira.
"Ayah. Ayah, Argian pulang." Teriak Familla.
Seorang lelaki paruh baya tergopoh-gopoh mendatangi Familla.
Argian tersenyum kecil kepada dua orang hebat dibelakangnya, Argian kemudian berjalan sambil menyeret koper menghampiri Familla dan Hartanto.
Familla segera menyambut dan memeluknya. "Sayang, mamah senang sekali akhirnya kamu pulang." Familla melepaskan pelukkannya.
__ADS_1
"Argian. Apa kabar, Nak.??" Giliran Hartanto yang memeluk Argian.
"Mamah kengen sekali sayang. "Familla memegang erat tangan Argian. "Sayang kamu akan lama kan disini.??"
"Mah, Argian cuma pulang untuk beberapa hari Argian sedikit sibuk."
"Yahh." Familla nampak sedikit kecewa.
"Mah, jangan khawatir Argian akan nyempetin pulang walau sebentar."
"Kalian malah ngibrol duluar, yuk masuk kita lanjut ngobrolnya dirumah." Ajak Hartanto.
Hartanto dan Familla masuk kedalam rumah. Hartanto menggandeng Argian sedangkan Familla membawakan koper Argian.
"Mah, Pah. Argian izin istirahat sebentar, Argian sedikit capek."
"Ia. Sayang, istirahatlah mau mamah siapin masakan apa.??"
Argian tersenyum kecil, "Apa aja Mah, apapun yang Mamah masak pasti Argian habiskan."
Familla terkekeh mendapati tuturan Argian.
Argian telah sampai didepan pintu kamarnya.
Argian menggapai dan membuka pintu, dilihatnya kamar itu sangat bersih dan terawat.
Tak ada yang berubah, semuanya masih tampak sama seperti saat terakhir Argian melihat dan meninggalkan kamar ini.
Tampilan kamar Argian tidak pernah diubah Familla, dari mulai tata letak lampu tidur, seprai kamar, tirai dan Photo-photo Namira yang terpajang rapih menghiasi kamar Argian.
Agian tersenyum penuh luka saat kembali melihat potret Namira.
Pernah satu ketika Argian membuang semua photo Namira berharap bisa melupakannya.
Namun bukannya berhasil melupakan Namira, Argian malah semakin merasa sakit, tak tenang dan tak bisa melupakan Namira sedetik saja.
Argian kemudian mengambil kembali Photo-photo Namira, saat itulah hatinya bisa sedikit tenang dan kembali teduh.
"Nak," Familla berdiri diambang pintu dengan sebuah amplop ditangannya.
Argian berbalik pada sumber suara. "Mah,"
Familla melangkah mendekati putranya yang tengah berdiri menatapi photo Namira. "Argian," Familla menyodorkan sebuah amplop ditangannya. "Satu tahun yang lalu mamah menemukan surat ini tergeletak begitu saja didepan rumah tanpa alamat dan nama pengirim."
"Apa ini, Mah.??" Argian menerima amplop tersebut.
"Mamah tidak tau sayang, mamah tidak pernah mencoba membukanya."
Argian membuka kemudian kembali menutup tanpa membacanya, Argian hanya membolak balikan amplop tersebut.
"Terima kasih mah."
Familla mengusap lembut Argian. "Kalo begitu kamu lanjut istirahatnya Mamh mau masak dulu.!! Familla beranjak meninggalkan Argian.
"Mah."
Familla menghentikan langkahnya kemudian berbalik sambil tersenyum.
"Terima kasih telah merawat kamar Argian, dan terima kasih karena Mamh tidak sedikit pun mengubahnya."
__ADS_1
Familla kembali menyunggingkan senyum dibibirnya. "Sama-Sama, sayang."
Familla kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
Argian menaruh amplop yang dipegangnya, lalu menghempaskan tubuhnya diatas kasur.
Argian menatapi Langit-Langit kamarnya, seolah menemukan bayangan. "Namira." Gumam Argian yang kemudian diikuti kelopak matanya yang tertutup rapat.
.....
Namira.
Dia lari secepat kilat saat mendengar dentingan bel rumah yang ditempatinya.
Namira menghentikan niatnya untuk membuka pintu karena Mbok Nami telah membukanya terlebih dahulu.
Dilihatnya Mbok Nami tengah menandatangani sebuah surat tanda penerimaan barang.
Setelah pengantarnya pergi. Namira segera merebut kotak tersebut dari tangan Mbok Nami.
"Apa ini kiriman dari Argian.??" Namira melihat dan membaca pengirim yang ternyata bukan dari Argian.
Seketika wajah Namira berubah kecewa.
"Non." Mbok Nami menghampiri Namira yang tengah terduduk kecewa, sesekali dia menyapu air matanya.
"Mbok, kapan Argian akan membalas suratku.??" Namira memeluk Mbok Nami.
"Sudah satu tahun aku menunggu Argian membalas suratku."
"Non yang sabar!." Mbok Nami membelai rambut Namira.
"Apa Argian Benar-benar sudah melupa,kan ku.?? Apa Argian sudah menikah dan tidak lagi peduli padaku.??"
Mbok Nami menyeka air mata yang berlinang di pipi Namira.
"Non jangan berfikiran begitu, mungkin Tuan Argian masih sibuk, atau mungkin surat itu belum sampai ditangannya."
Mbok Nami mencoba menguatkan Namira.
Sejak menikah dengan Syakir, Namira tidak pernah diberi kebebasan olehnya.
Selain memperlakukan Namira dengan buruk Syakir juga mengekang Namira, Namira tidak boleh memegang handphone, tidak boleh menemui keluarganya dan tidak boleh keluar tanpa ditemani Mbok Nami.
Pernah satu ketika, Namira diam-diam menemui Silvi (Ibu Namira) dan hendak mengadukan semua perlakuan buruk Syakir.
Namun sialnya hal tersebut diketahui Syakir.
Syakir, segera mengelak dengan bermacam alasan. Dan tentunya silvi lebih mempercayai kebohongan Syakir.
Lalu Syakir membawa kembali Namira kerumahnya. Syakir akan kembali menyiksa, menghukum dan mengancam Namira.
"Lakukan apapun yang kau mau, kalau kau ingin melihat keluargamu sengsara.!!" Ancam Syakir, "Kalau saja Ayahmu tidak membunuh keluargaku, aku juga tidak akan melakukan ini kepadamu !. Anggap saja ini sebuah balas dendam seorang anak dan seorang kak atas kematian Adik dan kedua orang tuanya."
Kata-kata itu setiap hari mengiang ditelinga Namira, menjadi sebuah pertanyaan yang terus mengusik ketenangannya.
Namira sering kali hanya bisa menangis disaat Syakir memperlakukannya dengan buruk.
Bahkan yang paling menyakitkan, Syakir sering membawa perempuan lain dan mencumbunya dihadapan Namira.
__ADS_1
Setahun yang lalu Namira mengirimkan sebuah surat kepada Argian, yang berisi sebuah pernyataan atas perlakuan buruk Syakir kepadanya, dengah harapan Argian bisa membantu membenaskan Namira dari cengkraman dan perlakuan buruk Syakir.