Kembalilah Padaku

Kembalilah Padaku
KpK bag 13


__ADS_3

"Bagai mana pun aku bertahan sekuat tenaga, jika hatimu tak pernah tercipta untukku semuanya akan Sia-Sia Syakir, seandainya kau tau betapa aku susah payah berusaha menerima pernikahan ini pernikahan yang telah menghancurkan cinta dan harapanku, Syakir menikahimu aku telah melepaskan kebahagiaan dan cintaku, semuanya hancur semuanya musnah, akupun semakin hancur karena dirimu tak pernah memandangku dan tak pernah menganggapku ada. Tuhan haruskah aku teruskan pernikahan ini ? pernikahan yang membuat hidupku hancur, pernikahan yang membuat jiwaku menangis setiap hari."


Namira terus berjalan tanpa arah dan tujuan diantara derasnya air hujan yang membasahi bumi membawa hati yang terluka dan terus terluka.


Dua tahun telah berlalu luka itu semakin melebar dan membesar, luka yang tidak pernah orang lain tau, luka yang tidak pernah orang lain rasakan.


Seandainya bisa, Namira ingin mengakhiri pernikahan ini, mengakhiri rasa sakit ini mengakhiri semua luka yang sakir berikan untuknya.


Kesalahan masa lalu membuat Namira harus menerima bubuhan dan sayatan luka disetiap harinya, setiap waktu Syakir akan melemparinya dengan rasa sakit membalutinya dengan kesedihan menyiraminya dengan garam kepedihan.


Entah berapa jauh Namira berjalan membawa kekecewaannya, tapi yang pasti saat ini ia telah berdiri didepan rumah orang tuanya.


Namira berdiri mematung mengamati rumah yang telah ia tinggalkan selama dua tahun, air hujan masih membasahinya saat Namira terduduk lemas tak berdaya.


Bayangan seseorang membuatnya semakin terluka, suara itu masih terngiang jelas ditelinganya.


"Namira, aku antar sampai disini ya sayang, ingat kau tak boleh menahanku ! atau aku akan sangat berat meninggalkanmu. I LOVE YOU Namira, jangan sedih begitu, aku tidak bisa meninggalkan mu dengan wajah seperti ini kau harus tersenyum."


Namira terduduk dengan air mata yang terus berderai membasahi pipinya. Namira tetap duduk seperti itu sampai pagi menjelang.


Beberapa saat kemudian seorang wanita paruh baya berlari Terburu-buru kearah Namira yang masih terduduk didepan rumah.


"Non," panggil perempuan yang diketahui bernama Atik atau biasa dipanggil Bi Atik pembantu dikeluarga Arman.


Melihat kondisi Namira yang sangat menyedihkan Bi Atik lantas memapahnya kedalam rumah.


"Nyonya, Nyonya !" panggil Bi Atik.


Tak lama kemudian Silvi pun datang Terburu-buru, tak jauh darinya berjalan pula Arman.


"Sayang," ucap Silvi. Silvi Hampir tak percaya Namira berdiri didepannya dengan kondisi yang begitu memprihatinkan.


"Ada apa Namira, kenapa kau basah kuyup begini?" tanya Arman.


Tapi Namira, tidak menjawab ia hanya menangis dipelukan Silvi mencurahkan segala isi hatinya.


"Mana Syakir, Namira? kenapa kau datang sendiri,?" tanya Arman.


Namira masih diam.


Kebiasaan Arman yang selalu membela Syakir membuatnya enggan untuk memberinya alasan, alasan yang tentunya akan memojokan Syakir.


"Bibi tolong ambilkan handuk !" teriak Silvi.


"Sayang kenapa kamu bisa seperti ini,?" tanya Silvi, sedih. Melihat Namira pulang sendirian membuat Silvi sedikit berfikir ada yang tidak beres dalam pernikan putrinya.


"Namira, kenapa kamu tidak menjawab Ayah Nak ?"

__ADS_1


Namira malah semakin menunduk dan terisak.


Namira mendongak, menatap Arman penuh kekecewaan, "Ayah ! tolong jawab Mira !" ucapnya setengah berteriak dalam tangisannya.


Arman yang dipandang seperti itu oleh putrinya sejenak berfikir.


"Apa yang ingin kamu tanyakan Mira,?" tanya Arman.


"Apa Ayah masih ingat pada kejadian dua tahun lalu ?" sentak Namira.


Arman kembali mencerna pertanyaan Namira.


"Sayang untuk apa kamu menanyakan ini,? kejadian itu sudah berlalu kita tidak perlu menggalinya kembali, biarkan masa lalu itu terkubur, kita bisa meneruskan hidup dengan tenang tanpa mengingatnya kembali !" sahut Silvi.


"Ayah tolong jawab Mira !" tegasnya. "Apa benar ? penyebab kecelakaan itu Ayah pelakunya ?" bentak Namira.


Plakkk


Arman Tiba-Tiba menampar Namira.


"Ayah !" bentak Silvi. Silvi seolah tak rela Arman menampar putrinya tanpa alasan.


Namira kembali menegak'kan kepalanya setelah sempat memiring mengikuti tamparan Arman, "Ayah ! apa Ayah tau bagai mana sakitnya menerima ini,? apa Ayah pernah berfikir bagai mana susahnya Namira menerima kesalahan Ayah,? tamparan ini tak lebih sakit dari pada menanggung kesalahan yang Ayah perbuat!" teriak Namira.


Mendengar Namira meninggikan suaranya saat berbicara, Arman mengepalkan jemarinya penuh emosi, "Kau tidak tau Apa-Apa Namira ! untuk itu sebaiknya kau Diam !" suruh Arman bernada emosi.


"Kesalahan apa yang kamu maksud Namira?" tanya Arman.


"Apa Ayah lupa pada keluarga yang Ayah bunuh,?"


"Bicara apa kau Namira,?"


"Apa pernah terfikir dibenak Ayah ? bagaimana bila aku dijadikan bahan balas dendam,?"


"Namira Sayang duduk dulu kita bisa bicarakan ini Baik-Baik !" pinta Silvi, sambil mencoba merengkuhkan tubuh Namira.


"Mah ! apa Mamah bisa merasakan rasa sakit yang Mira rasakan saat ini,?" tanya Namira lirih.


"Sayang, apa masalah yang sedang kamu hadapi,? ceritakan ! Mamah akan dengarkan,"


Namira tersenyum kewa, "Percuma. Bukankah bila Namira menceritakan keburukan Syakir kalian tidak akan percaya,?"


"Karena itu hanya alasan Namira ! alasan karena kau tak mau menerima perjodohan ini, karena kami tak menikahkanmu dengan Argian ! kau marah dan berusaha menentang kami !" bentak Arman.


Namira kembali menyunggingkan senyum penuh luka, "Ayah tau ? tanpa Ayah sadari, Ayah tengah menyiksa Namira, Syakir itu tidak sebaik yang Ayah kira ! dia selalu kasar dan memperlakukan Mira dengan sangat buruk, dia menikahi Namira hanya untuk balas dendam !"


Plakkkk..

__ADS_1


Namira kembali menerima satu tamparan dari Arman, "Tak pantas kau berkata seperti itu kepada suami mu Namira !" tampik Arman, ia selalu tak terima saat Namira menceritakan keburukan Syakir. Arman selalu berfikir Namira hanya Mengada-ngada, semua itu alasan agar Namira bisa terlepas dari pernikahannya bersama Syakir.


"Ayah," teriak Silvi tak terima Namira kembali ditampar.


"Ayah," ucap Namira lirih, ia masih memegangi bekas tamparan Arman dipipinya.


"Baiklah jika Ayah tak bisa mempercayai Mira, tolong Ayah dengarkan! ini kali terakhir Mira menginjakan kaki dirumah ini !" bentak Namira dengan segala kekecewaannya. Akhirnya Namira pun pergi, dia yang awalnya hendak meminta perlindungan dari Orang Tuanya akhirnya harus kembali keluar membawa kekcewaan.


"Mira, Mira," teriak Silvi mengikuti langkah cepat Namira yang pergi meninggalkan rumah sambil menangis.


"Sudah biarkan dia ! jangan telalu dimanjakan !" sahut Arman sambil menahan Silvi untuk tidak mengejar Namira.


"Hidupku saat ini bagai anak angsa yang dilepas induknya ditengah arus sungai, kesana kemari mencari pegangan, berteriak sekuat tenaga meminta pertolongan, tetapi aku tak berdaya, selain berpasrah aku tak punya Siapa-Siapa, aku tak punya Apa-Apa untuk mempertahankan hidupku, ingin berlaripun aku tak mampu, jika hidup harus terus berjalan aku berharap ada keindahan disana yang bisa aku temukan, jika aku tidak berhak memiliki hidup aku berharap semua berakhir sampai disini. Aku sudah puas menerima rasa sakit ini aku sudah puas menerima luka ini, jika akan ada pelangi setelah hujan aku harap hujan ini segera reda, jika setelah musim gugur akan ada musim semi aku harap semuanya segera berganti sebelum tubuhku lelah, sebelum tubuhku lemah dan hancur tak berdaya," batin Namira.


Ia masih menangis pilu, walau hujan telah reda namun airmatanya masih menetes deras.


...


...


...


Di kediaman Syakir.


Argian yang masih terbujur lemah Tiba-Tiba terbangun dari tidurnya, Argian berkata dengan sangat pelan Mbok Nami yang sedang ada dikamar Argian pun hampir tak dapat mendengar Kata-Katanya, "Kemana perempuan yang bisa bersama ibu,?" tanya Argian.


Mbok Nami mengangkat kepalanya setelah mencoba mendengarkan bisikan Argian. "Saya tidak tau Den, sejak tadi malam saya juga tidak melihat Non Namira," ucap Mbok Nami.


"Boleh carikan dia,?" suruh Argian.


Mbok Nami tertegun seraya berfikir, "Tapi saya tidak tau harus kemana mencarinya," jawab Mbok Nami.


Mendengar ucapan Mbok Nami Argian pun terdiam, tapi bukan berarti hilang semua kegelisahannya pada perempuan yang saat ini tidak dikenalinya.


Tak lama kemudian dari luar terdengar keributan.


Plakkkkk.


Satu tamparan kembali melayang diwajah Namira hingga ia tersungkur.


"Jika kau berani mengadukan ini,? aku pastikan lusa keluargamu aku giring kepenjara !" bentak Syakir penuh ancaman.


"Syakir kenapa tidak kau bunuh saja aku, agar kau puas !" bentak Namira sambil menangis terisak.


Rupanya saat Namira pergi, Syakir sempat mencarinya hingga semalaman, Syakir juga tau kalau sebenarnya Namira mencoba mengadukan semuanya. Saat Namira masuk kedalam rumah diboyong Bi Atik saat itu pula Syakir datang dan Diam-diam mendengar pertengkaran Namira dengan Arman.


"Kau dengar! aku tidak akan mengotori tangan ku seperti Ayah mu," Syakir merendah dan meremas pipi Namira. "Aku lebih ingin melihatmu mati Perlahan-lahan Namira !"

__ADS_1


Dengan kasar Syakir menepiskan remasannya diwajah Namira, Namira yang tak bisa berbuat Apa-Apa pun hanya bisa menangis.


__ADS_2