
⚠️ Mohon bijak menanggapi adegan didalam cerita ini karena mengandung unsur kekerasan⚠️
Jakarta, 23 Agustus 2019.
"Namira.!!" teriak seorang lelaki bernama Syakir, yang ternyata suami dari Namira.
"Ia.??" Namira lari tergopoh-gopoh memenuhi panggilan dengan kepala tertunduk tak berani melihat sumber suara.
Syakir melemparkan sebuah map berwarna coklat kepada Namira. "Apa-apaan ini," bentak Syakir.
Namira memungut map yang dilemparkan suaminya.
Syakir meremas pipi Namira, geram. "Kau sengaja. ?? Bisakah, ?? sehari saja kau tidak membuatku emosi.??" Syakir mengeratkan giginya penuh kemarahan.
"Ma, maaf saya tidak sengaja." dari nada bicaranya Namira terlihat sangat ketakutan. Air mata mulai menetes membasahi pipi yang memerah saking kerasnya remasan Syakir.
"Aku minta maaf," ucap Namira.
Syakir menepiskan pegangannya.
"Aku tidak sengaja." Namira menyeka air matanya.
"Bohong.!! kau sengaja ingin menghancurkan bisnis ku..??" Bentak Syakir.
Plaakkkk...
Syakir menghunuskan telapak tangannya dipipi Namira, meninggalkan tanda merah dipipinya. Dari sudut bibirnya mengalir darah segar.
Namira memegangi pipinya. "Aku sungguh minta maaf, Hiks hiks." Namira terduduk diatas lantai.
Jiwa dan bathinnya merintih merasakan sakit dan menyakitkan.
Setelah melayangkan pukulannya, Syakir kemudian duduk di meja makan.
Dengan sigap Namira berdiri meladeni Syakir, tanpa memperdulikan rasa sakitnya.
Disendoknya. Nasi, sayur, dan ikan lalu memberikannya kepada Syakir.
Sekilas Syakir menoleh Namira, dilihatnya Namira begitu menjijikan.
"Pergi kau,!! selera makan ku hilang melihat kau berdiri disitu."
Namira mundur menjauhi Syakir.
Syakir menyendok nasinya dan...
"Namira ..!!" Teriaknya lagi.
Namira segera menghampiri Syakir.
"Duduk, !!" suruh Syakir dengan mata melotot.
Namira duduk diatas kursi mengikuti perintah suaminya.
"Siapa suruh duduk disitu." Syakir mendorong kursi yang digunakan Namira.
Kemudian Namira turun dan duduk diatas lantai.
"Buka mulut mu.!!" Syakir menyendok nasi dan memasukkannya dengan kasar di mulut Namira.
"Ahh pedas." Namira berniat memuntahkannya.
"Telan.!!!" bentak Syakir.
"Kau, mau membunuhku.??"
Prraaanggg.!!!
Piring nasi yang sebelumnya disodorkan Namira dilemparkan Syakir tepat dihadapan Namira.
Srrrrrettt prrr**rang prraaanng.
Syakir menyeret semua masakan yang tersaji diatas meja makan.
Namira hanya bisa menangis mendapati sikap kasar Syakir.
Syakir kembali menghunuskan tangannya.
__ADS_1
"Den, Hentikan. !!" Teriak perempuan paruh baya benama Namimah yang biasa dipanggil Mbok Nami.
"Saya mohon, jangan !!" Mbok Nami memeluk dan melindungi Namira.
Syakir kemudian pergi dan membanting pintu. "Brraaggghh."
"Non, yang sabar non. !!!" Mbok Nami membelai rambut Namira.
"Sampai kapan Syakir akan memperlakukanku seperti ini, ??" Namira menangis dipelukan Mbok Nami.
"Sabar Non, sabar." Mbok Nami ikut terisak melihat majikannya menangis sesenggukan.
Perlakuan Syakir selama dua tahun menikahi Namira tak pernah berubah, dia selalu berbuat kasar dan seenaknya.
....
Pagi berganti siang, siang berganti malam.
Namira duduk menghadap kaca kamarnya, dengan posisi memeluk kaki yang menopang kepalanya.
Dihadapannya sebuah buku dan pulpen sebagai media tempatnya mencurahkan semua isi hatinya.
Namira tak henti menangis air matanya telah membasahi sebagian kain yang membalut tubuhnya.
"Argian.. ?? Bisakah kau dengar tangisku.??" Namira membenamkan wajahnya di sana.
........
Singaphore, 24 Agustus 2019.
"Namira.??" Argian seperti melihat seseorang tapi menghilang terhalang mobil yang terparkir ditepi jembatan.
"Apa dia Namira.??" Argian mencoba meyakinkan apa yang dilihatnya.
Karena merasa penasaran Argian kemudian mengikuti perempuan itu.
Argian melirik kekiri dan kanan, kedepan dan belakang. Namira tidak ditemukannya.
Hingga,.. Mata Argian melihat seseorang berdiri pada batas jembatan, seperti hendak meloncat.
Argian berteriak.
"Namira. Jangaaannnn !!."
Tapi sayang Argian terlambat.
Setelah menoleh dan tersenyum kepada Argian dia segera meloncat dan hilang hanyut disampu air sungai.
Perempuan itu tersenyum namun penuh luka.
"Tidaaakk, !!" Teriak Argian.
"Tidak.!! tidak, Namiraaa.!!" Teriak Argian.
"Namira." Argian terbangun dari mimpi buruknya, kemudian mematikan musik dari handphone yang ia taruh diatas nakas.
Musik itu.
" *Seandainya engkau tau, betapa hancur hatiku kini ku sendiri lagi jiwa ku merana."
"Kembalilah padaku jika disia-sia. Kembalilah padaku jika tak bahagia. Pintu hatiku terbuka kuterima apa adanya, kerana diriku tak rela bila dirimu menderita*."
Teett
Argian mematikan musiknya. "Ya Alloh, kenapa aku mimpi buruk terus." Argian mengusap kasar Butiran-Butiran keringat di wajahnya.
"Ya Alloh." Argian turun dari ranjangnya melenggang untuk mengambil air minum.
Argian mengambil photo Namira yang masih ia simpan dilaci kamarnya.
Setelah meneguk air ditangannya Argian menatapi photo gadis yang tengah tersenyum ceria.
"Namira.. Apa senymmu masih seperti ini sayang.??" Argian memeluk photo dengan bingkai berwana emas.
Dipeluknya photo itu dengan sayang.
__ADS_1
Pagi itu sekitar jam 10 waktu setempat. Argian tengah mengadakan rapat perusahaan bersama Staf-Stafnya.
Didepannya semua staf tengah duduk terdiam menunggu rangkaian penjelasan yang akan di sampaikan Argian.
Lebih dari tigapuluh menit mereka duduk berhadapan, menunggu Argian membuka rapat saat ini.
Namun entah apa yang mengganggu fikiran Argian hingga ia hanya bengong sejak duduk diruangan itu.
Para staf dan asisten Argian, mereka saling melirik heran akan sikap Argian hari ini.
Dion (Asisten), menyenggol Argian. "Bos, bos.??"
Argian mengerejap. " Oo ia sorry, sampai dimana tadi.??" Argian mengurut dahinya.
"Bahasa inggris bos, bahasa inggris mereka mana paham." ucap Dion setengah berbisik.
Argian menepuk pundak Dion. "Beri aku waktu sebentar."
Dion adalah Asisten Argian yang sengaja ia rekrut dari Indonesia.
Bukan hanya Dion, banyak juga Staf yang Argian rekrut dari Negara asalnya. Seperti sekertaris, Wakil Direktur, Kepala Gudang dan lain-lain.
"Sorry, sorry. Give me five minutes." pinta Dion kepada para staf.
Setelah itu Dion mengikuti Argian yang terlihat aneh hari ini.
"Bos. Ada apa. ?? Kenapa bos terlihat banyak fikiran, apa ada masalah.??"
Argian mondar-mandir. "Aku tidak tau.??"
Argian kemudian duduk, dan menghela nafasnya resah. "Dion. Tolonn,!! batalkan jadwalku sepuluh hari kedepan." Argian menyambar jas miliknya kemudian keluar dari ruangannya.
"Lah bos, bos, bagai mana dengan rapatnya,?? Bos bos, Argian.??" Teriak Dion kesal karena pertanyaannya tidak dugubris Argian.
"Heeuuh" decak Dion frustasi.
"Bos, Bos. Kenapa loe suka sekali ngejajah gue." Dion menghempaskan tubuhnya pada kursi.
Setelah Argian melaju meninggalkan kediamannya, Dion mendatangi rumah Argian.
"Den, Argiannya baru saja keluar." jelas seorang pembantu dirumah mewah itu.
Tuuuttt.
Dion memanggil Argian.
"Batalkan semua jadwalku beberapa hari kedepan, tangani apa pun yang bisa kamu tangani."
Tut tut.
Argian memutus sambungan secara sepihak.
"Bos, bos." teriak Dion pada panggialan yang telah Argian tutup.
"Heuuhh." Dion mengendus kesal.
Tiket ditangan, dan koper diseretnya. Argian akan pulang ke Negara yang dua tahun terakhir ini ditinggalkannya.
"Namira.. " Argian menatapi selembar photo ditangan
"Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja." Argian kembali memasukkan photo itu disakunya.
"Selamat datang di Jakarta,...."
Suara yang biasa menyambut penumpang yang baru saja mendarat.
Argian berdiri menatap pintu yang akan ia lewati (Pintu keluar Bandara).
"Dua tahun yang lalu saat melangkahkan kakiku dipintu masuk, aku tak pernah berfikir akan melangkahkan kakiku dipintu keluar, tapi mimpi tentangmu cukup menggangguku, Namira." gumam Argian.
Argian menyeret kopernya melewati pintu keluar.
Diluar sudah ada sopir yang menunggu dan membawakan kopernya, kini Argian hanya menenteng tas kecil dan berjalan menuju mobil yang telah disiapkan.
__ADS_1