
⚠️Terdapat adegan dewasa, khusus pembaca 21+⚠️
Mendengar keributan dari kamar rawat Argian, dua orang suster datang memaksa dan menyeret Namira keluar.
Namira tertelungkup, menangis dipangkuan Mbok Nami. "Kenapa ini terjadi, ? kenapa ini harus begini.?" Namira memukul-mukul kecil tubuh Mbok Nami.
"Non. Non kenapa, siapa didalam.??" Tanya Mbok Nami tak mengerti mengapa tiba-tiba Namira menangis histeris.
"Keluarga Tuan Argian.??" Panggil Suster, menghampiri mereka.
"Argian.??" Mbok Nami menoleh kearah suster kemudian menatap Namira yang tengah menangis dalam pangkuannya.
"Y ya saya." Ucap Mbok Nami.
"Tolong cari ! dan siapkan darah untuk Tuan Argian."
"Golongan darahnya apa, Sus.??" Tanya Namira, masih terisak.
"A" Jawabnya.
"Golongan darah saya A, Sus. Suter ambil saha darah saya secukupnya." Sahut Namira.
Suster menggeleng sedikit lucu. "Kalo begitu pastikan ibu cukup istirahat dan jangan stres, kami akan panggil ibu besok pagi."
Setelah menyampaikan hal tersebut suster itu kemudian pergi.
Dan Mbok Nami akhirnya paham mengapa tiba-tiba Namira menangis histeris.
"Dengan ibu Namira.??" Tanya Dokter dengan tulisan Ardi pada name tagnya.
"Ya.??" Namira mencoba mengambil nafasnya agar sedikit lebih rilex.
"Benturan dikepala Argian cukup kuat, kemungkinan....
"Kemungkinan apa dok.??" Tanya Namira tidak sabar dengan penjelasan Ardi.
"Menurut penelitian tim medis, jika tidak buta, kemungkinan Pak Argian akan mengalami geger otak."
Namira tersentak, dia menatap dokter Ardi tak percaya. "Apa itu benar-benar akan terjadi.?"
"Tapi, ibu jangan khawatir geger otak ini hanya bersifat sementara."
"Lalu kapan A ingatan Argian akan pulih.??"
"Untuk waktunya saya tidak bisa memastikan itu. Bisa jadi, satu minggu satu bulan bahkan satu tahun."
Namira terdiam. Seketika tubuhnya lemas tak berdaya.
"Argian, aku berharap ini semua mimpi buruk." Namira menangis sambil melungkupkan wajah diatas telapak tangannya.
"Syakir kenapa kau begitu ceroboh, kenapa kau begitu ceroboh."
Penantian panjang Namira kepada Argian akhirnya terjawab, namun sayang pertemuan itu datang bukan pada tempat seharusnya.
"Argian," Namira memebelai dan menyibak rambut yang menutupi dahinya.
"Apa kau tau,?? bertemu kembali dengan mu adalah doa ku disetiap hari. Kau tau, ?? setiap kali Syakir memeperlakukan ku dengan buruk aku selalu berusaha kuat karena engkau penguatku, setiap Syakir berkata kasar kepadaku aku selalu kuat karena tutur lembutmu selalu mendorongku untuk lebih bersabar, Argian setiap aku dalam kesulitan membayangkan mu hidupku terasa lebih mudah." Namira menangis terisak sambil memeluk Argian.
"Argian. Apa setelah kau sadar kau akan ingat aku dan memperlakukan ku dengan baik, seperti dua tahun lalu.??" Namira menyeka linangan air matanya kemudian tersenyum kepada Argian yang masih dalam keadaan koma.
"Andai kau tau betapa aku tersiksa menjalani pernikahan ini, aku yakin kau akan segera datang menjemputku, kau tidak akan biarkan itu terjadi, ya kan.?" Namira bicara dan senyum sendiri, senyum penuh luka.
"Non." Mbok Nami memegang kedua belikat Namira.
"Non istirahat. ! Biar Mbok yang jaga Den Argian." Pinta Mbok Nami.
__ADS_1
"Mbok, Mira ingin disini bersama Argian."
"Kalo Non Mira tidak tidur nanti tekanan darah non naik dan tidak bisa menjadi pendonor untuk Den Argian besok, apa Non mau itu terjadi. ??" Bujuk Mbok Nami.
Namira menghapus airmatanya penuh semangat. "Mbok benar, aku harus cukup istirahat dan gak boleh stres." Namira duduk kemudian melentangkan tubuhnya diaras kursi disamping ranjang Argian.
Tit Tit Tit...
Tekanan detak jantung Argian semakin menurun dan melemah. Mbok Nami pelan-pelan keluar untuk memanggil dokter yang menangani Argian.
"Apa dia baik-baik saja.??" Tanya Nami setengah berbisik. Karena tidak ingin membangunkan Namira.
"Keadaannya semakin lemah, kita harus kembali membawanya ke ruang ICU."
"Tapi Dok, bukankah tadi kondisinya sudah ada kemajuan.?? Kenapa kembali seperti ini..?" Tanya Nami Panik.
"Hal ini biasa terjadi. Sus segera siapkan ruangan untuk pasien Argian." Pinta dokter.
Keributan antara Dokter, Suster dan Nami membuat Namira kembali terbangun, dia tiba-tiba menahan ranjang yang tengah didorong suster untuk dipindahkan.
"Argian." Namira memegang kuat ranjang rawat Argian. "Aku mohon jangan bawa Argian, ! Mbok Argian mau dibawa kemana Mbok." Teriak Namira.
Mbok Nami mencoba melepaska pegangan Namira. "Non, Den Argian harus dirawat, Mbok mohon biarkan Suster membawa Den Argian."
"Tidak, tidak Argian tak boleh dipindahkan.! Argian." Teriak Namira tak terima dan tak percaya Argian didorong Suster dan akan kembali memasuki ruang ICU.
"Mbok Argian baik-baik saja kan, Mbok." Namira menangis pilu dipelukan Mbok Nami.
"Den Argian akan baik-baik saja, kita percaya'kan ini semua kepada Dokter." Mbok Nami ikut terisak saat Namira terus menumpahkan air matanya dipelukan Mbok Nami.
"Argian." Panggil Namira.
.....
"Ada apa mah," Tanya Hartanto. Dia terkejut karena tiba-tiba Familla meneriakan nama putranya.
Familla menghela dan mengatur nafasnya. "Ayah.?? Apa Argian sudah pulang.??" Familla menatap Hartanto penuh tanya.
"Sepertinya belum." Hartanto segera turun menyibak gordeng dan melihat mobil Argian di pekarangan.
"Ayah, coba telpon Argian.!" Familla berjalan mondar mandir cemas.
"Tidak dijawab, Mah." Hartanto mengulangi panggilannya.
"Yah, coba ayah cek dimana lokasi Argian saat ini." Pinta Familla tak bisa tenang.
"Mah, Argian sudah dewasa mamah tidak perlu panik seperti itu." Hartanto membuka aplikasi dihandphonenya untuk mengetahui lokasi keberadaan Argian lewat GPS pada mobil Argian.
"Sejak lima jam yang lalu Argian berada didepan sebuah kedai makanan." Jelas Hartanto sambil terus menyelildiki keberadaan Argian.
Meskipun keberadaan mobil Argian telah diketahui, namun Familla masih belum bisa tenang. "Ayah, coba cek kembali apa Argian sudah pergi dari tempat itu.??" Familla beberapa kali duduk dan berdiri ditempatnya.
"Belum, Mah. Argian masih disitu." Hartanto juga sedikit cemas. "Kita tunggu sampe pagi, mungkin Argian ketiduran dimobilnya." Ucap Hartanto mencoba tidak berburuk sangka.
.....
Eahhhh.
Syakir menggeliat, "Pagi sayang." Syakir mencium kening perempuan didekapannya.
"Mm pagi." Sahutnya dengan nada serak, khas bangun tidur.
Sepasang manusia itu masih bermalas-malasan diatas tempat tidurnya setelah melakukan aksi panas dan terlarang.
"Pengen pipis," perempuan itu beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar kecil.
__ADS_1
Krriiing kriingg kriing.
Suara telpon disampingnya membuyarkan fikiran Syakir yang tengah membayangkan aksi nakal perempuan yang baru saja turun dari ranjangnya.
Dari balik layar terlihat Name Id, "Felly".
Syakir terbelalak saat melihat Felly. Memanggilnya. "Siiaal, kenapa dia tiba-tiba menghubungi gue." Syakir mengacak rambutnya, kemudian menyambar celana yang tercecer diatas lantai.
Hhuumppp. Meskipun Syakir telah menikahi Namira, namun kelakuan buruknya tak pernah berubah, malah kian menjadi.
Syakir, pengusa terhormat, dermawan, ramah dan baik hati. Begitulah orang menilai Syakir.
Namun itu semua bertolak belakang dengan keperibadian aslinya, Syakir memiliki banyak perempuan yang selalu tiduri secara bergantian.
"Halo sayang." Syakir mengunci ruang pribadinya.
"Kenapa lama...?" Tanya Felly (kekasih/simpanan Syakir) dalam panggilan vidio.
"Maaf sayang aku lagi dikamar mandi." Ucap Syakir berbohong.
Perempuan itu memberenggut sedikit kesal.
"Jangan marah dong sayang.!" Bujuk Syakir, "Aku janji deh gak akan ngulangi, jangan marah ya sayang aku minta maaf, maaf." Syakir menunjukan wajah penuh penyesalan.
"Ya, kali ini aku maafin." Ucapnya setengah tidak ikhlas.
"Yang. Yang." Teriak perempuan yang tengah menggedor-gedor pintunya.
"Shhiitt." Syakir mendecak kesal.
"Sipa sayang.?? Istri kamu.?" Tanya perempuan dalam panggilan.
"Ia," Jawab Syakir datar.
"Ngapain dia mangil-manggil kamu.??"
"Entah lah, mau pecah kepala aku setiap hari mendengar suaranya." Kesal Syakir.
"Oo jangan begitu, jadilah suami yang baik." Ucapnya mengejek.
"Kalo kamu yang jadi istri aku, aku pasti bakal jadi suami yang baik. Amm sayang aku mandi dulu yah udah ampir siang mau ngantor." Ujar Syakir berbohong.
"Ia deh, iya. Muuuacch, Love you sayang,"
"Mmach, love to you." Balas Syakir.
Setelah menutup panggilannya, Syakir segera membukakan pintu untuk perempuan yang semalam menemaniya.
"Sayang, ada apa.??" Tanya Syakir datar seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kenapa lama sekali buka pintunya.?" Ucap peremuan itu setengah membentak.
"Aku lagi di kamar mandi sayang, aku kebelet." Lagi-lagi Syakir bersandiwara.
"Ada apa memanggilku sayang.??" Syakir memeluk dan membulatkan tangan pada tengkuk perempuan didepannya.
Syakir menarik dan merapatkan perempuan itu kepelukannya.
"Heiii perempuan nakal,? aksimu sunggh hebat. !" Syakir membisikan kata itu langusung ditelinganya. "Apa aku boleh meminta mu mengulanginya pagi ini.??" Pinta Syakir penuh gairah.
Perempuan itu mendongakan wajahnya. "Apa kau belum puas.??" Perempuan itu menyeret Syakir, dan berhenti pada bidang meja kerjanya.
Tanpa basa basi lagi mereka berdua langsung melanjutkan aksi panasnya, Syakir dibuat merem melek atas aksi gila yang dilakukan perempuan dipangkuannya. Sampai-sampai Syakir tidak memperdulikan panggilan demi panggilan dari Felly.
Lepas baca jangan lupa dukung Autor dengan cara like👍👍👍 dan komen↙️↙️↙️. Happy reading.
__ADS_1