
"Syakir, Syakir.!" Teriak Namira.
Syakir turun menapaki tangga sambil menatap benci kepada Namira, jemarinya disibukkan dengan kacing dipergelangan tangannya, nafasnya tersengal-sengal penuh kebencian.
"Apa yang sudah kau lakukan Syakir.?" Ucap Namira setengah berteriak kepda lelaki yang berdiri mematung ditangga dengan sorot mata tajam.
Syakir masih tertegun, sepertinya Syakir sangat marah dan tidak suka dibentak Namira.
Namira menunjuknya. "Kau tak punya hati Syakir.!"
"Mulai lancang kau Namira.!" Bentak Syakir.
"Kau harus bertanggung jawab.!" Teriak Namira.
"Siapa kau.? Berani-beraninya kau memerintahku.?"
"Akan ku laporkan kejadian ini kepada polisi." Ancam Namira.
"Hahaha. Silahkan ! kau kira aku takut.?"
Syakir melemparkan sebuah kertas kepada Namira. "Kau ! lihatlah itu baik-baik !"
"Bre****k Kau Syakir." Teriak Namira setelah membaca surat tersebut.
Inilah kali pertama Namira berani berbicara lantang kepada Syakir, sejak dua tahun pernikahan dan sebelumnya dia tidak pernah memiliki keberanian sebesar itu.
Kertas tersebut merupakan surat kehilanga yang sengaja Syakir buat untuk mengelabui petugas.
"Hahahaha." Tawa Syakir saat melihat Namira merobek surat kehilangan miliknya. "Kau kira aku bodoh.?? Jika kau masih mempunyai banyak tenaga untuk merobek kertas, tuh diruang kerjaku masih tersimpan banyak." Ucap Syakir setengah meledek.
"Jangan berani bermain-main denganku, otak kosong.!" Ucapnya sambil menunjuk Namira, menghina.
Syakir sengaja membuat surat kehilangan untuk jaga-jaga apabila ada petugas datang memeriksanya berkaitan dengan malam kecelakaan itu. Ya, jadi Syakir hanya perlu memberikan surat kehilangan itu dan mengatakan bahwa malam tersebut mobilnya sempat dipakai/dibawa kabur orang.
...
...
Familla menghempaskan tubuhnya diatas kursi.
Tubuhnya terasa lemas dan lemah tak berdaya setelah mengetahui Argian yang sejak tadi malam tidak pernah kembali kedalam mobilnya.
Seorang penjaga toko itu juga sempat mengatakan, temannya bercerita bahwa tadi malam ada kecelakaan didepan kedai tersebut.
Dan korbanya adalah seorang lelaki muda berparas tampan.
Ingin menolak dan mengatakan itu bukan Argian. Tapi, Familla yakin putranya itu tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya [menghilang tanpa kabar].
Dimana pun ia berada, kemanapun Argian pergi, dia selalu mengirimnya pesan atau menelpon, sekedar memberi kabar dimana ia berada dan kapan ia akan kembali, sesibuk apapun itu.
Kejadian hari ini mengingatkan Familla pada kejadian sepuluh tahun silam, dimana Familla kehilangan Arfan (Kakak Argian) Putra pertamanya.
__ADS_1
Sejak tiga puluh menit yang lalau selepas Hartanto melajukan mobilnya, Familla masih duduk diam sedih menghadapkan wajahnya ditepi kaca mobil, tanpa mksud dan tujuan ia membububkan pandangannya kejalan.
"Mamah tidak mau kehilangan anak mamah lagi." Dibait terakhir ucapanya Familla menangis terisak.
"Mah, Mamah tidak boleh berfikir seperti itu. Kita harus yakin Argian baik-baik saja." Ucap Hartanto sambil mengusap halus pundak Familla.
...
...
"Agian." Panggilnya lemah.
Namira memegang erat jemari Argian yang masih belum sadarkan diri, hanya saja keadaannya cukup ada kemajuan yang bisa dikatakan tenang.
Masih dalam genggaman Namira Jemari Argian bergerak-gerak kecil.
Terdengar desahan nafas berat keluar dari mulut Argian.
Namira yang mendapati hal tersebut segera berlari memanggil Dokter, memintanya untuk memeriksa keadaan Argian.
Dokter masih berdiri setelah mengecek kondisi Argian, begitu juga dengan Namira ia masih berdiri mematung berharap kabar baik ia dapat dari Dokter tersebut.
"Melihat kondisi Argian seharusnya sebentar lagi dia akan sadar." Tutur Dokter, pasti.
"Semoga Den Argian cepat sadar ya Non." Tambah Mbok Nami.
Kebahagiaan mulai mewarnai wajah-wajah itu, wajah yang beberapa hari pucat penuh kecemasan, ketakutan dan ketegangan.
"Non, kayaknya seneng banget." Tutur Mbok Nami.
Selama ini setelah dua tahun hidup bersama Namira, Nami belum pernah melihat senyum Namira selebar itu, biasanya dia hanya murung membisu menyembunyikan masalah hidupnya.
"Non, ternyata kalo tengah senyum begini Non Namira terlihat sangat cantik, ya." Puji Nami setengah menggoda.
"Mira lagi seneng Mbok akhirnya Argian akan segera sadar."
Saat Namira mengungkapkan kebahagiaannya, Mbok Nami termenung sesaat dia kembali teringat ucapan Syakir pagi tadi
"Mbok jika dia udah sadar tolong kasih tau aku." Ujar Syakir pagi itu.
Mbok Nami menghela nafasnya dalam-dalam.
"Hmm semoga den Syakir tidak terburu-buru memengeluarkan Den Argian dari rumah sakit." Ucapnya pelan.
Walau begitu Namira masih sedikit dapat mendengar kata-kata Mbok Nami walau tidak begitu jelas.
"Kenapa Mbok.?" Tanya Namira.
"Oh. Nggak bibi ingat Den Syakir belum memakai kemejanya. Ucap Mbok Nami gelagapan.
Namira menyernyit tak mengerti akan ucapan Mbok Nami yang menurutnya keluar dari topik pembicaraan.
__ADS_1
...
...
Pov Argian.
"*Heiii Argian disini.!" Teriak seorang perempuan sambil melamabaikan tangannya, perempuan itu terlihat tersenyum bahagia ketika itu.
"Argian, lihatlah ! bunga ini begitu cantik, bahkan kumbang dan kupu-kupu enggan untuk pergi darinya."
Dia berpindah dari satu bunga ke bunga yang lainnya.
"Argian, bunga ini begitu putih. Kau tau bunga ini melambangkan kesetiaan dan kejujuran."
Perempuan itu terlihat begitu menyukai warna-warna bunga yang terhampar ditaman itu.
"Argian, bunga merah ini ! bolehkah aku membawanya satu tangakai saja.? Kau tau ? aku bahkan iri kepada bunga ini, dia begitu kuat dan tegas, biarpun hidupnya selalu diterpa angin, tapi dia tak pernah menyerah untuk bisa mekar pada waktunya.
Perempuan itu tampak berlari-lari kecil sambil memegang bunga indah yang baru dipetiknya.
Aku di mana..?
...
...
"Argian, Kakak punya hadiah untuk kamu. Kalau kamu berhasil ngejar Kakak, Kakak akan berikan ini padamu, tapi kalau kamu kalah, akan Kakak buka dan ambil hadiah kamu secepatnya." Seorang anak laki-laki berwajah ceria berlari kearahnya dengan sebuah kotak hadiah ditangannya.
Karena tidak ingin hadiahnya diambil, dengan cepat Argian mengejar anak laki-laki dengan usia yang sedikit lebih tua darinya.
Samar-Samar seorang ibu muda menghampiri anak kecil dengan usia sepuluh dan tujuh tahun. "Argian, Arfan sudah dulu mainnya sayang,! sekarang bersihakan diri setelah iti kalian turun kita makan bersama."
"Mah, ada ayam goreng.?" Tanya seorang bocah laki-laki berusia sepuluh tahun tersebut.
"Ada sayang." Ucap ibu muda itu lembut .
Anak laki-laki didepannya secepat mungkin berlari menuju kamar mandi mendahului dirinya, "Siapa yang paling cepat dia yang mendapat paha ayam." Teriak anak laki-laki tersebut sambil menutup pintu kamar mandi.
"Kakak," teriak anak lelaki berusia tujuh tahun. Dia seolah tidak rela paha ayam yang menjadi kesukaannya diambil Sang Kakak. "Kakak tak boleh ambil ayam Gian." Ucapnya sambil memberenggut kesal.
"De, sebentar lagi Kakak selesai mandi Kakak akan ambil ayam kamu." Teriaknya dari kamar mandi setengah mengancam.
"Kakak gak boleh ambil ayam, Gian." Teriak sang adik sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.
Dia [anak laki-laki dengan usia sepuluh taun] keluar dari kamarandi sambil meloncat-loncat riang. "Mah, ayamnya buat Kakak, adik jangan dikasih." Teriaknya saat keluar dari kamar tidurnya menuju ruang makan.
"Kakak, Kakak. Kakak nggak boleh ambil ayam Gian." Teriaknya sambil terus mengejar langkah cepat anak laki-laki didepannya.
Bocah dengna usia kurang lebih sepuluh tahun tersebut terus berlari sambil meng-usili adiknya dengan mengataka akan mengambil ayam bagian Adiknya, sepasang suami istri yang telah lebih dulu duduk di meja makan menggeleng senyum melihat tingkah kedua putranya yang tengah saling mengejar, bermain dan bercanda khas anak-anak.
Tapi naas, beberapa saat kemudian Argian melihat Anak laki-laki [Usia sedikit tua], tergeketak diatas lantai dengan genangan darah dari kepalanya, terlihat juga sepasang suami istri tersebut tengah menangis panik sambil menggoyang-goyangkan tubuh anak tersebut
__ADS_1
"Aku dimana.?" Gumam Argian bukan di alam nyata. Sukma Argian saat ini tengah terlempar ke alam masalalu, hidupnya berada diambang sadar dan tak sadar, namun yang pasti hal tersebut adalah masalalu yang pernah ia alami sebelum kecelakaan baik itu kejadian baru maupun kejadian duabelas tahun silam*."