
Sejak tigapuluh menit yang lalu, Familla mondar mandir didalam kamarnya, cemas.
Bahkan Familla tidak mengerjalan tugas dan kewajibannya menyiapkan sarapan untuk Hartanto.
Firasat seorang ibu selalu kuat, jika ada sesuatu/hal buruk yang menimpa anak-anaknya seorang ibu akan merasakan itu melalui batinnya, itu juga yang dirasakan Familla saat ini.
"Mah." Hartanto beranjak dari tempatnya mendatangi Familla yang tampak tak bisa tenang.
"Yah, tolong antar mamah kesana ! mamah gak bisa tenang."
"Baiklah kalau begitu." Setelah meneguk kopinya Hartanto mengikuti langkah Familla menuju tempat sesuai GPS di mobil Argian.
.......
Rumah sakit.
Seorang Dokter keluar dengan wajah kecewa.
"Saya minta maaf, saya telah berusaha semaksimal mungkin." Tuturnya menyesal.
"Tidak," Namira menggeleng tak percaya. "Ini tidak mungkin, Dokter pasti salah'kan, Dok. ? Argian masih disini Dok, Argian tidak boleh pergi."
"Sekali lagi saya mohon maaf."
"Tidak, tidak. Argian." Teriak Namira.
Dilihatnya Argian terbujur kaku tak berdaya.
Telapak tangan yang tengah Namira genggam dingin tak bernyawa.
"Argian, Argian." Teriak Namira.
"Kamu tidak boleh pergi, kamu tidak boleh meninggalkan ku. Bukankah kau berjaji akan selalu mendampingiku, kau berjanji akan melindungi ku, kenapa kau bohong dan meninggalkan ku secepat ini.!" Namira memukul-mukul tubuh Argian, setengah sasad terbujur kaku.
"Argian aku mohon bangun, aku mohon bangun.!! Tidak kah kau lihatlah aku,? aku selalu menatimu setiap hari. Kau tak bisa membiarkan ku menunggumu terlalu lama. Argian bukan kah itu janjimu.?"
"Kau bohong Argian, kau bohong ! kau sama seperti laki-laki lain. Kau membiarkan aku kesepian, Argian."
Namira terus mengeluarkan sumpah serapahnya kepada Argian yang telah terbujur kaku.
Airmatanya telah membasahi kain putih yang hampir dipakai untuk menutupi jasadnya.
"Argian aku mohon kembali, aku mohon kembalilah padaku, kembalilah padaku kau tak bisa membiarkan aku seperti ini."
Namira tertelungkup diatas ranjang tawat Argian, disana ia menumpahkan semua rasa sakitnya kehilangan Argian.
PoV Argian.
"Aku dimana.??"
Argian terbangun dari tidurnya, tetapi semuanya tampak begitu berbeda, suasana disini lebih hening dan sejuk tak ada ketenangan yang bisa Argian temukan setenang ditempatnya saat ini.
Nafas yang ia hirup dan ia keluarkan terasa begitu ringan seringan ringannya.
Argian bahkan tidak pernah menemukan tempat ini sebelumnya, disudut belahan dunia manapun tidak akan menemukan tempat seindah dan setenang disini.
"Kakak.??" Argian melihat seorang lelaki berjalan tenang dihadapannya.
Dia adalah Arfan Kakak kandung Argian yang telah meninggal sepuluh tahun yang lalu.
"Kakak.? Panggil Argian padanya, namun laki-laki berbaju putih tersebut seolah tak menggubris Argian.
Argian terus mengejar dan memanggil-manggil namanya.
__ADS_1
Meskipun langkahnya biasa saja tetapi Arfan sukup sulit Argian kejar.
Setelah cukup lama mengejar dan mengikuti langkah Arfan, Argian akhirnya berhasil meraih tanganya dengan susah payah.
"Kak, sekarang aku akan ikut Kakak." Ucap Argian sambil memegang tangan Kakaknya.
Arfan berbalik dan menatap Argian dengan senyum lembut diwajahnya.
Arfan melepas pegangan Argian. "Belum saatnya, seseorang menunggumu kembali." Setelah itu Arfan menghilang dalam pandangan Argian.
"Kak, Kak. !!" Panggilnya namun Arfan tidak lagi dilihatnya.
Argian berdiri mematung mengamati sekeliling. "Aku dimana.?" Tanya hatinya.
Seteleh puas mengamati sekeliling. Argian berganti menatapi tubuhnya, diperhatikannya dari ujung kaki hingga ke ujung kepala, celana dan baju sama yang ia kenakan saat kecelakaan.
"Aku kenapa.." Gumamnya sambil membolak balikan telapak tangannya yang terdapat banyak bercak darah.
"Aku mohon kembalilah padaku.!"
Kata itu didengarnya antara nyata dan tak nyata, antara sadar dan tak sadar.
Kata-kata itu mengingatkan Argian pada sebuah alunan lagu terakhir yang sempat ia putar.
Argian meringis kesakitan akibat kepalanya yang terbentur keras.
Aaakkhh.
Argian memegangi kepala, tubuhnya tiba-tiba roboh tak kuat menahan rasa sakit di area kepalanya.
Argian terkulai lemas diatas tanah yang sangat sejuk dan menyejukan. Rasa sakit yang sempat ia rasa seketika hilang saat tubuhnya menyentuh tanah yang dingin itu.
"Aku lebih baik tinggal disini terlebih dahulu sebelum ada orang lain yang mendahului ku tinggal ditempat indah ini." Gumamnya.
"Baiklah aku akan kembali." Ucapnya setengah tak rela.
Beberapa saat setelah itu Namira merasakan tubuh Argian kembali hangat, bahkan Namira sempat mendengar dengan jelas seseorang menghela nafasnya. Umpama orang terbangun dari bermimpi buruknya.
Mendapati itu semua Namira segera mengangkat kepalanya dan menoleh kearah wajah Argian. Dilihatnya wajah itu lebih hidup tidak pucat seperti sebelumnya.
Namira terus mengamati wajah Argian hingga tak menyadari pergerakan lemah jari jemari Argian.
Lalu beberapa saat kemudian ia menyadarinya, Namira langsung terperanjat dari duduknya dan terlebih dahulu menghapus air matanya sebelum kemudian memanggil Dokter.
"Dokter, Dokter. Sus, Sus." Panggilnya tak sabar.
Seorang dokter dengan cepat mengahampiri Namira beserta dua Suster yang berlari mengikutinya.
"Dok. Dok, dia bergerak." Ucap Namira.
Tanpa pikir panjang Dokter tersebut segera memeriksa keadaan Argian.
"Sus, tolong ! pasang kembali alat bantu pernafasannya." Suruh Dokter tersebut
"Baik, Dok." Turut Suster yang kemudian disibukan dengan alat-alat medis yang telah ia lepas sebelumnya.
Namira yang berdiri menyaksikan aktivitas Dokter dan Asistennya, terus memanjatkan doa berharap Argian selamat.
"Ini termasuk kejadian langka, dimana pasien yang telah divonis meninggal tiba-tiba hidup kembali." Ucap Dokter tersebut dengan senyum bahagia diwajahnya.
Setelah Dokter yang memeriksa Argian keluar, Namira segera duduk di samping Argian dan meremas tangan lemahnya.
Namira menyeka air mata bahagia yang tertumpah diwajahnya. "Aku tau kau tak akan pernah meninggalkanku." Namira mengusap halus kepala Argian. "Aku bahagia bisa melihatmu kembali."
__ADS_1
Setelah itu Namira pun keluar membiarkan Argian istirahat dengan tenang.
"Non." Teriak Nami terburu-buru menghampiri Namira.
"Den Argian. Apa kondisinya baik-baik saja.?" Tanya Nami yang baru datang setelah pulang untuk menyiapkan keperluan Syakir.
Namira memeluk erat Nami yang berdiri dihadapannya.
"Mbok. Agian kembali, Argian kembali."
"Ia Non ia, sekrang jangan menangis, ya.!" Mbok Nami mengusap air mata Namira. "Non, Harus senyum.!"
"Ia Mbok, makasih udah selalu ada untuk aku." Namira tersenyum sambil menyeka air matanya.
"Keluarga Tuan Argian.?" Panggil seorang Suster.
"Ya." Namira segera menghampiri sumber suara.
"Ini adalah satu keajaiban, Argian berhasil melewati masa kritisnya. Nanti malam sudah bisa dipindahkan keruang rawat inap." Tutur Dokter yang menangani Argian.
"Alhamdulillah." Ucap Mbok Nami bahagia mendengar penjelasan Doker.
"Non." Mbok Nami sekilas menoleh Namira yang sama bahagia.
.........
Familla & Hartanto.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam lebih, mereka berdua akhirnya samapai didepan sebuah kedai makanan.
Seperti yang terdeteksi lewat GPS mobil Argian memang terparkir disana sejak malam tadi.
"Ayah ini mobil Argian, 'kan. ?"
"Ia, Mah."
Di ceknya mobil tersebut.
Hartanto membuka pintu. "Tidak di kunci Mah," diambilnya sebuah bingkisan yang sebelumnya dibeli Argian.
"Tapi Argiannya kemana.?" Tanya Familla khawatir.
Hartanto menggeleng. Hartanto terus mencoba menghubungi Argian namun tetap tidak ada jawaban.
"Yah, bagi mana ini dimana Argian.?" Familla semakin dibuat cemas.
Hartanto dan Familla mencoba mencari informasi tentang Argian.
"Maaf buk, apa ibu ingat seorang pemuda yang membeli makanan dikedai ini tadi malam.?"
"Saya kurang tau, Buk." Soalnya tadi malam bukan saya yang jaga.
Jelas seorang penjaga kedai.
"Pak, apa bapak melihat pemilik mobil ini.?" Tanya Hartanto kepada seorang juru parkir.
Juru parkir itu sempat berfikir. "Maaf, Pak saya lupa orangnya yang mana."
Familla menghela cemas.
"Bagai mana ini, Yah.? Dimana Argian.?"
"Ayah, tidak tau kita tunggu sampai 24 jam setelah itu kita laporkan ini ke polisi."
__ADS_1
Familla hanya bisa mengangguk pasrah.