Kembalilah Padaku

Kembalilah Padaku
KpK Bag14


__ADS_3

Bisikan jahat selalu mengaturku. Memintaku untuk mengakhiri ini, mengahiri penderitaanku, mengakiri perlakuan buruk Syakir, mengakhiri hidupku.


Tuhan kuatkan aku, jangan biarkan aku terjerumus dalam emosi jiwaku.


Batin Namira, ia tak kusa menahan perlakuan Syakir yang tak pernah berubah.


"Non," ucap Mbok Nami. Nami bergegas mendekati Namira yang tengah duduk memeluk lututnya didalam kamar yang dua tahun ini telah ia tempati, bukan kamar mewah selayaknya Istri seorang Syakir yang terkenal dengan kekayaan dan kesuksesannya, tapi kamar kecil berukuran 4x3 yang ia tempati bersama Mbok Nami (Kamar pembantu).


Namira terbangun dari membenamkan wajahnya. "Mbok," ucapnya terluka, ia kemudian memeluk Mbok Nami mencurahkan semua rasa sakitnya.


"Yang sabar Non !" pinta Mbok Nami sambil membelai rambut Namira.


"Sudah ! Non Mira jangan menangis lagi !" Mbok Nami merenggangkan pelukannya kemudian menyeka air mata Namira. "Non Mira di cari Den Argian, segera temui dia ! kasian dari tadi Den Argian nanyain Non Mira," suruh Nami.


Namira mengangguk pelan.


Argian, kau adalah cintaku, selamanya kekasihku, kau yang selalu aku harapkan, kau yang selalu aku bayangkan. Aku tak tau apa yang diinginkan takdir hingga membawamu masuk kedalam rumah suamiku dan hidup dekat dengan pelukanku, meskipun cintaku untukmu tak akan pernah mati. Tapi, saat ini semuanya telah terlambat, walau sampai saat ini aku tidak bisa melupakanmu ataupun mencintai Syakir, tapi aku tidak mungkin menentang hukum alam yang menempatkan Syakir sebagai pemilik hidupku.


Namira masih mematung ditempatnya tak jauh dari tempat tidur Argian dengan mata tak henti memerhatikannya. Kala menatapnya secara mendalam, fikiran menggali kembali cinta indah dimasa lalunya. Tapi tidak ! seketika Namira menolak untuk menggali masa lalu yang jika terus diungkit hanya akan berakhir pada sebuah dosa sebab dirinya bukan lagi Namira yang dulu, Namira milik Argian yang bisa dengan bebas menikmati waktu bersamanya, dan bebas tertawa bahagia. Syakir, sebuah perjalanan yang telah ia mulai dan bukan sesuatu yang mudah untuk ia akhiri.


Argian tampak tengah tertidur lelap dipangkuan malam, membenamkan rasa sakit dan melupakan semua luka yang di alaminya.


Karena tidak ingin mengganggu istirahat Argian Namira memutuskan kembali kedalam kamarnya, tapi belum juga meraih pintu terdengar suara lirih memanggilnya.


"Namira," panggil Argian.


Namira pun terkejut saat Argian menggil namanya, Namira fikir ingatan Argian telah kembali, dan Argian bisa mengingatnya.


Pelan-Pelan Namira melangkah mendekatinya penuh keraguan.


Benar ! mata sendu itu tengah menatapnya tajam membuat Namira salah tingkah.


"Namira,?" ulang Argian.


Namira mengangguk canggung. "Ia, Argian apa kau..


Namira menghentikan Kata-Kataya.


"Nama yang sangat indah," potong Argian.


"Kau, kau....


Namira tak jadi bertanya padanya.


"Aku, ?" tanya Argian, ia menunggu Namira meneruskan Kata-Katanya.


Namira menggeleng sedikit menarik bibirnya untuk tersenyum, ternyata ia salah menanggapi Argian, Namira akhirnya tau ternyata Argian masih belum bisa mengingatnya.


Namira Mengangguk-angguk paham lalu ia menarik kursi dan duduk disebelah Argian. "Dari mana kau tau namaku Namira,?" tanyanya.


"Mbok Nami yang memberi tau aku siapa namamu," sahut Argian.


Namira kembali mengangguk, "Ya, baguslah kalau begitu," sambung Namira. Ada rasa lega dihatinya saat tau Argian belum bisa mengingat semuanya.


Bukan Apa-Apa Namira khawatir jika saja ingatan Argian pulih, Argian akan pergi lagi, pergi jauh meneruskan hidupnya.


Jujur saja Namira mengharapkan ini lebih lama, mengharapkan Argian lebih lama disisinya, biarpun tanpa mengingat siapa dirinya dan siapa Namira untuknya.


"Namira, kemarilah !" Argian Menggerak-gerakan jemarinya meminta Namira untuk mendekat.


Walau tak memahami maksud Argian tapi Namira tetap menuruti pinta Argian untuk mendekat.


Namira kira Argian akan membisikannya sesuatu hingga ia begitu mendekatkan wajahnya, tak bisa dipungkiri jarak mereka begitu dekat bahkan mata keduanya saling menatap lekat.

__ADS_1


Lalu ketika itu Tiba-Tiba Argian memegang lembut pipi Namira, di Usap-Usapnya pipi Namira dengan lembut.


"Wajahmu memar, kenapa,?" selidik Argian.


Namira sedikit menunduk pilu,"Karena tidak Hati-Hati aku pun terjatuh," jelas Namira berbohong.


"Lain kali lebih Hati-Hati !" ucap Argian lirih.


Dalam hatinya Namira berkata, "Kau tetap Argianku yang dulu, Argian yang penuh perhatian, Argian yang selalu bertutur kata dengan lembut, walau kau tidak bisa mengingat aku. Argian aku ingin engkau selalu...tidak !" Namira segera menepis semua fikirannya tentang Argian bersamaan dengan itu Namira memundur untuk melepaskan pegangan Argian.


"Apa aku boleh bertanya,?" tanya Argian.


Masih dengan posisinya Namira mengangguk.


"Apa sebelumnya kita pernah bertemu,?" selidik Argian.


Tanpa menjawan Namira menyernyit sedikit berfikir.


"Mm aku rasa kita ...... kita tidak pernah bertemu sebelumnya," bisik Namira berbohong.


Argian memegang tangan Namira dan sedikit menariknya untuk mendekat. "Oo, tapi kenapa kau selalu mucul dalam mimpiku ? dan aku berfikir sebelumnya kita..


"Tidak !" sanggah Namira, secepatnya ia melepaskan pegangan Argian dan kembali duduk pada posisinya yang semula.


"Kau sedang sakit, memori ingatanmu sedang tidak bagus, kita tidak pernah bertemu sebelumnya, jangan Mengada-ngada," ucap Namira setengah membentak. Ia terlihat marah dan kemudian bergegas pergi.


"Ada apa dengannya ?" fikir Argian, ia tidak mengerti dengan perubahan sikap Namira, Tiba-Tiba saja Namira tampak kesal hanya karena Argian bertanya tentang mimpinya.


Pagi-Pagi sekali Tiba-Tiba Syakir menyeret Namira dan menguncinya didalam gudang. "Jangan berani keluar atau kau akan tau akibatnya !" ancam Syakir sebelum akhirnya bergegas pergi meninggalkan Namira yang ia kurung digudang.


Diruang keluarga..


Silvi dan Arman telah duduk berdua menunggu Syakir dan Namira.


Tak lama kemudian Syakir pun datang sebelum itu dengan gagah ia merapihkan jas yang dipakainya.


"Tumben Mamah dan Papah datang menjenguk kami, ada apa,?" tanya Syakir sopan.


"Sebelumnya kami minta maaf Nak !" ucap Arman tidak enak hati.


"Kami telah menganggu waktu Nak Syakir," imbuh Silvi.


"Tidak Mah ! tidak mengganggu, tidak perlu sungkan begitu, Mamah dan Papah kapan pun mau datang kesini tinggal datang saja tak perlu merasa tidak enak seperti ini," ujar Syakir mencoba tenang dan bersikap biasa saja. Syakir tau kedatangan Silvi dan Arman saat ini mungkin karena terpengaruh oleh ucapan Namira waktu itu.


"Mbok," panggil Syakir.


"Ia Den," sahut Mbok Nami yang kemudian terburu datang menghampiri Syakir.


"Mbok siapkan minum untuk Papa dan Mama mertua saya !" suruh Syakir. Ia terus berlaga manis didepan Mertuanya.


Saat Mbok Nami berjalan ke dapur Syakir mengikutinya dari belakang.


"Mbok, nanti kalo mereka bertanya tentang Namira, Mbok ia 'kan saja apa yang saya katakan !" suruh Syakir.


Tanpa bisa menolak kehendak Syakir, Mbok Nami mengangguk patuh.


"Ehh maaf, Mah Pah Syakir tinggal kalian sebentar." ucap Syakir yang baru kembali dari dapur dan telah duduk kembali.


"Oh tidak Apa-Apa Nak," sahut Arman.


Sejak duduk di tempatnya saat ini, mata Silvi tak henti berputar mencari Namira. Syakir yang mendapati hal tersebut tampak tidak suka dengan perilaku Silvi yang menurutnya terlalu lancang.


Syakir membuang matanya muak.

__ADS_1


"Nak, mana Namira,?" tanya Silvi.


Syakir segera memoles wajahnya dengan senyum ramah. "Kalau tidak salah Namira tadi keluar, ia'kan Mbok,?" jawab Syakir dengan mata setengah melotot kepada Mbok Nami.


Ditaruhnya gelas diatas meja dan juga beberapa kue disuguhkan Mbok Nami kepada Silvi dan Arman.


"Ia Tuan," jawab Mbok Nami terpakasa berbohong.


Sekilas Arman menoleh pergelangannya "Pergi kemana Namira Pagi-Pagi begini,?" tanya Arman sedikit kecewa. "Seharusnya jam segini Namira menyiapkan sarapan untuk Nak Syakir."


"Bukan pagi ini Namira pergi tapi sejak tadi malam," ucap Syakir berbohong.


Mendengar ucapan Syakir Mbok Nami yang baru selesai menaruh gelas lengsung mendongak dan menatap Syakir dengan tajam, Mbok Nami merasa kebohongan Syakir kali ini sangat keterlaluan.


Tapi rupanya Syakir tidak terlalu menggubris tatapan Mbok Nami.


"Apa,? keluar malam dan sampai saat ini belum pulang,?" bentak Arman setengah tak percaya.


"Iya. Maaf Syakir membuat Ayah kecewa karena tidak bisa melarang Namira untuk tidak keluar malam," sahut Syakir Pura-Pura menyesal.


Silvi yang mendengar hal tersebut menganga tak percaya.


Arman mengepalkan tangan dan mengeratkan deretan giginya, dia geram atas kelakuan Namira, wajahnya pun berubah merah karena merasa Namira telah mempermalukannya.


"Dengan siapa dia pergi,?" tanya Arman penuh emosi.


"Syakir tidak tau dengan siapa dia pergi atau oleh siapa dia jemput. Soalnya setiap dia bepergian, Namira tidak pernah pamit apalagi izin kepada Syakir."


"Namiraa.." Arman kembali mengerang.


"Mamah tidak percaya Namira melakukan hal ini, Namira anak Baik-Baik, dia tidak pernah melakukan hal ini, Mamah yakin Mira tidak mungkin seperti itu !" bantah Silvi tak terima nama putrinya Dijelek-jelekan.


"Mah," bentak Arman.


"Dengan siapa Namira pergi, apa dengan Argian,?" tanya Arman.


Mendengar nama Argian disebut Mbok Nami kembali mendongak.


"Argian,?" tanya Syakir. "Siapa dia,?"


"Teman lelakinya sebelum menikah denganmu," jawab Arman.


Tapi Syakir menggeleng. "Ooh sepertinya bukan, tidak mungkin Namira pergi bersama lelaki lain, Syakir tau itu," ujarnya Pura-Pura percaya kepada Namira.


"Baguslah ! Papah cuma khawatir,"


"Khawatir kenapa,?" tanya Syakir.


"Beberapa hari yang lalu Argian datang kerumah kami mencari Namira, Papah khawatir dia datang kembali untuk mengganggu rumah tangga kalian," papar Arman.


"Jadi Den Argian sempat mencari Namira, tapi untuk apa,?" bantin Nami Bertanya-tanya.


"Ooh soal itu, Papa tidak perlu khawatir Namira tidak pergi bersamanya, dia mungkin pergi bersama teman Sosialitanya, atau...." Syakir menggantungkan Kata-Katanya. "Yasudahlah tidak mungkin Namira melakukan itu Syakir percaya padanya."


Syakir mengatakan hal ini bukan berarti dia sedang membela Namira, tapi dia tau betul dimana Namira sekarang.


DI GUDANG...


Namira terus Berteriak-teriak agar Syakir mengeluarkannya dari ruangan pengap tanpa cahaya.


"Syakir aku tau alasanmu mengurungku disini ! kau takut Orang Tuaku tau semuanya, kau tak ingin Orang Tuaku tau semua kebusukanmu !" teriak Namira sambil Menggedor-gedor pintu gudang. Namira merosot tak berdaya menentang kuasa Syakir.


Di Ruang Tamu.

__ADS_1


Arman masih terduduk dengan emosi yang kian membara.


"Sekarang kita pulang !" ajak Arman, suasana hatinya tampak sangat buruk beberapa kali Arman menghela kasar nafasnya penuh kecewa.


__ADS_2