
"Mah" Arman menatap Silvi dengan wajah memerah dan gigi gemerutuk menahan kekesalannya pada Silvi yang telah mengajaknya datang berkunjung yang pada akhirnya hanya dipermalukan oleh Namira.
"Mah pah silahkan diminum dulu" suguh Syakir mempersilahkan.
Arman yang sejak tadi sudah memaksa Silvi untuk pulangpun tak bisa ditahan lagi, ia juga tak bergeming saat Syakir memintanya untuk duduk lebih lama sekedar meminum air dan memakan makanan yang telah dihidangkan.
"Tidak Nak terima kasih," ucap Arman sambil terus menyeret Silvi keluar.
Karena Arman dan Silvi sudah berdiri dan hendak beranjak Syakir pun berdiri untuk mengantar kedua mertuanya.
Selepas melewati pintu Arman menyempatkan diri untuk berbalik dan berkata kepada Syakir dengan perasaan tidak enak "Nak, mewakili Namira kami berdua mohon maaf !" Syakir hanya mengusap tangan Arman seolah dia bisa memaklumi tingkah Namira.
"Kami tidak tau kalau selama ini, Namira....." Arman terdengar sangat kecewa dengan itu.
"Sudahlah Pa, tidak Apa-Apa, saya hanya tidak ingin mengekang Namira biarkan dia mencari kebahagiaannya sendiri" lagi lagi kata-kata Syakir seolah dia bisa memaklum dan menerima sikap Namira yang ceritanya tidak baik.
Arman balas mengusap Syakir, "Terima kasih Nak Syakir. Sekali lagi Papa minta maaf! Papa janji akan mendidik Namira lebih baik lagi, setelah dia pulang tolong sampaikan untuk menemui saya segera!" Titah Arman, Lagi-Lagi dia terdengar sangat emosi.
"Baik nanti akan Syakir sampaikan," ucap Syakir santun.
"Pa!" teriak Silvi yang sudah lebih dulu masuk kedalam mobil meminta Arman untuk lebih bersegera. Dalam bantin Silvi merasakan sesuatu yang janggal atau dalam kata lain Silvi tidak percaya akan ucapan Syakir, bahkan seolah Silvi mencurigai hal buruk yang sedang terjadi pada putrinya, hal itu dapat dirasakan saat Silvi terlihat kesal saat Arman terlalu banyak bicara pada Syakir.
Enah mengapa sampai saat ini didua tahun pernikahan Namira dengan Syakir Silvi tidak pernah melihat sedikitpun kebahagiaan diwajah putrinya sudah tak ada lagi keceriaan dalam nada bicara Namira,
Tak ayal Silvi kerap mendapati Namira melamun dengan tatapan kosong dan terkadang saat Silvi mengajak Namira bicarapun percakapannya selalu ngawur dan tak jelas bahkan kerap kali saat berbicara dengannya Namira akan Tiba-Tiba menangis tanpa sebab, lalu saat Silvi mencoba bertanya untuk menelusuri masalahnya Namira selalu menjawab "Tidak ada, tidak Apa-Apa," Sebagai seorang ibu Silvi tau Namira sedang menyembunyikan masalahnya darinya.
Namun dibalik itu jika manatap pada Syakir dia selalu terlihat bahagia tak ada sedikitpun keresahan padanya seperti yang selalu Silvi lihat pada wajah Namira.
Padahal Silvi selalu melihat Syakir memperlakukan Namira dengan baik dan penuh kasih sayang dan seharusnya membuat Namira bahagia dan ceria, tetapi ini malah sabaliknya. Keadaan ini tentu membuat Silvi bertanya-tanya.
__ADS_1
Terlebih setelah Namira menikah, hubungan anak dan orang tua itu menjadi sulit, tak adanya media komunikasi antara ibu dan putri semata wayangnya itu membuat Silvi kian tak tenang.
Tak hanya disitu setiap kali mereka mencoba mengunjungi Namira dikediaman Syakir Namira selalu tidak ada dirumah dan tentunya seperti tadi Syakir akan berkata kalau Namira sedang pergi, padahal Silvi tau betul putrinya itu tidak terlalu suka keramaian dan tidak suka berpergian.
Andai benar Namira pergi keluar rumah, jika rumah tangga mereka Baik-Baik saja harusnya Syakir tau kemana Namira pergi, karena rumah tangga yang baik itu tidak akan terjadi miskomunikasi seperti ini, begitu juga dengan Namira jika rumah tangganya Baik-Baik saja dia tidak akan terus lari dari rumah dan menghabiskan waktunya di luar seperti yang telah dikatakan Syakir, fikir Silvi.
Armam masuk dan dengan keras membanting pintu mobil, "Anak itu!" Arman mengerang tapi Silvi hanya diam merasakan kejanggalannya, namun biar merasakan itu Silvi enggan mengutarakannya kepada Arman.
Ditempat lain..
Dion tampak putus asa, ini rumah sakit kelima yang dia datangi untuk mencari informasi tentang Argian.
"Bagai mana?" Tanya Felly dari dalam mobil.
Dion membuka pintu lalu masuk dan duduk lalu menggeleng "Tidak ada..." jawabnya hampa.
Felly mengusap pundak Dion untuk menguatkannya sehingga Dion menoleh dan menatap Felly yang sontak membuat Felly salah tingkah.
Dikediaman Hartanto...
Familla duduk sambil terisak, tumpukan tisu ditariknya satu persatu untuk mengusap airmatanya, sejak menemukan mobil Argian dan Argian kedapatan menghilang tanpa kabar Familla tak Henti-Hentinya menangisinya, dia juga tak menghiraukan bujukan Hartanto yang berupaya berbaik sangka tentang keadaan Argian.
"Seharusnya malam itu Mamah menghentikan Argian" Ucap Familla ditengah tangisnya.
Hartanto menarik tisu dan mengusapkannya dipipi Familla, "Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi, Mah" ucap Hartanto lembut, ditaruhnya tisu yang sempat ia usapkan diwajah Familla.
Kriiingg...
Hartanto melirik handphone yang ia taruh diatas meja didepannya disana tertulis nama Dion, sementara Familla asik dengan tangisnya Hartanto berdiri dan beranjak untuk menerima panggilan.
__ADS_1
"Om.. " Suara sayu Dion disebrang telepon.
"Ya, bagai mana Ion, apa sudah ada kabar?" tanya Hartanto Terburu-buru dengan harapan ada kabar baik dari Dion.
Dion terdiam sesaat "Kali ini belum Om.. tapi saya berjanji saya akan berusaha."
Tubuh Hartanto Tiba-Tiba terasa hampa ucapan itu telah berulangkali Hartanto dengar dan itu pula yang membuat semangat hidupnya hilang. Hartanto menoleh kearah Sang Istri yang belum berhenti menangis dan menyusuti air matanya. "Semoga cepat ada hasil ya Ion" sahutan Hartanto melemah.
"Ia Om, kita berdoa semoga Argian Baik-Baik saja" harap Dion dan Hartanto pun mengangguk mengaminkan doa Dion.
Malam dikediaman Syakir...
Ckreekkkk....
Suara kunci yang diputar knopnya, Namira yang sedang terduduk hampir tertidur karena menangispun segera berdiri, tapi ditengah akan berdiri ia merasa pusing hingga tubuhnya terhuyung dan menabrak benda dan benda tersebut jatuh sehingga menimbulkan suara yang cukup membuat Nami yang sedang berusha membuka pintu terkejut.
"Non.. Non.. " teriak Nami. Secepat mungkin Nami membuka kunci untuk melihat kondisi majikannya yang dikurung sejak tadi pagi, tapi sial kunci tersebut macet hingga membuat Nami memerlukan waktu yang cukup lama untuk membukanya.
Karena sangat mencemaskan kondisi Namira Nami pun berteriak, "Non.. Non Mira Baik-Baik saja kan?" tetapi tidak ada sahutan dari Namira.
Walau tidak ada sahutan Nami terus berteriak-teriak.
Teriakan Nami yang cukup nyaring membuatku yang terbaring dikamar tak jauh dari gudangpun terbangun, Nama itu selalu menggangguku seolah aku ada ikatan dengannya, setiap kali nama itu disebut batinku selalu terenyuh terkadang juga terasa sakit, sakit yang tanpa sebab, ingin mencoba membantu tapi aku tak bisa kondisiku saat ini membuatku tidak bisa berbuat Apa-Apa selain hanya bisa mendengarkan keriuhan tersebut, "Namira...." Gumamku lemah.
Aku berharap dia yang bernama Namira dalam kondisi Baik-Baik saja, karena meskipun aku belum mengenal dia perempuan itu kurasa cukup baik dan lembut.
"Non. .. Non Mira tolong jawab Mbok Non.. Non.. Non Mira.." Mbok Nami masih berteriak, karena tidak ada sahutan Nami pun semakin panik dan mencoba mancari bantuan..
Haii semuanya... aku kembali lagi 😊 jngn lupa tinggal like ya.. 👍👍👍 terimakasih sudah membaca...
__ADS_1