
โ ๏ธ Mohon bijak karena dalam cerita ini terdapat adegan dewasa.โ ๏ธ
Namira.
Saat ini dia tengah menangis sesenggukan di dalam kamar Mbok Nami yang juga menjadi kamarnya.
Ya, begitulah teganya Syakir. Sejak Namira tinggal bersamanya, dia belum pernah sekalipun mengajak dan membiarkan Namira tidur dikamarnya, jangankan tidur sekedar membersihkan pun Syakir lebih sering menyuruh Mbok Nami.
Pernah satu kali Namira merapihkan dan mengganti sprai dikamar Syakir, bukannya berterima kasih Syakir malah marah-marah dan menyuruh Mbok Nami menggantinya dengan yang baru. "Jijik" itulah kalimat yang selalu terlontar untuk Namira.
"Tuhan. Kenapa engkau menghukumku begini.??" Batin Namira. "Apa salahku.??"
Namira masih membenamkan semua kekecewaan dan rasa sakitnya pada bantal kecil tempatnya mengistirahatkan diri dari perlakuan buruk Syakir.
Sebelumnya..
Tanpa sengaja Namira melihat Syakir tengah membuka paket yang datang tadi sore.
Paket itu berupa dres cantik berwarna biru muda. Sangat indah, dipadu dengan lapisan brokat dibagian atas dan puring dibagian bawanya.
Dari rupa dan bentuknya sepertinya dres itu bukanlah dres murahan.
Bukan soal dres mahal yang melukai Namira namun perlakuan Syakir yang membuatnya tak tahan.
Bagai mana tidak, Syakir membelikan perempuan itu dres mahal dari desainer ternama, sedangkan Namira, Istrinya tak pernah dibelikan apapun. Jangan kan barang-barang mewah senyum pun seolah enggan Syakir berikan kepada Namira.
Masih teringat jelas saat pertama Syakir membawa Namira pindah kerumahnya, saat itu Syakir melarang Namira untuk membawa banyak pakaian, "Pakaian kamu sudah aku siapin." Kata itu satu-satunya penghibur Namira saat itu dan untuk selamanya.
Saat itu Namira sempat mengira hidupnya akan bahagia dan di manjakan selayaknya seorang istri.
Namun sayang semuanya tidak seperti yang dibayangkan.
Setelah keluar dan meninggalkan kediaman Orang Tuanya, disitulah penderitaannya bermula.
Namira tidak pernah berpikir pernikahan hari itu menjadi awal penderitaannya.
Hari itu di hari pertamanya menginjakan kaki dirumah Syakir.
Syakir menyeret dan mendorong tubuh Namira pada sebuah gudang kecil dibelakang rumahnya.
Namira dikurung selama satu hari satu malam diruangan yang sangat gelap tanpa cahaya, tanpa air dan makanan.
Semua pasilitas yang dimiliki Namira di ambil Syakir tanpa kecuali handphonenya.
"Ini adalah balasan atas adikku yang koma selama satu hari satu malam karena Ayah mu.!!" Bentak Syakir saat Namira memohon agar Syakir memindahkannya.
Namira akhirnya bisa keluar dari kurungannya berkat bujukan Mbok Nami.
Sejak hari itu hingga kini Namira tak lagi menikmati indahnya hidup, tak lagi menikmati kebahagiaan dan kebebasan.
Dua tahun berlalu, tapi perlakuan Syakir masih sama, sepertinya tidak ada tanda-tanda perubahan, walaupun Namira selalu berusaha menjadi istri yang baik untuk Syakir semua usahanya tetap sia-sia.
.....
Argian..
Dia berdiri cukup jauh dari tempat Syakir melakukan perbuatan gila dan menjijikan.
"Namira apa kau tau perbuatan busuk suamimu.??" Argian mengambil beberapa gambar untuk dijadikan tanda bukti.
"Sayang,??" perempuan itu menyentuh halus pipi Syakir penuh gairah.
"Apa kau lihat lelaki yang berdiri dipojokan itu.??" dia mengeratkan pelukannya ditubuh Syakir sambil terus melancarkan aksinya memuaskan Syakir.
"Yah," Syakir mendesah. "Kenapa.?" Syakir saat ini tak bisa membagi fokusnya, yang ada dalam benaknya hanya aksi nakal perempuan dipangkuannya.
"Sepertinya, sejak tadi dia mengikuti kita," bisik perempuan itu.
"Apa.??" Syakir melotot matanya melebar. Sekilas menoleh kearah Argian, "Hentikan !!" suruh Syakir pada perempuan dipangkuannya.
"Apa..?? Kau mau mengakhiri ini sebelum ..."
"Sudah diam !! apa kau ingin namamu tercoreng dan karirmu hancur.??" Syakir menurunkan perempuan dipangkuannya.
Syakir kemudian merapihkan pakaiannya.
__ADS_1
"Siaaal, akan kubuat perhitungan dengan lelaki bre****k itu."
Syakir mengira, Argian adalah seorang wartawan yang tengah merekam perbuatan busuknya. Syakir mengira kegilannya saat ini akan dipublikasikan Argian dan akan menjatuhkan harkat dan martabatnya sebagai pengusaha ternama yang cukup terpandang dan terhormat.
Syakir keluar dari tempat itu diikuti perempuan yang sejak tadi bersamanya.
Argian yang melihat Syakir pergi lantas mengikutinya dari belakang.
Namun sayangnya Argian kehilangan jejak mereka berdua.
Argian berdiri ditepi jalan dengan mata berputar mencari keberadaan Syakir dan perempuan selingkuhannya.
"Kemana lelaki ber***ek itu.??" Argian mengepalkan tangannya penuh emosi. Kemudian melenggang, dan.....
Aaaaaaaa.. Argian menutup matanya.
Brughhhh
Seseorang sengaja menabraknya.
Agian terpental cukup jauh kepalanya membentur sebuah mobil yang tengah melintas dijalan itu, kini dia tergeletak berlumuran darah diatas aspal.
"Woooiii, Wooii keluar loe."
Teriak Orang-Orang yang menyaksikan kejadian tersebut. Mereka memukul-mukul mobil Syakir memaksanya untuk keluar.
"Siiaaal." Desis Syakir, "Kenapa harus banyak saksi, sih."
Syakir yang rencananya akan meninggalkan Argian terpaksa keluar dari pada harus berurusan dengan mereka.
Syakir keluar untuk menunjukan rasa tanggung jawabnya, terlebih dahulu ia memakai masker supaya tidak ada seorang pun yang mengenali wajahnya.
Syakir dibantu Orang-Orang yang ada disana melentangkan tubuh Argian dikursi belakang mobilnya, setelah itu ia kembali dengan kemudinya bersiap membawa Argian kerumah sakit.
"Sekarang kita gimana ?? gue gak mau ya kalau harus berurusan dengan kepolisian." Perempuan itu memberenggut kesal.
"Kamu gak usah khawatir sayang. Tenang !! semuanya pasti beres." Ucap Syakir tanpa sedikitpun rasa bersalah diwajahnya.
Syakir mencium bibir perempuannya. "Kita lanjutkan dirumah."
"Dok tolong urus dia, dia adalah korban tabrak lari." Ucap Syakir datar.
Perempuan itu tersenyum licik.
"Ternyata kau pintar juga." Pujinya.
Syakir merangkul bahu perempuan tersebut. "Apa sekarang kamu sudah tenang, sayang.??" Syakir memegang dagu perempuan itu dan mendekatkan bibirnya.
"Iikkss." Perempuan itu mendorong Syakir, menjauh darinya.
"Ada apa sayang, kau menolak ku.??" Syakir menyernyit.
"Heiii.??" Perempuan itu menyentuh halus wajah Syakir. "Apa kau mau melakukannya ditempat terbuka seperti ini.??"
Syakir tersenyum manja. "Baiklah, lalu dimana kita bisa melakukannya.?" Tanya Syakir.
Perempuan itu menarik Syakir. "Kita pulang. !!" Ajaknya.
Tanpa negosiasi Syakir langsung menuruti pinta perempuannya.
...
"Namira.?" Bentak Syakir.
Mbok Nami terburu-buru mendatangi Syakir. "Non Namiranya sedang tidur Den."
"Bangunkan dia.!!" Suruh Syakir
"Tapi kasihan Non Namira dia baru tidur."
"Mbok.!!" Ucap Syakir menekan.
"Ba-baik, Den." Turut Nami.
Beberapa saat kemudian Mbok Nami datang bersama Namira. Matanya terlihat sembab karena terlalu lama menangis.
__ADS_1
"Iissshhh."
Desis Syakir, jengkel. "Bisa gak sih loe jangan menangis sehari saja." Syakir memalingkan wajahnya, angkuh.
Namira hanya diam.
"Mbok. Antar dia kerumah sakit jika ada polisi datang, Mbok bilang dia pelakunya." Syakir menunjuk Namira.
Namira menatap Syakir penuh kekecewaan.
"Yuk sayang, !!" perempuan itu bergelayut manja ditangan Syakir setengah menariknya untuk masuk kedalam kamar.
Namira hanya bisa diam melihat kegilaan mereka. Namira menarik nafasnya menahan rasa sakit yang kian membuncah didalam hatinya.
Namira masih bisa menahan perlakuan kasar Syakir, namun apa yang dilakukan Syakir saat ini seperti sebuah penghinaan untuk dirinya.
Perempuan mana yang bisa terima suaminya membawa perempuan lain kedalam rumahnya apalagi berbuat hal gila didepan matanya.
"Mbok. Kenapa Syakir setega ini, ?? kenapa aku harus menanggung kesalahan yang tidak aku perbuat." Namira membenamkan wajahnya dipelukan Mbok Nami.
"Non, yang sabar." Nami mengusap halus rambut majikan yang sudah ia anggap seperti anak sendiri.
Setelah dua puluh menit, Namira dan Mbok Nami telah sampai dirumah sakit.
Namira tertegun sejenak.
"Mbok, perasaan Mira tidak enak apa akan terjadi sesuatu.??"
Mbok Nami memegang dan membelai tangan Namira. "Non tenang,!! Mbok ada disini, Mbok akan membela Non Mira."
Namira tersenyum pahit. "Terima kasih, Mbok."
Namira duduk resah didepan ruang UGD, dia tampak meremas jemarinya gelisah. Gelisah dan cemas nasibnya akan beakhir di penjara.
"Non yang tenang.!!"
Mbok Nami mencoba menguatkan Namira.
Setelah menunggu satu jam, Dokter yang menangani Argian akhirnya keluar.
Secepatnya Namira menghampiri Dokter tersebut.
"Bagai mana dengannya.?? Apa dia baik-baik saja.??" Tanya Namira cemas.
"Ada beberapa luka benturan yang cukup parah dikepalanya, kami sudah melakukan yang terbaik sisanya kita serahkan semua kepada yang diatas." Tutur Dokter sedikit kurang yakin.
"Dok, apa kami boleh melihatnya.??" Tanya Namira.
"Silahkan, !! tapi saya cuma akan mengizinkan satu orang saja menjenguknya."
Namira mengangguk setuju.
"Kalo begitu, saya permisi." Dokter itu melenggang pergi meninggalkan Namira.
"Mbok, saya mau lihat kondisinya sebentar."
Mbok Nami menganggukinya.
Namira melangkah sedikit ragu-ragu.
Sebelum masuk Namira sedikit berdoa untuk menghilangkan kecemasannya.
Namira melihat tubuh yang terbujur kaku, perlahan Namira mendekatinya.
Ditatapnya tubuh itu dari mulai ujung kaki dan saat melihat wajahnya.
"Tiidaaaaakkkkk." Namira meremas rambutnya tak percaya.
"Tidak, tidak." Namira memeluk dan menggoyang-goyangkan tubuh yang terbujur kaku tersebut.
Namira menjerit dan menangis sejadinya diatas tubuh lemahnya. "Aku mohon, aku mohon kamu bangun, kamu tidak boleh seperti ini, aku mohon, aku mohon, kamu bangun." Teriak Namira.
Lepas baca jangan lupa dukung Author dengan like ๐๐๐ komenโ๏ธโ๏ธโ๏ธ.
Happy reading.
__ADS_1