Kembalilah Padaku

Kembalilah Padaku
Kpk bag 12.


__ADS_3

Ke esokan harinya, Dion tengah duduk ditepi kolam renang bersama Felly adik sepupuhnya dengan kaki terjulur menyentuh air.


"Jadi, hilangnya Argian yang membuatmu pulang ke Indonesia.?"


Dion mengangguk lemah.


"Setelah bertahun-tahun meninggalkan tanah air akhirnya kamu punya alasan untuk pulang Ion."


Dion tersenyum mendengar uncapan Felly, "Aku gak bisa tenang, sampai saat ini Argian masih belum bisa aku hubungi, no'nya juga tidak aktip.


Aku miris dengan keadaan kedua orang tuanya, saat ini mereka tampak begitu terpukul, pernah kehilangan anak membuat mereka begitu kacau ketika mengetahui Argian hilang."


"Tapi jika alasan dia pulang ke Indonesia untuk menemui mantan pacarnya yang sudah menikah, aku kira bukan itu alasan yang membuat dia menghilang," fikir Felly.


"Aku sendiri tak yakin, dia hilang karena itu. Tapi yang pasti, Argian menghilang, disaat mencarinya, dan bisa jadi ada sangkut paut dengan keinginnanya untuk menemui mantan kekasihmya."


"Cinta Argian Benar-Benar tulus ya, Sampai-Sampai dia mau kembali hanya karena sering memimpikan mantannya, Argian pulang hanya untuk memastikan keadaa mantan yang mungkin sudah bahagia dan melupaakannya, cinta yang luar biasa."


Membayangkan itu Felly tertunduk sedih.


"Kamu kenapa kok keliatan sedih, ia apa kabar hubunganmu dengan Syakir,?" tanya Dion.


"Syakir telah menikah Ion," ucapnya kecewa.


"Menikah dengan siapa,? jangan bercanda kamu Fell."


"Aku serius," jelas Felly.


"Bukankah Syakir sangat mencintai loe.?"


"Dia cinta, tapi cintanya di kalahkan oleh obsesinya."


"Obsesi,?" Dion tersenyum miring. "Obsesi akan hal apa yang mendorongnya menikahi perempuan lain dan meninggalkanmu."


"Entahlah," Felly tertunduk kecewa. "Tapi dia tidak meninggalkanku Ion."


"Maksud kamu.?"


"Dia masih pacar aku, meskipun status dia sudah menjadi suami orang tapi dia pernah bersumpah kepadaku pernikahan itu hanya demi sebuah balas dendam saja."


"Pernikahan macam apa itu,? tapi kenapa kamu masih mau bertahan dengannya," Dion kembali bertanya.


"Aku juga tidak tau, padahal aku sendiri tau kalau Syakir itu sudah menikah dan memiliki istri, entah ini cinta atau bukan aku juga tidak mengerti, tapi yang pasti untuk saat ini kami masih belum bisa saling melepaskan, dia tak mau melepaskan aku dan akupun begitu."


"Berarti kamu jadi simpanan dong.?"


Felly mengangguk, "Ya boleh dibilang begitu, tapi sebelum Syakir menikah akulah perempuannya, dan kemudian setelah kecelakaan itu Syakir Tiba-Tiba memutuskan untuk menikahi Namira seorang perempuan anak dari lelaki yang mensabotase mobil orang tua Syakir hingga menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa mereka."


"Lalu bagai mana dengan Namira, apa dia tau kalau Syakir masih menjalin hubungan dengan loe.?"


Felly menggeleng, "Aku tidak tahu, karena Syakir tidak pernah mengatakan apapun, baik istrinya ataupun pernikahnnya, tapi dia pernah bilang bahwa dia telah menuliskan surat perceraian untuk Namira, setelah berhasil memenjarakan orang tua Namira, Syakir akan membuangnya."


"Kenapa Syakir bisa sekejam itu pada istrinya.?"

__ADS_1


"Mungkin karena dendam, karena yang aku tau Syakir itu orangnya baik, sopan, penyayang dan sangat menjaga kehormatannya, aku pun heran kenapa Syakir kini banyak berubah terutama kepadaku. Duh sorry sorry gue jadi curhat."


"Gak Apa-Apa, lagian gue mau dengerin cerita hidup loe selama gue tinggalin."


Tidak Dion sadari, bahwa sebenarnya Felly tengah membicarakan dua orang yang saling bersangkutan dengan Argian.


Dion yang tidak tau betul Nama mantan Argian membuatnya hanya terdiam menyimak curhatan Felly.


"Terus apa yang akan loe lakukan sekarang,?" tanya Felly.


"Gue tetap akan mencari Argian, semalam gue sudah mendatangi kediaman Orang Tua Namira,"


"Terus gimana hasilnya.?"


Dion menggeleng, "Mereka bilang malam itu Argian memang sempat datang kerumah mereka tapi cuma sebentar dan terburu pergi."


"Jadi rumit gini ya.?"


"Ia, seandainya gue tau hal buruk ini akan terjadi mungkin kan gue tahan Argian bagai manapun caranya dan gak akan ngebiarin dia pulang untuk menemui mantan pacarnya."


"Sudah loe jangan kecewa begitu, kita tidak pernah tau takdir membawa kita kemana, kita hanya perlu menjalani hidup yang penuh misteri ini."


"Loe bener, tapi melihat keadaan tanteu Familla hati gue Bener-Bener hancur Fell," Dion menunduk hampa.


"Loe yang sabar semoga Argian cepat ditemukan."


"Ya. Dan harapan gue saat ini menemukan Argian bagai manapun keadaannya."


Dion keluar dari air kemudian berdiri dan berjalan meninggalkan Felly.


"Loe mau kemana,?"


"Gue mau nyari informasi tentang Argian ke rumah sakit terdekat, jika benar dia kecekakaan seharusnya Argian dirawat dirumah sakit sekitar sini."


Felly pun berdiri, "Gue ikut !" pintanya.


Dion mengangguk setuju.


...


...


...


Dirumah sakit.


Syakir membawa paksa Argian yang baru siuman, alasannya Syakir telah menyiapkan Dokter pribadi yang amat ahli mengatasi hal semacam ini. Meskipun Dokter telah melarangnya namun Syakir tetap tak bergeming, kehendaknya untuk membawa Argian tak akan mampu dilawan siapa pun.


Disore yang hampir gelap Syakir membawa Argian keluar dari rumah sakit yang dibantu langsung oleh Asisten Jhon.


Jhonlah yang mendorong kursi roda yang dipakai untuk membawa Argian keluar dari sana.


Sementara itu Dion yang tengah mencari informasi lewat staf Administrasi berdiri membelakangi jalan yang Jhon lewati saat mendorong Argian keluar.

__ADS_1


Seandainya ketika itu Dion berbalik, mungkin dengan mudah Argian ditemukannya.


Syakir yang berjalan cukup jauh dibelakang Jhon tertegun saat melihat seorang perempuan berdiri dibagian Administrasi.


Felly yang saat itu tengah menemani Dion mencari informasi dan melihat kehadiran Syakir dia langsung menyapanya, "Syakir.?" Ucap Felly.


Dengan senyuman Syakir menyambut Felly yang berlari kearahnya.


"Sayang," dipeluknya Felly dengan kasih.


"Ngapain disini,?" tanya Syakir.


Seraya melepaskan pelukannya Felly menjawab, "Lagi nganter kakak sepupu."


"Dion,?" tanya Syakir.


Syakir memang telah mengenali Dion. Sejak memiliki hubungan dengan Felly saat itu pula Syakir mengenali Dion, kakak sepupu yang selalu ada untuk Felly.


"Ia," saat mendapati Syakir masih mengingt Dion Felly tersenyum senang meski pun mereka telah lama tidak saling bertemu tapi Syakir masih ingat betul wajah Dion.


Menyadari kehadiran Syakir, Dion pun berbalik kearahnya dan menyapanya, "Syakir 'kan.?" Tanya Dion yang diikuti uluran tangan.


Sebelum menjawab Syakir terlebih dahulu menyambutnya dengan senyuman, "Ia."


"Apa kabar,?" tanya Dion sambil meremas jemari Syakir, bersalaman.


"Baik," jawab Syakir.


"Ngomong-Ngomong kebetulan sekali kita bertemu disini, jenguk siapa.,?" tanya Syakir.


"Bukan jenguk cuma Iseng-Iseng cari informasi aja," sahut Dion. "Kamu sendiri ngapain,?" tambahnya.


Syakir menggaruk tengkuknya mencoba mencari alasan untuk menyembunyikan sesuatu, "Aku niatnya mau jenguk temen, tapi aku gak tau kalau dia sudah pulang alhasil aku harus pulang dengan tangan hampa," ucapnya berbohong.


"Ooh sangat disayangkan ya, tapi kalau dia sudah diizikan pulang seharusnya kendisi dia sudah membaik.,"


"Aku harap begitu," ucap Syakir.


"Tapi Sayang sorry ya aku Buru-Buru," tuturnya dengan wajah kurang enak.


"Aku ada pertemuan malam ini, tidak Apa-Apa ya aku tinggal sekarang."


Felly yang tengah berada dirangkulan Syakir pun segera melepaskan pelukannya, "Tidak Apa-Apa, pergilah !" suruh Felly.


"Maaf ya sayang !" ucap Syakir sambil memegangi kedua tangan Felly seolah tidak ikhlas melepasnya.


"Tidak Apa-Apa pergilah !"


Sebelum Benar-Benar pergi Syakir terlebih dahulu mengecup pucuk kepala Felly didepan semua orang tanpa kecanggungan.


Dion yang ikut menyaksikan hal tersebut segera memalingkan wajahnya seakan menolak untuk melihat aksi Syakir yang menurutnya tidak pantas.


Diwaktu yang bersamaan Namira yang baru kembali kerumah sakit segera menghentikan langkahnya dan memilih berbalik daripada harus menyaksikan hal menyakitkan itu, seperti sebelumnya Namira tidak bisa berbuat Apa-Apa selain menyeka airmata yang berderaian membasahi pipinya.

__ADS_1


Sungguh sakit yang luar bisa, rasa sakit yang dengan sempurna merobek hati Namira, pecah lagi hati Namira, remuk lagi hancur lagi Berulang-ulang disakiti tapi Namira yang lemah tak berdaya dan tak bisa berbuat Apa-Apa selain menerimanya dengan lapang dada sambil berharap suatu saat nasib baik menghampirinya.


"Sampai kapan aku harus menerima ini, aku telah berusaha menjadi yang terbaik, tapi hatimu semakin berpaling dan tak menginginkanku."


__ADS_2