
Di ruangan Syakir.
"Halo, bagai mana Sus.? Apa dia sudah sadar,?" Tanya Syakir disebrang telpon.
Rupanya Syakir tengah menerima telpon dari Suster yang membantu menangani Argian, sebelumnya Syakir memang telah menyuruh Suster itu untuk memberinya kabar apabila Argian telah sadar.
"Belum, tapi Dokter mengatakan tidak lama lagi Argian akan sadar." Ucapnya dibalik telpon.
"Oo baiklah kalau begitu saya segera kesana."
Tanpa fikir panjang Syakir segera merapihkan map dan beberapa dokumen yang tercecer diatas meja kerjanya, tanpa Syakir sadari sebuah kertas melayang terpisah dari map yang tengah ia rapihkan.
Kertas apakah itu.??
...
...
...
Dirumah Sakit.
Namira tengah duduk disamping ranjang rawat Agian sambil menggenggam tangannya, dia tengah duduk menunggu Argian membuka matanya, jari jemari itu telah digenggamnya sejak duapuluh menit yang lalu.
Barulah setelah Syakir datang Namira melepaskan genggamannya.
"Kapan dia akan sadar, Dok.?" Tanya Syakir.
Syakir bertanya seperti itu bukan karena ia benar-benar peduli kepada orang yang ditabraknya, ia hanya memastikan Argian akan menutup mulutnya tentang ksus malam itu [Kejadian di Bar].
Atau jika Argian tetap bersikeras mempublikasikan itu, Syakir akan mencoba bernegosiasi dengan menawarkannya uang tutup mulut berapapun itu yang diminta Argian akan Syakir kabulkan, Syakir tidak ingin namanya tercoreng oleh kejadian malam itu, itulah sebuah alasan mengapa Syakir begitu bersikeras untuk segera menemui Argian.
Dokter yang mengecek keadaan Argian masih derdiri ditempatnya setelah Berbincang-bincang dengan Syakir, Mbok Nami, Suster, dan Namira juga berada ditempat yang sama saat Argian mulai sadar.
Dengan sangat pelan Argian membuka matanya memberikan sinar pada dunia Namira yang sempat murung.
"Arfan.?" Panggilan lirih itu mengawali kesadaran Argian.
"Arfan." Panggilnya kembali.
Mereka yang sempat berdiri jauh dari tempat Argian segera datang mengerumuninya.
Haru kebahagiaan tergambar jelas diwajah Namira, kecemasannya mulai pudar saat melihat Argian Pelan-Pelan membuka mata dan mengucapkan sedikit kalimat dengan susah payah.
"Arfan, Arfan." Sebuah nama yang terus dipanggilnya.
Beberapa menit setelah itu Argian hanya diam, diliriknya kanan dan kiri dengan pelan. Disana ada Namira yang tengah tersenyum bahagia juga Mbok Nami, Syakir, Dokter, dan suster.
Melihat Argian yang mulai kembali sadar segera Dokter mengecek keadaannya.
"Aku dimana .?" Tanya Argian.
"Kamu dirumah sakit." Jawab Dokter.
"Dirumah sakit,?" Argian kembali bertanya.
"Ya. Apa yang bisa kau ingat, ?" tanya Dokter pelan, mencoba menelusuri ingatan Argian.
Argian menggeleng, "Apa yang bisa ku ingat.?"
"Kau ingat siapa namamu,?" Dokter mencoba mencari celah.
"Aku, Aku, Aku."
Rupanya Argian kesulitan mengingat informasi tentang dirinya sendiri.
Sedangkan Namira, dia yang mengetahui segala hal tentang Argian hanya diam saja, begitu juga dengan Mbok Nami.
"Arfan." Sahut Argian seketika.
Sakir melotot hebat, dia berfikir Argian tidak kehilangan ingatannya seperti yang dijelaskan Dokter yang menanganinya.
"Apa namamu Arfan,?" Tanya Syakir Terburu-buru.
"Aku tidak tahu."
"Lalu siapa Arfan,?" Tanya Dokter.
"Seseorang Menyebut-nyebut nama itu."
"Siapa.?" Tanya Dokter kembali.
"Mm.. Mmm." Argian bingung.
"Berapa umurmu.?" Tambah Dokter
"Aku, aku.. Aduuhhh." Ringis Argian, pertanyaan Dokter yang Bertubi-tubi membuatnya mendadak pusing.
__ADS_1
Setelah menyuntikan obat pereda nyeri Dokter itu menatap Syakir, "Sepertinya dia tidak ingat Apa-Apa, untuk sekarang biarkan dia istirahat dulu ! jangan terlalu memaksanya untuk mengingat siapa dirinya.! Saya takut ini malah mengancam kesadarannya," Tutur Dokter.
Semuanya mengangguk patuh.
"Kalau begitu, saya pernisi dulu." Ucap Dokter sambil melenggang meninggalkan ruangan Argian yang diantar langsung oleh Syakir. Didalam perjalanan Syakir sempat bertanya, "Apa dia akan mengingat siapa dirinya.?" Tanya Syakir.
"Sepertinya untuk saat ini dan beberapa saat kedepan dia akan kehilangan ingatannya," Jelas Dokter.
"Berapa lama.?" Syakir.
"Saya tidak bisa memastikan, bisa jadi satu hari, satu minggu, satu bulan bahkan satu tahun." Tutur Dokter.
"Oo." Syakir mengangguk mengerti.
Mendengar penututuran Dokter, Syakir tersenyum miring. "Untuk sementara ini aku aman," Batin Syakir.
Setelah ditinggalkan Dokter, Syakir terdengar menghubungi seseorang.
"Jhon !" Panggil Syakir.
Jhon adalah asisten pribadi Syakir.
"Kamu awasi dia ! kau hanya perlu memastikan dia menutup mulutnya."
Beberapa saat kemudian Syakir terlihat memasukkan handohonenya kedalam saku.
"Den Syakir kenapa terlihat cemas saat mengetahui den Argian sadar,?" Tanya Mbok Nami kepada dirinya sendiri, dan sedikit Terheran-heran.
Saat Mbok Nami kembali keruangan Argian setelah mencari makanan untuk Namira, disana telah berdiri Jhon (Asisten Syakir).
"Apakah Den Syakir sudah tau kalau Argian ini mantan Non Namira,?" Batin Mbok Nami sedikit khawatir.
Mbok Nami terpaku menatapi Jhon yang berdiri membelakanginya, Pelan-Pelan Mbok Nami mencoba mencari informasi tentang Syakir yang Tiba-Tiba menjaga Argian seketat itu.
"Jhon," Panggil Mbok Nami.
Asisten Jhon adalah seorang lelaki dengan usia cukup tua, sekitar 45 tahun. Dia seorang duda yang ditinggal pergi istrinya, sangat mengenaskan.
Walau usianya tidak muda lagi namun Jhon cukup andal dalam bidang pekerjaan yang dipegangnya, oleh sebab itu Syakir tetap memepekerjakan Jhon dengan predikat Asisten sekaligus kepercayaan.
Back to story.
Jhon hanya diam.
"Apa kau tidak pegal berdiri disana.?"
"Mbok, kenapa dia harus berdiri disitu,?" bisik Namira.
"Saya tidak tau Non," Ucap Nami sama bersisik.
"Apa Syakir yang menyuruhnya,?" Tanya Namira masih berbisik.
Mbok Nami mengangguk.
"Untuk apa.?"
Mbok Nami hanya menggeleng.
"Yasudahlah ! lebih baik sekarang kita makan,!" Ajak Mbok Nami sambil membuka bingkisan yang dibawanya, namun biar begitu Mbok Nami tetap memikirkan cara supaya Jhon memberinya alasan mengapa Syakir menyuruhnya untuk mengawasi Argian seketat ini.
Namira menganggukinya.
"Jhon, apa kau akan tetap berdiri disana,?" Tanya Mbok Nami setengah berteriak.
"Kau diam saja, !" Cetus Jhon. "Aku hanya menjalankan perintah."
"Apa kau tidak pegal,?" tanya Mbok Nami. "Kau tidak perlu berdiri dan terus mengawasinya, kami ada disini untuk menjaganya, lebih baik kau kembali bekerja.!"
"Kau kira aku berdiri disini bukan untuk bekerja.?"
"Dibayar berapa kau untuk tetap berdiri disana, Ngomong-Ngomong apa alasan Den Syakir menyuruhmu mengawasinya.?"
Jhon kembali diam.
"Apa kau tidak lapar.?"
"Kau diam, !" sungut Jhon.
"Baiklah, tadinya aku berniat mengajakmu makan tapi yasudahlah kalau kau tidak mau, aku tidak akan memaksamu," Cetus Mbok Nami.
Kruyuukk kruyuukk
Perut Jhon mulai rewel.
Mbok Nami tersenyum miring saat mendengar bunyi perut Jhon.
"Non, cepat habiskan makanannya ! makanan yang sangat lejat bukan.?" Mbok Nami sengaja Muji-Muji makanannya utuk menghoda Jhon.
__ADS_1
"Mbok, dari mana Mbok mendapatkan makanan ini.?"
Namira pun Ikut-Ikutan menggoda Asisten Jhon.
"Di kedai sebelah Non, tadinya Mbok berniat membeli ini lebih banyak, tapi sayangnya cuma sisa ini." Ucap Mbok Nami masih mencoba menggoda Jhon.
"Jadi makanan enak ini habis ya Mbok.? Sayang sekali padahal Mira mau minta tambah," balas Namira.
"Habis Non, tidak Apa-Apa kalau Non masih belum kenyang, habiskan saja ! toh tidak ada lagi yang akan memakannya, bukannya sayang kalau harus dibuang, ?" balas Mbok Nami.
"Jangan dong Mbok ! makanan se enak ini juga."
"Mm sangaatt lejaatt, Mbok."
Namira sengja mendayu-dayukan suara mulutnya.
Tak bisa di pungkiri sebenarnya Jhon teramat sangat menginginkan makan yang tercium lejat tersebut, bahkan dari aromanya pun bau makanan tersebut mampu menggoyang lidahnya.
"Jhon, kau yakin tak mau makanan ini.? Jika kau benar tidak lapar makanan ini akan segera kami habiskan,"
Jhon hanya melirik kecil kearah meja kecil tempat tersimpannya makanan, berulang kali Jhon menelan paksa salivanya.
Setengah mati dia mencoba menahan hasratnya untuk menikmati makanan yang aromanya saja sudah sangat menggiurkan, apalagi disertai keadaan perut yang mulai tidak bisa di ajak damai membuatnya sangat sulit untuk tidak menghiraukan ajakan Mbok Nami.
"Mbok kenyang Non," sendawanya terdengar sangat nyaring seakan menertawakan Jhon yang rela menahan rasa laparnya demi menjalankan tugas dari Syakir.
"Mbok.... Mira sudah tidak kuat lagi, Mira sudah sangat kenyang tapi makanan ini sangat lejat sangat disanyakan kalau harus dibuang."
"Asisten Jhon, ? Apa Benar-Benar tidak lapar,?" Namira memcoba memastikan.
"Tidak Non,"
"Asisten Jhon tidak sedang bohong'kan.?"
"Tidak Non," Sanggahnya lagi.
"Yasudah kalau begitu, tapi apa Asisten tidak pegal dan tidak mau duduk sebentar saja.?"
"Tidak, Non Saya ditugaskan untuk mengawasi dia."
"Ya sudah, dia (Argian) kan masih dalam pengaruh obat penenang dan mungkin masih lama untuknya kembali sadar, dari pada pegal berdiri disitu lebih baik Asisten Jhon duduk dulu."
Jhon terlihat Menghentak-hentakan kakinya secara bergantian untuk mengusir pegal yang mulai menjalar.
"Tidak ! Non, saya takut Syakir datang dan marah kepada saya."
Namira beranjak meraih pintu dan menguncinya, "Tidak Apa-Apa duduklah dulu ! Nanti kalau Syakir datang Asisten cepatlah berdiri."
Diseretnya Asisten Jhon untuk duduk dikursi.
Asisten Jhon.
Dilihatnya makanan yang berserakan diatas meja.
Siapa yang akan tahan melihat makanan enak berserakan di atas meja sedangkan perutnya dalam keadaan kosong menangih untuk segera di beri jatah makan siang.
"Asisten Jhon, silahkan makan dulu !" Suruh Namira sopan.
Tetapi Asisten Jhon hanya melirik kecil makanan yang ada dimeja.
"Non, terpaksa bibi buang makanan ini," Ucap Mbok Nami sedikit tidak ikhlas.
"Jangan !" Cegah Asisten Jhon, spontan menghentikan aktivitas Mbok Nami.
Jhon sedikit merengkuhkan badannya saat menahan Nami untuk tidak membuang makanan tersebut.
"Tidak baik Membuang-buang makanan."
"Apa kau akan memakannya Jhon, ?" tanya Mbok Nami.
"Berikan kepadaku," ucap Jhon.
Tanpa Aba-Aba pun Jhon langsung melahap rakus makanan dimeja.
Disela melahap makanannya, Mbok Nami segera melancarkan rencananya.
"Jhon.??"
"Mm," Jawabnya tanpa membuka mulut.
"Kenapa Den Syakir menyuruhmu untuk mengawasi Dia," Tanya Nami tanpa menyebut nama Argian.
"Dia takut lelaki itu menyebarkan Photo-Photo buruknya sewaktu bermain dengan perempuan di Bar."
"Lalu apa yang akan dia lakukan,?" Tanya Mbok Nami.
"Apalagi ? selain mencegahnya.!"
__ADS_1
Tidak Jhon sadari bahwa sedari tadi Mbok Nami tengah menyelidikinya, saat itu dia hanya fokus pada makanan dihadapannya.