KESEMPATAN KEDUA: Istri Pilihan Kakek

KESEMPATAN KEDUA: Istri Pilihan Kakek
Pertemuan


__ADS_3

"Si4l, kesiangan!" umpat Almira.


Pagi itu burung gereja berkicau dengan merdunya. Mentari menerobos melalui celah-celah jendela kaca. Gadis berusia 21 tahun itu tengah keluar dengan tergesa dari kamar mandinya. Sebuah handuk lebar berwarna biru muda masih melilit tubuh rampingnya. Rambut hitamnya yang panjang itu digulung ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya. Kulit putih, mata hitam yang sebening kristal, hidung yang tidak terlalu tinggi serta bibir mungil itu terlihat sangat mempesona.


Almira Adinata menyerobot sebuah dress putih selutut dari lemari dengan tergesa. Lalu dia merapikan rambutnya menyerupai kuncir kuda dan memberi sedikit polesan pada wajah cantiknya. Make up sederhana itu membuat wajah lembutnya terlihat lebih segar dan natural.


"Oke, semoga kakek tidak menunggu lama," gumamnya. Dia memakai sepatu santainya dan buru-buru keluar dari apartemen setelah mengunci pintu.


Beberapa menit lalu seorang lelaki paruh baya menelponnya, mengatakan jika beliau telah menunggu di restoran favorit yang biasa mereka datangi.


"Aku akan menunggu. Jika kamu tidak datang, sopir akan menjemputmu," titahnya, tak menerima penolakan. Dan inilah yang akhirnya terjadi, dia sudah seperti dikejar-kejar deadline. Pada awalnya Almira berpikir ingin bermalas-malasan saja, karena ini akhir pekan dan dia tidak bekerja. Demi lelaki tua yang baik hati itu, akhirnya dia mengurungkan niatnya.


Jam di tangan sudah menunjuk pada pukul 08.15, ketika dia turun dari taksi. Dia pun bergegas pergi setelah membayar taksi. Gadis cantik itu berlari kecil menuju ke dalam sebuah ruangan pribadi. Tak ada yang menghentikannya, karena karyawan di sana hampir semua mengenalnya.


Bruukk!


"Auuh ...." Almira menggosok hidungnya yang terasa sakit karena menabrak sesuatu yang keras.


"Apa kamu tidak punya mata!" Suara marah seorang pria membuat Almira tersadar. Dia mendongak, menatap pria itu dengan cemberut. Ternyata Dia tak sengaja menabrak seorang pria tampan berkulit putih, dengan tubuhnya yang tinggi dan atletis. Sayangnya, orang ini tidak bisa tersenyum.


"Tentu saja aku punya mata. Kalau tidak, bagaimana aku bisa sampai di sini?" protesnya.


"Orang bersalah itu minta maaf. Bukan ngomel," geram pria itu.


Almira menyengir. "Tuan, maaf saya tidak sengaja menabrak anda. Saya sedang terburu-buru. Kakek saya sudah menunggu," ucapnya.


"Ya, walaupun belum tentu saya yang bersalah. Orang bilang memaafkan itu ibadah," imbuh Almira masih tak terima.


Pria itu mendengus. Memang benar jika dirinya juga terburu-buru. Jadi, dia memilih untuk tidak lagi mempermasalahkannya. Melihat pria itu terdiam, Almira mengambil kesempatan untuk pergi.


"Baiklah, aku harus pergi."


Tanpa menunggu respon dari pria tersebut, Almira pun dengan santai meninggalkannya.

__ADS_1


Pria tampan yang tengah mengenakan setelan santai dengan kaos atasan putih itu hanya bisa berdecak melihat kelakuan Almira.


"Ckk, dasar gadis aneh!"


Dia menatap ke arah perempuan itu pergi, dan alisnya mengernyit. Sebuah pemikiran muncul dalam benaknya. Mungkinkah ....


Zein berhenti menerka. Dia memutuskan untuk berbalik dan pergi.


***


"Kakek! Apa Kakek menungguku cukup lama? Maafkan aku, aku terlambat!" cerocos Almira tanpa memberi kesempatan lelaki tua itu untuk menjawab.


"Ha ha ha!" Kakek tertawa. Dia memandangnya dengan lembut gadis di hadapannya, lalu menyuruhnya untuk segera duduk.


"Duduklah, anak baik. Aku senang kamu akhirnya datang. Jangan khawatir, kakek juga belum lama sampai di sini."


"Kakek mengancamku. Tentu saja aku harus datang," candanya, yang dibalas kakek dengan kekehan.


Kakek menghela nafas.


"Tadinya cucu Kakek mengantarkan Kakek sampai disini. Tapi dia terburu-buru pergi karena sudah ada janji dengan teman-temannya. Untung saja kamu segera datang. Kalau tidak, Kakek pasti akan mati kebosanan," keluhnya dengan nada mengiba.


Almira merasa sedikit bersalah. Sebagai salah satu keluarga kaya di ibukota, sudah menjadi hal yang wajar jika orang-orang tua seperti kakek Adijaya ini sering ditinggal sendirian. Maklum, mereka memiliki kesibukan yang terkadang benar-benar tidak bisa ditinggalkan. Sebagai seseorang yang sudah lama hidup sebatang kara, Almira sangat memahaminya.


"Maafkan aku, Kakek!" ucapnya dengan sedih.


"Sudahlah, kamu datang saja Kakek sudah cukup senang. Jangan merusak suasana," kata Kakek sambil menatapnya hangat.


Pria paruh baya yang di panggil Kakek oleh Almira itu tak lain adalah Hadi Adijaya, Kakek kandung dari seorang pengusaha muda yang tengah naik daun, Zein Azzam Adijaya. Seorang pemuda yang terkenal cakap dan pintar, incaran setiap kaum hawa. Sayangnya, dia terkenal berhati dingin hingga diusianya yang sudah 25 tahun, belum pernah sekalipun terlihat menggandeng seorang wanita.


Beberapa waktu lalu kakek Hadi hampir mengalami kecelakaan lalu lintas. Sebuah kendaraan bermotor melaju dengan cukup kencang, hingga hampir menabraknya. Almira yang kebetulan tengah berada di lokasi kejadian, reflek menarik Kakek Hadi hingga dirinya sendiri terjatuh dan pelipisnya menghantam pembatas jalan.


Semenjak kejadian itu, kakek Hadi sudah menganggap Almira seperti cucunya sendiri. Beliau bahkan tidak segan untuk memintanya menemani di setiap akhir pekan. Dengan alasan cucu lelaki satu-satunya selalu sibuk bekerja, hingga membuatnya merasa sangat kesepian.

__ADS_1


Namun sampai saat ini, gadis muda cantik yang bernama Almira Harun Az-zahra itu belum sekalipun bertemu dengan cucu Kakek Hadi. Atau sebenarnya sudah, tetapi dia tidak tahu.


"Kakek sudah memesan makanan kesukaanmu. Ayo kita sarapan."


Almira menatap makanan yang sudah tertata rapi di atas meja, dan benar saja. Sebagian dari mereka adalah makanan kesukaannya. Meskipun sudah sering diperlakukan seperti ini oleh kakek Hadi, tetap saja Almira merasa terharu.


"Kakek, kamu terlalu baik padaku. Apa kakek tidak takut aku jadi benalu?" candanya sembari menelengkan kepala.


Kakek Hadi tertawa. Gadis di hadapannya ini selalu bisa membuatnya bahagia.


"Baiklah, baiklah. Kakek tidak akan miskin memiliki benalu pintar sepertimu. Ayo kita mulai, keburu dingin," ajaknya.


Almira pun mengangguk.


Keduanya sarapan dalam diam. Setelah selesai sarapan, seperti biasa Almira mengajak kakek jalan-jalan. Baru ketika dirasa cukup, Almira pun memutuskan untuk mengantarkan kakek pulang.


Saat itu siang, dan langit terang benderang. Kebetulan, cuaca sedang panas-panasnya. Almira menghampiri taksi yang dipesannya lewat aplikasi, sembari membantu kakek Hadi berjalan. Meskipun Kakek Hadi orang cukup kaya dan terpandang, tetapi dia tidak pernah menolak ataupun berkomentar ketika Almira mengantarkannya pulang dengan menggunakan taksi online. Alih-alih merasa malu ataupun gengsi, Kakek justru merasa sangat nyaman.


"Sering naik taksi bersamaku, apa punggung kakek tidak terasa sakit?"


Almira merasa penasaran. Biasanya, orang-orang seperti mereka akan duduk di jok yang empuk.


"Kau ini bicara apa!" Kakek memberengut. "Tentu saja kakek merasa senang. Ini mengingatkan kakek akan masalalu." Senyum kakek mengembang.


"Baguslah." Almira bernapas lega.


Sesampainya di depan gerbang yang serupa istana, Almira pun turun untuk membantu Kakek. Rumah itu adalah sebuah mansion yang sangat besar dan luas. Itulah sebabnya Almira lebih memilih menyebutnya istana. Almira tidak tahu jika taksi tidak bisa masuk ke sana. Jika bukan karena kakek Hadi membuat pengecualian untuk gadis itu, bagaimana taksi tersebut bisa sampai di sini?


Seperti biasa, Almira hanya mengantar Kakek Hadi sampai pintu gerbang saja. Setelah seseorang membukakan pintu gerbang, Almira pun berpamitan.


"Baiklah, kakek. Almira pulang dulu. Kakek harus cepat istirahat."


Kakek mengerutkan kening. "Kamu tidak mampir?"

__ADS_1


__ADS_2