
Setiap kepala memiliki pemikiran masing-masing. Setiap pemikiran akan memiliki respon yang rumit dan berbeda-beda. Hal itu juga dirasakan oleh Almira. Ini sudah seminggu semenjak kepergian Kakek. Tapi Husain tak pernah sekalipun tinggal di mansion itu. Ia Hanya datang untuk menghadiri pengajian, Setelah itu dia akan pergi begitu saja. Ia merasa tak ubahnya patung berjalan. Yang berada disana, sebagai pelengkap semata. Namun, Almira masih tetap pada kesabarannya.
Ia seorang diri didalam mansion yang begitu besar tersebut. Bibi murni akan datang di pagi hari, lalu pulang sore harinya. Sementara untuk membersihkan mansion tersebut, akan ada yang datang setiap 3 hari sekali. Almira tak mengerti dengan jalan pikiran suaminya itu.
"Jika ada masalah, bukankah lebih baik dibicarakan." gumam Almira, yang saat itu tengah berada di balkon. Itu adalah pagi yang indah. Suasana diluar sangat cerah. Namun, Almira bahkan tidak bisa menikmatinya.
drrrtt ... !
drrrtt ... !
Ponsel Almira berdering. Ia berharap, itu adalah Husain. Selama ini dia sudah berusaha menghubunginya berkali-kali. Namun nihil, tak tersambung. Almira pun langsung menyambar handphone yang berada tak jauh darinya.
"Ya, hallo ... " sapa Almira dengan nada kecewa. Ternyata itu adalah Damar. Ia hendak menanyakan kabar Almira.
Ditempat lain, seseorang yang tengah mengamati laptop terlihat sangat marah. Tangannya mengepal dan urat-uratnya menegang. Husain tengah menyaksikan CCTV yang dipasang disudut balkon rumahnya. Ia melihat seorang wanita tengah mengangkat telepon dari seseorang. Almira bahkan tidak tahu jika selama ini ia selalu diawasi layaknya seorang tahanan.
"Bagas, cari tahu siapa yang saat ini menghubungi Almira." pinta Husain kepada asisten nya dengan penuh kecurigaan.
"baik tuan." asisten Bagas mengangguk dengan sopan, lalu keluar meninggalkan bosnya.
Setelah asisten Bagas pergi, Husain pun menyambar jasnya dan meninggalkan kantor. Tujuannya adalah mansion yang sudah beberapa hari ini diabaikannya.
***
Di mansion. Setelah panggilan berakhir, pagi itu setengah siang. Almira terlihat sibuk membantu bibi Murni yang sedang menyiapkan makanan untuknya. Sesekali mereka mengobrol untuk mengakrabkan diri. Setidaknya, disiang hari Almira tidak merasa kesepian. Ia tidak harus menjadi satwa langka karena menjadi manusia satu-satunya.
Pintu terdengar terbuka, ketika Almira menata makanan dimeja makan yang sangat besar itu. Langkah kaki terdengar semakin mendekat, lalu tiba-tiba tangannya ditarik dengan kasar sebelum Almira sempat menoleh. Almira terkejut, matanya terbelalak. Ia mendongak dan melihat itu adalah suaminya.
"Tuan, ada apa? apakah Anda pulang untuk makan siang?" Almira mencoba memberanikan diri. Ia berusaha menahan rasa sakit karena cengkeraman suaminya. Sesekali dia meringis ketika dipaksa menaiki tangga.
Husain membawa Almira kekamar mereka. Ia membuka pintu dengan kasar, dan menutupnya dengan keras. Almira terkejut, tubuhnya kembali bergetar. Husain melepaskan cengkeramannya dan menatap Almira dengan tajam. Almira ketakutan, ia menunduk tak berani menatap Husain.
"Katakan, siapa orang yang baru saja menghubungimu?" tanya Husain sambil memegang kedua bahu Almira.
Almira tertegun, ia memberanikan diri untuk membalas tatapan Husain. Ia melihat tatapan tajam disana. lalu tersadar, selama ini suaminya mengawasinya.
"Tuan mengawasi saya?" dengan bibir bergetar, Almira balik bertanya.
__ADS_1
Husain tertawa sinis, sambil terus menatap kedua bola mata indah istrinya.
"Kenapa? kau tidak suka? atau, merasa terganggu?" ucap Husain sinis.
"Ti ... tidak tuan. Itu, dia ... dia Damar."
Almira gugup. Ia tahu suaminya tidak menyukai rival bisnisnya itu. Husain melotot, tatapannya semakin tajam. Aura kebencian terlihat jelas dimatanya. Almira yang ketakutan kembali menunduk.
"Apa sebenarnya hubungan kalian?" tanya Husain dengan lantang. Tangannya mencengkeram bahu Almira dengan keras.
"Tuan, kami hanya berteman. Tidak lebih." Almira meringis kesakitan. Husain melepaskan cengkeramannya, lalu tertawa terbahak-bahak. Namun, tawanya terlihat jelas sebuah ejekan. Lebih tepatnya ejekan untuk dirinya sendiri. Almira semakin menggigil, ia menelan ludahnya dengan berat.
"Teman! teman kau bilang! Teman yang begitu perhatian? teman yang kau panggil dengan akrab, disaat kau memanggil suamimu sendiri seperti orang asing? Kau sungguh berfikir aku bodoh !" Husain meremas rahang Almira dengan sangat marah.
"Maaf, bukan seperti itu. A ... aku, hanya belum terbiasa."
Husain tersenyum dengan sinis. Ia melihat ponsel Almira yang diletakkan dimeja rias. Ia mendorong Almira hingga tubuhnya membentur dinding, lalu mengambil ponsel tersebut. Jari-jari tangannya menggenggam erat ponsel Almira, seolah-olah ingin melampiaskan kemarahannya. Ia menatap Almira dengan tajam, bibirnya tersungging penuh ejekan.
"Aku membenci penghianat !" teriak Husain.
Prang !!!
Baannkk !!!
Pintu ditutup cukup keras. Almira menggigit bibirnya untuk mengurangi rasa takut. Mendengar langkah kaki yang mulai menjauh, Almira perlahan membuka mata. Hal yang pertama kali dilihatnya adalah, ponselnya yang hancur berkeping-keping. Ponsel itu terlempar Kedinding, tepat di samping telinganya.
Almira menelan ludahnya dengan susah payah. Ia menatap pintu kamar dengar nanar, nafasnya tersengal-sengal. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, lalu menangis tersedu-sedu.
"Aku membenci penghianat !"
Kata-kata itu terngiang-ngiang dibenaknya. Tatapan Husain yang tajam, dan matanya yang menyiratkan kebencian serta kekecewaan menusuk hati Almira. Suaminya tidak mempercayainya, lelaki yang seharusnya menjadi tempat ia berkeluh kesah, ia membenci dirinya. Hari ini Almira menangis bukan karena sakit pada tubuhnya.
Namun karena menyadari betapa tidak berartinya pernikahan ini dimata Husain.
Ya, pernikahan ini semata-mata hanya karena Kakek. Dan Kakek sudah tiada. Maka pernikahan ini tak lebih dari sebuah perjanjian. Yang artinya, ia harus siap dilemparkan kapanpun tuan muda menginginkannya. Mengingat hal itu, ia meringis. Tersenyum mengejek dirinya sendiri. Ia menginginkan kehidupan yang sederhana dan indah. Namun ia mendapatkan sebaliknya. Kehidupan Husain, hal yang didambakan setiap wanita. Namun hanya Almira yang tahu, ini bukan seperti sebuah kehidupan.
Tok !!
__ADS_1
Tok !!
Tok !!
Pintu diketuk dari luar. Almira tahu itu adalah bik Murni. Ia tidak mungkin menemui bik Murni dengan keadaannya yang seperti itu. Ia akhirnya berlari ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Bi Murni yang merasa khawatir, akhirnya memutuskan membuka pintu untuk melihat nyonya-nya.
"Nyonya Muda, apa anda didalam?" panggil bi Murni ketika melihat pintu kamar mandi yang tertutup.
"Iya Bi, aku ingin berendam sebentar." balas Almira untuk menghindari kecurigaan bi Murni.
Saat Husain pulang, bi Murni tidak melihatnya. Ruangan yang kedap suara juga tidak membuat bi Murni mengetahui pertengkaran kedua majikannya itu. Namun, suara pintu yang dibanting keras membuat bi Murni penasaran, hingga akhirnya membuatnya pergi kesana.
"Baiklah nyonya muda, makanannya sudah siap. Jika sudah selesai, cepatlah turun dan makan." ujar bi Murni penuh perhatian.
"Hemm ... tentu!" sahut Almira.
Bi Murni memutuskan untuk berbalik. Ia hendak kembali ke lantai bawah. Namun, ia terkejut ketika melihat ponsel nyonya mudanya yang telah hancur. Bi Murni memungutnya dan meletakkannya dimeja rias.
"Apa yang terjadi?" gumam bi Murni sambil menutup pintu.
Di kamar mandi, Almira masih terus menangis. Ia merendam tubuhnya di bathup, dengan air matanya yang tak juga mengering. perasaannya jauh lebih buruk dari Ponselnya yang hancur berkeping-keping.
"Apa aku sudah salah memilih?" gumam Almira dalam hati.
***
Husain tengah menyetir dengan gusar. Tujuannya adalah kembali kekantor. Dia tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Kenapa ia bisa begitu marah melihat istrinya menerima panggilan dari orang lain. Apalagi melihat wanita itu tersenyum ketika panggilan berlangsung. Awalnya, ia mengira itu hanya karena perasaan bencinya, melihat Almira masih berhubungan dengan rivalnya. Namun dia sadar, ketika ia berada didekat Almira, perasaan itu lebih rumit dari yang dia kira. Saat ia menyakiti Almira, hatinya merasa jauh lebih sakit. Dan saat ia berspekulasi bahwa Almira mungkin bekerja sama dengan Damar wirawan untuk menghancurkannya, hatinya terasa diremas-remas. Ia benar-benar tidak bisa terima atas semua itu. Lalu, rasa bencinya pun seketika memuncak.
"Kau mau bermain-main denganku? maka aku akan membalas permainan itu !" Tangan Husain meremas setir dengan kuat, giginya bergelatuk.
Drrrtt !
Drrrtt !
Husain menatap layar ponsel, lalu menekan tombol hijau. Suara asisten Bagas terdengar disana.
"Tuan ..."
__ADS_1
"Aku sudah tahu." potong Husain, lalu melemparkan ponselnya.
Hidup itu adalah sebuah pilihan. Dan saat kita memilih untuk menuruti ego kita, maka selanjutnya sudah pasti penyesalan. Namun, rasa cemburu yang berlebihan terkadang menutup mata hati kita untuk melihat kebenaran. Dan Husain sedang dikuasai oleh semua itu. Hal yang tidak ia sadari, suatu saat kecerobohan itu akan menghancurkannya sendiri.