KESEMPATAN KEDUA: Istri Pilihan Kakek

KESEMPATAN KEDUA: Istri Pilihan Kakek
Jemputan


__ADS_3

"Ok. Jadi deal, ya. Mulai hari Senin kamu resmi bekerja sebagai wakil sekretarisku."


"Hah?"


Almira terperangah. Perjanjiannya tidak seperti itu. Ketika dia diterima bekerja, bagian personalia mengatakan dia akan bekerja di sana sebagai sekretaris magang manajer anak perusahaan tersebut. Kenapa tiba-tiba berubah jadi wakil sekretaris perusahaan pusat?


Damar terkekeh melihat keterkejutan di wajah Almira. "Kenapa?"


"Kakak ...." Almira menatap pria di hadapannya dengan kedua tangan bertumpu pada meja. "Sejauh yang aku ingat, aku akan bekerja sebagai sekretaris magang di anak perusahaan."


Dia tidak melanjutkan, tetapi Damar mengetahui bahwa gadis itu meminta penjelasan.


"Mira, apa kamu lupa?" Damar mendekatkan wajahnya, sementara Almira justru menarik tubuhnya ke belakang. Hal itu kembali membuat pemuda tersebut tertawa. "Aku bosnya. Aku bebas mengatur apa pun yang aku mau," katanya dengan bangga.


"Huf." Almira mendesah. "Aku tidak bisa. Aku akan bekerja sesuai aturan sebelumnya. Atau ... aku memilih mundur."


Final. Damar tahu gadis itu memiliki pendirian yang kuat. Jika dia memaksanya, maka sudah dapat dipastikan bahwa mereka tidak akan dapat lagi bersua. Pria itu memijit pelipisnya, tak berdaya.


"Baiklah. Apapun yang membuatmu nyaman. Kamu akan bekerja sesuai yang kamu mau."


Almira akhirnya bernapas lega. "Kakak yang terbaik," katanya sembari mengacungkan jempol.


Damar menggeleng tak berdaya menghadapi gadis di hadapannya.


Zein yang sedari tadi memperhatikan keduanya merasa sangat marah. Kedua buku jemarinya semakin terkepal erat. Ingin sekali dia mendatangi kedua orang itu, lalu menyeret Almira dan menunjukkan wajah aslinya di depan kakek Hadi. Beruntung, dia masih bisa mengendalikan akal kewarasannya.


Karena dirasa sudah cukup larut, Almira meneguk kopi terakhirnya dan berpamitan. "Baiklah, Pak Bos. Karena semuanya sudah selesai, aku harus pergi," ucapnya sembari menatap jam di pergelangan tangan.


Ada raut kecewa di wajah Damar. Kenapa waktu berjalan begitu cepat?


"Mau aku antar?" tawarnya kemudian.


Almira langsung melambaikan kedua tangan. "Tidak ... tidak perlu. Aku tahu kakak banyak urusan. Jangan khawatir, tempat Mira tak jauh dari sini," tolaknya.


Damar semakin kecewa, tetapi yang dikatakan Almira memang benar adanya. Dia sudah memiliki janji dengan seorang klien, dan akan sangat memalukan jika datang terlambat. Damar tersenyum tipis, setidaknya perusahaannya tidak memilih karyawan yang salah. Dia yakin Almira bisa bekerja dengan sangat baik. Sayangnya ... dia tidak bisa merekrut gadis ini sebagai bawahannya langsung.


"Baiklah, nona Almira. Kalau begitu, selamat bekerja sama dengan perusahaan kami."


Keduanya berjabatan tangan sembari terkekeh. Setelahnya, gadis itu mengambil tas bahu yang tadi dibawanya, dan berdiri hendak pergi.


"Berhati-hatilah, Mira." Damar mengkhawatirkannya.


"Tentu." Almira mengangguk sembari menyunggingkan senyum, lalu berbalik dan pergi meninggalkan resto.


***


Gadis cantik dengan surai hitam panjang yang dibiarkan tergerai itu berdiri disudut jalan, menunggu taksi lewat. Sesekali ditengoknya jam di pergelangan tangan, karena sudah menunggu cukup lama tetapi anehnya tak ada satupun taksi yang lewat. Almira bahkan sudah mencoba memesan ojek online beberapa kali, tetapi semua ditolak. Almira merasa curiga. Dia berpikir seseorang pasti sengaja melakukannya, tapi siapa?

__ADS_1


"Aku tidak punya musuh. Juga tidak menyinggung siapa pun," gumamnya. Dia menggigit bibir, merasa sedikit takut.


Tiin! Tiin!


Tiba-tiba, suara klakson mobil terdengar ketika dirinya sedang termenung. Sebuah mobil hitam mewah berhenti di hadapannya, tetapi pintu kaca tidak terbuka. Gadis itu menatap aneh, apa maksud si pengemudi?


Mungkin tidak ada hubungannya denganku, pikirnya.


Almira mengabaikan mobil itu dan mengalihkan pandangan ke tempat lain.


Zein tersenyum miring melihat gadis itu mengabaikannya. Dia pun menurunkan jendela kaca. "Masuk!" titahnya.


Almira menoleh ke sekeliling, dan menyadari hanya ada dirinya di sana. "Apa orang ini berbicara denganku?" lirihnya.


Zein yang melihat tidak ada pergerakan akhirnya merasa kesal. Dia turun dari mobilnya lalu menghampiri Almira.


"Apa kau tuli? Atau menunggu preman-preman jalanan menghampirimu dan menikmati malam bersamamu!" bentaknya.


Almira terhenyak. Dia mengamati pria di hadapannya, merasa familiar tapi tidak mengenalnya.


"Apa kita saling mengenal?" tanyay. Dia tidak terbiasa dengan orang asing, apalagi seorang laki-laki.


"Kamu tidak mengenaliku?"


Almira menggeleng. "Tidak," jujurnya.


"Tuan, apa yang kamu lakukan! Lepaskan aku!" teriak Almira, tak terima dengan perlakuan paksa pria itu.


"Ikut, atau aku perlu menggendongmu," titahnya lagi, tanpa penolakan.


Almira menyerah. Dia membiarkan pria itu menyeret tangannya, setidaknya kali ini tidak sekasar sebelumnya. Belum sempat dia meredam keterkejutannya, tiba-tiba tubuhnya didorong masuk ke kursi samping kemudi. Zein lalu menutup pintu dengan keras, memutar langkahnya untuk berbalik ke belakang kemudi.


"Dasar orang gila!" umpat Almira. Sejujurnya, dia merasa ketakutan. Meskipun pria itu terlihat kaya dan juga tampan, dia tetap merasa waspada. Bagaimana jika orang ini punya niat buruk padanya? Dijual, misalnya? Almira bergidik. Baru setelah Zein masuk dan menutup pintu, dia berpura-pura bersikap tenang.


"Anda siapa? Kenapa tiba-tiba datang seperti penculik? Saya tidak merasa pernah mengenal Anda." Almira bertanya dengan kesal.


"Penculik? Apa tampangku terlihat seperti seorang penjahat?" Zein semakin kesal.


"Penjahat sekarang banyak yang menggunakan tampang untuk mengelabuhi mangsanya," balasnya tanpa rasa takut.


Zein melirik gadis di sampingnya, menatapnya dari atas ke bawah. Almira merapatkan kakinya, dia merasa sangat gugup. 'Apa yang orang ini pikirkan?'


"Sepertinya hargamu lumayan." Zein menyeringai.


Almira ketakutan. "Apa maksudmu? Kamu ingin menjualku?" Dia panik, lalu menggedor pintu kaca. "Keluarkan aku! Hentikan mobilnya!"


"Diam!" bentak Zein. Dia merasa konsentrasinya menyetir buyar karena kelakuan perempuan di sebelahnya.

__ADS_1


"Bisakah kamu tidak berisik!"


Almira terisak. "Apa yang ingin kamu lakukan? Aku tidak berhutang padamu, bukan?"


Sebenarnya Zein sangat ingin membuat perempuan ini semakin takut. Pikirnya, mempermainkan Almira bisa membuat kemarahannya sedikit reda. Anehy, melihat wajah perempuan ini pucat sembari terisak ketakut, membuatnya tak tega.


"Ckk." Dia berdecak. "Tidak ada yang akan menjualmu. Aku juga tidak akan membawamu jika bukan karena terpaksa," ungkapnya.


Zein mengatakan yang sebenarnya. Jika bukan karena kakeknya tiba-tiba menelepon dan memintanya untuk menjemput Almira, mengantarnya selamat sampai tujuan, dia tidak akan sudi menjemput perempuan yang baru saja bersekongkol dengan lawan bisnisnya itu.


Almira bernapas lega. Dia berhenti menangis. Gadis itu menarik tisu di depannya, membersihkan sia-sia air matanya, lalu mengusap ingus yang hampir keluar dari hidungnya.


Zein mengerutkan kening, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Tidak mengatakan bahwa sebenarnya itu sedikit ... menjijikkan.


"Syukurlah. Memangnya, siapa yang memaksamu menjemputku?" Almira menatap penuh tanya pada pria yang ada di sampingnya. Seingatnya, dia tidak punya orang dekat. Kecuali kakek dan Damar. Mungkinkah ... Damar meminta pria ini untuk mengantarnya?


Tak terpikirkan sedikit pun dalam benaknya bahwa pria yang mengantarnya adalah Zein, cucu Kakek Hadi.


Zein mendengus. Dia tidak akan mengatakan yang sebenarnya. Biarkan saja gadis itu merasa tidak tenang sepanjang perjalanan. Zein tersenyum miring.


"Nona, apa anda tidak pernah mendengar pepatah ini?"


Zein memperlambat laju kendaraan. Dia mendekatkan wajahnya pada Almira, lalu berbisik," banyak bertanya bisa memperpendek umur!"


Glekk! Almira menelan ludahnya dengan susah payah. Dia mendorong Zein yang tengah menyeringai, dan seketika terdiam.


Akhirnya, sepanjang jalan mereka habiskan dengan keheningan. Bahkan sampai keduanya tiba di depan apartemen Almira, tak ada satupun yang mengucap sepatah kata. Zein merasa puas akan sikap patuh Almira. Dia menghentikan mobil tepat di depan apartemen sederhana itu.


Almira kembali dibuat terkejut. Bagaimana pria ini mengetahui tempat tinggalnya? Dia bahkan belum memberitahunya, tetapi mereka sudah tiba. Apa dia ... stalker? Almira bergidik.


"Apa kamu tidak ingin turun?" Suara dingin itu membuyarkan Almira dari pikirannya.


"Oh, iya. Saya turun."


Almira bergegas turun dan menutup pintu mobil. Dia tidak sanggup tinggal semobil lebih lama dengan pria dingin itu.


"Te--," Dia baru saja hendak mengucapkan terima kasih, ketika kaca mobil tertutup dan kendaraan roda empat itu melesat secepat kilat.


Woosh! Almira tertegun di tempat.


"Dasar orang gila!" tudingnya, lalu merapikan rambutnya yang acak-acakan.


Almira bergegas naik dan masuk ke dalam apartemennya. Dia membersihkan diri dan berganti pakaian tidur sebelum merebahkan diri di ranjang kesayangannya.


"Siapa orang tadi? Mengerikan sekali."


Almira sedang menerka tentang sosok yang telah mengantarnya pulang, ketika kantuk akhirnya datang. Dia pun terlelap dalam kesendirian.

__ADS_1


__ADS_2