
"Menikah?! Secepat ini?!"
Almira benar-benar dibuat syok untuk kesekian kalinya. Dia pikir, kakek akan memberinya waktu. Barangkali, seminggu. Bukan masalah persiapan pernikahannya. Jika karena masalah itu, Almira tentu tahu bahwa Adijaya pasti mampu. Namun ... Bukankah hati juga perlu persiapan?
Pernikahan. Sebuah kata yang sejak kemarin bergerilya dipikiran Almira. Sebuah ikatan yang tak pernah dia sangka akan menghampirinya begitu saja. Dia pikir dirinya masih akan leluasa dengan kesendiriannya. Namun hanya dalam sehari saja, semuanya berubah tiba-tiba. Sulit untuk ditolak, tetapi tidak bisa sepenuhnya diterima juga.
Angin berhembus pelan, menghampiri rambut indah Almira yang sesekali menari-nari dengan anggunnya. Rasanya, ingin sekali Zein mengusap pelan rambut lembut itu, atau menyelipkannya ke belakang telinga Almira. Namun ....
"Ekheem! Kamu pikir, aku mau, menikah denganmu dan terburu-buru seperti ini?" Zein memelototinya. Pria itu berusaha keras untuk menolak sesuatu yang diam-diam sudah mulai mengusik ketenangannya. Tidak, dia tidak akan pernah membiarkan orang yang dimatanya licik seperti itu menguasai pikirannya. Tidak akan pernah!
Zein mengalihkan pandanganya. Kali ini, lalu lalang lalu lintas lah yang menjadi obyek utamanya.
"Kakek sudah menyiapkan seorang wali pengganti untukmu. Kamu hanya perlu bersiap-siap dan duduk di sampingku dengan tenang. Jangan banyak bertingkah, dan tidak ada lagi yang perlu kamu khawatirkan," ujarnya dengan nada bercampur ejekan.
Almira mengerutkan kening, tak langsung menanggapi. Dia berusaha mencerna setiap kalimat yang terucap dari bibir pria di sampingnya itu. Kenapa ... kesannya seperti dirinya yang sangat menginginkan pernikahan ini? Almira menggertakkan giginya. Dasar menyebalkan!
"Apa tidak ada yang ingin kamu katakan?" imbuh Zein, melihat perempuan di sebelahnya sama sekali tidak memberi tanggapan. Bahkan, hampir tidak bergeming.
Almira menekan amarahnya, menelan rasa jengkelnya, lalu berusaha bersikap biasa. Dia menggeleng mendengar pertanyaan yang menurutnya hanya basa-basi semata.
"Apa perkataanku, penting?" sindirnya, tanpa menoleh pada lawan bicara.
Di saat penting seperti ini, yang dirinya inginkan hanyalah ibu panti ada untuk mendampinginya. Hanya keinginan saja, karena mengatakannya hanya akan ditanggapi dengan sebuah ejekan oleh pria dingin di sampingnya.
Kali ini, giliran Zein yang terdiam mendengar jawaban Almira. Kenapa, setiap kali berbicara dengan perempuan ini, selalu dirinya yang merasa bersalah?
"Apapun yang terbaik untuk kakek, aku akan mengikutinya," putus Almira dengan getir. Dia menatap rerumputan di depannya, yang sedari tadi hanya terdiam, tak bicara.
"Setelah kita menikah, kamu tidak diizinkan untuk bekerja lagi. Dimana pun itu," putus Zein, tanpa mempertanyakan pendapat orang yang bersangkutan.
Almira hanya bisa tersenyum getir. Belum sampai menikah, tetapi Zein sudah mengaturnya sampai seperti ini. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan di hadapinya di kemudian hari. Dasar otoriter!
"Aku sudah mengirimkan surat pengunduran diri untukmu pada perusahaan Wiryawan. Jadi, kamu tidak perlu repot-repot," imbuh Zein, seakan apa yang dilakukannya adalah hal yang patut diberi pujian. BB
Almira tersentak. Dia menatap tajam pada Zein, yang hanya mengerutkan kening lalu sudut bibirnya menyeringai seakan menikmati ekspresi kekesalannya. Ingin sekali Almira menuding pria dihadapannya ini, mengumpatinya, memukulinya atau mengutuknya agar tidak pernah bahagia seumur hidupnya. Dadanya berdenyut sakit. Dia tidak seharusnya menerima keputusan sepihak ini. Apakah pria ini benar-benar tidak punya hati nurani sama sekali?
Diam-diam Almira mengepalkan kedua tangannya, mengatur napas dan berusaha menahan amarah yang hampir meledak dalam hatinya. Perkataan kakek melintas di kepalanya, dan dalam sekejap mendinginkan pikirannya.
__ADS_1
"Baiklah. Aku mengerti."
Almira hanya bisa mengalah. Lagipula, tidak ada gunanya melawan orang dengan kepribadian seperti Zein. Selain itu, dia juga menyadari bahwa setelah dirinya menjadi menantu keluarga Adijaya, dia mungkin tidak akan lagi memiliki hak untuk berpendapat. Karena dirinya sudah menyetujui keinginan kakek, lalu, jalani saja dulu.
Zein sedikit terkejut melihat reaksi Almira. Ini tidak seperti yang dia bayangkan.
"Kamu benar-benar patuh," cibir Zein.
***
Seperti hati Almira yang tengah murung, pagi itu cuaca pun sedikit mendung. Sesekali gerimis berjatuhan, menapakan dirinya ke permukaan bumi. Menyentak dedaunan tanpa tahu permisi.
Perempuan cantik itu duduk melamun sembari memandangi gerimis dari balik jendela. Tidak ada antusiasme sama sekali dari raut wajahnya. Semua terasa hampa, karena memang bukan seperti ini takdir yang diharapkannya. Sayangnya, bahkan jika bisa, Almira tidak mungkin mampu membeli takdir yang diinginkannya.
"Lihatlah. Bukankah gaun ini sangat cocok untukmu? Ini juga terlihat sangat pas di tubuh rampingmu." MUA yang terlihat berusia tiga puluhan itu sedari tadi tak henti mengoceh untuk memecah kesunyian. Akan tetapi setiap kalimat yang keluar dari mulutnya hanya ditanggapi Almira dengan senyuman tipis, terkadang juga anggukan.
"Sepertinya Tuan Zein memang sengaja memesannya secara khusus untukmu," terka wanita berambut cepak itu sembari memberi polesan tipis pada wajah Almira.
Memesan khusus? Untuknya? Almira langsung mencibir dalam hati. Sudah pasti dia akan menjadi orang pertama yang meragukannya. Namun, dia memilih untuk tidak mengatakan apa-apa. Biarkan saja semua orang berspekulasi sesuka hati mereka. Toh, dijelaskan pun tidak ada gunanya.
Almira yakin kakeklah orang yang sebenarnya memiliki andil terbanyak untuk semuanya. Termasuk ruangan yang saat ini digunakan untuk merias dirinya. Kakek Hadi sengaja memesan agar seluruh lantai atas dikosongkan, dan didekorasi untuk acara hari ini. Ya. Secepat ini, dan rasanya mimpi Almira benar-benar sudah sirna. Memikirkan wajah tampan yang dingin dan murung itu ... Almira bergidik ngeri.
"Wajahmu yang awalnya memang sudah cantik, sekarang berkali lipat lebih cantik hanya dengan sentuhan sederhana ini," pujinya lagi, sembari menatap kagum pada gambar di dalam kaca.
Almira menggeleng geli. Sedari tadi, wanita berwajah manis yang akrab disapa Miss Bella ini tak henti-hentinya bicara. Dia sangat cerewet, meski tangannya tak kalah terampil juga.
"Miss Bella, apakah kakek juga membayarmu untuk terus menyanjungku?" canda Almira.
"Huh, kamu sungguh berpikir aku beromong kosong."
Miss Bella berkata sembari berkacak pinggang. Dia tak henti memandangi calon pengantin di depannya itu. Perempuan yang saat ini tengah menggunakan kebaya pengantin klasik modern berwarna putih itu terlihat sangat menawan, bak princess. Dia hanya perlu menambahkan riasan sederhana, dan itu terlihat sempurna.
Kebaya pengantin dengan lengan panjang, bagian leher berbentuk huruf 'V', brokatnya yang begitu detail dipadukan dengan aksesoris yang senada, sangat indah. Cocok sekali dengan tubuh Almira yang putih, ramping dan tidak terlalu tinggi itu.
"Ckk." Bella berdecak sembari mengelilingi Almira.
"Kamu benar-benar terlihat elegan dan anggun. Aku tidak akan percaya jika orang mengatakan bahwa kamu terlahir dari keluarga biasa, apalagi panti asuhan," ungkapnya sembari menggeleng.
__ADS_1
"Aura yang kamu miliki bahkan lebih baik dari perempuan kalangan atas yang pernah kurias sebelumnya," katanya lagi.
Almira akhirnya terkekeh. Dia tidak berdaya untuk mengacuhkan wanita yang masih terlihat kekanakan itu di usianya yang sudah matang. "Miss Bella terlalu suka bercanda dan juga berlebihan."
Almira menatap wanita berwajah manis pemilik tangan terampil itu. Wanita yang berhasil menjadi MUA top pertama di usianya yang masih terbilang muda, sejak lima tahun lalu. Posturnya sedikit lebih tinggi dari Almira, dengan rambut pendeknya yang sedikit ikal.
"Aku berkata jujur." Miss Bella berkata dengan tegas.
"Itu artinya Miss Bella memang perias yang hebat," pujinya. Almira mengatakan yang sebenarnya. Dia sendiri merasa sedikit terkejut melihat penampilannya di cermin.
Namun, Miss Bella justru menatap Almira sambil merengut.
"Apa yang kamu katakan? Aku bahkan baru kali ini merasa tidak ada gunanya sebagai tata rias," ujarnya dengan murung.
"Kamu seolah sudah terlahir bagaiseorang Dewi. Sehingga tanganku yang sering dipuji ini tak berguna sama sekali."
Miss Bella menaikkan dagu Almira.
"Lihatlah, hanya perlu sedikit polesan dan kamu sudah terlihat luar biasa," pujinya dengan bangga.
Almira kembali terkekeh. Tak disangka mulut MUA di depannya semanis gula.
"Miss Bella, jangan menjilatku dengan mulut manismu itu. Aku benar-benar tidak punya apa-apa," candanya lagi.
"Ah, sudahlah. Tidak ada gunanya bicara denganmu. Kemari. Duduk di sini, tunggu aku memakaikan high heels," ajaknya sembari menuntun Almira untuk duduk di sofa.
"Tunggu di sini ...."
Tok tok tok!
Suara ketukan pintu membuyarkan perbincangan mereka berdua.
"Aku akan membukanya," kata Miss Bella, bergegas membuka pintu.
Miss Bella menatap pada seorang wanita paruh baya berpakaian rapi, yang kini tengah berdiri di depan pintu sembari tersenyum padanya.
"Apa Nak Mira-nya ada di dalam?" tanya wanita itu. "Saya ingin menemuinya."
__ADS_1
.