
Setelah malam itu, malam-malam berikutnya Husain rutin pulang ke mansion. Seolah-olah itu sudah menjadi kegiatan wajib yang harus dia penuhi. Almira merasa sangat senang. Kuntum-kuntum bunga seolah bermekaran dihatinya, hingga membuncah menjadi senyum yang merekah. Sudut bibir wanita itu selalu tersungging tatkala deru mesin mobil terdengar berhenti diluar mansion. Almira selalu menyambut kepulangan Husain dengan senyum bahagia.
Hari itu Husain bahkan mengirim pesan padanya, mengatakan bahwa ia akan makan malam dirumah. Hal itu membuatnya bergegas memasak makanan kesukaan suaminya. Ia bahkan memasak sembari bersenandung ria. Alunan-alunan merdu yang keluar dari bibirnya, menandakan betapa bahagianya hati wanita itu. Iya sudah terperangkap kedalam permainan Husain, hingga tak ia sadari bahwa dibalik semua itu terdapat jurang yang bisa membuatnya terperosok sewaktu-waktu.
Sejujurnya, jauh dilubuk hati Almira terdapat kecemasan dan kegelisahan mengenai hal-hal yang tak ia inginkan. Namun kali ini, ia ingin serakah. Ia tak lagi peduli akan hari esok yang mungkin penuh dengan kejutan tak terduga. Setidaknya, selagi diberi kesempatan ia ingin mengukir kenangan-kenangan indah bersama suaminya. Meski sampai saat ini Husain belum menuntut haknya sebagai seorang suami, Almira sama sekali tak memikirkannya. Ia ingin semuanya berjalan senatural mungkin.
Impian Almira cukuplah sederhana. Memberikan seluruh kebahagiaan dan waktu yang dimilikinya untuk orang yang ia cintai. Bukankah terlalu kejam jika seseorang pada akhirnya menghancurkan dan merenggut impiannya itu? Tidakkah akan membuatnya menyesal, menyia-nyiakan wanita dengan hati yang begitu lembut dan hangat?
***
Waktu menunjukkan pukul 8 petang. Almira masih menunggu dengan kesabarannya. Ia yakin Husain tak akan mengingkari janji. Makanan sudah dihangatkan, dan tersaji dengan rapi diatas meja. Jari tangan Almira mengetuk-ngetuk meja, menandakan ia mulai bosan. Tak lama kemudian, suara mesin mobil terdengar berhenti. Almira menghembuskan nafas lega, lalu tersenyum menghampiri suaminya.
Melihat senyum itu, hati Husain menghangat. Ia mengacak rambut hitam panjang istrinya, lalu bertanya, "Apa kamu menunggu lama?" Almira menggelengkan kepalanya. "Tidak." ujarnya dengan manis.
Husain pun langsung mendudukkan dirinya di kursi meja makan, disusul oleh Almira yang duduk di kursi seberangnya. Almira dengan cekatan mengambilkan semua makanan kesukaan suaminya hingga piringpun penuh.
__ADS_1
"Hei, hentikan. Aku bukan seekor ****!" ia memberengut kesal.
Almira terkikik geli. Ia lalu menyodorkan makanan kehadapan Husain. "Ini pertama kalinya kamu makan malam dirumah. Jadi kamu harus menghabiskannya." ujarnya dengan santai, lalu memberikan air putih yang baru dituangnya pada Husain.
Husain menghentikan sesendok makanan yang hendak masuk kedalam mulutnya. Ia menerima air putih itu, lalu menatap setiap makanan yang ada dihadapannya. Menatap perut tipis dibalik kemejanya itu, akhirnya ia mendesah pasrah. Sejujurnya, Husain merasa terharu dengan semangat wanita dihadapannya. Terkadang, ia merasa menikmati dan masuk terlalu dalam kedalam sandiwara yang diciptakannya itu. Perasaan bersalah acap kali muncul dalam benaknya. Namun, bayangan-bayangan akan setiap kejadian yang menimpa kakeknya, spekulasi-spekulasi dan perkataan temannya, membuatnya membuang jauh perasaan hangat itu.
"Aku bahkan tidak yakin wanita seperti ini mampu melukai orang. Bahkan seekor semut pun tak mungkin ia lukai.Tapi, hati orang siapa yang tahu. Bukankah terkadang musuh terbesar kita adalah orang terdekat?" gumam Husain dalam hati.
Setelah sesuap demi sesuap nasi, akhirnya makanan itupun masuk kedalam perutnya. Husain menenggak minuman terakhirnya, lalu beranjak ke lantai atas. Sementara Almira membereskan bekas makan malam mereka, dan pergi untuk mencuci piring.
Merasa semua pekerjaannya telah selesai, Almira pun menyusul suaminya. Ia membuka pintu kamar dan menutupnya dengan perlahan. Ketika ia berbalik, ia dikejutkan oleh pemandangan didepan matanya. Husain yang baru saja keluar dari kamar mandi, masih menggunakan handuk yang terlilit di pinggangnya. Ini adalah pertama kalinya Almira melihat seorang lelaki yang sedang setengah telanjang. Biasanya dia hanya melihatnya di telenovela atau sampul-sampul majalah saja. Tapi ini adalah kehidupan nyata. Dan pemandangan itu berada tepat didepan matanya.
"Ah, sepertinya akan lebih baik jika aku tidur dikamar lain." ujarnya dengan sedikit gugup.
Namun, belum sempat ia berbalik tiba-tiba tangannya ditarik oleh Husain. Wajah Almira menempel tepat di dada bidang suaminya. Almira membeku, jantung yang mulai stabil itu kembali berdetak lebih kencang. Aroma sabun mandi menguar jelas di hidung Almira, membuat Almira semakin tak berdaya. Ia merasa, setengah akal sehatnya telah menghilang.
__ADS_1
"Sepertinya, kamu belum begitu paham dengan identitasmu!" ujar Husain dengan dingin.
"Ap ... apa maksudmu?" Almira gugup, ia berusaha melepaskan diri.
"Apakah, aku lelaki yang pertama kali berhasil menyentuhmu?" Husain mengangkat dagu Almira dan memandangnya dengan senyuman licik.
Mendapat pertanyaan yang sudah pasti jawabannya itu, Almira terdiam. Wajah mungilnya yang polos, kulitnya yang tampak putih dan lembut, serta pantulan matanya yang sebening kristal membuat jantung Husain berdegup dengan kencang. Suasana yang begitu sunyi dan udara malam yang mulai dingin membuat hormon lelaki dalam diri Husain memanas. Husain mengusap bibir Almira yang ranum, lalu mengecupnya dengan lembut. Merasakan sensasi manis yang baru pertama kali dirasakannya, ia hilang kendali. Ia meraih tengkuk Almira untuk memperdalam pagutannya. Ia ******* dan ******* bibir Almira dengan hangat, menerobos lebih kedalam, memainkan lidahnya hingga membuat Almira terengah-engah. Ini adalah pengalaman pertama kalinya untuk mereka berdua.
Setelah merasa hampir kehilangan napas, Almira memukul-mukul dada Husain dengan ringan. Husain yang hampir hilang kendali akhirnya kembali pada kesadarannya. Husain akhirnya melepaskan Almira dan membiarkannya bernafas lega. Husain lalu berpaling keruang ganti, memakai celana boxernya serta kaos berwarna putih yang pas ditubuhnya. Ia menoleh pada Almira sebelum memutuskan keluar dari ruangan yang membuatnya ingin berbuat lebih itu.
"Tidurlah terlebih dahulu, aku masih ada sedikit pekerjaan." ujarnya datar, lalu menutup pintu.
Setelah Husain keluar, Almira membaringkan tubuhnya yang masih bergetar hebat itu. Ia berusaha memejamkan matanya, namun sia-sia. sepasang mata yang indah itu masih saja terjaga, bahkan hingga Husain kembali. Namun, ia berpura-pura menutup mata untuk menyembunyikan rasa gugupnya. Bulir-bulir keringat didahi Almira mulai menetes karena gugup. AC yang menyala itu seolah-olah hanya menjadi pajangan saja.
Ditengah-tengah kegundahannya, tiba-tiba sebuah tangan kekar mengusap dahinya dengan lembut. Bibir yang beberapa waktu yang lalu menikmati bibir manisnya, kini mengecup dahinya dengan dalam. Tangan kekar itu lalu melingkar hangat ditubuhnya, yang justru membuat Almira semakin terjaga. Almira membeku dibalik jantungnya yang tak berhenti berdetak seperti sedang berlari maraton. Dengkuran halus menunjukkan bahwa laki-laki yang sedang mendekapnya itu tengah tertidur dengan lelap. Namun, Almira masih terus terjaga hingga pagi.
__ADS_1
Husain terbangun sekitar pukul 05.30 pagi. Melihat mata cantik yang masih terpejam itu, ia beranjak dengan perlahan. Gemericik air menandakan bahwa Husain sedang menyegarkan dirinya. Setelah berganti pakaian kantornya, Husain turun tanpa membangunkan wanita yang tengah meringkuk itu. Setelah mesin mobil terdengar meninggalkan mansion, Almira membuka matanya dan bergegas membersihkan diri.
Almira berharap ini adalah awal yang baik untuk pernikahannya. Ia berusaha menekan segala macam kekhawatiran dihatinya, dengan berpikir positif. Sementara Husain, ia tak menyadari bahwa ia telah terbuai oleh permainannya sendiri.