KESEMPATAN KEDUA: Istri Pilihan Kakek

KESEMPATAN KEDUA: Istri Pilihan Kakek
Bioskop


__ADS_3

Mentari yang tak lagi menampakkan cahaya, menandakan hari telah berganti malam. Kermerlip lampu disetiap sudut bangunan menambahkan keindahan petang itu. Bulan nampak malu-malu ketika dengan perlahan menampakkan dirinya. Sepasang pasutri itu pada akhirnya meninggalkan penginapan untuk kembali menghampiri pengapnya kota.


Di depan sebuah restoran mewah, Husain memarkirkan kendaraannya. Ia turun, memutari mobil sebelum akhirnya sampai pada pintu mobil yang lain. Ia membuka pintu, tangannya terulur untuk menyambut wanita yang ada didalamnya. Almira tersenyum canggung, sebelum akhirnya keluar dan menerima uluran tangan itu. Ia tidak menyangka, manusia dingin itu punya sisi romantis dalam dirinya.


Mereka berdua masuk kedalam restoran, dan langsung menuju sebuah pintu berwarna emas bertuliskan "VVIP". Sebelumnya, Husain telah membooking tempat itu lewat Internet. Pelayan dengan sopan membukakan pintu, dan mereka pun masuk kedalam. Husain mengambil menu diatas meja, sementara Almira masih memperhatikan arsitektur ruangan tersebut. Ruangan itu ada dilantai atas, dengan tembok kaca yang menghadap langsung pada area jalan raya. Nuansa klasik dengan beberapa dekorasi tanaman hias, menambahkan kesan sejuk didalamnya. Ruangan itu bahkan dilengkapi dengan sebuah kamar mandi, dan juga sebuah sofa dengan ukuran yang lumayan panjang.


"Kamu mau makan apa?" pertanyaan Husain membuyarkan kekaguman Almira.


"Aku bukan pemilih."


"Itu bagus." Husain mengangguk, lalu melingkari beberapa menu pilihannya.


Merasa sudah cukup memesan, Husain pun langsung menyerahkan menu pada pelayan yang tengah berdiri tak jauh darinya. Pelayan itu menerimanya.


"Mohon tunggu sebentar." pelayan membungkuk dengan sopan, sebelum akhirnya meninggalkan ruangan.


"Suasana yang indah. Kamu menyukainya?" tanya Husain.


"Hmm... " Almira mengangguk.


Husain terus memperhatikan wanita yang tengah berkeliling melihat-lihat ruangan tersebut. Setiap kali perhatiannya beralih pada Almira, ada perasaan yang selalu mengganjal dalam hatinya. Namun Husain tipe orang yang teguh pendirian. Baginya, setiap kesalahan harus mendapatkan hukuman yang setimpal. Namun, kali ini dia terlalu ceroboh, hingga berspekulasi salah tentang Almira.


Kecerobohan selalu berbuah sepah. Akhir sebuah penyesalan selalu menyakitkan. Husain terlalu terburu-buru dengan kesimpulannya. Ia tidak menyadari bahwa suatu saat keadaan akan berbalik, dan mendorongnya pada kehancurannya sendiri. Ia lupa dengan pepatah " Biar Lambat Asal Selamat ". Walaupun terdengar sepele, nyatanya pepatah itu sangatlah bermanfaat. Tidak ada ruginya kita bersabar sedikit, jika itu untuk hasil yang terbaik.

__ADS_1


***


Lalu lalang kendaraan terlihat jelas dari ruangan kaca tersebut. Bunyi klakson yang tanpa sopan santun, sudah membuat kebal telinga orang-orang disekitarnya. Meskipun mengganggu, suatu kebiasaan terkadang menjadi kenikmatan tersendiri. Deru mesin kendaraan adalah hal yang lumrah, dan seolah sudah melekat menjadi ciri khas kehidupan kota.


kreekk !


Suara pintu yang dibuka menandakan bahwa pesanan telah sampai. Almira duduk berhadapan dengan Husain. Dua piring pasta, satu cup salad favorit Almira, jus segar serta air putih telah tertata rapi. Almira dan Husain pun memulai aktivitasnya. Mereka makan dengan tenang. Suara denting sendok yang menyahut bergantian, menjadi satu-satunya pemecah kesunyian.


Beberapa menit berlalu, piringpun terlihat kosong. Hanya sedikit sisa minuman yang terlihat disana. Kedua orang itu bangkit, mereka keluar lalu beralih kemeja kasir. Setelah menyelesaikan pembayaran, Husain menggenggam tangan Almira dan membawanya keluar. Ia menyalakan mesin mobil, membukakan pintu untuk Almira sebelum akhirnya berputar dan berakhir dibelakang kemudi.


Mobil melaju dengan pelan, namun bukan kearah mansion. Almira melirik pada Husain, meminta sebuah penjelasan. Husain yang menyadarinya, ia langsung tersenyum simpul.


"Aku ingin mengajakmu nonton. Apa ada rekomendasi film yang ingin kamu tonton?"


Dengan tangannya yang masih fokus menyetir, Husain melirik menunggu jawaban dari Almira. Almira yang seharusnya senang, ia justru merasa ada yang aneh dengan sikap Husain belakangan ini. Namun, perlahan ia mencoba menepis pikiran buruknya itu.


"Eh, iya, itu. Mantan Manten." Husain mengangkat sebelah alisnya. "Mantan Manten? Apaan itu?" Almira tersenyum tipis, lalu perlahan memberinya penjelasan.


" Manten itu sebutan orang Jawa untuk pengantin. Film ini menceritakan tentang seorang manager muda yang memiliki segalanya, namun pernikahan dengan tunangannya yang kaya raya terancam batal karena perseteruannya dengan seseorang yang bernama Iskandar. Ia dikhianati oleh orang tersebut, dan seluruh hartanya pun akhirnya habis." terang Almira.


" Kamu menyukai film-film tentang penghianatan?" selidik Husain.


" Ya, tapi aku benci penghianatan." ujar Almira dengan mantab.

__ADS_1


Jleb ! seketika Husain terdiam. Perkataan Almira menusuk hatinya. Namun, ia berusaha menyembunyikan itu semua.


***


Di depan bioskop, terlihat antrian sangat panjang. Husain menggandeng tangan almira, namun tidak menuju antrian. Dia mengajaknya langsung masuk kedalam ruangan bioskop. Ternyata sederet bangku paling depan sudah dipesan oleh Husain. Disana bahkan sudah tersedia popcorn, makanan ringan yang wajib ada di bioskop. Lalu juga beberapa kaleng minuman bersoda.


Orang kaya selalu punya caranya sendiri untuk bersenang-senang ! Kita yang serba standar ini bisa apa !


Husain mengajak Almira duduk, mengambil popcorn dan membuka sekaleng minuman, setelah itu memberikannya pada Almira. Akhir-akhir ini hati Almira selalu menghangat, tersentuh oleh sikap manis Husain. Ia terus mengabaikan pikiran-pikiran negatif yang berada dibenaknya.


" Mantan Manten " merupakan sebuah film garapan sutradara Farishad Latjuba, yang tengah meramaikan layar bioskop beberapa waktu lalu. Almira yang melihat sinopsis film tersebut, langsung merasa tertarik. Namun, karena saat itu hubungannya dengan Husain sedang tidak membaik, akhirnya ia mengurungkan niatnya.


Siapa sangka pada akhirnya ia justru menonton berdua dengan lelaki itu.


Almira nampak antusias, menikmati film yang tengah ditontonnya. Matanya menatap tanpa berkedip pada layar didepannya. Kadang-kadang, ia terbawa emosi karena merasa terhipnotis dan masuk kedalam alur ceritanya. Namun, lelaki yang berada di sampingnya itu tidak sedikitpun menikmatinya. Matanya menatap datar pada layar, akan tetapi pikirannya berkecamuk entah kemana. Sesekali ia mencuri pandang pada wanita disebelahnya. Separuh jiwanya menginginkan agar ia bisa menggenggam wanita itu dalam rengkuhannya. Separuh jiwanya yang lain tak bisa mentoleransi sebuah kesalahan.


Husain yang tengah melamun, akhirnya tersadar dengan tepukan pelan dipundaknya. Almira menatapnya dengan lembut, menyadari ada sesuatu yang salah tentang suaminya.


" Apa yang sedang kamu pikirkan?" Husain tersenyum tipis. " Tidak ada. Aku hanya lelah." elaknya. Almira tidak ingin mengulas lebih dalam. Ia tahu suaminya bukan tipe orang yang terbuka. Laki-laki itu juga tidak menyukai jika ada yang mencampuri arusannya. Almira tidak ingin hubungan yang mulai membaik ini kembali merenggang. Pada akhirnya, jalan terbaik adalah diam.


Almira mengulurkan tangannya pada Husain, dan memutuskan mengajaknya pulang. "Kita pulang, kamu lelah kan?" ujarnya lembut. Husain menatap sekeliling, dan menyadari tempat itu sudah kosong.


Melihat Husain yang kebingungan, Almira terkikik geli. " Tinggal kita berdua," terang Almira. " Oh. Maaf, membuatmu kecewa." Husain merasa bersalah. Mengernyitkan dahinya, Almira lalu berkata, " Tidak masalah, aku baik-baik saja. Mari pulang dan beristirahat ." Husain akhirnya mengangguk, ia menerima uluran tangan Almira dan mereka meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Di dunia ini, pada dasarnya tidak ada yang benar-benar berpihak pada kita. Bahkan, hatipun seringkali tak sejalan dengan pikiran. Adakalanya, kita dipaksa menerima sesuatu yang kita sendiri tidak pernah menginginkan. Keadaan tak selamanya bisa mendukung. Yang kita pikir tempat terbaik, sewaktu-waktu bisa membuat kita tergelincir tanpa sedikitpun berbelas kasih. Pada akhirnya, yang bisa kita lakukan hanyalah menerima kenyataan dan menjalaninya dengan berlapang dada.


Almira masih menatap cemas pada laki-laki yang ada disampingnya. Raut kusut dan tampang lelah, terlihat jelas diwajahnya. Almira yang tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa berharap agar semuanya baik-baik saja.


__ADS_2