KESEMPATAN KEDUA: Istri Pilihan Kakek

KESEMPATAN KEDUA: Istri Pilihan Kakek
PERKENALAN


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu sejak pertemuan itu. Satu bulan pula Almira telah bekerja di salah satu anak perusahan Wirawan. Sedikit demi sedikit dia mulai terbiasa dengan sistem kerja di sana. Almira dan Damar jarang berjumpa, karena keduanya berada di tempat yang berbeda. Dalam hal pekerjaan, mereka selalu bersikap profesional.


Sore itu Almira baru saja hendak memasuki apartemennya, ketika tiba-tiba ponsel di dalam tasnya berbunyi. Dirogohnya benda pipih itu dari dalam tas, tertera nama 'Kakek Bangsawan' di sana. Almira menggeser tombol ponsel berwarna hijau, lalu menempelkannya di telinga sembari membuka pintu.


"Halo, kakek! Kakek baik?" sapa Almira dengan lembut.


Kakek Hadi mendengar nada tulus dari gadis muda itu, dan itu membuatnya merasa lebih baik.


"Bagaimana kakek bisa baik, anak nakal!Sudah empat pekan kamu tidak datang menemui orang tua ini. Apa kamu tidak tahu betapa sedihnya aku?" keluhnya.


Almira tersenyum mendengarnya. Dia tahu kakek tidak benar-benar serius dengan kata-katanya. Orang tua itu hanya sedang merajuk padanya. "Baiklah. Apa yang harus Mira lakukan untuk menebus kesalahan Mira ini, Kakek?"


Kakek tersenyum, merasa puas mendengar jawaban dari Almira.


"Besok pagi kamu harus datang ke tempat biasa. Tidak ada penolakan. Kakek akan menunggumu di sana. Jika sampai kamu tidak datang, Kakek yang akan datang ke tempatmu, dan tinggal denganmu untuk selamanya!" ancamnya, membuat Almira tertawa.


Dia merasa kakek Hadi terkadang seperti anak-anak. Harus ekstra sabar untuk menghadapi kelakuannya yang berubah-ubah. Kadang seperti orang tua, kadang seperti anak muda, dan sekarang, seperti ... anak kecil. Lagipula, mana mungkin orang yang sudah terbiasa hidup di tempat mewah itu bisa betah tinggal di tempatnya yang sempit?


"Baiklah, baiklah .... Mira pasti datang."


"Itu bagus." Kakek mengangguk puas, meski orang di seberang tak mungkin melihatnya.


"Apa kakek ingin kubawakan sesuatu? Anggap saja untuk menebus kesalahan Mira," tawarnya.


Almira tahu Kakek tidak akan pernah mau merepotkannya. Akan tetapi, jika Kakek memang menginginkan sesuatu, tentu saja itu bukan masalah besar baginya. Almira akan dengan senang hati membawakan apa yang Kakek inginkan.


"Tidak perlu, anak baik." Sesuai dugaan Almira, Kakek pun menolak.

__ADS_1


"Kamu hanya perlu datang seperti biasanya. Aku berniat memperkenalkan mu pada cucu Kakek yang super sibuk itu. Ini momen yang sangat langka. Jangan sampai tidak datang, oke," katanya setengah berbisik.


Mendengar kata-kata Kakek, Almira tidak bisa tidak terkikik. Apa yang sebenarnya tengah direncanakan oleh Kakek tua ini?


Almira menggeleng. Ah, sudahlah. Terserah apa yang kakek mau.


"Baiklah, Kakek. Sampai jumpa besok," jawab Almira, lalu mengakhiri panggilan teleponnya.


Setelah telepon berakhir, Almira bergegas untuk membersihkan diri. Beberapa menit kemudian, Almira keluar dengan mengenakan baju tidur sederhananya yang bergambar kartun Pororo. Rambutnya yang basah digerai, terlihat sejuk bagaikan tetesan embun di pagi hari. Dia lalu pergi ke dapur, membuat semangkuk mie instan untuk dirinya sendiri.


Hal seperti ini sudah sering Almira lakukan. Hidup dalam kesendirian, dia terbiasa makan apa adanya. Bukan tidak bisa memasak. Hanya saja, masak untuk diri sendiri itu membosankan.


Terkadang, rasa sepi seperti ini tak ayal membuatnya meneteskan air mata. Seringkali hati kecilnya bertanya-tanya, dimanakah gerangan sosok yang bernama orang tua, yang seharusnya ada untuk membesarkan dan mendampinginya? Apakah memang sudah tiada? Jika belum, pernahkah mereka berpikir untuk mencarinya? Atau setidaknya, pernahkah sekali saja mereka mengingat tentang darah dagingnya yang terbuang ini?


Almira mendesah, pasrah. Ditatapnya semangkuk mie instan di hadapannya, lalu dipindainya sekeliling. Ruangan yang hanya memiliki sebuah kamar lengkap dengan kamar mandi, ruang tamu kecil dan juga kitchen set yang hanya muat untuk dua orang itu benar-benar terasa sunyi. Dan sekali lagi dia pun disadarkan oleh fakta, bahwa selama ini hanya kesunyian malam lah yang dia punya untuk dijadikan kawan setia.


Sebenarnya, Almira pernah memiliki seorang teman. Dia sangat memercayainya, tetapi tak disangka dia hanya dimanfaatkan olehnya. Pengalaman menjengkelkan yang pernah ada itu membuatnya tak bisa mempercayai orang begitu saja. Jadi, sampai saat ini dia memilih sendiri.


***


Sinar mentari pagi mulai menerobos masuk tanpa malu-malu ke dalam kamar sederhana nan rapi itu. Bulu mata lentik milik gadis itu mengerjap oleh silaunya cahaya, membangunkannya dari mimpi indah. Almira duduk bersandar, menunggu kesadarannya pulih sepenuhnya. Diliriknya jam beker di atas meja, waktu menunjuk pada pukul setengah enam pagi. Perlahan Almira bangkit, meski sedikit malas dia harus melaksanakan rutinitasnya sebelum memenuhi janjinya untuk bertemu kakek.


Sepatu kets, celana jeans dan kaos oblong melekat cantik di tubuh rampingnya. Rambut panjangnya dia buat kepang renda. Make up tipis, lipstik warna peach mendarat lembut di bibir ranumnya. Sosok itu terlihat santai tapi menawan.


"Oke. Let's go Almira," ucapnya menyemangati diri sendiri. Entah mengapa dia merasa pertemuan kali ini akan berbeda dari biasanya. Almira merasa sedikit gugup.


Seperti biasa, dia menggunakan taksi online. Tak butuh waktu lama, gadis cantik itu sampai juga di restoran. Dia langsung pergi ke ruangan di mana kakek tengah menunggunya. Dia membuka pintu, dan melihat Kakek tengah berbincang dengan seseorang. Seorang pria yang kini punggungnya tengah menghadap pada Almira.

__ADS_1


Mendengar pintu dibuka, kakek pun menoleh. Almira tersenyum dan langsung menyapanya.


"Kakek. Apa aku terlambat lagi?"


"Oh, anak baik. Kemarilah, kemarilah. Tidak apa-apa, kakek memang sengaja datang lebih awal," balas Kakek dengan penuh semangat.


Almira berjalan mendekat, menghampiri orang tua tersebut. Ketika hendak duduk, dia merasakan tatapan dari seberangnya.


Dia menoleh, dan mata Almira membelalak. "Kau!" pekiknya. Pantas saja hari ini perasaannya lain.


Zein menatapnya, masih terdiam. Seakan melihat Almira sudah bukan lagi sebuah kejutan. Dia memindai gadis itu lewat sepasang mata elangnya, dan gambaran kata cantik seketika muncul dipikirannya. Dia mengerjap, membuang pikiran itu jauh-jauh.


"Baiklah, duduklah dulu, Mira," pinta Kakek dengan lembut. Mira yang masih terkejut menuruti perintah Kakek. Dia duduk di kursi yang bersebelahan dengan orang tua itu.


Kakek menatap keduanya, lalu mengangguk-angguk. Di matanya, jika dipasangkan kedua anak itu terlihat sempurna. "Baguslah kalau kalian sudah saling kenal. Kakek tidak perlu repot-repot lagi," katanya dengan antusias.


Almira dan Husain beradu pandang. "Tidak, Kakek!" jawab mereka dengan kompak, membuat kakek tertawa.


"Kalian bahkan sangat kompak."


Senyum kakek terlihat mengembang. Jika itu dulu, Zein pasti tidak akan memercayainya. Namun, ini bukan lagi pertama kalinya dia melihat binar bahagia di mata satu-satunya keluarga yang tersisa di hidupnya tersebut. Dan satu-satunya orang yang berhasil membuat kakeknya tertawa kembali tidak lain tidak bukan adalah perempuan di sebelahnya. Perempuan yang sayangnya ....


"Ekheem!" Zein berdehem. "Kakek, kemarin aku tidak sengaja melihatnya di pinggir jalan. Karena rasa kemanusiaan, aku menghampiri dan mengantarnya pulang. Itu saja. Aku bahkan tidak tahu siapa namanya," bohongnya. Zein tidak mungkin mengakui bahwa sebenarnya waktu itu dia tidak benar-benar menolak permintaan kakek. Gengsi Zein terlalu besar.


"Itu betul, kakek." Almira menambahkan.


Terlihat jelas gurat kekecewaan dari wajah keriput lelaki tua itu.

__ADS_1


__ADS_2