
"Sejak kapan?"
"Sudah sejak lama, dan akhir-akhir ini mulai memburuk lagi," jawab Zein dengan raut sedih.
Sambil menunggu lift berhenti, dia menjelaskan tentang kondisi kakek pada Almira. Terlihat jelas raut kekhawatiran di wajah pria itu. Semenjak orang tuanya meninggal karena kecelakaan dua puluh tahun lalu, kakek lah satu-satunya keluarga yang Zein miliki. Karena itu Zein rela melakukan apapun demi kebahagiaan juga kesembuhan Hadi Adijaya. Namun, Zein tidak mungkin mampu melawan kehendak takdir.
Orang-orang hanya memandang Zein sebagai sosok yang sempurna yang tak kekurangan satu apapun. Orang-orang akan selalu memandang iri, membanding- bandingkan segalanya dengannya dan berharap bisa berada dalam posisinya. Mereka seolah lupa, bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna. Termasuk Zein Azzam Adijaya juga.
Siapa yang tahu bahwa Zein sebenarnya hanyalah sosok rapuh yang berusaha menjadi kuat? Sangat rapuh, hingga dia berusaha keras agar orang lain tak dapat menemukan kelemahannya. Berpura-pura sempurna di hadapannya semua orang bukanlah hal yang enteng dilakukan. Hal itulah yang membuatnya menutup diri dari setiap wanita, hingga melupakan kehangatan yang ada dalam hatinya. Kehangatan yang sampai saat ini hanya dia tunjukkan untuk satu orang saja, yakni kakeknya.
"Kenapa kakek tidak pernah menyinggungnya?"
Zein melirik gadis itu, lalu mencibir," memangnya, kamu siapa?" ucapnya tanpa rasa berdosa.
Tentu saja dia tahu perempuan ini sangat berarti untuk kakeknya. Jika tidak, kakek tidak akan mengingatnya di saat-saat kritis seperti ini. Namun, Zein tidak ingin Almira mengetahuinya. Dia tidak mau perempuan ini semakin besar kepala.
Deg! Hati Almira berdenyut mendengar pertanyaan itu. Dia merasa tersinggung juga aneh. Zein berkata benar. Dia memang bukan siapa-siapa. Lalu, karena dia bukan siapa-siapa, kenapa makhluk dingin ini membawanya ke sini?
"Kamu benar. Ini aneh. Aku bukan siapa-siapa, lalu kenapa kamu membawaku ke sini?" sindirnya.
Lift berhenti dan pintu terbuka di lantai paling atas, lantai lima belas. "Bukankah itu karena kamu yang terlalu pintar?"
Pintar berpura-pura hingga membuat kakeknya terperdaya! Itulah yang Zein pikirkan. Zein pun ke luar terlebih dahulu, tanpa menunggu tanggapan dari Almira.
Almira mengikuti Zein, menatapnya punggung lebarnya penuh tanya. "Apa maksudnya?"
***
"Siapa yang saat ini menjaga kakek?"
Zein tak menjawab. Dia terus melangkah tanpa peduli akan Almira yang sesekali harus berlari kecil untuk mengikutinya.
"Bisakah lebih pelan sedikit?" gerutu Almira yang sedari tadi diabaikan oleh Zein.
Zein tetap tidak memedulikannya. Dia seolah menganggap perempuan cantik itu tidak pernah ada. Almira lagi-lagi dibuat mendesah oleh kelakuannya yang seringkali berubah-ubah.
"Apa yang salah? Sedikit sedikit marah. Dasar orang aneh," gerutunya.
Di depan ruangan VVIP terlihat beberapa orang berbaju hitam tengah berbaris dengan rapi di sisi kanan dan kiri. Almira tidak merasa terlalu terkejut, mengingat posisi kakek yang begitu penting, sebagai tetua Adijaya grup. Pastinya, keamanan beliau pasti diutamakan.
__ADS_1
Almira mengikuti Zein yang sudah terlebih dulu masuk. Tidak ada yang menghentikannya, karena mereka sudah melihat bahwa Almira datang dengan tuannya. Meskipun sikap tuannya aneh, tetapi dia tidak berpesan apa-apa pada mereka. Jadi, mereka tidak berani bersikap tidak sopan pada Almira.
Almira berdiri mematung setelah dia memasuki ruangan VVIP itu. Matanya memandang takjub pada interaksi yang terjadi antara Tuan Muda Adijaya dengan kakeknya.
"Aku kira, orang sepertinya tidak punya hati," lirihnya.
Tuan muda yang tidak pernah sekalipun menunjukkan kehangatan dan kelembutannya di luar sana, sekarang ini tengah berbicara lembut dan tersenyum manis pada kakeknya. Sikapnya pun jelas penuh dengan kasih sayang.
"Dia terlihat lebih tampan ketika tersenyum," pikirnya.
Almira menggeleng. Apa yang dia pikirkan?
Meski begitu Almira tidak merasa sikapnya salah atau merasa dirugikan. Ini adalah momen yang sangat langka, yang tidak semua orang bisa melihatnya. Bukankah dia termasuk orang yang beruntung karena bisa menyaksikannya secara langsung?
"Haruskah aku mengabadikan momen ini?" gumamnya. Almira diam-diam mengambil ponselnya dan memotret momen langka tersebut, tanpa sepengetahuan mereka.
"Mira, kenapa berdiri saja? Kemarilah, Nak," panggil Kakek dengan suara lemah, tetapi masih bisa didengar oleh Almira.
Menyadari seseorang yang hanya berdiri mematung di depan pintu, kakek pun melambaikan tangannya. Lambaian tangan Kakek menyadarkan Almira. Dia menutup ponselnya, lalu menyimpannya kembali.
Almira menghampiri orang tua itu, kedua sudut bibirnya melebarkan senyum.
"Kakek ...." Almira meraih tangan keriput Hadi Adijaya, tanpa memedulikan Zein yang menatapnya tak suka.
Hati Almira terenyuh ditanya seperti itu. Dia menatap cemberut pada lelaki tua tersebut.
"Bukankah seharusnya Mira yang bertanya seperti itu?" katanya dengan nada sedih.
Kakek tertawa, merasa terhibur. Dia menatap Almira penuh kasih sayang. Sama, seperti saat lelaki tua itu menatap Zein. Melihat Almira yang masih mengenakan baju tidurnya, Kakek pun merasa bersalah. Dia memelototi Zein dengan marah. Kakek tahu Zein pasti membawanya paksa. Yang dipelototi melengos, berpura-pura tidak bersalah.
"Apa kamu mengkhawatirkan lelaki tua ini, Nak?" tanya Kakek sambil tersenyum.
Almira mengangguk. "Tentu saja. Karena Kakek tidak mengabariku, tidak ada yang mentraktirku beberapa pekan terakhir!" candanya dengan wajah cemberut.
Kakek tertawa, sementara Zein mendengus. "Dasar tidak tahu malu!"
Kedua orang di depannya menoleh padanya, memelototinya dengan wajah masam. Bibir Zein berkedut. Kenapa dia merasa bahwa saat ini dirinyalah yang hanya orang luar? Siapa cucu Kakek yang sebenarnya?
Melihat keduanya tersenyum dan bercanda dengan akrab, tanpa sadar bibir Zein ikut melengkung. Entah mengapa hatinya merasa tenang. Ada perasaan menggelitik dihatinya, antara senang juga ragu.
__ADS_1
'Mungkinkah semua tidak seperti yang kupikirkan? Mungkinkah perempuan ini benar-benar berhati tulus dan tidak ada hubungannya dengan Damar Wiryawan?' Hati Zein bergelut.
"Zein, kemarilah, Nak," pinta Kakek. Zein tersadar dari pikirannya, lalu mendekat.
Kakek menatap Zein lalu menepuk ringan ranjang di sebelah kanannya, mengisyaratkan agar Zein duduk di sana.
Zein menolak. Dia memilih mengambil kursi yang tidak jauh darinya dan duduk di sana.
Kakek cemberut tetapi tidak mengatakan apa-apa. Satu sebelah kiri, dan satunya di sebelah kanan. Kakek merasa sangat bahagia. Almira sesekali mengusap tangan kiri Kakek yang tengah terpasang infus, merasa kasihan. Tangan yang sudah mengeriput itu terlihat membiru. Hal itu membuatnya terenyuh.
"Berada di antara kalian, kakek merasa hidup kakek sangat berharga," ucap kakek tiba-tiba. Matanya terlihat mendung, tetapi tidak ada kesedihan.
"Cucuku .... Mungkin, umur Kakek tak akan lama lagi."
"Kakek, jangan bicara yang tidak-tidak!" Zein kesal.
"Diam!" bentak kakek. Wajah lelaki tua itu mengerut, terlihat kesakitan.
"Kakek!" ucap Zein dan Almira bersamaan. Keduanya mendekati kakek. Almira mengusap pelan pundaknya, sementara Zein mengusap pelan dada Kakek.
"Jangan sela Kakek, cucu nakal!" Zein terdiam.
"Sebelum Kakek pergi, bolehkah Kakek meminta satu permintaan pada kalian?" ujar Kakek lemah, sambil menatap mereka bergantian. Tatapannya dipenuhi dengan harapan.
Husain yang sudah bisa menebak keinginan kakek, hanya bisa terdiam. Sedang Almira tak mampu lagi membendung air mata yang sejak tadi ditahannya. Kristal bening itu akhirnya jatuh, membasahi pipi halusnya. Sesekali dia mengusap air mata nya dengan kasar.
Kakek mengangkat tangan kanannya, lalu mengusap lembut air mata di wajah Almira. "Gadis bodoh! Berhentilah menangis."
"Kakek ...." Almira memeluk tubuh renta itu sembari sesenggukan. "Jangan seperti ini. Bukankah Kakek bilang Kakek akan berumur panjang?" Almira terisak.
Tangisan Almira membuat hati Kakek sakit.
Namun mau bagaimana lagi? Usia seseorang tidak ada yang tahu. Dan kematian tidak dapat ditawar.
"Kakek bilang Kakek ingin melihat Mira menikah. Kakek ingin melihat Mira tersenyum bahagia dengan orang yang Mira cintai, bukan? Kakek sudah berjanji, kan?" Almira tersengal.
Almira benar-benar tidak ingin kehilangan kakek secepat ini. Meski mereka hanya orang asing yang baru beberapa bulan saling mengenal, tetapi Almira tahu kakek benar-benar menyayanginya. Kakek lah satu-satunya orang yang peduli padanya. Orang yang beberapa bulan terakhir memberi warna dalam hidupnya. Mengalirkan kasih sayang yang tak pernah dia dapat dari orang tuanya.
"Jadi, Mira mau mengabulkan keinginan kakek itu?" Kakek mengusap lembut kepala Almira.
__ADS_1
Almira mendongak menatapnya.
"Pernikahan. Itulah hal terakhir yang Kakek inginkan dari kalian."