
Waktu terus berlalu. perlakuan Husain pada Almira bukan lebih baik, namun semakin menjadi. Setiap hari Almira merasa bagai di neraka. Ia bahkan tidak diperbolehkan untuk keluar dari rumah. Beberapa penjaga ditugaskan diluar mansion, seolah-olah Almira adalah seorang tahanan. Sebuah masalah seharusnya dibicarakan dengan baik. Dengan kepala dingin. Namun, karena Husain terlanjur membuat kesimpulan sendiri, hal itu mempersulit Almira. Seorang Husain yang berwatak kaku dan dingin sangat sulit untuk didekati. Hatinya yang memang sudah terlanjur membeku, membuat kesalahpahaman semakin runyam.
Tidak seperti biasanya, hari itu Husain pulang lebih awal. Namun, ia pulang dengan tatapan yang mengerikan. Aura dingin dan kejam terpancar dari matanya yang sedang menatap Almira. Almira seketika menunduk, ia ketakutan. Perlahan, ia mengulurkan tangannya dan mengangkat dagu Almira.
"Apakah kamu mencintai laki-laki itu?"
Pertanyaan Husain sontak membuat Almira terkejut.
"Laki-laki ? siapa ?" tanya Almira dengan polos. Ia tidak memahami maksud suaminya.
Jika yang suaminya maksudkan adalah Damar, ia bahkan sudah tidak pernah berhubungan sama sekali semenjak kejadian ponselnya yang hancur. Ponsel itu sampai sekarang bahkan belum diganti.
"Jangan berlagak bodoh! apa sebenarnya niatmu menerima pernikahan ini !" bentak Husain.
Mata elang Husain memekik tajam. Tatapannya penuh intimidasi. Almira semakin kebingungan. Dia tidak tahu mesti menjawab apa. Almira tak ubahnya seekor mangsa lemah yang tengah berada dalam intaian. Ia tak memiliki Jalan keluar, kecuali pasrah akan keadaan. Pernikahan ini terjadi atas persetujuan keduanya. Meskipun itu semua hanya demi Kakek, tetapi Almira menjalaninya dengan ikhlas. Almira benar-benar tidak mengerti dengan kecurigaan suaminya.
"Aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu. Aku hanya pernah dekat dengan satu pria, yaitu kamu. Jika aku pernah terlihat dengannya, itu murni karena pekerjaan. Dan karena kami sudah saling mengenal sejak lama. Itu saja. Aku bersumpah, aku tidak memiliki niat apapun !" terang Almira. Ia berharap suaminya mau mendengarkannya, meski itu mustahil.
Husain semakin marah dan gusar. Rahangnya yang mengeras, tetap tak mengurangi ketampanannya. Sikapnya yang arogan memperlihatkan kepercayaan diri yang tinggi.
"Wanita rubah ! katakan yang sejujurnya, atau aku akan mencari tahu dengan caraku sendiri !" Husain tidak lagi dapat mengontrol emosinya. Ia mencengkeram rahang Almira dengan kasar. Hatinya yang memanas. Tidak lagi mampu melihat kejujuran di mata Almira. Almira meringis menahan rasa sakit di pipinya.
"Tolong ... lepaskan aku. Aku benar-benar tidak tahu apa maksudmu. Aku sudah mengatakan yang sejujurnya." suara yang lembut itu terus memohon. Tatapannya sayu tak berdaya. Tangannya yang dingin terus mengatup. Ia gemetar.
Husain melepaskan cengkeramannya. Namun, ia masih menatap Almira dengan penuh intimidasi. Es yang membeku dalam dirinya tak sedikitpun mencair. Almira mendongak, ia menatap mata suaminya dengan dalam. Mata itu penuh dengan amarah dan kebencian.
"Aku tidak berbohong padamu. Jadi kumohon, jangan seperti ini. Bisakah kita berbicara baik-baik layaknya orang dewasa?" pinta Almira dengan lembut.
__ADS_1
"Jika sampai aku tahu mulutmu itu berbisa, maka jangan harap kamu mampu menatap dunia diluar sana! Aku akan membuatmu malu dan jijik, bahkan hanya untuk menatap dirimu sendiri !" Almira mengerjap. Tangannya berkeringat. Ia ketakutan.
Kata-kata Husain penuh dengan ancaman. Ia tak tahu lagi bagaimana harus meyakinkan suaminya. Tubuh Almira menggigil, bulir-bulir keringat mulai membasahi pelipisnya. Husain memandang rendah pada Almira. Tersenyum sinis, lalu mendorong tubuh Almira, dan meninggalkannya begitu saja. Almira merasakan beberapa bagian tubuhnya nyeri. Ia terduduk lemas, menyandarkan tubuhnya di dinding sambil meratapi nasibnya. Ia tidak menyangka, cucu dari seorang Kakek yang begitu lembut, nyatanya tak berperasaan.
Memikirkan akan nasibnya, akhirnya Almira kembali menangis. Isakan pilu itu terdengar sampai ruangan kerja Husain. Perasaan Husain bercampur aduk. Hatinya ikut terluka. Namun, informasi dari orang yang sudah lama dikenalnya, membuat ia menutup kembali mata hatinya.
Jika dulu, selama 20 tahun Almira mampu menahan dan melawan kerasnya kehidupan. Jika dulu, Almira tidak peduli akan hinaan dan cibiran. Jika dulu, Almira dengan tegas melawan segala tuduhan. Saat ini, ketika ia berhadapan dengan seorang Husain, Almira tak berdaya. Kekuatan yang selama ini ia miliki, seolah tenggelam begitu saja. Almira lemah dihadapan lelaki yang dicintainya itu.
***
Malam semakin larut. Semakin lama keheningan mulai menyelimuti mansion yang besar itu. Hal-hal seperti ini sudah membuat Almira terbiasa.Tapi hari ini, wanita yang sedang berbaring di ranjang king size itu nampak gelisah. Kata-kata Husain terus terngiang-ngiang di kepalanya, hingga membuatnya terjaga.
Mengapa suaminya itu terus mencurigainya, dan selalu mengatakan bahwa dia menyembunyikan sesuatu?
Almira merasa tidak tenang. Ia ingin mencari tahu, tapi dia tidak tahu caranya. Ia bahkan tidak memiliki kekuatan apapun. Kebebasannya pun telah terenggut begitu saja oleh laki-laki yang telah menikahinya.
Tubuh Almira menegang. Ia tidur dengan menyampingkan tubuhnya. Perlahan-lahan ia memejamkan matanya yang masih sembab. Berharap suaminya mengira bahwa ia sudah tertidur.
"Tidak perlu berpura-pura, aku tahu kamu masih terjaga." ujar Husain dengan ketus.
Glek !
Almira menelan ludahnya dengan berat. Dengan gemetar, ia membuka mata phoenixnya yang cantik itu. Ia menatap suaminya sekilas. Dengan rasa takut, ia menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang.
"Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Almira dengan ragu.
"Jika kamu merasa kurang nyaman, aku bisa tidur dikamar lain."
__ADS_1
Laki-laki itu tidak menjawab. Ia naik keatas ranjang, lalu tiba-tiba membenamkan wajahnya pada perut Almira. Almira tercekat. Perlakuan yang tiba-tiba itu membuatnya terdiam membeku. Tangan yang hangat itu tiba-tiba melingkar erat ditubuhnya. Almira tak sedikitpun bergerak. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan suaminya.
Tak lama kemudian, hembusan nafas Husain mulai teratur. Hembusan hangatnya yang menyusup dibalik baju tipis Almira, serta dengkuran halusnya menandakan bahwa suaminya tengah terlelap dengan damai.
Almira bernapas dengan lega. Ia memandangi suaminya dengan dalam, lalu tangannya perlahan mengusap lembut rambut suaminya.
"Saat seperti ini, kamu bahkan terlihat sangat lembut. Seperti anak kecil yang polos tanpa noda dan dosa." gumam Almira.
"Tapi saat terbangun, kamu begitu menakutkan. Jantungku bahkan hampir melompat. Untung saja aku tidak punya riwayat sakit jantung." Almira tersenyum tipis dengan pemikirannya sendiri.
Almira memakaikan selimut pada tubuh Husain dengan perlahan. Ia terus menatap suaminya yang terkadang seperti monster itu. Hingga tanpa sadar, Almira tertidur pada posisi yang masih bersandar.
***
Malam perlahan berlalu berganti dengan esok yang cerah. Kedua sosok itu masih terlelap dengan hangat. Namun, Almira mulai mengerjapkan bulu matanya yang lentik itu.
Sang mentari yang cerah menerobos menusuk pandangannya. Ia mengurungkan niatnya untuk beranjak dari ranjang, ketika merasakan sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya.
Setelah pertengkaran yang terjadi, ini adalah pertama kalinya Husain bermalam di mansion. Almira sama sekali tak pernah berpikir bahwa pada akhirnya mereka akan berbagi ranjang yang sama. Ia mengira bahwa suaminya bahkan tidak ingin berbagi ruangan yang sama. Tapi mengapa suaminya tiba-tiba berubah?
Almira yang sibuk dengan pikirannya, merasakan adanya sebuah pergerakan. Almira pun kembali memejamkan matanya.
Husain tersenyum tipis melihat wanita yang ada dalam pelukannya. Ia mengangkat tangannya dari pinggang istrinya, lalu perlahan turun dan berlalu kekamar mandi.
Almira menghembuskan nafas, lalu menatap pintu kamar mandi yang telah tertutup. Almira lalu tersadar, posisi tidurnya telah berubah. Ia ingat betul bahwa semalam ia tengah bersandar.
Mungkinkah manusia berhati dingin itu membenahi posisi tidurnya? Almira menggelengkan kepalanya. Almira kembali memejamkan mata ketika pintu kamar mandi terdengar dibuka. Setelah Husain turun dan deru mesin mobil terdengar meninggalkan mansion, Almira langsung melompat dan pergi ke kamar mandi.
__ADS_1