
Setelah kepergian Husain, Almira akhirnya terjaga. Siang itu seperti biasa cuaca sangat terik. Namun terkadang hawa dingin menelusup menembus kulit putih Almira. Entah kenapa, perasaannya resah. Seolah sesuatu yang buruk akan terjadi. Perawat baru saja pergi setelah memeriksa dan memberikan obat kepada Kakek melalui selang infus. Detak jantung di komputer menunjukkan keadaan Kakek yang semakin melemah. Almira menatap Kakek dengan tatapan hampa. Berbagai rasa takut dan resah terus saja menghantui pikirannya.
Drrrtt, ... drrrtt, ...
Ponsel Almira bergetar. Ia pergi keluar ruangan untuk menerima telpon yang ternyata dari Damar. Ia keluar dengan tergesa-gesa hingga tidak menyadari bahwa Husain telah sampai. Melihat istrinya pergi tergesa-gesa, diam-diam Husain mengikutinya.
"Hallo Damar, ada apa?" sapa Almira setelah mengangkat panggilan tersebut.
"Apa semuanya baik-baik saja? Dia memperlakukanmu dengan baik?" tanya Damar dengan nadanya yang terdengar khawatir.
"Jangan khawatir Damar, semuanya baik-baik saja," ujar Almira.
"Sebaiknya aku akhiri, Kakek sedang seorang diri. Terimakasih sudah mengkhawatirkan ku." Almira langsung mengakhiri panggilannya, tanpa menunggu persetujuan dari Damar.
Almira kembali ke ruangan dengan tergesa-gesa. Perasaannya semakin gelisah, seolah berat meninggalkan Kakek walau sebentar.
Sementara Husain masih bersembunyi dibalik tembok, dengan tangannya yang terlihat mengepal. Ia mengurungkan niatnya untuk menemui Kakek, dan memutuskan pergi untuk menenangkan diri.
Husain memang tidak mendengar semua percakapan Almira dengan Damar, karena Almira tidak me-loudspeker panggilannya.
Tapi melihat raut wajah Almira yang melembut ditambah beberapa sahutan percakapan Almira, membuat Husain gusar.
"Jangan khawatir Damar, semuanya baik-baik saja. Kakek seorang diri, terimakasih sudah mengkhawatirkan ku."
Beberapa percakapan yang ditangkap Husain membuatnya semakin mencurigai kedekatan mereka berdua. Kepercayaan yang pagi tadi berusaha Husain bangun kembali, kini menguap. Rasa marah dan frustasi bercampur menjadi satu. Ia mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
"Aaahhhh ... Kakek, kenapa harus mempertemukan ku dengan wanita sepertinya!" teriaknya penuh amarah.
***
Almira telah sampai diambang pintu. Karena tergesa-gesa, nafasnya pun tersengal-sengal. Dia kelelahan. Wajah putihnya memerah, keringat bercucuran dari pelipisnya. Belum sempat menghembuskan nafas, ia terkejut.
Situasi didalam tak lagi sepi. Beberapa orang berpakaian biru, dengan dua orang lain berpakaian putih. Mereka terlihat nampak tergesa-gesa berlarian kesana kemari. Jantung Almira seketika berdetak lebih kencang. Iramanya tak lagi beraturan. Dengan berat ia melangkahkan kakinya perlahan, tangannya menggapai gagang pintu.
__ADS_1
"Nona, maaf. Tidak ada yang di izinkan masuk. Dokter sedang bertugas." suara seorang penjaga menghentikannya, sebelum pintu sempat terbuka.
"Kakek kenapa? Apa yang terjadi? Katakan padaku?" Almira panik, wajahnya memucat. Ia mengguncang keras bahu penjaga tersebut.
"Maaf nona, setelah anda keluar tiba-tiba keadaan Kakek memburuk." penjaga tersebut menjelaskan dengan rasa takut. Ia masih terus menunduk.
Seketika tubuh Almira merosot. Dia bergetar, air matanya luruh tak dapat dihentikan. Dia menyesal, harusnya dia tidak meninggalkan Kakek seorang diri. Dia tidak menyangka, rasa resah dan kekhawatiran yang tadi ia rasakan sungguh terjadi. Dia tidak bisa membayangkan jika sampai terjadi hal yang lebih buruk lagi.
"Nona, kami sudah berusaha menghubungi tuan muda. Tapi nomornya tidak bisa dihubungi,"
"Kami juga sudah menelpon kantor. Tapi sekertaris bilang tuan sudah keluar dari kantor semenjak sejam yang lalu." seorang penjaga yang lain melapor kepada Almira.
Almira mengusap air matanya, lalu mengangguk. Ia meraih ponselnya, lalu menekan nama Husain. Hanya saja, sudah beberapa kali panggilan dilakukan namun tidak juga tersambung. Almira mencoba mencari kontak asistennya.
"Hallo, tuan Bagas." sapa Almira setelah
panggilan tersambung.
"Iya nyonya, ada yang bisa saya bantu?" jawab asisten Bagas.
"Maaf nyonya, tuan langsung ke rumah sakit setelah dari kantor,"
"Seharusnya sudah datang sejak setengah jam yang lalu. Apakah terjadi sesuatu nyonya?" asisten Bagas balik bertanya.
"Tolong bantu aku mencarinya. Keadaan Kakek memburuk, sementara kami tidak bisa menemukannya." ujar Almira dengan nada bergetar.
"Baiklah nyonya, jangan khawatir. Saya akan mencarinya sementara itu coba nyonya cari di sekitar rumah sakit." saran asisten Bagas.
"Ya, saya akan mencarinya. Terimakasih kasih asisten Bagas." Almira mengakhiri panggilannya.
Setelah panggilan berakhir, Almira mondar-mandir seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. Dengan perasaan yang masih gelisah, ia memejamkan mata berharap mendapatkan petunjuk. Tak lama kemudian, Almira membuka matanya dan berbalik menghampiri penjaga.
"Penjaga, tolong jaga Kakek sebentar. Sepertinya aku menemukan keberadaan tuan Husain," Almira hendak pergi.
__ADS_1
"Hubungi aku jika ada sesuatu." imbuhnya.
"Nona, tunggu!" baru saja melangkahkan kaki, penjaga menghentikan Almira.
"Ya, ada apa penjaga?" Almira menoleh.
"Maaf nona, nomor ...," ucap penjaga ragu-ragu.
"Oohh ..."
Almira pun memberikan nomor ponselnya, lalu beranjak pergi mencari Husain.
***
Kemarin pagi ia sempat datang kesini. Tempat dimana pertama kali Almira merasakan sisi menakutkan dari seorang Husain. Dan kali ini dia terpaksa datang kembali. Bau rokok yang tidak asing, dan putungnya yang bertebaran tanpa rasa iba itu menguar, menunjukkan seseorang sedang berada di sana. Namun, jelas sekali dengan suasana yang kurang baik. Almira mencoba sekuat tenaga untuk memberanikan diri, dan membodohi dirinya bahwa Husain adalah orang yang sangat baik.
Almira menengok sekeliling, lalu dilihatnya sosok lelaki yang tengah tertunduk lesu dengan tangannya yang masih mengapit sebuah rokok. Sekali lagi, lelaki itu menyadari kehadirannya. Ia menoleh pada Almira, namun hanya sekilas. Kilatan ketidaksukaan terlihat jelas dari caranya mengacuhkan Almira. Almira menautkan kedua ujung-ujung jarinya, lalu memainkannya untuk mengurangi rasa gugupnya.
"Tuan ...," pada akhirnya Almira memberanikan diri untuk menyapa. Namun sekali lagi, Husain tak peduli.
"Terjadi sesuatu dengan Kakek!" ujarnya dengan cepat dan lirih.
"Apa maksudmu?" mendengar nama Kakek, tatapan laki-laki itu sedikit melunak.
"Katakan dengan jelas, apa yang kau lakukan pada Kakek?" ia berteriak sambil mengguncang keras bahu Almira.
Almira yang kembali mendapatkan perlakuan tersebut, ia kembali tercengang. Ia ingin menjawab bahwa dia tidak melakukan apapun dan tidak mengerti apa-apa. Namun tatapannya yang kembali mengerikan, membuat kata-kata Almira terkunci sampai tenggorokan saja. Almira kembali membeku, sebelum akhirnya Husain mendorongnya begitu saja dan lagi-lagi meninggalkan Almira.
Almira yang tubuhnya terjerembab ke lantai, dia kesulitan berdiri setelah merasakan sedikit nyeri ditubuh bagian belakangnya. Almira memutuskan untuk beristirahat sejenak, ia mendekap lututnya sementara kepalanya tersembunyi disana. Gadis itu terisak, dia rapuh dan tidak bisa berbuat banyak. Bahkan untuk membela dirinya sendiri pun, dia tak mampu.
Di saat-saat seperti ini, bukankah sepasang suami istri seharusnya saling menguatkan? Tetapi Almira yang berniat menguatkan satu sama lain, justru kembali mendapatkan kalimat tuduhan yang sama sekali tak ia pahami. Mungkinkah karena dia miskin, lalu Husain berfikir bahwa Almira sengaja masuk kedalam kehidupannya? Dan berfikir bahwa Almira punya niat buruk terhadap keluarga Sanjaya? Hal itu terus menari-nari dibenak Almira.
Jika Almira punya pilihan, dia bahkan akan memilih untuk tidak mengenalnya sama sekali. Tapi sepertinya takdir dan kehidupan sudah bekerja sama untuk mempermainkan dirinya.
__ADS_1
Tuhan, apa salahku? Hati Almira menjerit ...!