KESEMPATAN KEDUA: Istri Pilihan Kakek

KESEMPATAN KEDUA: Istri Pilihan Kakek
DIBAWA PAKSA


__ADS_3

Almira pernah mendengar ada sebuah pepatah yang mengatakan," manusia yang berencana, tetapi tetap Tuhan yang menentukan."


Dan itulah yang saat ini tengah terjadi padanya. Apa yang sudah dia rencanakan dengan matang sebelumnya, nyatanya tak berjalan demikian. Takdir sepertinya lebih suka mempermainkan. Kenyataan tak sesuai dengan yang dia harapkan. Sama seperti keinginannya untuk tak lagi terlibat dengan pewaris utama Adijaya grup, beberapa hari lalu.


Nyatanya, di sinilah dia sekarang berada. Di dalam sebuah mobil yang sama, yang beberapa hari lalu mengantarnya pulang. Malangnya, sekarang ini gadis cantik itu tidak mengetahui hendak dibawa ke mana. Tadi, pagi-pagi sekali seseorang mengetuk pintu apartemennya, lalu membawanya pergi tanpa permisi. Kesal, sudah tentu pasti.


"Jangan banyak bertanya!" Begitu bentak Zein ketika Almira dengan wajahnya yang masih tertekuk menanyakan kemana pria itu hendak membawanya. Tak ingin berdebat, Almira pun memilih diam.


Mobil melaju cukup lama, sebelum akhirnya berhenti di suatu tempat. Almira bernafas lega ketika melihat orang di sampingnya keluar dari dalam mobil. Satu ruangan dengan beruang kutub selama lebih dari satu jam benar-benar terasa melelahkan.


Almira mengamati sekeliling, barangkali dia mengenali keberadaannya. Ada sebuah resto cepat saji tidak jauh di seberang jalan, sayangnya Almira masih sangat asing dengan daerah itu. Wajar saja, dia hanya tahu belajar, bekerja dan rebahan.


" Tunggu di sini! Jangan ke mana-mana!" perintah Zein dengan muka masamnya. Setelahnya, pria itu menutup pintu dan pergi meninggalkan Almira, tanpa menunggu jawabannya.


Almira terdiam. Dia memperbaiki duduknya, lalu menghembuskan nafas dengan kesal.


"Dasar makhluk otoriter! Bukankah yang seharusnya pantas marah itu aku?" ucapnya, merasa tak terima.


Almira menengok kesamping dan melihat pria tinggi semampai itu tengah berjalan dengan gagahnya, memasuki resto cepat saji yang tadi dilihatnya. Tubuh tinggi, punggung tegap, wajah rupawan dan memiliki segalanya. Benar-benar idaman semua wanita, kecuali ....


"Sayang sekali. Tampan tapi galak. Pantas saja nggak laku. Siapa juga yang betah hidup serumah dengan manusia tak berperasaan seperti itu," omelnya.


Jika saja Almira belum mengenali sifat Zein yang sebenarnya, mungkin dia juga akan terperdaya seperti wanita-wanita di luar sana. Dia hanya berharap wanita yang kelak menikahinya akan memiliki kesabaran tingkat malaikat. Yang penting, bukan setingkat malaikat Israfil.


Beberapa menit berlalu, dan pintu kemudi pun kembali dibuka. Pria tampan berwajah dingin itu nampak menenteng sekotak makanan serta segelas cup minuman. Dia masuk, duduk dengan santai, lalu menaruh makanan itu dipangkuan Almira tanpa berkata apa-apa. Lagi-lagi, Almira dibuat terkejut oleh sikapnya.


"Ini ... untukku?" Almira menunjuk benda di pangkuannya, bertanya tak percaya.


Zein menutup pintu mobil, lalu menoleh padanya. "Kamu belum sarapan," jawabnya.


'Jangankan sarapan. Cuci muka saja belum!' batin Almira.


Almira menatap makanan di pangkuannya. Matanya berbinar seketika. "Setidaknya, dia masih memiliki hati nurani," gumamnya lirih.

__ADS_1


"Ngomong apa?"


Kalimat itu membuatnya terperangah. Dia menatap Zein dengan mulut menganga.


'Tidak mungkin pendengarannya setajam itu, kan?'


Zein merasa lucu melihat tingkah absurd wanita di sebelahnya. Namun, dia tetap memasang wajah poker, tidak mau menunjukkannya.


"O-oh. It-itu. Kamu benar. Aku belum sarapan. Ya, belum sarapan," balasnya merasa agak bersalah.


Dia gegas membuka kotak makan itu, mengambil isinya dan memasukkan ke dalam mulutnya, untuk mengalihkan perhatian Zein. Almira berpikir, burger ini rasanya lumayan enak.


Baru masuk dua suapan, Almira kembali tertegun. Dia baru ingat bahwa pria otoriter itu hanya membeli satu porsi sarapan saja. Apa pria di sampingnya ini sudah sarapan?


Agak ragu, tetapi dia akhirnya bertanya," apa ... kamu sudah sarapan?" Dia menatap Zein.


Zein yang hendak kembali melajukan mobil, menghentikan aktifitasnya sejenak. Dia membalas tatapan Almira, untuk sesaat keduanya beradu pandang. Almira gegas mengalihkan tatapannya. Di tatap makhluk galak seperti itu, detak jantungnya seperti tengah berlari maraton.


"Kamu mengkhawatirkan ku?" tanyanya dengan wajah menyeringai. Dia melihat pipi gadis di hadapannya bersemu, membuat Almira tampak lebih lucu. Zein menyukainya.


Wajah Zein seketika memerah. Dia tidak mungkin pingsan di tengah jalan hanya karena belum sarapan, bukan?


"Tidak tahu terimakasih!" Zein melajukan kendaraan dengan kesal. Almira mengabaikannya.


Sebenarnya perlakuan Zein membuat Almira merasa tersentuh. Namun dia malas mengakuinya karena sikap Zein yang keseringan angkuh. Jujur, selama dua puluh satu tahun dia hidup dan mulai memahami tentang pahit manisnya kehidupan, tidak seorangpun yang pernah memperhatikannya, kecuali ibu panti.


Eh, tunggu. Masih ada Damar Wiryawan. Ya, harusnya pemuda itu juga masuk dalam hitungan.


***


Mobil yang mereka tumpangi akhirnya berhenti juga. Almira mengedarkan pandangannya ke luar dan terkejut setelah melihat gedung di hadapannya. Sebuah gedung yang di depannya bertuliskan kata-kata besar 'HARMONI MEDICAL.'


Meski belum pernah ke sana, Almira mengenali tempat itu. Rumah sakit pusat kota. Katanya, semua yang bekerja di sini adalah orang-orang dengan spesialis terbaik. Biaya perawatannya sangat mahal. Masalahnya, kenapa Zein mengajaknya ke sini?

__ADS_1


"Kenapa kita ke sini?"


Zein meliriknya sekilas. Dia masih marah, jadi malas untuk menjawab.


"Turun!" perintahnya, tanpa memedulikan keengganan Almira.


Almira hanya bisa menurut. Zein ke luar, dan Almira mengikutinya. Pria itu melemparkan kunci mobilnya pada seorang jukir, seolah sudah terbiasa melakukannya. Lalu pemuda itu membawa Almira memasuki gedung rumah sakit.


Almira mengernyitkan dahi. Melihat sikapnya, berarti Zein sudah sering ke tempat ini. Tapi, apa yang dia lakukan di tempat seperti ini? Tidak mungkin pria ini memiliki masalah kesehatan, kan? Kecuali ....


Deg! Sebuah nama tiba-tiba muncul di pikiran Almira, membuat hatinya mulai tak tenang. Dia ingat sejak akhir pekan kemarin Kakek belum pernah menghubunginya. Sebelumnya Almira tidak banyak berpikir. Mungkin saja Kakek mulai menyadari tentang status mereka yang tidak setara. Jadi, orang tua itu perlahan mulai menghindarinya. Almira sempat sedih ketika memikirkan kemungkinan itu. Namun ....


Bruuk!


"Auuh ...." Almira memegangi hidungnya.


"Sepertinya matamu benar-benar tidak berfungsi dengan baik," ejek Zein.


Almira yang sekali lagi hidungnya terbentur dada bidang itu, menatap pemiliknya dengan jengkel. "Bisakah kamu tidak berhenti tiba-tiba!" bentaknya.


"Pakai matamu ketika berjalan!" Zein memelototinya, tak mau kalah.


Almira masih mengusap hidungnya yang terasa pengar. "Kenapa kita di sini?"


Meski sudah menebak kemungkinannya, dia tetap bertanya.


"Kakek yang memintaku membawamu. Jangan membicarakan hal-hal yang akan memicu jantung kakek." Zein memperingatkannya.


Almira mengangguk. "Aku mengerti."


Dia merasa sedih, tentu saja. Selama ini, kakek sudah dia anggap seperti kakeknya sendiri. Lagipula, dia orang kedua yang Almira miliki setelah ibu panti. Maklum, Almira orangnya lebih suka menyendiri. Dia tidak suka berbaur, karena keramaian membuatnya merasa tak nyaman.


Zein mengangguk puas dengan jawaban Almira. "Ayo kita pergi ke ruangan kakek."

__ADS_1


Almira pun mengangguk dan mengikutinya. "Padahal kakek tampak sehat," sesal Almira.


__ADS_2