
Tanpa kepercayaan dan sebuah keyakinan, hidup ini terasa kosong. Hampa, tanpa harapan, tanpa impian. Mimpi tak akan pernah menjadi pasti, tanpa adanya dorongan kuat untuk mewujudkan itu semua. Hidup tanpa tujuan ibarat daun yang mengering. Terbang bebas, mengikuti kemana arah angin meniupnya. Pada akhirnya, dia tak lebih dari seonggok sampah.
Minggu ini cuaca cerah. Secerah hati Almira yang terisi ribuan harapan. Meski harapan itu tak pasti, ia tetap optimis bahwa setiap kebersamaan memiliki tujuan. Hanya saja, mungkin jalannya berbeda-beda. Almira tengah memakai baju santainya. Seperti yang dijanjikan, Husain hendak mengajaknya jalan-jalan.
"Kita berangkat." ujar Husain.
Almira pun mengangguk mengikutinya. Mobil Maybach hitam yang nampak mewah itu terparkir dihalaman, menunggu tuannya. Sepasang pasutri itu lalu memasuki mobil. Husain berada dibelakang kemudi, sementara Almira duduk manis disampingnya. Husain yang mengenakan shirt press body berwarna abu-abu itu nampak lebih sexy. Sementara Almira tengah menggunakan kaos oblong dengan warna senada, dipadukan dengan celana jeans panjang. Rambut hitamnya dikuncir kuda dengan polesan sederhana, warna lembut dibibirnya membuatnya nampak segar dan lebih muda. Dia terlihat seperti gadis SMA.
Siapapun yang melihat pasangan itu pasti akan merasa iri. Mereka seolah diciptakan untuk saling melengkapi. Tapi hati manusia tiada yang tahu. Terkadang apa yang kita pikirkan tak sesuai dengan kenyataan. Mobil melaju dengan santai. Suasana yang canggung, membuat Almira tak tahan untuk memecah keheningan.
"Kita pergi kemana?" tanyanya.
Husain menoleh, lalu tersenyum tipis.
"Nanti kamu juga tahu,"
Jawaban yang sungguh menyebalkan bukan. Ibarat menebak sesuatu yang tak pernah pasti. Melihat Almira menekuk muka, Husain merasa tak enak hati. Akhirnya sebuah ide muncul dipikirannya.
"Kalau bosan, nyalain musik aja." sarannya.
Almira meliriknya sebentar, lalu mendengus pasrah. Tangannya berkutat untuk mencari saluran musik yang ia inginkan. Tak lama kemudian, sebuah lagu lama berjudul "She's Gone" milik "Steel Heart" mengalun indah menemani perjalanan mereka. Almira nampak menikmati lagu itu. Ia bahkan memutarnya berulang kali tanpa merasa bosan. Lagu itu menceritakan tentang perginya seorang wanita dari kehidupan seseorang, karena kesalahan orang itu sendiri. Menyadari wanita itu sangat berarti, orang yang ditinggalkan berharap agar ia kembali, meski itu tak akan mungkin.
Mendengar tiap bait lagu yang menggema di telinganya, entah mengapa membuat hati Husain gundah. Ada perasaan yang menusuk pelan ke dasar hatinya. Hal itu membuat dadanya terasa sesak. Dalam bayangan, ia memikirkan jika itu terjadi padanya karena ia mengambil langkah yang salah. Ia menggelengkan kepalanya, berusaha menyanggah pemikiran itu.
Lihatlah, betapa naifnya orang ini !
__ADS_1
Terkadang, ketidakberdayaan membuat hati seseorang menjadi keras. Seandainya Husain mau dan berusaha memahami satu sama lain, mungkin keadaannya akan lebih baik. Tapi, sekali lagi, sifat angkuh dan keegoisan memaksa kita untuk tetap bernapas meski dalam keadaan tercekik. Husain kekeh pada pendirian, yang akan menghantarkannya pada sudut penyesalan yang terdalam.
Ketika sinar mentari mulai menerobos melalui kaca mobil, saat itu juga deru mesin berhenti. Almira yang terlalu menikmati musik yang diputarnya, tanpa Husain sadari ternyata tengah terlelap. Husain mematikan musiknya, sejenak memandangi wajah putih lembut nan polos itu. Jauh di lubuk hatinya, ia mengagumi sosok yang ada dihadapannya. Keraguan demi keraguan semakin merasuk kedalam hatinya. Namun, dendam akan kesalahpahaman tak juga surut dalam dirinya.
Husain mencoba membangunkan Almira dengan menepuk-nepuk pelan pipi Almira.
"Hey ... bangun. Kita sudah sampai." ujarnya lembut.
Almira mengerjap. Mata cantik itu perlahan terbuka. Ia berusaha memupuk kesadarannya sebelum akhirnya membelalakkan matanya.
"Wah ... pantai !" Seru Almira dengan girang.
Ia langsung membuka pintu mobil dan berlari riang layaknya anak kecil yang mendapatkan permen kapas. Energinya seolah langsung full begitu saja. Sudut bibir Husain melengkung. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah menggemaskan Almira. Gadis itu nampak melepaskan sandalnya, lalu menghentakkan kakinya di tanah berpasir. Gadis itu nampak tersenyum ceria, sambil sesekali melebarkan kedua tangannya dan berputar-putar. Husain terus mengamatinya dari kejauhan, dan itu membuat hatinya menghangat.
"Setidaknya, aku tidak hanya akan menyelipkan luka. Tapi aku juga memberimu sedikit kebahagiaan." gumam Husain.
Setelah Almira nampak mendudukkan dirinya pada sandal yang dilepasnya tadi, Husain pun menghampirinya. Ia duduk di samping Almira dengan lututnya setengah ditekuk. Almira berada diposisi yang sama, dengan kedua tangannya memeluk lutut.
"Kamu senang?" tanya Husain. Pandangannya lurus menatap laut lepas yang sedang bergejolak. Ombak melambai-lambai memainkan sihirnya, seolah mengajak orang yang menatapnya untuk bermain bersama.Lalu lalang pengunjung yang sesekali lewat didepannya, tak membuat mereka terganggu. Almira nampak tersenyum lebar mendengar pertanyaan Husain.
"Ya, tentu. Aku sangat senang. Sudah lama sekali aku tidak pergi ke pantai. Terimakasih telah membawaku ketempat yang indah ini. Aku benar-benar menikmatinya." ujarnya dengan berbinar-binar.
Almira nampak begitu bersemangat. Senyuman tak pernah luntur dari wajah cantik gadis itu.
"Anggap saja ini hadiah pernikahan kita. Karena aku terlalu sibuk dan tidak bisa membawamu ke tempat yang lebih baik."
__ADS_1
Husain berusaha menunjukkan penyesalannya. Almira terkesima oleh jawaban Husain. Ia meliriknya sekilas, lalu tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Ini sudah lebih dari cukup. Bagiku tidak ada yang lebih indah dari semilir pantai, dan aroma laut yang begitu menenangkan." ujarnya bersemangat.
Husain tertegun. Ia tak menyangka wanita disampingnya ini memiliki jiwa yang memang sederhana. Jika biasanya wanita-wanita diluar sana terkesan merengek dan meminta sesuatu yang bahkan diluar kewajaran, Almira justru menikmati setiap perjalanan yang singgah di hidupnya. Bukankah ia telah diberi sebuah keberuntungan yang luar biasa? Akankah ia memikirkan kembali rencananya yang menjijikkan itu?
"Ya, mungkin aku bisa memikirkannya." ujarnya dalam hati.
"Bolehkah kita disini hingga senja tiba? "
Perkataan Almira membuyarkan lamunan Husain.
"Kau tahu, senja di sore hari yang muncul diujung pantai terlihat sungguh-sungguh indah. Tapi, jika kamu keberatan aku tak akan memaksa." lanjutnya dengan sedikit permohonan.
Cup ... tiba-tiba sesuatu yang dingin dan kenyal menempel di bibirnya. Almira terkejut, lalu memundurkan kepalanya.
"Tentu, kita akan melakukan apapun yang kamu mau." ujar Husain tanpa merasa bersalah.
Husain tersenyum memandang wanita yang sedang mematung dihadapannya. Emosinya begitu rumit. Kali ini saja, ia ingin serakah. Ia ingin melihat mentari dihadapannya yang selalu bersinar itu. Ia ingin menikmati sisa-sisa waktu yang masih ada sebelum akhirnya ia benar-benar kehilangan binar cahaya yang akhir-akhir ini membuat kehidupannya lebih cerah. Almira nampak girang mendengar jawaban Husain. Hatinya berbunga-bunga dan tanpa sadar ia memeluk lelaki yang ada dihadapannya. Husain membalas pelukannya dengan lembut.
Mereka menikmati setiap momen yang tercipta hari itu. Mulai dari perbincangan, maka siang, beristirahat sejenak di penginapan terdekat, hingga akhirnya sore yang dinanti pun tiba. Almira menyeret tangan Husain dengan tidak sabar. Ia ingin segera sampai dan menyaksikan senja yang berwarna jingga setengah oranye itu. Husain hanya pasrah diperlakukan seperti itu. Hingga akhirnya, ia mensejajarkan diri dan memeluk pinggang Almira dengan posesif. Almira menoleh pada laki-laki yang nampak cuek itu. Jantungnya berdegup kencang, senyumnya merona dan tampak malu-malu.
Pada akhirnya, mereka sampai dipinggir pantai. Almira duduk bersila tak memperdulikan dress selutut yang tengah dipakainya. sementara Husain duduk tepat dibelakangnya, dengan sepasang tangannya yang mengalung dileher Almira. Almira nampak tersenyum malu-malu.
Sore itu pukul 5 tepat. Senja sore itu nampak begitu indah di mata mereka berdua. Bahkan lebih indah dari yang mereka bayangkan sebelumnya. Semua itu tak lain karena perasaan mereka yang juga membuncah karena getaran-getaran cinta. Setelah merasa puas, akhirnya Husain memutuskan untuk mengajak Almira kembali ke penginapan.
__ADS_1
"Mari kembali ke penginapan." pinta Husain sambil mengulurkan tangan. Almira pun mengangguk dan menerima uluran tangan itu. Husain menggenggamnya erat, dan mereka berjalan bersama menuju penginapan .