KESEMPATAN KEDUA: Istri Pilihan Kakek

KESEMPATAN KEDUA: Istri Pilihan Kakek
Kepergian


__ADS_3

Rumah tangga membutuhkan pondasi yang kokoh dan kuat layaknya sebuah bangunan.


Jika ada satu saja unsur yang terlupakan, maka tentu saja akan rapuh. Pondasi seperti kepercayaan, keyakinan, tanggung jawab dan saling mengerti serta memahami satu sama lain sangatlah penting untuk suatu hubungan.


Lalu, supaya lebih indah tentu saja dibutuhkan cinta dan kasih sayang. Cinta tanpa adanya kasih sayang hanyalah sebuah kiasan semu. Karena cinta dan kasih sayang merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.


Namun, semua hal itu tak didapatkan oleh Almira. Karena perjodohan dan rasa ibanya terhadap Kakek Hadi, dia terpaksa harus masuk dalam dunia tuan muda Sanjaya, yang tak pernah dipikirkan sebelumnya. Ia pun dipaksa harus beradaptasi dengan keadaan yang tidak pernah ia bayangkan. Ini sulit ! sungguh sangat sulit ! namun Almira terlanjur masuk, dan mau tak mau harus menerima kenyataan takdirnya.


Sementara Husain pergi keruangan Kakek dengan tergesa-gesa. Almira masih berjuang keras untuk menguatkan hatinya, dan mencoba memahami sifat labil suaminya. Ia telah memilih jalan ini, maka apapun yang terjadi dia tetap harus kuat untuk melangkah.


Di sinilah Husain sekarang.


Di depan ruang VVIP itu, dia mulai melihat seorang dokter keluar dari sana. Husain langsung beranjak menghampirinya.


"Dokter ! Bagaimana keadaan Kakek?" tanyanya dengan nada khawatir. Dokter itu memandang Husain dengan mata berkabut. Ia sendiri masih terlihat gemetar. Ia ragu dan takut untuk mengatakan yang sebenarnya.


Melihat dokter yang hanya terdiam dengan raut kekecewaan, Husain mulai hilang kesabaran.


"Katakan, apa yang terjadi?" Husain berteriak sambil mengguncang dokter tersebut. Matanya memerah, sorot matanya menajam Seolah dapat menenggelamkan siapapun yang berada dihadapannya.


"Tuan, kami sudah berusaha sebaik mungkin. Maafkan kami, Tuhan berkehendak lain." ujar dokter dengan bergetar.


Dokter serta para perawat lain yang sudah berada di dekat Husain, mereka hanya menunduk tak berani bicara apalagi menatapnya.


"Katakan, semua ini bohong!" Husain berteriak tak percaya.


Dia memandang mereka satu persatu, dokter serta perawat yang ada disana. Namun, hening. Tak satupun menjawab. Tak perlu di pertanyakan lagi, semuanya sudah jelas. Husain bahkan belum sempat melihatnya untuk yang terakhir kali.

__ADS_1


"Aakkhh ... !" Husain berteriak, frustasi. Dia menendang benda apapun yang ada di sekitarnya, sebelum akhirnya melangkah memasuki ruangan kakek. Dia melangkah dengan tubuh yang bergetar.


Sementara Almira yang sedari tadi mendengar percakapan mereka, ia menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya. Tangisnya kembali pecah, ia duduk bersandar pada tembok sambil terus terisak. Ia tak menyangka secepat ini kakek akan pergi. Orang yang akhir-akhir ini memberi warna dan kasih sayang, kini tinggal-lah sebuah kenangan. Hidup dan mati seseorang memang tidak bisa dihindari. Tidak bisa ditawar ataupun di prediksi. Yang bisa kita lakukan sebagai manusia hanyalah menerima kenyataan dengan lapang dada. Yang menjadi miliknya, sudah semestinya kembali padanya.


Setelah cukup puas menangis, Almira yang lemah berusaha berdiri dengan sisa-sisa tenaganya. Ia berjalan perlahan untuk menyusul suaminya. Ia memegang gagang pintu dan membukanya perlahan. Hal pertama yang di lihatnya adalah, isak tangis suaminya sambil memeluk erat tubuh kakek. Almira memberanikan diri untuk mendekatinya, dengan air mata yang sesekali menetes.


Baru saja hendak sampai, Husain yang menyadari kedatangannya menatapnya dengan tajam.


"Apa kau puas sekarang? hah ... katakan, apa kau sudah puas!" teriak Husain lantang. Seolah Almira lah yang bersalah atas kejadian ini. Tatapan kekecewaan terlihat jelas dimatanya. Ia terus menyalahkan Almira yang tidak tahu apa-apa.


"Tuan, jangan seperti ini. Aku juga kehilangan ... aku kehilangan ...!" Almira menangis, bibir dan suaranya bergetar. Menunjukkan dengan jelas bahwa wanita itupun tak kalah terpukul.


Ia memberanikan diri untuk memeluk suaminya. Meski awalnya menerima penolakan, namun Almira tak putus asa. Ia tetap mencoba memeluknya dengan erat. Hingga tanpa sadar, Husain luluh dalam pelukan istrinya. Tangisnya pecah disana. Dia bahkan lupa dengan egonya. Ia merasa pelukan itu adalah tempat ternyaman untuk menumpahkan segala perasaan sakitnya. Almira memeluknya erat, sambil sesekali mengusap lembut kepala suaminya. Ia tidak peduli dengan bajunya yang basah, dia mengabaikan semuanya asal ia bisa ikut meringankan beban suaminya.


Untuk saat ini, inilah yang di butuhkan Husain. Seseorang untuknya bersandar. Dan itu adalah Almira.


Di pemakaman


Meski dalam keadaan berkabung, dua orang insan itu masih nampak serasi. Husain dan Almira memakai pakaian hitam senada yang telah disiapkan oleh pelayan. Rambut Almira yang tertutup selendang dan matanya yang sembab, tidak menghilangkan kecantikan alami dalam dirinya. Begitupun tuan Husain. Meski tampak terpukul, namun kesan tampan masih tetap miliknya.


TPU yang biasanya sepi itu, kini di padati oleh ribuan pelayat. Beberapa di antaranya adalah kolega dan rekan-rekan bisnis Sanjaya group. Rangkaian bunga berjejer rapi, baik di pintu pemakaman maupun di kediaman Sanjaya.


Hari ini awan kelabu, gerimis datang perlahan. Namun, pemakaman berjalan dengan hikmat. Hingga pemakaman selesai, tinggal-lah Husain dan Almira disana. Sesekali Almira mencoba mengusap lembut punggung Husain untuk memberi sedikit kekuatan. Setidaknya, hanya itulah yang mampu dilakukan Almira. Ia tahu kondisi suaminya dalam keadaan terpukul. Namun jauh di lubuk hatinya, Almira juga memahami bahwa Husain adalah lelaki yang memiliki jiwa yang tegar.


"Pulanglah dulu. Sopir akan mengantarmu." ujar Husain, setelah menyadari Almira masih ada disisinya.


Almira pun mengangguk. Ia tahu suaminya sedang butuh privasi. Sebelum benar-benar pergi, dia kembali mengusap lembut punggung suaminya lalu meninggalkan nya menuju sopir yang telah menunggunya.

__ADS_1


.


Mobil mewah yang mengantar Almira perlahan memasuki gerbang. Istana yang berupa sebuah mansion itu nampak besar dan megah. Di sekelilingnya, tumbuh pohon-pohon Cemara dan taman yang luas dengan berbagai macam bunga. Suasana yang sangat sejuk dan nyaman. Namun, hal itu tidak dirasakan Almira. Saat ini tidak ada keindahan apapun yang mampu menenangkan hatinya. Ia hanya ingin cepat sampai dan mengistirahatkan tubuhnya.


Setelah Almira turun, seorang pelayan wanita berumur 40 tahunan tengah berdiri membukakan pintu. Ia membungkuk hormat setelah Almira memasuki mansion. Almira tersenyum tipis mendapatkan perlakuan tersebut.


"Bibi, tidak usah terlalu formal padaku. Anggaplah aku ini anakmu sendiri." ujar Almira. Ia menegur pelayan tersebut dengan tersenyum.


"Ba - baik nyonya." jawab pelayan. Ia masih tertegun. Pelayan itu tidak menyangka, akan di sambut dengan baik oleh nyonya barunya.


"Ku bilang, perlakukan aku seperti anakmu." tegur Almira, sambil menggenggam tangan pelayan tersebut. Almira tersenyum hangat padanya


Pelayan itu terkejut, namun akhirnya ia mengangguk. Setelah itu, pelayan itu mengantarkan Almira ke kamar utama.


"Oh ya, nama Anda siapa Bi?" tanya Almira dengan sopan.


"Saya, pa - panggil saja bibi Murni, nyonya." jawab pelayan, mengenalkan dirinya dengan gugup.


"Baiklah, bibi Mur. Kalau begitu Almira masuk dulu." pamit Almira, sambil memutar kenop pintu.


"Baik nyonya, panggil saya jika butuh sesuatu." kata pelayan dengan sopan.


Almira mengangguk sambil tersenyum, lalu ia masuk dan menutup pintu. Jujur, hatinya masih diliputi kekhawatiran akan suaminya.


Sedangkan, di luar kamar tersebut. Bibi Murni masih diam tertegun.


"Ternyata benar, apa yang pernah dikatakan tuan besar. Wanita itu benar-benar berhati mulia. Tuan muda, anda sungguh sangat beruntung." ujarnya dalam hati.

__ADS_1


Di pemakaman, lelaki tampan bertubuh tegap itu perlahan berdiri meninggalkan per-istirahatan terakhir kakeknya. Ke-engganan terlihat jelas dari raut wajahnya. Namun, takdir yang sudah ditentukan tak bisa dibantah. Ia harus menerimanya dengan lapang dada.


__ADS_2