
"Baiklah. Karena kalian tidak saling kenal, biarkan kakek yang memberi kalian perkenalan," kata Kakek dengan penuh semangat.
"Mira, ini cucu Kakek. Satu-satunya cucu laki-laki yang pernah Kakek ceritakan padamu," ungkapnya dengan bangga.
Zein mengernyit mendengarnya. 'Jadi, kakek sering bercerita tentangku pada perempuan ini?' Dia melirik pada Almira, yang kini tengah tersenyum dan mengangguk padanya.
"Halo, Tuan muda Adijaya. Saya Almira," salamnya dengan anggukan ringan dan sopan.
"Hemm." Zein hanya menjawabnya dengan anggukan ringan. Tidak terlihat antusiasme sama sekali dari sikapnya. Almira tidak heran, dari pertemuan pertama dia sudah bisa menebak bahwa pria dingin ini tidak mudah untuk didekati. Lagipula, dia juga tidak berminat untuk mendekati Zein.
Melihat interaksi yang kaku dari kedua orang yang disayanginya, Kakek pun hanya bisa menepuk dahi. "Kenapa jadinya seformal ini?"
"Astaga, Zein. Ini bukan pertemuan bisnis. Kakek memintamu datang untuk berterima kasih pada Mira. Berkat Mira, sampai detik ini kamu masih bisa melihat kakekmu."
Almira tersenyum menanggapi celotehan Kakek. Dia sudah terbiasa dengan sikap kakek yang terkadang terkesan berlebihan.
"Kakek terlalu berlebihan. Almira hanya tidak sengaja berada di tempat kejadian."
Seringai Zein hampir tidak terlihat. 'Tidak sengaja, dia bilang? Baiklah, tunggu sampai aku membongkar kedokmu yang sesungguhnya. Perempuan munafik!'
"Jangan khawatir, Kakek. Aku punya caraku sendiri untuk berterima kasih padanya." Zein berkata penuh makna.
Almira menyadari ada yang tidak beres dengan kata-kata Zein, sayangnya kakek justru menanggapinya berbeda. Almira melirik pria dingin di hadapannya itu, dia merasa seolah Zein memiliki kebencian terhadapnya. Yang membuatnya bingung, kapan dia pernah menyinggung pria ini?
Kakek menatap keduanya dan tertawa bahagia. Sampai pintu ruangan terbuka dan dua orang wanita berpakaian pelayan datang mendekat, barulah Kakek menghentikan kegembiraannya. Kakek telah memesankan makanan kesukaan masing-masing. Untuk orang-orang yang disayanginya, dia benar-benar orang tua yang penuh perhatian. Hal inilah yang sering membuat hati Almira menghangat. Dia merasa seperti memiliki keluarga.
"Permisi. Ini pesanannya, Tuan." Kedua pelayan itu dengan sopan menata semua pesanan ke atas meja.
"Baiklah. Katakan pada kakek jika ada menu lain yang kalian inginkan," tawar Kakek setelah makanan selesai disajikan, dan pelayan keluar dari ruangan.
__ADS_1
"Kakek, ini sudah cukup." Zein menjawab dengan singkat.
"Benar, kakek. Ini sudah terlalu banyak." Almira pun ikut menimpali.
"Ha ha ha! Kalian benar-benar kompak. Baiklah, kalau begitu ayo kita mulai. Sayang sekali kalau sampai dingin," ajak kakek kemudian.
Keduanya pun mengangguk mengiyakan. Kakek mulai memasukkan makanan ke dalam piringnya, diikuti oleh Zein lalu Almira. Mereka benar-benar terlihat seperti sebuah keluarga bahagia.
Di saat mereka makan, suasana mendadak berubah hening. Tak ada satupun percakapan kecuali denting sendok dan garpu yang sesekali beradu memecahkan kesunyian. Zein sesekali melirik pada Almira, dan alisnya terkadang berkerut. Cara makan Almira yang sangat anggun dan rapi membuatnya takjub.
'Bukankah kakek mengatakan bahwa dia berasal dari sebuah panti asuhan? Sikapnya ini memperlihatkan bahwa dia terlahir dari keluarga bangsawan.'
Memikirkannya, Zein lalu menaikkan sudut mulutnya. 'Jika ingin menipu, seharusnya lakukan dengan benar. Jangan setengah-setengah.'
Zein makan sembari sibuk dengan pikiran buruknya terhadap Almira. Dia tidak percaya bahwa gadis di hadapannya benar-benar dibesarkan di panti asuhan, seperti yang sering kakek ceritakan. Dalam benaknya, Zein selalu beranggapan bahwa Almira adalah mata-mata yang sengaja dikirim oleh saingan bisnisnya. Damar Wiryawan.
***
Sinar mentari masih menemani bumi dengan sabarnya. Saat ini teriknya seakan tengah berada tepat di atas kepala. Sesekali cahaya itu menerobos masuk melalui kaca depan mobil mewah yang saat ini sedang melaju dengan santainya. Menerangi sepasang pemuda yang saat ini tengah duduk berdampingan di kursi kemudi. Seorang pria tampan berwajah dingin bersama seorang wanita berparas cantik, sungguh gambaran yang sempurna. Sayangnya, mereka berada di arah yang berlawanan.
Almira menopang kepalanya dengan sebelah tangan. "Ternyata benar. Bersama dengan orang yang membosankan, satu menit terasa satu jam," gumamnya lirih.
"Apa yang kamu gumamkan, hem? Apa kamu diam-diam mengutukku?" Zein akhirnya bersuara.
Almira mana mau mengaku. Dia menatap Zein sembari mengerutkan dahi. Ada apa dengan orang ini? Apa karena Kakek memaksanya mengantarku? Batinnya.
"Tuan Zein, apa di otak anda hanya ada pikiran-pikiran negatif saja? Anda bisa menolak kakek, bukan, alih-alih memaksakan diri dan marah-marah padaku? Toh aku tidak memintamu mengantarku."
Almira membela diri. Lagipula, jika bukan karena ingin menghargai Kakek niat baik kakek, Almira pasti lebih memilih pulang dengan menggunakan taksi.
__ADS_1
Zein akhirnya terdiam. Dia sendiri tidak mengerti, kenapa tadi dia tidak menolaknya saja? Jika dia mau, bisa saja dia menggunakan beberapa alasan untuk tak mengantar perempuan ini pulang. Namun nyatanya dia justru tidak mengatakan apa-apa.
Suasana kembali hening. Keduanya tengah sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Zein terlihat tenang, tetapi nyatanya pikirannya saat ini benar-benar rumit. Sementara Almira, dia hanya berharap agar kedepannya tidak pernah bertemu lagi dengan makhluk dingin ini.
Dalam hati dia meratap," kasihan sekali nasib orang yang jadi istrinya nanti."
Berhadapan dengan orang yang irit bicara dengan temperamen dingin seperti itu, benar-benar membutuhkan kesabaran ekstra. Entah mengapa memikirkannya membuat Almira merasa iba pada calon istri Zein. Gadis itu terlalu asik dengan lamunannya, hingga tidak menyadari bahwa mobil telah berhenti sedari tadi.
Zein yang tidak merasakan adanya pergerakan dari samping, dia pun menoleh. Dipandanginya gadis cantik yang tengah melamun itu, dan sudut bibirnya menyunggingkan seulas senyum. Hingga suara helaan nafas lolos dari mulut Almira, barulah dia bersuara.
"Almira!" panggilnya. Gadis itu tak menyahut, sepertinya masih terhanyut.
"Almira Adinata!" teriak Zein, yang akhirnya membuat Almira terlonjak. Gadis itu melotot sembari mengelus dadanya.
"Apa kau tidak waras?!" balasnya.
Zein yang geram menjitak dahi mulus Almira. "Aku memanggilmu dari tadi! Aku tidak akan berteriak jika kamu tidak sibuk dengan duniamu sendiri!" sindirnya, membuat Nazara yang sedang mengusap bekas jitakan Zein meringis malu.
"Masih tidak mau turun!" geram Zein.
Almira memandang sekeliling dan menyadari bahwa dia sudah berada di bawah apartemennya. Gadis itu buru-buru meraih tasnya, tanpa bicara dia langsung membuka pintu. Dia turun dan berbalik hendak berterima kasih, tetapi Zein tidak memberinya kesempatan untuk berbicara.
"Tutup pintunya!"
Almira memberengut kesal karena sikap Zein. Niatnya untuk berterima kasih akhirnya lenyap begitu saja. Dia menutup pintu dengan keras, dan langsung berbalik pergi tanpa sepatah kata. Peduli setan jika pria itu marah membabi buta padanya.
Zein tidak memedulikan sikap Almira padanya. Dia langsung melajukan mobilnya dengan kencang, memilih pergi dari sana.
"Aku tidak yakin orang seperti itu benar-benar cucu Kakek Hadi," omel Almira setelah mobil itu berlalu dari pelupuk mata.
__ADS_1