
"Kamu tidak mampir?" Kakek terlihat kecewa. Sudah berkali-kali dia mengajak gadis itu untuk ikut masuk, tetapi Almira selalu menolaknya.
Almira tersenyum canggung. Bukan tidak ingin lagi. Namun dia tidak mau terlibat lebih jauh lagi dengan keluarga Adijaya. Dia tahu diri, juga memahami bahwa kehidupan orang kaya jauh lebih rumit dari kelihatannya. Cukup kakek Hadi saja, jangan ada yang lainnya.
"Kakek, Almira harus pulang," balasnya dengan nada menyesal. "Masih banyak yang harus Almira lakukan di rumah. Mungkin lain kali," imbuhnya, beralasan.
Kakek Hadi mengangguk sedih. Dia paham betul apa yang dikhawatirkan gadis ini. Terkadang, sikapnya yang rendah diri seperti ini membuat kakek merasa tertekan. Kakek lebih suka Almira yang terlihat leluasa, tanpa terbebani oleh perbedaan status di antara mereka. Namun, apa daya. Kakek tidak memiliki kualifikasi untuk memaksakan kehendaknya.
"Baiklah. Kakek mengerti. Masuk dan berhati-hatilah di jalan," katanya akhirnya, meminta Almira masuk ke dalam taksi.
"Jangan khawatir, Kakek. Sampai jumpa lagi Minggu depan." Gadis itu melambaikan tangan sembari tersenyum ceria. Dia bergegas masuk ke dalam taksi, dan mobil itu akhirnya melaju kembali. Meninggalkan vila keluarga Adijaya, yang terlihat seperti sebuah istana.
Jauh di lubuk hati Almira tahu bahwa Kakek Hadi sangat berharap agar dia mau ikut masuk ke dalam istana mewahnya tersebut, meski sekedar mampir saja. Beliau juga sering berkata ingin memperkenalkannya pada semua orang yang ada disana. Kakek Hadi bahkan pernah punya niat untuk memperkenalkan Almira sebagai cucu angkatnya.
"Kakek hanya memiliki satu cucu laki-laki. Cucu perempuan kakek, semuanya tinggal jauh di luar negeri. Kakek kesepian." Begitu keluh kakek. Namun Almira dengan tegas menolaknya.
"Setelah masuk ke keluarga kakek hidup Almira akan seperti burung peliharaan. Selain itu, setiap tindak tanduk Mira juga akan menjadi sorotan. Kakek, Mira tidak suka dikekang. Mira lebih suka kebebasan," ungkapnya.
Dari sana kakek semakin mengagumi sosok Almira. Jika itu gadis lain, kakek yakin mereka akan berlomba-lomba untuk menjilatnya, dan tak akan pernah melepaskan kesempatan yang telah dia berikan.
Bukan apa-apa. Almira hanya sadar diri, sadar akan tempat yang seharusnya. Dia tahu betul bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa. Dia hanyalah seorang yatim piatu, yang bahkan sedari kecil tidak mengenal siapa jati dirinya. Dia hanya seorang gadis yang berusaha ikhlas akan keadaan, dan mencoba berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri. Jika dibandingkan dengan orang-orang di dalam sana, dirinya tak lebih dari remah-remah saja.
Kakek juga sering menceritakan tentang cucu laki-lakinya, yang menjadi kebanggaan keluarga Adijaya. Seorang pria dewasa yang memiliki segalanya, tetapi tidak pernah sekalipun terlibat dengan yang namanya wanita.
"Dia menang dalam segala hal, tapi dia gagal dalam menjalin sebuah hubungan." Begitu ungkap kakek. Hal itu juga yang membuat kakek selalu murung. Usianya sudah semakin tua, tetapi Zein belum juga memberinya penerus keluarga.
__ADS_1
"Maaf, kakek. Mira benar-benar tidak ingin terlibat lebih dalam," ucap Almira, ketika menoleh ke belakang dan melihat kakek Hadi belum beranjak dari sana. Dia menghela napas pelan, jika bisa dirinya lebih memilih untuk sama sekali tidak pernah dipertemukan dengan laki-laki tua baik hati tersebut.
Taksi benar-benar menghilang dari villa, dan baik kakek maupun Almira tidak ada yang menyadari bahwa sedari tadi tak jauh dari sana seseorang telah menangkap interaksi akrab keduanya. Zein Azzam Adijaya bahkan tidak menyangka kakeknya bisa seakrab itu dengan seorang gadis asing. Padahal, dia terkenal sangat kolot dalam menentukan pasangan untuk anak cucunya. Itu juga yang membuat Zein memilih untuk tidak memikirkan yang namanya jatuh cinta. Daripada mengecewakan pada akhirnya.
"Sehebat apa dia sampai berhasil menaklukkan hati Kakek yang keras kepala itu." Zein penasaran.
***
Sang mentari perlahan mulai menyembunyikan diri. Kesunyian malam mulai melingkupi apartemen kecil nan sederhana itu. Almira telah berada di tempat yang selalu menjadi persinggahan ternyamannya. Saat ini dia telah mengganti pakaiannya dengan baju yang lebih santai. Rambutnya diikat cepol, memperlihatkan lehernya yang putih jenjang.
"Oke. Aku berangkat sekarang," balasnya pada orang yang berada di seberang telepon.
Malam ini dia memiliki janji dengan seorang teman lama. Beberapa hari yang lalu dia telah mengajukan proposal pekerjaan pada salah satu anak perusahaan, dan akhirnya diterima. Tak disangka, pemilik perusahaan tersebut ternyata adalah seniornya ketika dia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Senior yang sebentar lagi akan menjadi bosnya itu meminta bertemu, untuk membahas mengenai pekerjaan yang akan dipegang Almira.
Dia mengamati sekeliling dan melihat sosok yang sudah dikenalnya tengah duduk sembari menikmati secangkir kopi.
"Hai, kak Damar. Apa kabar? Maaf membuatmu menunggu lama," sapanya sesampainya dia di tempat tersebut.
Damar mendongak, menatap perempuan yang sejak dulu di matanya selalu terlihat menawan.
"Kabar kakak baik. Terlambat sedikit, tidak masalah. Untuk juniorku yang cantik ini, aku akan selalu bersedia menunggu," godanya. "Berapa lamapun itu," imbuhnya membuat Almira tersipu.
"Kakak masih sama seperti dulu. Suka ngegombal," balas Almira sembari geleng-geleng kepala.
"Aku pikir setelah sekian lama Kakak akan berubah," imbuhnya setelah duduk di kursi berhadapan dengan pria berkulit putih itu.
__ADS_1
"Kamu yang berubah, Mira," kata Damar dengan santai.
Almira mengangkat sebelah alisnya," maksudnya, lebih tua?"
Damar tertawa, hingga membuat orang-orang menoleh padanya. "Berubah lebih cantik, Mira," pujinya, tanpa memedulikan orang-orang yang menatap ingin tahu pada mereka.
Almira hanya tersenyum tipis. Dia sama sekali tidak tertarik dengan gombalan-gombalan seorang Damar Aditya Wirawan yang menurutnya tidak penting. Almira menggeleng, merasa geli dengan sikap playboy seniornya yang tak pernah berubah. .
Damar Aditya Wirawan, dua tahun lebih tua dari Almira. Sosok pebisnis muda tampan yang kini dikabarkan tengah gencar bersaing dengan Zein Azzam Adijaya.
Sama-sama muda, berwajah tampan dan kekayaan berlimpah. Dambaan setiap kaum hawa. Tapi tidak demikian dengan Almira. Dia bukan sosok seorang gadis yang suka mengejar rupa, harta maupun tahta. Dia adalah seorang gadis yang memiliki pemikiran sederhana. Hidup dengan baik tanpa harus menyentil ataupun disentil oleh orang lain. Hanya saja, mana ada hidup yang selamanya berjalan lurus, tanpa ada lika-liku?
Tak lama berselang, pelayan pun datang mengantarkan secangkir kopi espresso favoritnya. Di tambah beberapa macam makanan ringan, yang sepertinya telah dipesan oleh Damar.
"Masih rasa yang sama, kan?" tanya Damar.
Almira mengangguk," tentu."
"Senang aku tidak keliru." Damar bernapas lega. Gadisnya masih menyukai minuman yang sama.
Merekapun menikmati secangkir kopi sembari membahas mengenai pekerjaan. Terkadang Almira terlihat mengangguk, lalu mengernyit, bahkan tertawa. Semua itu tertangkap jelas oleh seseorang yang saat ini sedang memperhatikan keduanya. Wajah pria itu tampak dingin, sesekali dia menggerakkan giginya.
"Bagus sekali. Bermain cantik di depan kakek untuk mendapatkan simpatinya, padahal sebenarnya mata-mata. Kamu bermain dengan orang yang salah, Almira!"
Zein mengepalkan tangannya, tatapannya dipenuhi dengan kebencian.
__ADS_1