KESEMPATAN KEDUA: Istri Pilihan Kakek

KESEMPATAN KEDUA: Istri Pilihan Kakek
PERNIKAHAN


__ADS_3

"Pernikahan. Itulah hal terakhir yang Kakek inginkan. Kakek ingin melihat kalian menikah."


Almira tercengang, tangisnya seketika mereda. Dia menatap bergantian pada kedua lelaki yang berada dihadapannya itu. Zein yang sedari awal sudah menyadari niat kakeknya, mengangkat kedua bahunya tak acuh.


"Zein, keluarlah sebentar. Kakek ingin berbicara berdua dengan Mira," pinta Kakek.


Zein pun mengangguk, mengiyakan. "Tentu, Kakek."


Dia menatap sebentar pada Almira yang masih terlihat syok, lalu bangkit dan meninggalkan ruangan itu.


"Mira ....," panggil Kakek.


Kakek menggenggam erat tangan gadis yang sedari tadi menganga, menatapnya tak percaya itu.


"Kakek ...." Almira menghela nafas. Dia tidak tahu bagaimana harus menghadapi kakek Hadi.


Kakek menyadari bahwa ini adalah pilihan berat untuk gadis di hadapannya. Namun, kakek tidak bisa mempercayakan Zein pada wanita lain. Kakek yakin Almira adalah wanita yang tepat untuk Zein. Yang mampu mencintai Zein dengan tulus, yang mampu mencairkan hatinya yang membeku.


"Kakek tahu kamu terkejut, Nak. Kakek juga tahu ini berat untukmu. Menyanggupi keinginan kakek, juga berarti bahwa kamu harus mengubur impianmu untuk tidak pernah terkekang. Untuk hidup bebas, layaknya udara."


Almira kembali meneteskan air mata.


"Tapi ... Mira. Kakek hanya bisa mempercayakan bocah nakal itu padamu. Semenjak orang tuanya meninggal, anak itu berubah. Dia kehilangan warna dalam hidupnya."


Kakek menatap kedua bola mata Almira, mengharap pengertian dari gadis itu.


"Mereka ... Meninggal, kenapa?"


Sebenarnya, Almira tidak ingin mengetahuinya. Jika saja kakek tidak meminta dirinya terlibat lebih dalam, dia lebih memilih untuk tidak mengetahui perihal Zein sama sekali. Namun ... Sekarang kondisinya berbeda.


"Mereka ...."


Kakek menatap langit-langit dengan tatapan sendu. Pikirannya menerawang pada kejadian dua puluh tahun lalu, di mana kecelakaan itu merubah segalanya. Berat rasanya mengingat kembali kejadian yang dengan susah payah coba dia lupakan. Namun semuanya tetap harus dia ceritakan, agar Almira bisa memahami kondisi kejiwaan Zein yang seringkali tidak stabil. Kakek benar-benar tidak punya pilihan. Keluarga yang dia punya, semua tidak bisa dipercaya.


"Ketika itu Zein baru berusia lima tahun. Kecelakaan terjadi ketika kedua orang itu datang untuk menjemput Zein dari sekolah. Mereka hendak merayakan ulang tahun Zein yang kelima."


Kakek sejenak terdiam. Dia mencoba menelan kembali rasa sakit serta air mata yang hampir saja tertumpah.

__ADS_1


"Orang tuanya meninggal dalam kecelakaan mobil, tepat di depan matanya."


Mata Almira membeliak. Dia tak menyangka kejadiannya akan setragis itu. Pasti berat untuk bocah sekecil itu, menyaksikan kejadian yang begitu memilukan. Apalagi, korban adalah orang tuanya sendiri.


'Pantas saja pria itu seperti beruang kutub.'


Kakek melanjutkan. "Awalnya kami kesulitan menyelidiki kasus itu. Setelah terkuak, ternyata kecelakaan itu disebabkan oleh pamannya sendiri. Iri dengki membutakan mata hati mereka." Nafas dan suara kakek mulai terdengar berat. Dia menjeda sejenak kalimatnya, lalu mengusap air mata yang hampir lurus dari pelupuk mata.


"Kakek ...." Almira tidak tega. Memikirkan perasaan kakek ketika menceritakan tentang kekejaman putranya sendiri terhadap putranya yang lain pasti sangat menyakitkan. "Tidak perlu diteruskan," pinta Almira.


Kakek mengangkat tangan kanannya, menghentikan Almira yang hendak mencegahnya melanjutkan cerita.


"Biarkan aku mengatakan semuanya, Nak." Almira terdiam.


"Semenjak semua kejadian itu, anak itu berubah. Dia tidak mudah percaya, gampang curiga, juga dewasa sebelum waktunya. Dia harus menegakkan punggungnya, menghadapi semuanya seorang diri ketika usianya baru delapan belas tahun. Keterpurukan membuat anak itu menguburkan dalam-dalam kerapuhannya. Dia sangat rapuh, Mira." Almira menatap orang tua itu, mengangguk sembari menahan tangisnya.


"Dia menjadi dingin, angkuh dan tak berperasaan, kecuali terhadap kakek. Keadaan memaksanya untuk terus dan terus menjadi kuat. Dia satu-satunya keturunan laki-laki keluarga kami. Tak ada yang bisa dia lakukan kecuali menerima keadaan." Ada penyesalan dalam nada bicara kakek ketika mengatakan itu semua.


"Kakek juga ingin dia menjalani kehidupan seperti yang dia inginkan, Mira. Tetapi dia memiliki tanggung jawab besar terhadap ribuan orang yang bekerja untuk Adijaya grup. Jadi dia terpaksa harus mengubur mimpinya." Kakek mulai terisak. Dia memegangi dada, wajahnya terlihat lebih pucat.


"Kakek, cukup. Oke. Kakek harus istirahat." Almira memohon. Suara gadis itu terdengar serak, mungkin karena menangis.


"Mira, jauh di lubuk hati anak itu sebenarnya tersimpan kehangatan yang hanya dia tunjukkan kepada orang yang dia sayangi, orang yang dia percayai. Dan Kakek yakin kamu bisa menjadi orang itu." Almira tercengang.


"Nak, berjanjilah satu hal pada Kakek." Almira mendongak, menatap wajah tua itu.


"Ya, kakek."


"Menikahlah dengannya dan berjanjilah. Apapun yang terjadi dan bagaimana pun keadaannya, kamu tidak akan pernah meninggalkan Zein."


Permintaan Kakek yang lebih seperti perintah itu membuat Almira tercekat. Almira dibuat bingung, tidak tahu bagaimana harus menjawab. Pernikahan tidak semudah hanya mengucapkan kata-kata yang dibalas dengan ucapan sah, bukan? Itu masa depan yang harus dia jalani seumur hidupnya. Terlebih lagi, Almira tidak tahu sama sekali mengenai Zein, seperti apa luar dalamnya pria itu.


"Kakek ...." Almira merengek. Membayangkan memasuki keluarga Adijaya saja membuatnya tidak yakin. Apalagi menjadi salah satu bagian dari mereka.


"Kakek mohon, Mira. Kakek hanya bisa percaya padamu," ujar Kakek lemah.


Kakek menggenggam erat jemari Almira. Tatapannya yang lemah dipenuhi dengan permohonan juga ketidakberdayaan. Seolah-olah jika Almira menolak, orang tua itu akan pergi saat itu juga. Almira hanya bisa mengangguk, tak tega.

__ADS_1


"Bagus ... bagus."


Kakek mengangguk angguk dengan gembira.


Raut wajah yang awalnya pucat dan mendung itu seketika menjadi cerah, seolah beban yang selama ini dipikulnya telah hilang dari pundaknya.


Almira mendengus, pasrah. Kenapa dia merasa sepertinya seseorang telah dengan sengaja menjebaknya?


****


Pagi itu cuaca cerah. Birunya langit menambahkan panorama yang nampak lebih indah. Namun tak seperti hati Almira yang sejak semalam terlihat mendung. Dia tak menyangka bahwa dirinya akan menikah dengan seorang penerus keluarga Adijaya. Hal itu bahkan tak pernah ada dalam bayangannya.


"Ibu panti, apa yang harus Mira lakukan?" lirihnya, sembari menatap lalu lalang di luar sana.


Bisakah dia melarikan diri dan menjadi salah satu penghuni mobil-mobil yang berlalu lalang itu? Memikirkan kehidupan yang harus dijalaninya setelah ini, Almira benar-benar belum siap. Namun dia juga tahu bahwa melawan kekuatan Adijaya tidaklah mungkin. Dia tidak akan mampu. Terlebih lagi, dia tidak akan mau menyakiti hati Kakek.


"Tuhan, apa ini sudah takdirku?"


Almira menutup tirai jendela karena pagi itu hembusan angin terasa lebih dingin. Dia meninggalkan tempatnya berdiri, berjalan perlahan menuju kamar mandi. Dia membasuh mukanya, lalu memandang wajahnya di cermin. Ditatapnya parasnya yang ayu, nampak dengan segurat kecemasan. Almira memejamkan mata, berharap itu bisa mengurangi rasa cemasnya.


Ceklek!


Terdengar suara pintu terbuka dari luar. Almira mematikan keran, mengelap wajahnya dan meninggalkan kamar mandi.


"Aku ingin bicara." Suara itu mengejutkan Almira yang baru saja membuka pintu kamar mandi.


Almira menatap jengkel pria di depannya. "Tuan Muda Adijaya, tidak bisakah anda tidak mengagetkan orang!"


Dia memandang kakeknya yang masih tertidur efek obat subuh tadi, lalu menggenggam tangan Almira dan menariknya keluar.


"Lepaskan! Aku bisa berjalan sendiri," geram Almira setelah keduanya berada di luar ruangan. Dia berusaha untuk menarik tangannya, tetapi Zein dengan keras kepala menolak melepaskan. Almira hanya bisa mendesah, pasrah dengan sikap angkuh pria itu.


"Apa kamu tidak ingin mengatakan sesuatu?" Almira membuka suara masih dengan jengkelnya. Mereka sudah beberapa menit duduk di bangku taman, tetapi Zein masih tidak juga mengutarakan apa yang dia inginkan.


"Semuanya sudah dipersiapkan." Zein menjeda ucapannya, sementara Almira menatap bingung karena ucapan pria tampan itu.


'Apa maksudnya?'

__ADS_1


Zein menatap Almira, lalu melanjutkan. "Karena Kakek sakit, acaranya hanya akan digelar sederhana. Kakek akan menjadi saksi, dia tidak bisa menjadi wali pengganti karena kamu akan menikah denganku."


"Menikah?! Secepat ini?!"


__ADS_2