
Pada saat orientasi kampus, Miya bersama teman-teman yang baru sangat memperhatikan semua penjelasan dari mahasiswa senior yang memberikan penjelasan tentang dari sejerah maupun tata tertib di kampus.
Beberapa jam kemudian kegiatan tersebut akhirnya selesai, semua calon mahasiswa akhirnya membubarkan diri. Namun sebagian masih terlihat di area kantin maupun lobby kampus, termasuk Miya dan kawan-kawan yang memilih untuk berkumpul di kantin. Mereka berlima duduk di meja paling pojok kantin, yang terletak sedikit jauh dari pintu keluar kantin tersebut.
“Akhirnya hari pertama orientasi berjalan lancar ya,” ujar Lana yang duduk bersama teman-temannya.
“Masa orientasi akan berakhir enam hari lagi,” ungkapnya lagi sambil menghelah nafas..
“Waktu tidak akan berlangsung lama kok Lan,” ucap Santi yang duduk di sebelah kiri Lana.
“Oya! Kamu pulang dengan siapa Miya?” tanya Mona yang duduk di sebelah kanan Miya.
“Mungkin aku dijemput oleh tanteku,” jawab Miya sambil melihat daftar makanan di menu kantin.
“Ngomong-ngomong kalian mau pesan apa?” tanya Miya kepada keempat gadis yang duduk bersamanya.
“Kamu mau traktir nih,” goda Rani yang duduk di sebelah kanan Lana..
“Anggap aja salam perkenalan dari aku,” ucap Miya dengan tersenyum kepada teman-teman barunya itu.
“Kurang seru ah! Bagaimana kalo kita patungan aja?” sahut Mona memberikan ide...
“Oke ... siapa takut!” sahut Rani antusias yang diiringi anggukan keempat gadis itu tanda setuju atas saran Mona.
Tidak lama kemudian, saat mereka sedang asyik bersenda gurau di kantin itu. terdengar suara pria menyapa seakan ada seseorang yang telah hadir di tempat itu. Dia adalah pria dari fakultas tehnik sedang berdiri di sisi kanan meja tempat kelima gadis itu.
“Hai nona-nona ... boleh kenalan?” sapa pria itu.
Kelima gadis serentak melihat pria yang berdiri di samping meja tempat mereka duduk. Pria itu berbadan tengap dengan tinggi 170 cm, berkulit sawo matang, dengan rambut cepak. Salah satu dari mereka tampak berdecak kagum kepada pria yang memiliki wajah cukup tampan yang ada di depan mereka.
“Boleh,” sahut salah satu gadis itu, “Perkenalkan aku Mona,” ucapnya sambil tersenyum.
“Kalo saya Lana,” ucap Lana, “Yang di sampingku Rani,” unggapnya sambil memperkenalkan teman yang duduk di sampingnya..
“Kalo saya Santi dan dia Miya,” ucap Santi dengan memperkenalkan gadis yang duduk di depannya.
“Halo salam kenal ... saya Marwan,” kata pria itu sambil memperkenalkan diri, “Boleh saya gabung?” pinta pria itu.
“Boleh,” sahut Lana sambil melihat pria itu mengeser tempat duduk dan duduk di antara mereka berlima.
“Kamu asal dari kota mana Marwan?” tanya Santi kepada pria itu
__ADS_1
“Oh saya?! Saya dari kota MN,” jawabnya, “Ngomong-ngomong panggil saja saya Awan,” pinta pria itu.
“Teman-teman panggil saya Awan,” ungkapnya.
“Kalo saya panggil saja Anti,” ucap gadis yang duduk dekat pria itu.
“Saya Nana,” pinta gadis yang duduk di antara Rani dan Santi.
Setelah mereka menyebut nama panggilan mereka masing-masing, mereka berenam berbincang-bincang seputar tentang fakultas mereka masing-masing. Tidak lama kemudian datanglah seseorang yang melangkah ke meja mereka berenam, pria itu adalah Jhon.
“Halo semua,” sapa pria yang baru tiba di tempat itu.
“Halo Jhon,” sapa Miya, “Kita ketemu lagi ... Oh ya! Perkenalkan mereka ini teman-temanku” sambungnya.
Dan satu persatu mereka saling memperkenalkan diri masing-masing kepada pria yang baru datang tersebut.
“Mi! Kamu sudah kenal Jhon lama?” tanya salah satu gadis dengan nada penasaran.
“Oh ... saya kenal Jhon saat waktu pendaftaraan kok Lan,” ungkap tegas Miya ke gadis yang duduk di depannya.
“Ayo sini gabung Jhon,” ajak Marwan sambil mengambil satu kursi yang akan diberikan kepada pria itu.
“Terima kasih,” ucap Jhon dan duduk bersebelah dengan Marwan.
“Kalian berdua pasti hobi main basket ya,” ucap Lana, “Bila dilihat dari postur kalian berdua cukup tinggi,” sambungnya.
“Iya saya aktif di klub basket sampai sekarang,” ungkap Jhon.
“Kalo saya suka berenang,” ungkap Marwan, “Tapi saya hanya lakukan itu untuk sekedar hobi saja kok,” sambungnya.
“Kalo kalian hobinya apa?” tanya Jhon sambil diam-diam mencuri pandang ke arah Miya yang sedang asyik minum minuman kesukaannya.
“Kebetulan saya dan Santi hobinya fotografer,” jawab Rani, “Kalo Lana melukis,” sambungnya.
“Iya ... kami satu sekolah saat SMA,” ungkap Santi
“Wah keren tuh!” ujar Marwan sambil berdecak kagum, “Kalo kamu Mona?” tanyanya.
“Saya hobinya membaca,” jawab gadis yang duduk di samping kanan Miya dengan tersipu malu.
“Miya sendiri hobinya apa?” tanya Jhon antusias.
__ADS_1
“Saya sampai sekarang lagi belajar tari balet,” jawab Miya.
Satu jam saat mereka sedang asyik berbincang-bincang, tidak lama kemudian terdengar suara telphon berbunyi seakan memotong pembicaraan mereka.
Suara itu dari ponsel milik Miya dan dirinya langsung mengambil ponsel di dalam tasnya. Ternyata terlihat nama Tante Mirna yang sedang menelponnya dan ia pun langsung mengangkat ponselnya.
“Assalamualaikum ... Iya ada apa tante” sapa gadis itu.
“Wassalamu'alaikum,” jawab tantenya, “Kamu sudah selesai kegiatan kampusnya Miya?” tanyanya.
“Sudah tante,” jawab gadis itu.
“Tante lagi dalam perjalanan untuk jemput kamu,” ucapnya, “Nanti tante tunggu di lobby kampus ya,” sambungnya.
“Baik tante,” sahut gadis itu dengan antusias.
“Tante mu mau jemput ya Mi,” tanya gadis yang duduk di sebelah kanannya.
“Iya Mona,” jawabnya dengan tersenyum, “Kamu mau bareng?” tanya Miya ke Mona.
Secara kebetulan komplek tempat tinggal Mona cukup dekat dengan tempat tinggal Miya.
“Boleh Mi?” tanya gadis itu antusias.
“Iya boleh dong,” jawabnya.
Tidak lama kemudian terdengar suara dering ponsel Miya kembali berdering dan dirinya langsung mengangkatnya, setelah ia melihat tertera nama tantenya yang ada di layar ponselnya.
“Assalamualaikum ... Tante sudah di mana?” tanya Miya.
“Tante sudah di lobby nih,” jawab tantenya.
Pada saat itu mereka bertujuh beranjak dari kantin dan melangkah ke arah Lobby kampus. Saat tiba di tempat itu terlihat perempuan paruh baya berwajah cantik sedang berdiri di depan lobby kampus.
“Tante kenalkan ini teman baru ku, Marwan dan Jhon” ucap gadis itu
“Halo salam kenal ... saya Tante Mirna,” sapa perempuan baya itu.
“Salam kenal juga tante,” sahut mereka bersamaan.
“Tan, Boleh Mona ikut bersama?” pinta Miya kepada tantenya itu, “Karena Mona tempat tinggalnya cukup dekat dengan kita” ungkap gadis itu.
__ADS_1
“Boleh dong,” jawab Tante Mirna antusias
Dan mereka saling berpamitan untuk pulang ke rumah masing-masing, dengan membawa perasaan yang baru saja mereka rasakan. Terutama perasaan yang menempa Rani, Miya serta Mona, dan juga perasaan yang dialami Marwan dan Jhon... bersambung.